Al Hikam Ayat 1 – Sisi 1

Belum lama ini, mendapatkan tugas untuk “menterjemahkan” kitab yang sangat populer, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain, yaitu kitab Al-Hikam, khususnya Ayat 1 yang ditulis oleh Ibnu Atha’illah Al Sakandari, ke dalam pengamalan kehidupan sehari-hari. Bunyi ayat 1 itu sebagai berikut :

مِنْ عَلَامَةِ الْاعْتِمَادِ عَلَىَ الْعَمَلِ – نُقْصَانُ الْرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الْزَّلَلِ

Salah satu tanda bergantung kepada amal adalah berkurangnya harapan saat mengalami kegagalan [A sign of dependence on deeds is the lack of hope when you slip into an error.]

Orang-orang yang membaca ayat ini pertama kali pasti sedikit mengeryitkan dahi. Berpikir keras untuk menterjemahkannya. Bahkan saya menemukan beberapa syarah (keterangan) ayat ini berbeda dari satu penulis ke penulis lain.

Namun demikian, saya mendapatkan tulisan Zig Ziglar yang mampu menggambarkan salah satu sisi (dari bayak sisi) ayat ini. Tulisannya berupa dongeng sbb :
———————————————–
Seorang pemuda menemui ayahnya dan berkata : “Ayah ada sebuah pohon yang roboh dan ia menghalangi jalanku. Aku tidak bisa memindahkannya.”

Ayahnya bertanya, “Anakku, apakah kamu sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu ?”

“Mungkin belum ayah,” kata si pemuda mengakui, dan ia pun mencoba lagi. Namun, ia tetap tidak bisa memindahkan kayu tersebut, ia berkata lagi kepada ayahna, “Aku tidak bisa memindahkan pohon itu, ayah”

Lagi-lagi sang ayah bertanya, “Apakah kamu sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu ?”

Pemuda itu berpikir keras, kemudian berkata, “Mungkin belum,” untuk kedua kalinya. Sekarang ia pergi ke garasi, mengambil balok dan katrol, memasangnya, dan mencoba untuk memindahkan kayu itu. Setelah itu, ia kembali kepada ayahnya, “Ayah, aku benar-benar tidak bisa memindahkan kayu itu.”

“Anakku, apakah kamu sudah mengerahkan seluruh kekuatanmu ?” Sayang ayah mengulangi pertanyaannya.

Pemuda itu berpikir keras, dan akhirnya berkata, “Ya Ayah, aku sudah mengerahkan seluruh kekuatanku.”

“Tidak”, kamu belum mengerahkan seluruh kekuatanmu,” kata sang ayah, “Jika kamu mengerahkan seluruh kekuatanmu, maka kamu pasti akan meminta pertolongan”
———————————————–
Cerita ini memberikan hikmah bahwa seringkali manusia merasa dapat berdiri dengan sendiri dan mampu berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi atau dibantu oleh sesiapa dan sesuatu (termasuk Tuhan). Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia hilang atau kurang pergantungan dengan Tuhan. Pergantungan mereka hanyalah kepada amalan semata-mata ataupun jika mereka bergantung kepada Allah s.w.t, pergantungan itu bercampur dengan keraguan.

Fenomena ini banyak terjadi, walaupun dalam kesehariannya, orang tersebut banyak berdzikir :

لا حول ولاقوة إلا بالله
Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.

Sekiranya Tuhan izinkan, kerohanian seseorang meningkat kepada maqam yang lebih tinggi. Nyata di dalam hatinya maksud kalimat :

“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!” (QS As-Saaffaat : 96)

To Be Continued….