Jangan panggil saya pak, panggil saya dok……

Belum lama, saya diminta untuk membandingkan dua buah data yang sama, dari pengirim yang berbeda. Data itu adalah data nama calon mahasiswa spesialis kedokteran.

Seperti yang telah diduga, namanya pasti berbeda. Ada yang mencantumkan nama lengkapnya, ada yang mencantumkan hanya nama depannya saja. Walaupun orangnya sama, bagi komputer tentu saja dianggap orang yang berbeda.

Tapi yang paling parah, adalah orang yang mencantumkan gelar pada namanya. Haji-lah. Dokter-lah. Sehingga hal tersebut mempersulit perbandingan.

Sampai saya ngobrol dengan staf saya :

Saya : Saya ngak ngerti, orang begitu bangga dengan gelar. Sampai haji pun dimasukkin. Nyusahin aja

Staff : Pak, belum tau ya ?

Saya : Apa ?

Staff : Saya pernah ditugaskan memfoto calon mahasiswa spesialis kedokteran untuk pembuatan kartu mahasiswa. Ketika tiba gilirannya saya panggil, “Pak, silakan di foto….” Si calon mahasiswa diam saja. Dipersilahkan kedua kalinya, tetap diam. Sampai ketiga kalinya, barulah ia angkat bicara. “Jangan panggil saya pak dong, panggil saya dok……”

Gubrags……..

Aduuuuh bapak, jualan gelar dokter S-1 di universitas yang ada fakultas kedokteran mah, ngak laku ateuuuuh. Banyak yang Doktor-Dokter di sini. Baru S1 kedokteran udah belagu…… Banyak yang kuliah kedokterannya lebih dari 5 tahun pak……

Lagian tanpa jas putih dan stetoskop, bapak masih manusia biasa, yang tidak dikenal orang.

Pengalaman saya kuliah S2, gelar S1 saya tidak boleh dicantumkan pak…. malu sama yang senior…

(menghela nafas sambil mengusap dada… ada juga orang kayak gitu….)