Skip to content


thalasemia

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Bismillah, kali ini aku mau berbagi artikel tentang Penyakit Bawaan Thalasemia.

Jadi gini pas lagi berselancar di dunia maya aku nemu artikel ini dan aku pikir ini sangat bermanfaat sekali bagi kita semua untuk diketahui. Selamat membaca… (jangan lupa baca ampe habis ya, soalnya ini penting banget)

Cari Tahu Tentang Penyakit Bawaan Thalasemia

Satu lagi alasan pasangan yang menikah mesti memeriksakan kesehatannya sebelum melakukan pengucapan janji suci. Meski teknologi kesehatan makin canggih, masih saja banyak pasangan yang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Alasannya karena merasa dirinya sehat dan tidak perlu memeriksakan diri. Padahal, dalam diri masing-masing orang berpotensi untuk menurunkan penyakit bawaan, salah satunya adalah thalasemia.

Berbeda dengan penyakit bawaan lainnya seperti diabetes, bisa dibilang thalasemia belum populer sehingga masih sedikit yang sadar tentang adanya penyakit ini. Thalasemia merupakan jenis penyakit yang diturunkan dari kedua orang tua kepada anak. Pengidap penyakit ini akan mengalami kelainan berupa pembentukan sel darah merah yang mudah pecah serta kadar Hb (hemoglobin) yang sangat rendah sehingga menyebabkan anemia kronis.

Thalasemia sendiri ada dua jenis, yakni thalasemia minor yakni pembawa sifat thalasemia yang kondisi kesehatannya normal namun dapat menurunkan penyakit ini pada anak-anaknya kelak. Dan thalasemia mayor yakni pengidap thalasemia yang memerlukan penanganan khusus karena tergantung pada tranfusi darah seumur hidup.


Penanganan Thalasemia Mayor

Hingga saat ini, belum ada obat atau metode yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan thalasemia. Untuk itu, dokter hanya bisa memberikan perawatan kepada pengidap thalasemia agar tetap bisa bertahan hidup dan menjalani aktivitas dengan normal.

Salah satu perawatan yang dilakukan untuk pengidap thalasemia adalah tranfusi darah. Jadi sepanjang usia, agar bisa beraktivitas dengan normal mereka harus menjalani transfusi darah sesuai dengan apa yang dijadwalkan dokter. Pengidap thalasemia bahkan memiliki julukan sendiri untuk diri mereka, yakni “vampir sejati” karena akan selalu membutuhkan darah dari orang lain.

Umumnya, pengidap thalasemia membutuhkan tranfusi darah antara2-4 minggu sekali. Namun kurun waktu ini bisa lebih cepat jika kadar HB dalam darah sudah mulai menurun yakni di angka 9-10g/dL. Tranfusi darah yang dilakukan pengidap thalasemia bertujuan untuk meningkatkan kadar hemoglobin hingga mencapai 12-13g/dL.

Sayangnya, proses tranfusi darah yang dilakukan untuk membantu pengidap thalasemia juga berpotensi meningkatkan risiko komplikasi. Dikarenakan proses tranfusi darah yang berulang-ulang menyebabkan kandungan zat besi dalam darah menumpuk. Akhirnya, kulit pengidap thalasemia pun menghitam dan mengalami komplikasi seperti gagal jantung, gagal ginjal, hingga tulang rapuh.

Oleh karena itu, meskipun sudah mendapat tranfusi darah pengidap thalasemia mesti harus menjalani terapi kelasi besi dengan mengonsumsi obat seumur hidup. Selain efek samping, reaksi yang ditimbulkan karena tranfusi darah ini adalah gatal, menggigil, demam, hingga syok. Bahkan meski kecil kemungkinannya, masih ada risiko terkena hepatitis B, C, dan HIV jika darah yang ditransfusikan.


Pencegahan Thalasemia

Sebagai penyakit bawaan, pencegahan thalasemia sebenarnya adalah dengan mencegah terjadinya pernikahan antara pasangan yang membawa sifat thalasemia. Jika pasangan yang menikah sama-sama pembawa sifat thalasemia, maka anaknya kelak akan terkena thalasemia. Sedangkan jika salah satu pasangan saja yang terkena thalasemia maka anaknya kelak berisiko menjadi pembawa sifat thalasemia dalam darahnya.

Jika pasangan menikah sama-sama merupakan pembawa thalasemia, maka apabila terjadi kehamilan kondisi janin dapat diperiksa ketika usia 12-16 minggu. Dari pemeriksaan ini akan diketahui apakah janin terkena thalasemia ataukah hanya pembawa sifat thalasemia dari kedua orang tuanya.

 

 

Aku uda pernah priksa dulu pas di Bandung (kalo gasalah tahun 2012), dan hasilnya adalah thalasemia minor. Iya aku pembawa sifat thalasemia, jadi kalo mau nikah calon suami harus berdarah normal supaya anaknya kalo nggak berdarah normal paling nggak cuma pembawa sifat doang. Sebagai pengingat untuk diriku, tujuan menikah adalah berkembang biak, cita – cita ku pun punya anak banyak. Dan pasti aku ingin punya anak yang sehat dan normal.

Orang tua mana yang tega melihat anaknya kesakitan seminggu sekali harus tranfusi atau bahkan beberapa hari sekali harus transfusi darah? I have no heart to do. Aku bisa bilang kek gini karena aku pernah berkunjung ke RS Hasan Sadikin dan melihat para penderita thalasemia mayor. Kasian banget. Aku lliat anak kecil yang lagi di transfusi darahnya nangis – nangis. Aku juga dapet cerita dari saudara yang ngajakin aku ke RS ini (kebetulan ada sanak keluarga yang menjadi ketua himpunan orang tua penderita thalasemia) ada pernah penderita yang menunggu giliran operasi limpa meningga (oiya perlu diketahui akibat dari seringnya transfusi darah adalah pembesaran limpa gitu katanya, dan kalo limpa nya uda gede ya harus di operasi).

Dan pernah suatu ketika aku ngobrol dengan seorang penderita thalasemia mayor. Dia cewek. Dia bilang kalo setiap hari ngebuka mata, dia harus siap mati. Soalnya dia juga gakuat capek, capek dikit langsung drop, stress dikit langsung drop. Pernah aku nanya kenapa matanya kuning (bola mata yang putih itu warnanya kuning), dia bilang kalo uda waktunya transfusi darah. Dia juga bilang sama aku, hidup kek gini itu berat, suka sama seseorang harus di tahan. Soalnya dia harus ikut membantu memutus mata rantai thalasemia supaya tidak ada lagi thalasemia mayor lagi, dan supaya nggak ada lagi orang menderita kek dia. Memutus mata rantai thalasemia ini adalah salah satu tujuan himpunan persatuan orang tua penderita thalasemia. Tapi kata saudara ku masih ada penderita thalasemia mayor yang menikah dengan yang berdarah normal. Dia melahirkan anak thalsemia mayor.

Keluargaku yang ada di Bandung sangat wanti – wanti banget, kalo mau nikah cej darah dulu calonnya. Mereka bisa kek gitu karena dulu ada keluargaku yang punya anak penderita thalasemia mayor. Dia adalah cucu pertama keluarga sana. Jadi gini, anaknya dulu nikah sama teman kuliahnya. Karena orang dulu g ada yang tau tentang thlasemia, dan kurang paham tentang hal kek gituan, ya ndak ada cek – cek darah. Makanya ya nikah aja tanpa melakukna hal – hal kek gituan. Pas cucunya lahir, kok pucet terus. Dipriksain ke dokter, ternyata kena thlasemia mayor, yang jamn dulu belum banyak orang tau. Cucunya meninggal di umur 18 tahun tapi bukan gegara thalasemia.

Jadi dari semua petuah yang dapet dari sodara – sodara di sana itu gini:

Jangan cuma mementingkan cinta, iya mungkin sekarang kamu dan pasanganmu bilang kalo gapunya anak ndak apa – apa. Ntar kalo uda nikah pasti pengenlah punya anak.

 

“Kesimpulan dari nasehat mereka, Jangan egois hanya mementingkan cinta. Ingat kita manusia dan ingat rasa cinta itu juga ber masa, ada kadar dan waktu mengikuti situasi kondisi dan musim.”

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Posted in kamu perlu tahu.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.