Skip to content


Kejenuhan Cinta

Ternyata hati, tak bisa berdusta
Meski ku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
Entah mengapa, kini berkurang

Reff :
Maaf, aku jauh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja jenuh

pasti pernah kan denger lagu dari lirik yang ada di atas. yap, betul, ini lagunya rio febrian. judunya jenuh. lagu yang muncul tahun 2006 ini berkisah tentang seorang kekasih yang jenuh sama pasangannya. aransemen lagu yang sendu ini biasanya dinyanyikan sama orang-orang yang lagi tahap bosan akut sama pasangannya. makanya ga heran kalo lagu ini begitu nge hits di beberapa acara musik tanah air.

nah tapi sekarang saya bukan mau membahas tentang lagunya, sekarang saya mau bahas tentang jenuhnya. kenapa seseorang itu bisa jenuh sama pasangannya? dan kenapa umumnya itu terjadi pas waktu pacaran? apakah ini juga terjadi dalam pernikahan?

Jawaban atas pertanyaan pertama dan kedua saya dapat dari bukunya salim a fillah yang judulnya jalan cinta para pejuang. dalam buku itu beliau menerangkan bahwa seseorang yang dimabuk cinta biasanya menggebu-gebu diawalnya tapi semakin kesini justru kadar menggebunya semakin berkurang .mengapa? ini disebabkan karena hormon feromon yang ada di dalam tubuh seseorang tersebut sudah pada tahap akhir. kata salim, hormon ini mengalir deras pada awal seseorang jatuh cinta, dan terus bergejolak manakala cintanya bersambut dari sang pujaan. namun hormon ini hanya bisa bertahan hingga 2 tahun dan akan semakin berkurang setelahnya. makanya setelah 2 tahun biasanya sepasang kekasih sering bertengkar bahkan tak jarang terjadi kasus selingkuh. ini memang disebabkan oleh kadar feromon yang sudah hilang dan kembali pada titik equlibriumnya.

untuk pertanyaan ketiga, yang jawabannya masih dari buku yang sama yaitu jalan cinta para pejuang. sesuai yang saya baca, bahwa dalam pernikahan, sepasang manusia yang baru baru menikah juga mengalami peningkatan kadar feromon. akan tetapi biasanya, yang mengalami hal tersebut adalah pasangan yang menikah tanpa terlebih dahulu mengenal dekat pasangannya. karena umumnya, kalo yang menikah sesudah menjejaki masa pacaran terlebih dahulu, cenderung telah mengalami peningkatan feromon sebelumnya, jadi saat menikah sudah tidak terasa gregetnya.tapi nyatanya, bagi yang baru menikah melalui atau tanpa melalui pacaran juga akan condong mengalami kebosanan setelah 2 tahun. lantas pertanyaannya sekarang, kenapa banyak yang mampu bertahan
setelah 2 tahun itu?

jawabannya adalah, karena dalam pernikahan, ada hal lain yang menjadi fondasi selain cinta. apa itu? ya, itu dinamakan kasih sayang dan tanggung jawab. bagi yang sudah menikah, ketika kadar feromon sudah berkurang, yang terjadi adalah proses perubahan dari yang sekedar namanya cinta menjadi kasih sayang dan tanggung jawab. biasanya kasih sayang dan tanggung jawab ini akan muncul setelah kehadiran seorang anak, buah dari pernikahan yang sah. tanggung jawab juga ketika sang suami merasa bahwa dirinya adalah penanggung jawab atas segala yang terjadi kepada istrinya, termasuk tanggung jawab kepada keluarga istri untuk senantiasa membahagiakannya. nah dari proses inilah makanya sepasang yang telah menikah bisa langgeng melanjutkan kehidupan pernikahannya. lalu bagaimana dengan yang berpacaran?

seperti yang sudah saya tuliskan diatas, setelah 2 tahun kadar feromon akan hilang dan mengakibatkan kejenuhan bagi sepasang kekasih, justru disinilah letak bahayanya. ketika sepasang kekasih yang mengikat janji tanpa bingkai pernikahan sedang mengalami tingkat terendah dalam feromonnya, kebanyakan dari mereka justru berasumsi bahwa ini merupakan tanda kalau ia sudah tidak lagi mencintai pasangannya. makanya jangan heran kalau pada masa itu banyak sekali terjadi pertengkaran. yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya perselingkuhan, baik yang dilakukan oleh si pria maupun si wanitanya.

inilah yang menjadi hikmah dibalik perintah agama islam untuk menjauhi zina, atau mendekati zina yang biasanya terjadi dalam proses pacaran. Allah melarang sesuatu pasti ada hikmahnya. dan kalaupun saat sekarang ini kita tidak merasa sesuatu itu ada hikmahnya, percayalah hikmah itu tetap ada. hanya saja karena kerterbatasan kita, kita belum bisa memahaminya. hanya karena sebuah jawaban tidak dapat dijangkau, bukan berarti jawaban itu tidak ada, begitu kata orang bijak. islam menyuruh kita memadu kasih dengan pasangan melalui jalur yang sah yaitu pernikahan. bukan dengan pacaran, yang justru terbukti tidak jelas arahnya. allahualam. just share.

 

*saya nggak bermaksud sok suci atau sok fanatik, tapi disini saya hanya mau berbagi apa yang pernah saya baca dengan cara menuliskannya. tak ada maksud apapun dan tulisan ini juga jelas saya peruntukkan bagi diri saya sendiri terlebih dahulu. 🙂

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.