Skip to content


Surat Ijin Mengemudi

Belakangan ini marak terjadi kasus kecelakaan yang diakibatkan oleh kelalaian pengemudi. Belum hilang rasanya dari ingatan kita mengenai kasus Afriani, seorang pengemudi wanita yang menabrak beberapa pejalan kaki di kawasan tugu tani kini hadir lagi beberapa kasus penabrakan lainnya seperti yang dilakukan oleh novi, andhika hingga kasus “kecelakaan” yang menimpa anak menteri kesekretriatan RI Hatta Rajasa, Rasyid Amrullah. Kasus-kasus tersebut seolah menjadi bukti lemahnya sistem pengawasan pada saat pemberian kartu lisensi perijinan mengemudi atau biasa disebut SIM. Pada saat ini pengurusan SIM bukan lagi didasarkan pada kemampuan mengemudi si calon pemilik lisensi, melainkan hanya didasarkan pada seberapa mampu si calon pemilik lisensi untuk membayarkan sejumlah uang demi memperoleh surat ijin tersebut.

Hal ini tentu saja menyebabkan terjadinya ledakan jumlah kepemilikan surat ijin mengemudi di kalangan masyarakat yang sebenarnya kalau boleh jujur kebanyakan dari mereka belum bisa dibilang layak untuk mendapatkan lisensi tersebut. Parahnya hal ini seolah diamini oleh konsep pembuatan surat ijin mengemudi yang seakan hanya tinggal meloloskan para calon pemilik lisensi dan kemudian membiarkan mereka berkeliaran di tengah jalan tanpa adanya mekanisme pengawasan secara berkala.

Seharusnya, pemerintah atau pihak kepolisian sebagai pemberi ijin, melakukan metode pengawasan tertentu terhadap para pemilik lisensi tersebut. Harapannya agar para pemilik lisensi ini bisa terpantau kelayakannya ketika mereka mengemudikan kendaraannya. Karena tidak selamanya kondisi para pengemudi yang sudah mendapatkan lisensi ini akan aman-aman saja. Bisa saja setelah mereka mendapakan sirat ijin mengemudi, ada yang mengalami gangguan fisik seperti penurunan kesehatan pada mata atau gangguan mental seperti stres atau penyakit lainnya yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan di jalan raya.

Salah satu cara yang bisa ditempuh dalam melakukan pengawasan ini adalah dengan membuat uji kelayakan kembali bagi para pemilik lisensi ketika yang bersangkutan akan memperpanjang masa kepemilikan surat ijin mengemudi tersebut. Biasanya yang terjadi selama ini, pada saat proses perpanjangan SIM tidak disertai dengan proses uji kelayakan kembali, sehingga seolah-olah proses perpanjangan yang ada hanyalah sebuah rutinitas formal belaka dan tidak terlalu memperhatikan aspek keberlanjutan bagi keselamatan umum di jalan raya.

Dengan metode seperti ini, akan dimungkinkan terjaringnya para pemilik lisensi yang sudah bisa dikatakan tidak layak sehingga hak kepemilikan lisensi mereka bisa segera dicopot.  Hal ini tentu saja secara tidak langsung akan mengurangi tingkat probabilitas terjadinya kecelakaan karena salah satu sumber penyebab banyaknya kecelakaan sudah ditangani. Meski tidak bisa dibilang sebagai solusi satu-satunya, paling tidak dengan adanya pengawasan seperti ini para pemilik lisensi tidak lagi akan sembarangan ketika menyetir kendaraannya.

By: Ibnu nashr a

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.