Skip to content


Kecewa

Pernahkah suatu ketika kita kecewa? tentu saja pernah. setiap orang pasti pernah merasa kecewa. untuk sekarang saya mau berbagi tentang rasa kecewa itu. dalam tulisan ini tentunya.

Kecewa adalah hal yang lumrah dimiliki oleh setiap manusia. ia muncul dari ketidaksesuaian antara keinginan dan kenyataan yang terjadi. kadang ia juga membawa rasa lainnya seperti sedih hati, putus asa atau bahkan rasa ingin bunuh diri.

Tapi kawan pernahkah kita berpikir bahwa kekecewaan itu datang dari diri kita sendiri? bahwa kekecewaan sebenarnya hanyalah rasa yang kita besar-besarkan sendiri. mulanya ia kecil namun perlahan membesar bersama titik jenuh kita akan suatu urusan tersebut. kenapa saya bilang kecewa itu rasa yang kita buat sendiri? karena hakikatnya kecewa itu hanyalah segumpal perasaan biasa. tak banyak berbeda dari rasa-rasa yang lainnya. cuma saja kita, yang selalu mengulang-ulang lantas hingga membuatnya menjadi besar. laksana bola salju yang menggelinding dan terus dibiarkan menggelinding hingga membesar. maka seperti itulah rasa kecewa itu.

Beberapa yang waktu lalu (hingga saat ini) saya terus memikirkan apa definisi yang tepat untuk mengartikan kecewa ini. bagaimana ia terjadi dan apa dasar yang menyebabkan ia terus ada dalam pikiran yang kalut. menurut saya kecewa dihasilkan akibat adanya standar (yang) tinggi dalam diri kita ketika menentukan sesuatu. dalam bahasa yang sederhana kita ini boleh dibilang “tidak tahu diri”. mengapa? karena saya sendiri melihat kecewa itu jadi masalah manakala ternyata kita tidak menyadari bagaimana standar sesuatu itu harus diterapkan sebagaimana mestinya.

Sebagai contoh kita yang seorang rakyat jelata, yang hidup dalam dunia yang biasa memimpikan memiliki kekasih paris hilton yang seorang selebritis dunia. maka itulah yang dinamakan “tidak tahu diri”. kecewa itu hadir karena kita jarang memandang kita sendiri. kita hanya memandang ke satu arah yang dinamakan harapan. sehingga mau tidak mau harapan itu akan dilanjutkan dengan putus asa dan tentu saja berakhir dengan kekecewaan.

Ya, saya sendiri sadari bahwa saya sering kali melakukan hal itu. teringat seorang bijaksana mengatakan bahwa “keinginan selalu ada disana dan kehidupan selalu ada disini”. yang tiada lain berarti bahwa dalam hidup memang akan selalu dipenuhi dengan harapan dan kekecewaan. namun sebenarnya yang perlu kita lakukan bukanlah menghindari kekecewaan -karena itu mustahil dilakukan- akan tetapi berusaha untuk meminimalisir tingkat kekecewaan yang mungkin akan kita dapatkan semaksimal mungkin.┬ásatu kuncinya, mari bersama berusaha supaya tak terjebak dalam fase “tidak tahu diri”.

Posted in Eksitasi Makna.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.