Skip to content


Pelajaran Ini

Beberapa waktu belakangan, saya sering sekali berpikir bahwa yang namanya pelajaran hidup itu selalulah datang dari hal yang ribet alias kompleks. pandangan dalam berpikir ini menguatkan pikiran saya bahwa saya diharuskan memikirkan segala sesuatunya yang serba rumit. padahal kenyataannya, hikmah kehidupan itu bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sederhana. kaya misalnya, kemarin pas saya nyoba ikutan nge gym bareng kawan-kawan di kampus. disana kami ngobrol dengan seorang instruktur fitnes yang lagi bertugas disitu. saya amati ketika berbicara, orang ini punya gestur dan gaya bicara yang baik. orangnya sopan dan ramah. jauh dari kesan bahwa tempat seperti ini biasanya dihuni oleh instruktur yang  bahasa populernya disebut ngondek. kesan mengayomi sebagai pegawai yang mengabdi pada pelanggan terlihat dari orang ini. pelajarannya bahwa kadang apa yang kita lihat atau yang belum pernah sama sekali kita ketahui tentang sesuatu itu bisa menjadi berbeda dengan kenyataannya.

Selanjutnya pelajaran yang saya ambil adalah nasihat dari ayah saya. beliau bilang bahwa dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan pada kenyataan yang tidak kita sukai. contohnya  ketika kita ditolak cinta misalnya. kata ayah saya ketika kita ditolak seseorang, maka kita tidak boleh marah atau dendam. ketika kita dimentahkan maka ya sudah tidak apa-apa, biarkan saja. akhirnya saya sadari hal ini ada benarnya juga. toh buktinya sekarang ayah saya punya istri yang cantik, yang tiada lain adalah ibu saya sendiri. hehe. hakikatnya hidup ini sederhana, begitu kata para filusuf. tak terkecuali bagi cinta. tapi kadang kita sendiri sebagai manusia yang membuatnya menjadi ruwet. iya pikiran kitalah yang bertanggung jawab atas semuanya.

Hikmah lain yang saya dapat yaitu ketika saya dibantu oleh teman-teman kuliah dalam mendorong motor saya yang mogok. saat itu motor saya kehabisan bensin, saya alpa untuk mengisinya. mereka (kawan-kawan) saya ternyata begitu semangat membantu saya. batin saya bergulat, nyatanya masih ada orang yang peduli terhadap saya. dulu saya pikir hidup ini hakikatnya akan selalu sendirian. tapi kejadian ini malah membantu otak saya mengubah asumsi saya selama ini. bahwa kita hidup tidak sendiri, melainkan ada orang lain yang sebenarnya senantiasa ada untuk kita. saya rasa hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Kahlil Gibran bahwa “kita semua sama, terpenjara dalam kesendirian hanya saja, ada yang terkukung di ruang gelap tanpa cahaya sementara yang lain menghuni kamar berjendela” 

Nah berarti hidup ini penuh dengan hikmah kan? hanya kadang kala kita sulit untuk memaknainya atau sekedar untuk menyadarinya saja. hidup memang begini, kadang seperti paradox, suka berlawanan dari satu kejadian dengan kejadian lainnya. konstruksinya aneh, belum lagi komposisinya juga yang begitu anomali. asalkan anestesi tidak terjadi, maka eksitasi makna niscaya juga tidak akan pudar darinya.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.