Skip to content


Pelabuhan yang runtuh

engkau bintang gemintang, aku hanya tulang belulang

engkau hamparan jingga senja, aku hitam pekat malam

engkau jalan luas bermateri, aku setapak penuh duri

engkau melati putih, aku amorphophallus yang kusam

 

engkau matahari yang terang, aku lilin yang luruh

engkau alunan merdu, aku guntur gemuruh

engkau batu permata, aku hanya metamorf

engkau hingar bingar, aku dibelenggu sunyi

 

engkau berjalan indah, aku berjalan pincang

engkau mata hati jiwa, aku mata fatamorgana

engkau jauh di awan, aku mengendap dalam lumpur

engkau bersih tanpa noda, aku kotor dengan tinta

 

engkau bertabur aksara, aku bisu dalam asa

engkau bersama semesta, aku hidup dibalik tirai

engkau menjalar kemana-mana, aku statis dalam ragu

engkau merobek hati ini, aku menunggu sendiri

 

kemanakah jalan akan berlabuh jika ternyata pelabuhannya sudah runtuh?

kemanakah aku akan membeli jikalau uangnya saja sudah tak cukup?

 

Posted in Puisi.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.