Skip to content


IM 2

Waktu selesai membaca beberapa halaman buku indonesia mengajar 2, tiba-tiba saya merasa ingin ikutan program ini juga. soalnya menurut saya program yang digawangi oleh Bapak Anis Baswedan ini mampu menghadirkan semangat bagi kaum muda untuk gemar melakukan perubahan. selain itu buku ini juga mampu menumbuhkan motivasi anak bangsa untuk menyegerakan tindakan mereka dalam bukti yang nyata. bukan lagi dalam bentuk kutukan atau hujatan yang acap kali sering dilakukan.

Buku indonesia mengajar 2 sendiri berisikan kisah tentang 72 pemuda-pemudi indonesia yang melakukan tugas mulia di tempat-tempat terpencil yang ada di nusantara. mereka mengabdikan dirinya sebagai pengajar di sekolah-sekolah yang ada disana. menariknya mereka ini adalah orang-orang  yang mau melepaskan diri dari kenyamanan, bahkan kemewahan hanya  demi sebuah pengabdian kepada bangsanya.

Ada beberapa kisah menarik di dalam buku ini. ada cerita seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah dengan kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan. hanya ada 3 ruangan kelas sehingga tiap ruangan harus diperuntukan bagi 2 kelas. namun hal ini ternyata tidak berdampak pada antusiasme anak-anak sekolah didaerah tersebut untuk tetap belajar. mereka rela menempuh jarak berpuluh kilometer hanya untuk mendapatkan sebuah ilmu yang mungkin pada saat yang bersamaan anak-anak lain sudah lama merasakan keberadaan ilmu tersebut.

Semangat mereka itulah yang menjadikan saya kembali bersemangat dan mensyukuri bahwa apa yang ada dalam diri saya saat ini sedikitnya sudah banyak lebih baik daripada mereka. selain itu ada juga kisah seorang guru yang membimbing seorang anak yang tuna rungu dan tuna wicara untuk mampu membaca dan melafalkan kata dengan baik. dalam benak kita pasti pekerjaan itu amatlah sulit namun berkat kegigihan pengajar tersebut, seorang anak tadi sedikit-sedikit sudah bisa melafalkan beberapa kata meski masih terlihat keterbatasannya.

Dan akan ditemukan banyak sekali kisah menarik serta menginspirasi dalam buku ini.  namun yang jadi perhatian adalah sudah sejauh manakah kita mampu berkontribusi bagi negara? jujur sejauh ini dengan segala yang ada, saya harus akui bahwa saya sendiri belum melakukan hal-hal yang kiranya menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi negara. rasa pengabdian kepada negara yang ada dalam diri saya terasa mengering saking akutnya rasa pesimis yang ada dalam diri ini. namun buku indonesia mengajar seakan turut “mengajarkan” saya bahwa apa yang saya lakukan tidaklah harus mengharapkan balasan apa dan dari siapapun. bahwa pengabdian merupakan sebuah tanggung jawab dari setiap individu terhadap orang lain dan lingkungannnya.

Akan tetapi ada satu hal yang saya kritisi yaitu pepatah china lama yang termuat dalam buku tersebut yang berbunyi “jangan hanya mengutuki kegelapan tapi marilah nyalakan cahaya lilin”. pepatah ini dapat saya katakan sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang mengingat kegelapan itu sebenarnya haruslah selalu dikutuki karena jika tidak ia akan terus menebal menjadi kegelapan yang abadi sehingga cahaya akan sulit masuk. namun hendaknya mengutuki kegelapan juga diberbarengi dengan menyalakan sinar. mengapa sinar? karena jika hanya cahaya lilin maka cahayanya akan lenyap seiiring dengan habisnya lilin yang telah mencair tersebut. dengan kalimat lain pepatah ini kasarnya akan berganti menjadi “teruslah kutuki kegelapan hingga padam dan nyalakanlah cahaya hingga keabadian”.

Hikmah lain yang saya dapat dari buku ini yaitu selain menjadi pengajar, guru juga seorang pendidik. dan proses mendidik itu bukan hanya sebatas di dalam kelas saja melainkan dimanapun guru itu berada maka disitulah proses pendidikan senantiasa berlangsung. guru berasal dari kata digugu dan ditiru. oleh sebab itu menjadi guru merupakan tugas yang berat. namun jangan khawatir, karena menjadi guru juga akan menjadikan seseorang menjadi mulia. dalam agama islam dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang senantiasa diajarkan dan diamalkan. kedua hal ini ternyata ada dalam diri seorang guru. maka adakah yang lebih baik dari pengabdian menjadi seorang guru?

 

 

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.