Skip to content

Categories:

Apakah Dunia Ini Adil?

Dunia itu adil ga sih? saya bertanya berulang kali. kalimat tanya itu bahkan sempet terngiang dalam otak saya berhari-hari hingga terasa ingin meledak. ya sedikit berlebihan memang, namun ketika melihat realitanya mungkin malah bisa jadi benar. hal ini bermula dari hal yang kecil sebenarnya ketika saya melihat akun twitter seseorang yang banyak berbicara dengan kalimat yang bagus dengan struktur kalimat yang menurut saya memukau. sejurus kemudian saya memutuskan mengklik alamat tumblrnya dan mengarungi tulisan-tulisan di dalamnya. wah sungguh luar biasa tulisannya, enak dibaca hingga terkadang malah mampu membuat yang membacanya menyeritkan dahi (meski saya tahu bisa saja orang lain menilai saya yang overrated). dari situ saya mulai tertarik dengan orang ini. seketika itu juga naluri stalker saya muncul lagi..hehe. saya penasaran ingin tau bagaimana sebenarnya rupa orang ini. ya siapa tahu saya pernah kenal atau minimal pernah melihatnya di sebuah tempat, kan bisa jadi saya bisa berguru ke beliau ini.

Nah ini yang jadi masalah dalam otak saya, ternyata setelah saya lihat foto orangnya, dia itu seorang wanita, bisa dibilang cantik, banget kalo kata saya mah. masih muda lagi.  wah pokoknya cantiklah. (FYI saya juga masih muda kok, tapi saya ga cantik, kan saya laki-laki 🙂 ) Yak kembali ke fokus, nah sejak itu muncul pertanyaan dalam benak saya ini, kok sepertinya ga adil banget ya ada perempuan muda, cantik, terus jago nulis lagi, kan saya jadi minder sekaligus bingung dan terus bertanya : “kok ada ya yang seperti ini?”. entah mungkin saya yang emang katrok dan kurang gaul, pemandangan.. eh kejadian ngeliat orang seperti ini tuh buat saya jadi kejadian yang amat langka. maka jadilah saya berfikir apakah dunia ini emang beneran ga adil?

Hmm setelah berhari-hari berkutat dalam kebigungan saya sendiri akhirnya memutuskan untuk menjawab pada diri saya sendiri tentang pertanyaan itu. apakah dunia ini adil? Iya. lantas mengapa ada kesan yang tidak adil dalam kejadian di atas? jawabannya karena kita hanya mampu melihat apa yang bisa kita lihat saja. maksudnya kita hanya mampu melihat sesuatu berdasarkan tangkapan atas rangsang yang masuk ke indera kita saja. kita hanya melihat sesuatu berdasarkan pandangan pragmatis alias hanya mampu memandang dari satu sisi saja. pandangan seperti ini kerap menjadi pijakan atas segala pemikiran dan tindakan kita mengenai hidup ini. tidak salah memang karena fitrahnya kita dibekali kemampuan untuk berfikir secara empiris (melihat bukti secara nyata) namun kadang ada banyak hal yang tidak bisa ditangkap secara sempurna oleh indera kita. dari ketidaksempurnaan indera inilah yang menyebabkan informasi yang masuk ke kepala kita juga ikutan menjadi tidak sempurna, dan walhasil pemikiran kita akan sesuatu itupun menjadi tidak sempurna alias tidak menyeluruh. mengenai kejadian di atas sebenarnya rasa ketidakadilan itu bersumber dari diri kita sendiri. ada yang tau datangnya dari mana? ya, pemikiran seperti ini datang dari bentuk ketidaksyukuran kita akan segala anugerah hidup yang telah kita miliki. istilahnya kita selalu melihat rumput tetangga itu lebih hijau daripada rumput sendiri padahal bisa jadi rumput yang lebih hijau itu adalah rumpu sintesis alias rumput palsu ! nah loh gimana tuh jadinya?

Kuncinya ada pada rasa syukur. ingat syukur itu bukan hanya sekedar ungkapan Alhamdulillah saja. akan tetapi ada banyak ekspresi dan cara kita untuk menunjukkan rasa syukur itu. salah satunya adalah dengan menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik bagi diri kita. pernah lihat film “Medley” yang dibintangi oleh Rachel Maryam dan Yosie Project pop? atau film “Change Up” yang dibintangi oleh Jason bateman dan Ryan Reynold? sekali waktu boleh dilihat dalam dua film itu. kedua film itu mengajarkan  kepada kita akan makna kehidupan yang baik yang bakal diperoleh ketika kita menerima hidup ini dengan penuh syukur karena belum tentu segala yang kita anggap baik, menyenangkan atau bahkan membahagiakan akan menjadi sedemikian benarnya manakala itu terjadi pada kita. oleh karena itu marilah kita selalu membiasakan diri untuk selalu bersyukur. bersyukur atas apa yang ada pada kita saat ini. bersyukur dengan menikmati segala yang telah kita miliki dan bukan terus mencari sesuatu yang belum tentu akan membuat kita merasa lebih baik ketika kita telah memilikinya. bersemangat itu boleh, obsesi juga boleh asalkan dalam kadar yang pas. tapi tidak bersyukur atau sampai bilang dunia ini tidak adil sepertinya kita sendiri sudah tahu akan jawabanya. tentu tidak boleh. 🙂

*tulisan ini didedikasikan untuk diri saya sendiri dan pembaca yang mungkin saja mengalami pemikiran yang hampir sama dengan yang saya alami.

Posted in Uncategorized.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.