Skip to content


Refleksi 67 Tahun

Hari ini 17 agustus 2012 Indonesia, negeri dimana saya dilahirkan dan berpijak di bumi ini merayakan “ulang tahun”nya yang ke  67 tahun.  dan masih seperti biasanya orang-orang diluar sana banyak bergembira menyambutnya meski tak sedikit juga yang lebih memilih larut dalam suasana mudik dan persiapan merayakan lebaran yang tinggal beberapa hari lagi. saya sendiri memaknai kemerdekaan sebagai sebuah hal yang sebenarnya istimewa adanya. namun kondisi keprihatinan bangsa ini dari hari ke hari seakan membuat saya kehilangan akan makna sakral hari lahirnya bangsa ini. seolah sealam dengan apa yang saya rasakan, suasana perayaan kemerdekaan hari ini seakan sangat hambar (kalau tidak mau dibilang basi).

Mungkin saja ini terjadi karena bangsa ini sudah mulai melupakan jati dirinya sebagai bangsa yang menghargai tanah airnya. atau bisa jadi sebaliknya, bangsa ini sudah jenuh dengan kondisi yang semakin lama kian memburuk. para maling eksekutif yang terus bertambah. penipu legislatif yang kian meradang dengan membawa tipuannya pada publik bahkan yudikatif yang dipermainkan oleh intrik yang ada walau ada juga sebagian indikasi iapun ikut bermain dalam “drama” ini. saya sendiri tak ingin mempermasalahkan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab akan semuanya. sudah terlalu banyak rasanya saya mengutuki kegelapan ini karena memang kegelapan ini seolah tidak mau beranjak pergi dan mempersilahkan cahaya untuk memasukinya.

Ketika lautan manusia diluar sana masih banyak yang optimis dengan negeri ini, saya justru tidak. saya pesimis dengan negeri ini. biar.. biar orang mengutuki saya sebagai seorang pengutuk negara, pembangkang, atau pembual sekalipun saya masih belum beranjak dari keyakinan saya akan kebangkitan negeri khatulistiwa ini. ijinkanlah saya menjadi seorang yang pesimis untuk negara ini. ijinkanlah.. ijinkan saya menjadi satu-satunya orang yang pesimis dalam bala hutan ini. dan biarkan orang lain yang semakin banyak optimis akan negeri ini. buat supaya banyak rakyat indonesia bangkit dari keterpurukan ini. kemudian biarkanlah saya saja yang tenggelam dalam luapan air pesimis bersama tubuh ini. saya rela. semata karena ingin negara ini yang bangkit, negeri seribu pulau ini yang sejahtera. sudah terlalu banyak kepedihaan menyapa kita. belum lagi gurun air mata di tangis anak-anak kelaparan dipinggir kota. tulang kering berhamburan dalam laparnya anak-anak di sumbawa.  masih banyak manusia membutuhkan kantong-kantong bantuan akibat bencana di ujung pulau sana. bahkan masih ribuan kasus yang belum saya sebutkan melanda negeri ini.

Pertanyaannya sukakah kita akan itu semua? sudikah kita menyaksikan mereka binasa ditengah-tengah kita? ditengah saudara-saudaranya sendiri? lantas apa yang mesti kita perbuat untuk memperbaiki semuanya? maka jawabannya saya serahkan pada orang-orang yang masih optimis diluar sana, saya tidak tahu jawabnya, bahkan tidak ingin menjawabnya. karena sekali lagi saya  sudah terlalu pesimis untuk itu.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.