Skip to content


Aku dan Tapi

 

Aku ingin seperti matahari yang selalu menyinari bumi dikala siang dan tetap seperti matahari yang menitipkan cahayanya pada bulan dikala pekat malam datang.

Tapi aku tidak ingin menjadi lilin yang menyinari kegelapan, yang kemudian hilang dimakan api perlahan-lahan.

Aku ingin seperti buah durian yang luarnya terlihat menyakitkan.

Tapi memberikan senyum saat mengecap manis apa yang mereka rasakan.

Aku ingin seperti bintang yang menggantung di langit malam. indah, jauh tak pernah tersentuh para makhluk durja.

Tapi aku tak mau seperti duri yang bertaburan di jalan. dekat namun menyakiti kulit yang akhirnya terpaksa berganti usia.

Aku ingin menjadi bulan separuh. tersenyum sinis seolah tak punya bayang.

Tapi aku tidak ingin menjadi air yang keruh, lapang namun tak sedikitpun enak dipandang.

Aku ingin menjadi kertas putih yang tubuhnya rela disakiti dan terkoyak.

Tapi aku tidak ingin menjadi pulpen yang pergi begitu saja setelah menyilet-nyilet kertas, dan kemudian menghabisi dirinya sendiri tanpa sebuah jawaban.

Aku ingin menjadi seperti api yang membakar segala kenangan.

Tapi aku tak ingin menjadi air yang membawa kenanganku hidup terobang ambing di dalamnya lautan.

Aku mau menjadi seperti obat pahit yang enggan ditelan. jerah meski dibenci.

Tapi aku tak mau menjadi gula manisan. menaikan gula darah dan akhirnya malah dicaci.

Aku ingin menjadi kembang api di taman. yang akan hangus terbakar setelah habis dipandang semua orang.

Tapi aku tak ingin menjadi petasan. mengagetkan sesaat dilempar, hingga begitu banyak dibenci orang.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.