Skip to content


Flu Hari Ini

kuniatkan hari ini untuk menyelesaikan tugasku dengan pergi ke kampus. terik siang mulai menyengat meski tidak terlalu panas. kukunci pintu kamar kosku dengan hati-hati. lalu kuberjalan menunggangi waktu yang terus berlalu sambil memikirkan apa yang akan kulakukan hari ini. kendaraan hijau sudah siap menjemputku sekarang. lalu kusinggahi jalan raya yang penuh dengan aspal panas sampai kampus itu.

dua tiga orang yang kukenal mulai kusapa dan sebaliknya. hingga aku masuk dalam ruangan penuh tumpukan buku dipojok-pojoknya. menaruh tas dan menenteng masuk kartu berfoto seraya membawa laptop hitam milikku. kumulai tugasku hingga siang semakin menampakkan aslinya walau aku tidak terlalu merasakannya. kulanjutkan dengan berbincang-bincang sampai sore. makan buka puasa gratis setelah sebelumnya mendengarkan kajian. tak terasa, dulu akulah yang melakukannnya namun sekarang zaman telah berganti dengan manusia-manusia muda penuh energi yang dan untuk melanjutkannnya. kubasuh wajahku ramai-ramai dengan yang lain untuk melaksanakan solat berjamaah.

dingin dalam gemerlap bintang menyapa diri selepas matahari pergi. menusuk-nusuk kulit tipis dengan daging tebal ini. melepaskan uap dalam pekatnya jalanan malam yang kulalui. kuangkat kepalaku menatap ke atas langit. lalu kutatap hamparan bintang semesta nan cerah menemani temaram sinar rembulan yang tersenyum tipis. sungguh indah. jauh dari polusi cahaya. bahkan hingga rasa lelah yang melekat perlahan-lahan hilang takjub karena melihat panorama alam ini.

kusadari angin terus menerus menggebukku dari berbagai arah. kurindingkan tubuhku dalam dekapan hangat kedua tanganku. menelusuri gang-gang kecil serta pinggiran jalan raya bersama kelap kelip lampu kendaraan yang berlalu lalang. tak terasa hidung ini terus berisik, mungkin kumpulan virus influensa yang ada sejak kemarin ini adalah penyebabnya.

kulihat seorang pemuda sedang makan dalam cafe kecil. sibuk menyuap nasi sambil memainkan tombol ponsel pintarnya. ah aku masih ragu siapa yang sebenarnya pintar, ponsel itu atau justru kita ini. aku masih bingung dengan alasan sebenarnya hingga kita mau menggunakan ponsel pintar. apakah kita masih kurang cukup pintar? tidak juga, buktinya kitalah para manusia yang menciptakan alat ini.

aku terus melewati jalan berkelok itu. kulihat para pejalan kaki mulai sepi dan kemudian digantikan oleh pemandangan sepi warung-warung yang  tutup. dari kejauhan kulihat kumpulan bapak-bapak yang mulai meronda. entah sangkaanku benar atau tidak. mereka berkumpul dalam tempat-tempat kecil. mungkin sambil memesan segelas kopi dan menyeruput hangatnya bakaran rokok yang mungkin saja baru dia beli tadi sore.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.