Skip to content

Categories:

Lelaki Tua

Di gang sempit itu aku berjalan terhuyung sambil membawa segumpal beras dalam plastik hitam. lebar jalannya tak lebih dari 50 cm dengan hiasan dinding kasar menjulang tinggi mendongak diatas kepalaku. aku sangat pening, tidak biasanya seperti ini. seberkas sinar cahaya kuning terus mengarungi ruang penglihatanku. mereka seolah beterbangan dan menggerayangi relung pandanganku malam ini. memang aku sial sekali hari ini, mereka mengejarku dengan membawa sebilah alat yang mengerikan. memantulkan alat itu kebadanku berkali-kali tanpa ampun. mengejarku hingga aku terjatuh dan tergesek batu kerikil jalanan. huh.. memangnya mereka siapa. mereka pikir apa yang mereka lakukan itulah yang benar. Tapi mereka memang benar, ya.. mereka memang yang benar, benar-benar sampah. aku tidak berbohong, buktinya baru dua hari yang lalu kulihat mereka berkumpul sambil mencekik ratusan botol hasil sitaan. tapi hari ini mereka berlagak seolah mereka adalah tuhan. menistakan kami seolah mereka adalah ustad-ustad yang rajin berceramah di surau-surau itu. maka aku tak segan memanggil mereka dengan sebutan sampah, lebih sampah daripada sampah-sampah yang pernah ada.

Tak lama aku berjalan akhirnya aku sampai didepan pintu kamar petakku. tak terasa sudah, berpuluh-puluh tahun aku mendiami tempat ini. seakan mereka adalah saksi bisu ketika kehidupanku yang berpeluh kesah dalam kesendirian ini tumbuh hilang bersama usiaku yang kian hari kian bertambah dimakan zaman. ku lap pipiku yang penuh dengan bercak merah sambil menuangkan sedikit obat untuk meredakan rasa nyeriku. aku merebahkan diri dialas tikar berdebu yang mungkin saja usianya lebih tua daripada usia kemerdekaan bangsa ini. ya.. tikar ini adalah warisan dari nenekku dulu. beliau memberikannya saat aku muda. perlahan ku taruh seluruh badanku dengan teliti, takut-takut kalau ada nyeri yang mungkin belum aku obati. rasanya lelah sekali badan ini, meski ini bukan yang pertama kali aku rasakan. mataku jatuh menatap langit-langit kamar petakku dan bergumam kecil menyanyikan sebuah lagu yang familiar di memori sanubari. seketika itu juga aku merasa seakan aku kembali ada dimasa itu, masa lalu yang dulu, yang selalu aku rindu..

“ayah, umurku sudah 6 tahun, bolehkah aku bersekolah untuk tahun ini ayah?” kata anakku dira. ia menyebut pertanyaan ini berulang-ulang.

“iya nak, kamu mau sekolah ya, sini ayah peluk, wah ternyata anak ayah sudah besar ya, ga kerasa lho padahal dulu kamu masih keciil sekali” kataku sambil membereskan daganganku.

“aku mau sekolah ayah, di SD yang ada di ujung sana. sekolah yang ada pohon beringinnya, aku pernah kesitu sama kak mira, enak deh yah adeemm” lirih anakku sambil merindingkan tubuhnya.

“iya, nanti ya. nanti ayah mau cari uang yang banyak supaya bisa menyekolahkan kamu. tapi sekarang ayah mau pamit buat kerja dulu ya. doakan ayah supaya mainan ini cepat laku ya cantik”

“iya ayah”

“nah sekarang sana main diluar, kalau nggak kamu ayah titip ke kak mira saja ya, biar kamu ada temennya. yuk kita ke rumahnya kak mira”

“aayuuk”

dira adalah anak dari hasil pernikahanku dengan ibunya, erni. namun sudah dua tahun belakangan ini aku dan erni tidak lagi bersama. erni memilih untuk pergi karena tak tahan hidup bersamaku. ia memutuskan untuk bekerja ke ibu kota dengan menjadi pembantu rumah tangga.  kehidupan sehari-hari kami memang memprihatinkan. aku hanyalah seorang pedagang serabutan yang berganti dagangan tiap kali musim berganti. saat musim mainan aku dagang mainan, saat musim makanan ringan akupun berganti dagangan makanan ringan. begitu seterusnya hingga kusadari 6 tahun usia pernikahanku, kondisi keluargaku masih seperti ini saja. sedangkan istriku dulu adalah ibu rumah tangga biasa. ibu rumah tangga yang memutuskan untuk mengabdi pada keluarga. tapi hingga suatu saat sampai ia memutuskan untuk pergi meninggalkan aku dan anakku, dira.

akhirnya aku sendiri yang bertanggung jawab membesarkan dira. menjalankan tugas ganda dalam mendidik anakku satu-satunya ini. menurutku dira adalah seorang anak yang polos dan tidak banyak meminta apa-apa kepadaku. saat anak lain seusianya merengek meminta mainan, dira justru hanya meminta sebuah pulpen. ternyata ia senang sekali menulis. dimanapun bahkan dinding kontrakan kami pun dicoret-coretnya. dira juga suka sekali menari. akan tetapi aku menjadi merasa sedih dan bersalah tiap kali ia menanyakan ibunya. seringkali aku gugup untuk menjawab pertanyaannya. dira juga sering menangis sendiri saat bertanya dimana ibunya dan tidak mendapatkan jawaban yang jelas dariku. aku hanya bisa termenung dalam diam. menyaksikan anakku sendiri berada dalam penderitaan hidup ini.

sudah 1 tahun terakhir aku menitipkan dira kepada mira terutama saat aku pergi berdagang. mira adalah seorang anak tetanggaku yang mengidap penyakit yang aku tidak tahu namanya, namun ciri yang paling aku tahu adalah bahwa mira tidak mampu berbicara dengan orang lain. orang-orang menyebut mira gagu. usia mira sekitar 16 tahun. dulu saat pertama kali pindah kesini orang tuanya bilang bahwa usianya 8 tahun. mira tidak bersekolah. selain karena keterbatasannya, orang tuanya juga memiliki pendapatan yang terhitung sangat pas-pasan. kedua orang tua mira sibuk bekerja. ibunya adalah buruh cuci dan ayahnya adalah supir tembak mikrolet. kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan keluargaku. berada dalam kekurangan. bahkan tak jarang para penagih hutang seringkali berteriak didalam rumah mereka saat mereka belum melunasi hutang yang mereka pinjam. akan tetapi aku merasa berterima kasih kepada mira karena ia mau menjaga dira. walau ia memiliki keterbatasan, dengan sukarela ia mau mengasuh meski tak dibayar sepeserpun olehku.

Lamunanku terpaksa berakhir saat seseorang mengetuk kamarku.

” le.. le..le.. tolong bukakan pintu le.. aku dikejar-kejar le.. tolonglah.. bukakan pintu ini le” begitu suara itu terdengar. aku tak asing mendengar suara ini. ini suara temanku, anto.

“sebentar to” bergegas kubuka pintu kamar petakku.

“tolong le, tolong saya. saya dikejar-kejar kamtib”.

“yausudah.. ayo masuk”.

dengan segera aku persilahkan anto masuk sambil menutup pintu rapat-rapat. lalu kumatikan lampu kamarku agar tak terlihat ada orang diruangan ini. kusuruh anto duduk di tikar dan kuambilkan segelas air agar ia lebih tenang.

“seperti biasa le, saya dikejar-kejar mereka lagi. biasanya saya langsung lari dan bisa meloloskan diri, tapi sial kali ini mereka datang bawa banyak pasukan dan saya kepaksa lari kesini biar ga ketangkep.” ujarnya sambil berusaha mengatur nafas.

“iya to, sama saya juga tadi dikejar-kejar mereka. ini buktinya” kataku seraya menunjukan sedikit luka lebab akibat pukulan mereka.

“wah ternyata saya lebih selamat daripada kamu ya le. tapi syukurlah kamu juga ga ketangkep.”

“iya to. sekarang istirahat aja dulu sambil nunggu keadaan aman kembali. oya  bagaimana keadaan istrimu? sudah diajak berobat belum?” tanyaku penasaran

“panas tubuhnya sudah turun le. tapi saya masih khawatir tadi sore ia bilang badannya masih terasa nyeri.”

“syukurlah, saya sarankan kamu segera antarkan istrimu ke dokter to, supaya lebih jelas apa sakitnya.” saranku

Anto pun hanya mengangguk mengiyakan saranku. sejenak kemudian ia berusaha menerawang keatas sambil mendekatkan telinganya ke tembok kamarku.

“ada yang lewat le. sepertinya itu mereka” tiba-tiba anto berkata.

“sst” kataku perlahan

suara langkah kaki mereka satu persatu bergantian memenuhi ruang pengap ini. suara yang begitu mengerikan. bunyi sepatu kekar yang bergesekan dengan jalan terdengar nyaring. sesekali terdengar umpatan yang kurang jelas maknanya. ada suara seseorang yang mungkin itu adalah komandan mereka menyuruh mereka untuk menyusuri jalan-jalan didepan gang depan kamar petakku.

lima menit berlalu dan suara-suara jejak kaki itupun menghilang. kondisi diluar mungkin sudah lebih aman. tapi untuk memastikan bahwa memang sudah aman, aku berinisiatif keluar kamar dan segera membuka pintu sambil berjalan keluar. kutengok kiri dan kanan suasana sekitar. nampaknya mereka memang sudah pergi.

kemudian kupersilahkan anto untuk keluar dari kamarku. aku tahu hari ini dia harus mengurus istrinya yang sudah lama sakit itu. dirumahnya hanya ada anak laki-lakinya yang baru berumur 6 tahun. anak itu mengurus ibunya sendirian sementara ayahnya bekerja siang dan malam, tak kenal waktu juga tak kenal lelah.

Sejurus kemudian aku jadi teringat bagaimana keadaan anakku satu-satunya, dira. sudah hampir 15 tahun aku tidak bertemu dengannya. keadaan itu memaksaku untuk meninggalkan dira. dan karena itu pula aku terpaksa menitipkan dira pada keluarga mira. dan pergi meninggalkan gadisku yang mungil itu demi memenuhi cita-citanya untuk bersekolah. namun nahas bagiku, peruntukanku di dunia ini tidak banyak berpihak pada keinginan dan harapku selama ini. usahaku di kota hancur lebur akibat ditipu oleh manusia durja yang tidak tahu diuntung. mereka mengambil semua modal usahaku dan tentu saja berikut semua uang yang tersisa yang aku miliki.

Saat aku kembali kesini, tempat ini sudah jauh berbeda bahkan berkembang dengan begitu pesatnya. namun kekecawaan selalu saja senang menghinggapi dada ini dengan berita-berita menyakitkan. aku tidak menemukan keluarga mira dirumahnya. juga dengan anakku dira. beberapa orang mengatakan bahwa mereka semua diusir oleh para lintah darat yang dulu sering berteriak-teriak memaki keluarga mira. mereka tidak mampu melunasi semua utangnya hingga rumah mereka disita dan akan dijual kepada orang lain. aku bingung kemana lagi akan berlabuh sementara yang  tersisan adalah tubuh dengan susunan daging hitam dan tulang tipis rapuh dan pakaian kumal yang berusaha menutupi sedikit malu serta segunung kesedihan.

“le makasih ya udah bolehin saya numpang disini, saya pamit ya le.. terima kasih” seraya menundukan kepala sambil memegang tangan seolah ingin mencium tanganku. dengan segara saya bertolak halus dan berkata ” iya to, sama-sama”

Aku berteman lama dengan anto, hampir lebih 10 tahun sudah kami bekerja bersama-sama. bekerja saling membantu untuk mendapatkan informasi agar bisa menyembunyikan diri. bahkan kadang kami saling berbagi pelanggan meski tak jarang juga kami sering berebut berkelahi hebat karena kalap. kebanyakan itu terjadi ketika kami sama-sama tak punya uang. pekerjaan ini menuntut kami berlaku seperti itu. kadang menjadi kawan, kadang menjadi lawan. pekerjaan ini juga menuntut kami untuk berlari, bukan berlari dalam artian kiasan tapi lari dalam arti yang sebenarnya, berlari ketika manusia-manusia sok suci itu mengejar kami. karena kami adalah penjaja cinta jalanan. penjaja cinta yang haus akan uang dengan menggadaikan kehormatan. kami yang selalu dikejar-kejar hampir tiap malam. kami yang tak resmi seperti para penjaja yang ada di hotel mewah sana. kami yang bukan melayani lawan jenis. tapi kami memangsa dari jenis yang sama dengan kami sendiri. kami ini adalah pelacur-pelacur malam yang banyak dikutuk orang. mereka memanggil kami dengan sebutan Waria.

(bersambung)

Posted in Uncategorized.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.