Skip to content


Transjakarta Kini

 

Siang itu saya sama adik saya yang baru saja lulus SMA hendak berkunjung ke pusat kota Jakarta. maklumlah kami sebagai warga pinggiran jakarta memang jarang sekali ke daerah jantung kota jakarta. selain lokasinya yang jauh, tempat kami tinggal juga sangat berdekatan dengan 2 wilayah penyangga DKI yaitu kota Bekasi dan Depok jadi wajar saja kalau kami lebih suka berkunjung kedua wilayah itu daripada pergi ke “kota jakarta” yang terkenal macet disana sini. maka jadilah kami seperti sekarang. orang jakarta, tapi tidak banyak tahu tentang jakarta itu sendiri. makanya ga heran gaya kami memang tidak sama sekali mencerminkan orang jakarta yang gaul dan parlente itu. gaya kami cukup sederhana. paling tidak memang mewakili dari kelas masyarakat pinggiran kota yang didominasi oleh golongan masyarakat biasa dan bukan golongan konglomerat apalagi kaum artis, meski saya tidak bisa pungkiri rumah saya hanya berjarak 15 meter-an dari kampung artis (lokasi syuting sinetron dan video klip para artis).

Kembali ke topik, sebagai warga “kuno” saya dan adik saya mencoba untuk melakukan hal yang baru. ya, kami berencana main-main ke pasar senen, jakarta pusat. karena kami memang sudah punya label kuno sejak lama, maka perjalanan kamipun tidak sendirian. kami mengajak seorang sepupu jauh kami untuk menemani perjalanan kami, khawatir nanti terjadi apa-apa sama pemuda-pemuda yang ganteng nan rupawan ini. perjalanan kami dimulai saat kami bertemu disebuah pusat perbelanjaan, ah tidak usah saya sebutkan namanya. kami bertemu di PGC alias Pusat Grosir Cililitan. disana kami tidak untuk berbelanja tapi hanya sekedar mampir ketemuan, karena perjalanan kami kali ini memang unik dan jarang kami lakukan. ya, kami naik busway atau bahasa kerennya transjakarta. transjakarta ini adalah sebuah moda transportasi yang langka karena jarang kita bisa temui di kota-kota lain kecuali di jakarta. maka sepakatlah hari itu bagi kami untuk naik transportasi yang baru diresmikan 8 tahun yang lalu ini.

Jujur meski ini bukan yang pertama kali, saya masih merasa canggung ketika menaiki bus ini. bahkan untuk sekedar membeli tiketpun saya masih canggung dan terpaksa menyuruh adik saya melakukannya. (padahal kenyataannnya saya berharap dibayari oleh adik saya). maka saya pun menyuruh dia untuk membeli tiketnya. tiketnya murah hanya 3.500 rupiah saja per orang. setelah tiket disobek oleh penjaga tiket saya dengan semangat berjalan masuk ke shelter bus dan dengan pede berdiri menunggu bus bersama adik dan sepupu saya tersebut.

Lima menit sudah berlalu, kami belum juga naik padahal sudah satu bus lewat tapi sayangnya bukan bus dengan jurusan yang kami maksud. 10 menit kemudian kami masih setia menunggu bus yang kami maksud. 20 menit selanjutnya kami sudah mulai gusar, keringat dibadan sudah mulai mengucur (meski kucurannya tidak sederas aliran sungai cikapundung). menit-menit berikutnya diisi dengan tanya jawab dari sesama penumpang yang menanyakan arah tujuan bus yang mereka cari. mereka menatap kami seolah kamilah yang paling berpengalaman dalam menaiki busway. maka dari itu supaya tidak mengecewakan mereka, saya segera pasang wajah sok mengerti dan bercuap-cuap menyakinkan meski saya sendiri tidak (akan pernah) yakin dengan jawaban saya itu.

Selesai dengan percakapan, akhirnya kami naik. kami tidak naik bus yang kami maksud, melainkan kami naik bus yang berbeda jurusan dengan yang kami tuju dengan harapan nantinya kami bisa transit dan berganti bus menuju daerah tujuan kami, yaitu pasar senen.  namun nahas bagi kami, setelah transit kami harus mendapati pil pahit yang harus kami telan dengan segera, tempat transit kami penuh dengan lautan manusia (dan lautan keringat juga pastinya). walhasil kami sempat bengong kemudian berdiskusi untuk memutuskan apakah akan melanjutkan perjalanan ini atau tidak. pertimbangannya kalau menunggu, kami akan kehabisan waktu dengan bercokol ditempat yang sumpek ini. kalau ganti angkot kami harus mengeluarkan uang lagi. namun karena kami cerdas-cerdas, maka kami lebih memilih meninggalkan busway dan pergi ke senen menggunakan angkot. pilihan yang efektif karena menghemat waktu namun tidak efisien karena telah membuang uang berlebih dari yang seharusnya.

Yang jadi pertanyaan saya saat itu, mengapa alat transportasi sekelas busway a.k.a transjakarta masih saja belum memiliki pelayanan yang optimal. padahal tujuan awal transjakarta dibangun adalah untuk mengurangi kemacetan dan menyediakan alternatif angkutan yang lebih nyaman dan cepat. dari logika tujuannya saja sebenarnya sudah kita dapati bahwa transjakarta itu ada untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses kebutuhan transportasi sehingga masyarakat tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi yang notabenenya selama ini menjadi biang kemacetan yang terjadi di kota jakarta. akan tetapi kenyataannya sungguh ironis, manakala busway didirikan (sekaligus digembar-gemborkan) sebagai alternatif transportasi yang cepat namun yang terjadi malah berkebalikan dengan kenyataan yang dihadirkan. transjakarta dirasakan sangat tidak optimal. fakta membuktikan, bahkan menyakinkan bahwa paradox itu memang ada dan terjadi. dari pengalaman saya beberapa waktu yang lalu ada beberapa poin penting yang bisa dijadikan rujukan betapa tidak optimalnya transjakarta;

1. Bus sering datang terlambat

Jarak kedatangan antara satu bus dengan bus yang lain masih dirasa lama. bahkan ada beberapa bus yang terparkir di dekat shelter tapi tidak digunakan padahal antrian sudah menumpuk didepan pintu keberangkatan.

2. Pelayanan dalam penunjuk arah bagi penumpang masih belum optimal

Penunjuk arah merupakan hal yang penting bagi penumpang terutama bagi penumpang yang awam dan berkebutuhan khusus. sejauh yang saya amati pelayanan penunjuk arah bagi para penumpang masih belum terlaksana dengan optimal. masih sedikit petugas yang menjelaskan mana arah tujuan bus-bus yang datang. bahkan di shelter yang saya datangi seorang tukang koran yang malah bertugas melakukan penujukan arah.

3. Trayek bus yang tersedia sering tidak memenuhi quota yang seharusnya ada

Faktor ini merupakan salah satu penyebab terjadinya penumpukan penumpang. dalam artian ada beberapa bus dengan trayek tertentu yang langka jumlahnya. misalnya saja yang terjadi pada saya ketika saya hendak naik transjakarta , jumlah bus dengan trayek yang akan saya  naiki jumlahnya sangat kurang (kalau mau dibilang langka). bayangkan dari sekitar 6-8 bus yang lewat tidak satupun bus yang saya maksud itu datang. berarti terjadi ketimpangan jumlah bus antara satu bus dengan bus (dengan trayek) yang lainnya. itulah masalahnya, dari dulu problem ini sudah banyak dibahas namun belum ada tindak lanjut dari pemerintah sendiri.

Sebenarnya dari beberapa poin yang saya jabarkan, masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki dari transjakarta ini. saya pribadi tidak bermaksud untuk menilai jelek namun hanya membeberkan beberapa fakta yang memang sudah seharusnya diperbaiki, bahkan sejak pertama kali transjakarta itu ada. kita semua tahu bahwa transjakarta adalah kebanggaan warga jakarta dan pemerintah DKI Jakarta juga tentunya. namun bukankah lebih baik kalau kebanggaan itu disempurnakan dengan bentuk yang optimal dari penyelenggaraannya. sudah saatnya kita bersama-sama serius untuk membenahi masalah ini. dan bentuk keseriusan kita adalah memberikan kritik serta saran bagi pemerintah agar senantiasa untuk terus memperbaiki pelayanan publiknya. sudah saatnya jakarta menjadi kota yang bersih, rapi dan indah. dan mungkin saat ini hal itu masih merupakan mimpi kita bersama. namun percayalah bahwa suatu saat nanti ketika kita sudah berjuang bersama dengan maksimal hal itu akan tercapai.

Namun ada satu lagi yang patut disayangkan, transjakarta kini malah digunakan sebagai alat kampanye bagi calon pemimpin jakarta, seperti yang terjadi saat ini, saat menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur jakarta periode yang baru. padahal kondisi transjakarta saja masih sedemikian mengenaskan. kalau boleh sedikit berpesan saya menyarankan kepada warga jakarta untuk jangan terpancing dengan janji-janji calon pemimpin jakarta yang menggunakan transjakarta sebagai kampanye keberhasilannya karena kenyataannya tidak seperti apa yang disampaikan. kalau anda mau memilih pemimpin, maka pilihlah yang sesuai dengan hati nurani, kalau bisa yang berani memberikan bukti atau kontrak sosial sekalian kalau  memang ia seorang pemimpin yang sejati, dan bukan juga memilih yang sudah terbukti sering ingkar janji.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.