Skip to content

Categories:

Kehidupan

Kehidupan. Banyak yang bilang bahwa kehidupan adalah hal yang sulit dimengerti. Dan memang kalau kita pikir lagi pernyataan itu benar adanya. Sungguh betapa kita tidak pernah mengerti tentang kehidupan ini. Semakin kita berpikir keras semakin pula kehidupan ini memberikan perlawanan dalam perjalanannya. Semakin kita mencoba memahami kehidupan maka semakin sulit juga memahami kehidupan itu sendiri. diibaratkan seperti saat kita berdiri di atas rel kereta, kita melihat ujung rel itu dan kemudian berjalan untuk mencapainya, tetapi begitu sampai ke tempat yang kita sangka ujung rel tadi, ternyata ada ujung rel lagi nun jauh disana, dan kita berjalan lagi, melihat ujung lagi, berjalan lagi, melihat ujungnya lagi. Begitu seterusnya. tidak pasti dan tidak akan ada habisnya.

Hidup juga selalu diwarnai dengan hal-hal yang selalu saja pragmatis. Kita tidak bisa melihat hidup melalui sudut pandang kacamata milimikron kita. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan final atas suatu perkara. Kita tidak akan pernah memahami nomena secara 100%. Dan kita akan selalu terjebak dalam argumentasi atas fanatisme kita pada akal-rasional, emosi dan naluri kita sebagai manusia.

Betapapun hebatnya manusia yang ada didunia ini, ia akan tetap saja tidak mengerti akan kehidupan. Sudah banyak orang jenius yang hidupnya berantakan, karena memang hidup ini bukan sekedar kecerdasan. Banyak pemimpin dunia yang diakhir hidupnya mati mengenaskan. Lagi-lagi karena memang hidup bukanlah sekedar kekuasaan. ini adalah bukti bahwa hidup tidak bisa dipahami oleh orang hebat sekalipun. Apalagi yang biasa saja.

Namun tak jarang hidup memberikan kita pelajaran darinya. Dari lika-liku yang hadir dalam warna-warni jalan aral yang membentangkan dirinya. Memberikan hikmah bahwa kita akan mengerti hidup manakala ada zat tempat kita bergantung ketika kita lelah untuk memahami hidup ini. Ya, kehadiran tuhan yang maha esa. Tuhan yang disebut telah mati oleh nietzche dan freud. Dan tuhan yang dijabarkan dalam ritual agama yang dikatakan candu oleh marx. Padahal secara sadar mereka juga tidak memungkiri pernyataan itu hanyalah bagian dari nalurinya saja. mungkin sama seperti yang dirasakan feurbach sekalipun. Bahwa tuhan adalah hal mutlak dalam kehidupan yang tidak bisa dimengerti ini. Yang mereka tidak mengerti adalah hidup ini. Mereka kecewa kepada hidup ini. Mereka mempertanyakan kehadiran tuhan. Namun mereka malah merasa tuhan telah mati. Kekecewaan yang mereka miliki malah membuat mereka mengatakan bahwa tuhan telah mati. Sungguh naif.

Itulah kehidupan. Rasa ketidakadilan memenuhi sikap diri kita. Kita yang selalu memandang dari rasionalitas, emosi dan pengalaman masa lalu yang sempit. Tidak ada keadilan dalam sudut pandang kita sebagai manusia. Maka dengan itu mutlaklah kebutuhan kita untuk tunduk mengakui keberadaan tuhan sebagai pedoman untuk memahami kehidupan ini. hanya tuhanlah yang memiliki nomena dan kesempurnaan sudut pandang itu.

Kesimpulannya semakin besar keinginan kita untuk memahami kehidupan, maka akan semakin sulit untuk kita mengerti hakikat yang ingin kita pahami itu, ia akan selalu berbanding lurus dengan kesulitan yang akan muncul dalam perjalanannya. Namun ketika kita memahami kehidupan dengan sedikit merendahkan diri kepada tuhan, niscaya jalan itu akan ada. Memahami kehidupan akan menuntut diri kita mengenal diri kita sendiri. dan mengenal diri sendiri akan membawa kita untuk mengenal tuhan. Maka untuk memahami kehidupan kita harus mengintegrasikan pemahaman akan diri dan pemahaman akan konsepsi ketuhanan.

Posted in Uncategorized.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.