Skip to content


Neurosis

“Dalam buku The Future of An Illusion, Freud menuturkan bahwa “Tuhan itu hanya hasil pemikiran manusia”. Ia mengakui bahwa gagasan itu bukan hasil dari pemikirannya yang matang, bukan pula lahir melalui penelitian yang utuh, tapi Freud semata-mata menyatakan Tuhan hanya hasil sebuah ilusi manusia dari sekedar pernyataan nalurinya.”

Begitulah salah satu kalimat yang terdapat dalam buku The Brain Charger karya Ust. Pizaro. walau belum selesai membacanya, saya merasa terpana dengan isi novel ini. secara garis besar novel ini lebih banyak didominasi cerita tentang psikologi terutama psikologianalisis dari Sigmud Freud. dalam novel ini aliran Psikologi Freud dibawakan oleh salah satu tokohnya yaitu Annisa Lexa Meteorika, seorang asisten dosen fakultas psikologi UIB, peraih mahasiswa terbaik UIB, salah seorang alumni ITB, dan sempat menjadi calon mahasiswa Harvard dan Tokyo university, namun gagal karena Ana sendiri, sapaannya, menolaknya. ia sangat mengagumi Sigmud Freud, bahkan sampai memajang fotonya di perpustakaan pribadinya. Ana juga menganggap dirinya merupakan reinkarnasi dari Freud.

Namun yang tak disangka orang banyak bahwa seorang wanita cantik yang cerdas ini mengidap penyakit neurosis. yaitu sejenis penyakit gangguan kepribadian. walau tidak bisa disamakan dengan penyakit jiwa, tapi terkadang neurosis juga bisa terlihat mengerikan meski batas kengerian itu masih bisa ditutupi oleh penderitanya. Neurosis juga tidak bersangkut paut dengan rasionalitas. artinya seseorang yang mengidap neurosis belum tentu terlihat seperti orang sakit jiwa/ “gila” pada umumnya, masih terlihat normal karena neurosis tidak mematikan rasionalitas/kesadaran dari penderitanya. di novel itu jua dikisahkan bahwa sama seperti sang idola, Freud, Ana juga seorang yang atheis tulen meski, gemar menentang kebijakan kampus yang notabenenya merupakan kampus Islam. Ana juga senang memutar balikan logika dengan logika, ilmu dengan ilmu, sekalipun terkadang penggunaannya terasa pragmatis menurut saya.

Dari novel tersebut, saya sangat tertarik dengan pembahasan mengenai neurosis. menurut artikel yang saya baca neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit. Ana sendiri mengidap neurosis sebagai akibat dari masa kecilnya yang kurang menyenangkan. ketika “kumat” ia sering menusukkan ibu jarinya dengan pensil, bahkan ketika diperpustakaan pribadinya, ia membakar tangannya yang berlumuran darah tadi dengan menyetrumkannya pada aliran listrik. neurosis yang begitu mengerikan.

Dari artikel yang saya baca, Neurosis dapat diidentifikasi sebagai berikut:

*Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan.

*Neurosis terjadi pada sebagian kecil aspek kepribadian.

*Neurosis dapat dikenali berdasarkan gejala yang paling menonjol yaitu kecemasan.

*Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

*Penderita neurosis tidak memerlukan perawatan khusus di rumah sakit jiwa.

Selain itu, neurosis juga diklasifikasikan lagi berdasarkan tingkat kemunculan gejala yang paling sering muncul atau paling menonjol menampilkan dirinya;

1. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state)

a. Gejala-gejala neurosis cemas

Tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan kecemasan, tetapi bersifat mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecamasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan.

1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingan, dst.

2) Gejala psikologis berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, perasaan tidak mampu, dst.

b. Faktor penyeban neurosis cemas

Menurut Maramis (1998 : 261), faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.

2. Histeria

a. Gejala-gejala histeria

Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejala-gejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional yang hebat.

b. Jenis-jenis histeria

Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau histeria minor dan reaksi disosiasi atau histeria mayor.

1) Histeria minor atau reaksi konversi

Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik, dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, mati raba, buta, tuli, dst.

2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi

Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang alami penderita demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom, sehingga timbul gejala-gejala : amnesia, somnabulisme, fugue, dan kepribadian ganda.

c. Faktor penyebab histeria

Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar. Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. Namun pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi dalam bentuk gannguan jiwa.

3. Neurosis fobik

a. Gejala-gejala neurosis fobik

Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia dapat menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik, berkeringat, dst.

Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan ketakutan tersebut, misalnya :

1) Hematophobia: takut melihat darah

2) Hydrophobia: takut pada air

3) Pyrophibia: takut pada api

4) Acrophobia: takut berada di tempat yang tinggi

b. Faktor penyebab neurosis fobik

Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat berkenaan dengan situasi atau benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah. Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidak sadarannya). Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa.

c. Terapi untuk penderita neurosis fobik

Menurut Maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun bila gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah. Teknik terapi yang dapat dilakukan untuk penderita neurosis fobik adalah :

1) Psikoterapi suportif, upaya untuk mengajar penderita memahami apa yang sebenarnya dia alami beserta psikodinamikanya.

2) Terapi perilaku dengan deconditioning, yaitu setiap kali penderita merasa takut dia diberi rangsang yang tidak menyenagkan.

3) Terapi kelompok.

4) Manipulasi lingkungan.

4. Neurosis obsesif-kompulsif

a. Gejala-gejala neurosis obsesif-kompulsif

Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan.

Contoh obsesif-kompulsif antara lain ;

1) Kleptomania : keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan barang yang ia curi.

2) Pyromania : keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu.

3) Wanderlust : keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian.

4) Mania cuci tangan : keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.

b.Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif

Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D., 2000 : 116-117).

1) Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan.

2) Trauma mental emosional, yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).

5. Neurosis depresif

a. Gejala-gejala neurosis depresif

Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguang utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat, rasa harga diri rendah, dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Gejala-gejala utama gangguan jiwa ini adalah :

1) gejala jasmaniah : senantiasa lelah.

2) gejala psikologis : sedih, putus asa, cepat lupa, insomnia, anoreksia, ingin mengakhiri hidupnya, dst.

c. Faktor penyebab neurosis depresif

Menurut hasil riset mutakhir sebagaimana dilakukan oleh David D. Burns (1988 : 6), bahwa depresi tidak didasarkan pada persepsi akurat tentang kenyataan, tetapi merupakan produk “keterpelesetan’ mental, bahwa depresi bukanlah suatu gangguan emosional sama sekali, melainkan akibat dari adanya distorsi kognitif atau pemikiran yang negatif, yang kemudian menciptakan suasana jiwa, terutama perasaan yang negatif pula.

Burns berpendapat bahwa persepsi individu terhadap realitas tidak selalu bersifat objektif. Individu memahami realitas bukan bagaimana sebenarnya realitas tersebut, melainkan bagaimana realitas tersebut ditafsirkan. Dan penafsiran ini bisa keliru bahkan bertentangan dengan realitas sebenarnya.

6. Neurasthenia

a. Gejala-gejala neurasthenia

Neurasthenia disebutjuga penyakit payah. Gejala utama gangguan ini adalah tidak bersemangat, cepat lelah meskipun hanya mengeluarkan tenaga yang sedikit, emosi labil, dan kemampuan berpikir menurun.

Di samping gejala-gejala utama tersebut juga terdapat gejala-gejala tambahan, yaitu insomnia, kepala pusing, sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit, dst.

b. Faktor penyebab neurasthenia

Neurasthenia dapat terjadi karena beberapa faktor (Zakiah Daradjat, 1983 : 34), yaitu sebagai berikut.

1) Terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan.

2) Terhalanginya keinginan-keinginan.

3) Sering gagal dalam menghadapi persaingan-persaingan

Sumber

* Novel “The Brain Charger” karya Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

http://ebekunt.wordpress.com/2009/05/12/neurosis/

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.