Skip to content


Malu Kepada Alfarabi

Sejujurnya saya sangat malu kepada nama yang saya punya ini. betapa tidak nama saya diambil dari seorang muslim yang hebat yaitu Ibn Alfarabi, ia adalah seorang ulama besar, akademisi, ahli Fisika, dan tentu saja seorang yang luar biasa dimasanya. namun ketika melihat diri ini rasa saya semakin malu, karena saya merasa belum pantas menyandang nama itu, apalagi merasa setara untuk bisa disandingkan dengan beliau. saya masih malu karena belum mampu berbuat seperti yang beliau lakukan.

Mungkin ada harapan yang coba dibangun oleh kedua orangtuaku. mereka menginginkan yang terbaik bagiku dengan memberikan nama itu. nama adalah doa. begitu keyakinan dari setiap orangtua saat memberi nama kepada anaknya. dulu saya sempat terharu karena nama yang diberikan kepada saya sudah lama ada jauh sebelum saya lahir. ibu saya bercita-cita memberi nama itu kepada anak pertamanya nanti. saya melihat sendiri bukti ini dicatatan harian ibu saya. disitu tertulis nama panjang yang saya miliki saat ini. sungguh saya tidak pernah menyangka sebelumnya.

Saat ini saya belum banyak memberikan kontribusi nyata bagi dunia. namun saya yakin dalam hati bahwa saya mampu membuat sesuatu untuk dunia. dan cita-cita besar yang saya nantikan adalah merubah dunia. akan tetapi saya juga sadar, bahwa mengubah dunia perlu mengubah diri sendiri dahulu. namun menurut saya itu bukanlah halangan untuk menunda kita mengubah dunia. jalan terbaiknya adalah dengan mengiringi perubahan kita untuk mengubah dunia berbarengan dengan mengubah keluarga, masyarakat dan negara, karena ketiganya adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia.

Kita memang belum tentu ditakdirkan sebagai orang yang sangat berpengaruh bagi dunia. tapi yakinlah dunia akan tetap membutuhkan kerja keras kita. dunia merindukan semangat dan peluh keringat para manusia seperti kita. kita tidak ditakdirkan menjadi manusia biasa, kita adalah manusia yang luar biasa. karena Tuhan tidak mungkin menciptakan kita sia-sia tanpa tujuan dan manfaat. dunia menanti kerja keras kita. dunia menanti pemuda-pemudi minder namun masih memiliki semangat untuk berubah. dunia menanti para pemalu yang jujur dan sopan untuk melakukan hal yang besar. bisa saja kita menganggap diri kita tidak penting, tapi yakinlah ada orang lain yang selalu mengganggap kita itu penting.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.