Skip to content


Siapa Pemilik Negeri Ini?

“Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

–          Sumpah Palapa Gajah Mada, dalam teks Jawa Pertengahan Pararaton   –

 

Kiranya bangsa ini adalah bangsa yang besar. Warisan budaya yang melimpah, jumlah suku yang banyak, dan kekayaan alam yang tak terkira nilainya. Indonesia negeri yang luhur kaya akan adat istiadat. Gotong royong seakan sudah menjadi ruh dalam tubuh negeri lintang khatulistiwa ini.  Kepedulian, ramah tamah seolah telah menjadi pembeda dengan bangsa lain. Indonesia negeri indah dan menawan dengan segala apa yang dimilikinya.

Dahulu kerajaan-kerajaan nusantara adalah pusat kehidupan duni Dari majapahit, sriwijaya, hingga kerajaan islam demak. Berbondong-bondong manusia datang dari eropa untuk membeli rempah-rempah Indonesia. Bermula dari portugis sampai negeri belanda melalui voc nya berusaha mendapatkan rempah-rempah meski lewat jalan yang culas, yaitu kolonialisme.

350 tahun lebih dijajah, membuat bangsa Indonesia gerah. Ingin menuntaskan segala derita yang ada selama itu. Pemuda-pemudi bersatu dari berbagai daerah menyusun kekuatan untuk membebaskan diri dari belenggu kenistaan yang diikatkan oleh para penjajah.  Meski berbeda namun tetap satu juga. Ada Islam, ada Kristen, tidak sedikit juga dari Budha, Hindu dan aliran kepercayaan lainnya tumpah ruah menyuarakan kemerdekaan.

Sampai akhirnya tiba ditahun 1945, seorang anak bangsa yang saat ini kita kenal sebagai Sang Proklamator mengumandangkan suara lantangnya dengan penuh semangat membahana membacakan sebuah teks sakral. Ya, teks proklamasi namanya. Sebuah teks yang dibuat dengan mewakilkan atas nama seluruh bangsa Indonesia didalamnya menggemuruh dan disambut dengan haru serta suka cita para pejuang bangsa. Bahwa kemerdekaan bukanlah hal yang mustahil terjadi. dan bahwa kemerdekaan telah dikumandangkan dengan penuh kekhidmatan yang saat itu juga bertepatan dengan bulan suci umat Islam, yaitu bulan Ramadhan. Allahuakbar! Sontak semangat takbir para pejuang muslim.

Kini hampir 7 dasawarsa telah berlalu semenjak kemedekaan (baca: kemerdekaan melalui proklamasi) dikumandangkan, dan Indonesia adalah apa yang kita lihat saat ini. Negeri ini masih kaya,  masih layak dikatakan sebagai bangsa yang besar mengingat jumlah manusianya yang banyak. Akan tetapi pertanyaannya, apakah kita sudah sepenuhnya merdeka? Apakah penjajahan telah benar-benar terlepas?  Banyak jawaban yang mengatakan “Indonesia masih belum merdeka”. Dan sayapun menambahkan “Indonesia memang belum pernah merdeka”.

Tak perlu jauh memandang peristiwa yang telah lalu. Kasus yang ada dewasa inipun berhak menjadi rujukan dalam membahas siapa sebenarnya pemiliki negeri ini. Salah satunya adalah mengenai kasus freeport. Perusahaan asal AS ini seperti data yang dilansir oleh berbagai media telah mengeruk kekayaan emas yang ada di papua. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 99 persen dari seluruh sumber daya alam potensial ini. Artinya negara dan masyarakat indonesia hanya mendapatkan 1 persen dari sisanya. Dan itupun masih harus dibagi-bagi lagi. Yang lebih miris, pembagiannyapun tidak merata, seperti kasus sengketa antara Polri dengan TNI belakangan ini. Maka dalam konteks ini Indonesia adalah milik Freeport..!!.

Di tahun 1998 indonesia mengalami krisis ekonomi. Krisis ini diprediksikan bakal membawa indonesia kepada jurang kehancuran jika dibiarkan begitu saja. akhirnya dengan terpaksa presiden Soeharto meminta bantuan kepada IMF (International Monetery Fund) untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Maka gayungpun bersambut IMF dengan senang hati mengabulkan permintaan Soeharto dengan mengajukan beberapa syarat seperti yang tertuang dalam 50 butir LoI atau Letter of Intent antara RI dengan IMF. Susunan kalimat LoI dibuat dengan bahasa yang halus namun jika diperhatikan dengan seksama, akan terlihat bahwa butir-butir yang ada kebanyakan berpotensi merugikan indonesia. Sebagai contoh, pemerintah Indonesia diharuskan membuat Undang-undang Bank Indonesia yang otonom (yang dikemudian hari akan dikenal sebagai UU no 23 tahun 1999). Sekilas memang tidak mencurigakan. Akan tetapi pertanyaannya sekarang, mengapa untuk membuat undang-undang sepenting ini harus dipaksakan oleh pihak asing? Hal ini tentu mengundang pertanyaan lainnya. Mungkinkah ini sebuah permainan yang coba dibuat oleh IMF?  lagi-lagi fakta yang berbicara. Dalam UU nomor 23 tahun 1999 pasal 4 ayat 2 dikatakan bahwa Bank Indonesia memang mendapatkan otonominya secara penuh dan tidak ada siapapun yang bisa mempengaruhinya  termasuk Pemerintah Indonesia. Sementara itu Dalam salah satu pasal Articles of Agreement of the IMF (Arcticle V section 1) diatur bahwa IMF hanya mau berhubungan dengan bank sentral dari negara anggota. Dengan kata lain bank Indonesia akan berada dibawah genggaman dari IMF karena pada dasaranya pemerintah Indonesia sudah tidak bisa lagi mengintervensi bank Indonesia akibat adanya otonomi secara penuh bagi bank Indonesia. Padahal perbankan merupakan salah satu tonggak penegak ekonomi indonesia. Namun dengan ini perekonomian indonesia sudah bisa dikatakan sudah berada dibawah ketiak IMF. Semuanya telah menjadi bukti lepasnya kedaulatan ekonomi dari tangan pemimpin-pemimpin negeri ini. Maka dengan ini kita harus merelakan bahwa Indonesia adalah milik IMF..!!

Pergolakan di masa orde lama juga didominasi oleh kepentingan asing. Ini bisa dilihat dari menjamurnya ideologi-ideologi (komunis,sosialis,kapitalis, demokrasi) yang berusaha masuk dan menancapkan taringnya di Indonesia hingga menyebabkan Indonesia seakan-akan hanyalah negara tempat “pengadudombaan” ideologi-ideologi tersebut. Kadangkala ideologi yang ditawarkan bersifat paksaan atau muncul dalam rupa kesadaraan akan adanya keinginan perubahan. Namun semuanya tidak memberikan perubahan signifikan yang mengarah kepada pencapaian cita-cita negara secara sempurna atau minimal mendekati kesempurnaan. Dan sekali lagi kita harus rela mengatakan, bahwa ideologi yang ditawarkan semuanya mengalami kegagalan. Maka dalam hal ini Indonesia adalah milik Ideologi Asing..!!

Tiga kasus yang penulis kemukakan diatas hanyalah sebagian kecil dari berbagai peristiwa yang terjadi di negeri tercinta ini. Masih banyak fakta-fakta anomali yang terjadi, juga masih ramai kasus silih berganti mendera bangsa ini. Semuanya datang bak sebuah kutukan, tiada henti. perubahan konsepsi bahkan hingga reformasi dirasa belum mampu banyak berkontribusi untuk mengubah keadaan. Mengalami stagnasi.

“Setelah kemerdekaan dicapai” kata Soe Hok Gie “kenyataannya menunjukkan bahwa kita masih jauh dari tujuan, kita melihat dengan penuh kecemasan bahwa pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan sekarang ini telah membawa bangsa dan negara indonesia kepada keadaan yang sangat menghawatirkan”. Sungguh kondisi yang digambarkan oleh Soe Hok Gie sudah menunjukkan kepada kita bahwa beberapa tahun setelah kemerdekaanpun (orde lama, sekitar tahun 1960an) tidaklah berbeda jauh dengan kenyataan yang ada seperti saat ini, dimana pemerintah membawa rakyatnya menuju sebuah keadaan genting yang sangat mengkhawatirkan dengan memperlihatkan kenyataan bahwa kita (bangsa Indonesia) masih jauh untuk menggapai tujuan seperti yang kita cita-citakan bersama.

Lantas apa yang hendak kita lakukan sebagai pemuda-pemudi bangsa, khususnya bagi kita yang dikatakan sebagai kaum intelektual? Yang jelas hanya ada 2 pilihan, kita hanya berdiam diri dengan keadaan yang ada atau kita menjadi bagian yang membuat perubahan. Dan semuanya dikembalikan lagi kepada kita untuk memilihnya. Yang jelas hanya ikan yang mati saja yang ikut arus air dan hanya layang-layang yang putuslah yang mengikuti arah angin. Maka jika tidak ingin dikatakan sebagai ikan yang mati atau layang-layang putus hendaklah memilih pilihan yang kedua, yaitu menentang dan membuat perubahan.

Akhirnya, kalau pepatah Cina mengatakan, “Jangan hanya mengutuki kegelapan, mari nyalakan cahaya lilin” maka Saya mengatakan “Mari bersama kutuki kegelapan dan kita nyalakan cahaya lilin.”

Siapa pemiliki negeri ini? Hanya kita yang bisa menjawab apa jawaban terbaik yang pantas menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

“Kaum intelenjensia yang terus berdiam didalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaan”  (Soe Hok Gie)

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.