Skip to content


Cara Kocak Menjaili Feminis_Kesetaraan Gender

Entah kenapa hari ini mendadak seru sekaligus lucu. bukan, bukan karna pagi ini saya push up pake satu jari, atau karena saya makan perkedel basi sisaan dari warung sebelah, apalagi ngelap sepatu pake lap yang ternyata lap itu tuh kaosnya bapak kos saya. 🙂  Sekali lagi bukaaaan karna itu. tape.. eh tapi karna saya menemukan sebuah note di FB dari seseorang (baca: Pak Abdul Mutaqin) yang lumayan kocak dan juga menghibur. judulnya sama persis sama kaya judul postingan saya ini. isinya tentang cara ngejailin kaum feminis dengan gaya bahasa yang lugu tapi lucu. tanpa banyak ba bi bu jadi ba bu, langsung aja kita tampilkan.. tet teret teret #suaranyaananghermansyah

RUU Kesetaraan Gender lagi hangat. Sedang jadi pembicaraan dan sorotan. Pro kontra bertemu dalam perdebatan, tapi belum, bahkan mungkin tidak akan bertemu dalam satu titik kesepakatan.

“Kyai, kesetaraan gender itu, wajib hukumnya,” kata Meliahe Mesedeh Smeleketeh.

“Betul itu, bu Smeleketeh. Sudah saatnya perempuan tidak lagi direndahkan,” saut Sugiarti Murtini Sutikni aktivis feminis tulen.

“Sapa yang merendahkan ibu-ibu ini?” respon kyai Adung.

“Ya siapa lagi, kalo bukan para lelaki?” jawab Smeleketeh ketus.

“Loh, apa saya termasuk merendahkan ibu-ibu semua?” kyai Adung herman.

“Apa kyai engga ngerasa bahwa kyai selalu berakting sebagai pemimpin? Selalu berdalih laki-laki adalah qowwamun bagi perempuan” Sugiarti nyerocos sambil melotot.

“Itulah salah satu klaim. Intinya, laki-laki merendahkan perempuan yang seolah-olah tidak bisa setara dan tidak pantas memimpin seperti laki-laki. Perempuan bisa setara dengan laki-laki. Jangan kami dibeda-bedakan karena kami perempuan.” suara Smeleketeh semakin meninggi.

Kyai Adung melongo.

“Jawab dong. Jangan melongo.” Sugiarti esmosi macam anak kecil kalah maen gundu terus diledekin lawan maennya.

“Ya terus, ibu-ibu ini mau disamakan dalam hal apa. Kita kan memang diciptakan sudah dalam kodrat berbeda. Sampai kiamat pun, perempuan akan tetap berbeda dengan laki-laki. Apa saya harus hamil, melahirkan, menyusui, haid, atau pake be ha supaya bisa sama dengan ibu-ibu?”

“Ih, naif. Paling tidak, berikan hak kami kewenangan menolak untuk hamil dan menyusui. Ini demi keadilan. Kalo para suami punya hak menghamili kita, kita punya hak juga untuk menolak hamil. Berikan peran yang lebih besar agar perempuan setara dengan laki-laki.” Smeleketeh membuat kyai Adung spiclis.

Ya salaaaam, bener-bener sudah dibutakan dengan worldview kaum feminis Barat ini mah. Nanti bakalan nuntut hak untuk melakukan aborsi dan hak minta cerai tanpa alasan syar’i. Mengapa mereka engga mikir, bahwa gerakan feminisme lahir karena kondisi perempuan di Barat yang dulunya tertindas. Dulu mereka ditindas sebebas-bebasnya, karena itu mereka menyuarakan kesetaraan. Dan sekarang dibebaskan sebebas-bebasnya, termasuk bebas berzina dengan siapa saja asalkan dilakukan suka sama suka.  Maka tidaklah heran jika di filem-filem Barat, sering diselipkan adegan atau dialog yang menyatakan demikian, “I slept with him but my hearth is with you.”

Lha, karunya, masa kondisi seperti ini mau ditarik-tarik dan dibawa-bawa ke dalam alam pemikiran dan kehidupan kaum muslimah. Di Indonesia lagi. Apakah kondisi muslimah di Indonesia sama persis seperti kondisi perempuan Amerika tempat awal mula lahirnya gerakan feminisme itu? Apa mau meniru seperti Prof. Amina Wadud yang menjadi khatib dan Imam solat Jum’at di sebuah Gereja di Amerika? Itulah bukti real penerepan kesetaraan gender di ruang privat Islam yang akhirnya sangat menggelikan. Apakah Islam memperlakukan wanita sebegitu rendahnya sehingga perlu menerapkan kesetaraan Genjer, eh Gender? Ini mah, sama aja menghias masjid dengan pohon natal, kata pak Hamid Fahmi Zarkasyi.

Bukankah kehamilan dan menyusui itu kodrat wanita dan wanita menjadi sempurna karena hal itu? Mengapakah harus diabaikan bahwa kita ini diciptakan Allah, dan Allah yang paling tahu standar operasional prosedur atas diri kita? Laki-laki dan perempuan itu setara dalam Islam, hanya saja masing-masing ditempatkan sesuai maqom dan kodratnya oleh yang menciptakan. Dua-duanya sama terikat dengan hak dan kewajiban masing-masing sebagai instrumen bahwa mereka sama-sama mulia derajatnya. Apa kemuliaan ini mau ditukar dengan kebebasan ala Irsyad Manji yang lesbian itu?

Lha, kok jadi serius. Mahap …. mahap.

“Nah, kalo urusan menolak dihamili dan menyusui, minta sama suami masing-masing dong. Jangan ke saya. Emang saya laki-laki apaan?” nah, mulain dah jailnya kyai Adung nongol ke permukaan. Merah wajah Smeleketeh dan Sugiarti.

“Jangan ge er yah, kyai. Jangan pula berlindung di balik jubah agama bahwa laki-laki lebih mulia dari perempuan. Kita diciptakan Tuhan Yang Maha Adil sebagai makhluk yang setara. Tuhan tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan hanya karena gender. Kami bisa kok mengambil alih tanggung jawab laki-laki. Siapa bilang tidak  bisa?” Sugiarti nampak benar sewotnya.

“Okeh, okeh … sekarang katakan, saya harus bagaimana?”

“Ubah cara pandang kyai pada perempuan yang bias gender,” kata Smeleketeh.

“Persoalannya, apa ibu-ibu ikhlas jika saya bersikap tidak bias gender?”

“Loh, mengapa harus ditanya? Kami ini justeru tengah berjuang supaya kami bisa setara dengan kyai,” Sugiarti bertambah tegas.

“Baiklah kalo begitu. Maaf, siapa nama ibu?”

“Sugiarti Murtini Sutikni.” wih, mantab.

“Saya akan mulai menyetarakan dari nama dulu. Sekarang nama ibu yang unik dan cantik itu, saya ganti dengan yang setara dengan saya.”

“Kok, gitu?” Sugiarti berbalik kecut.

“Jangan bantah! Sekarang ibu saya panggil dengan ‘Sugiarto Martono Sutikno’. Selanjutnya, ikut saya ke kebun yang sepi sekarang.”

“Mao ngapain?”

“Manjat pohon kelapa lima belas batang. Petik kelapa yang sudah tua. Biar Cahyo yang di bawah bagian ngumpulin kelapanya.”

Kekekekekekekekekek.

Depok, 17 April 2012.

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.