Skip to content


Ahteis dan Seorang Ustadz

Suatu ketika seorang atheis bertemu seorang ustadz dalam perjalannya disebuah tempat.  Sebelumnya ia telah mendengar bahwa konon katanya ustadz tersebut terkenal sebagai orang yang arif bijaksana. Kemudian Sang atheis berinisiatif mengundang ustadz itu kerumahnya untuk melakukan debat mengenai tuhan. Karena selama ini sang atheis tidak pernah percaya bahwa tuhan itu ada. Yang ia tahu segala sesuatu yang ada didunia ini berdiri dengan sendirinya, maka mustahil dengan adanya tuhan. Lagipula selama ini ia tidak pernah melihat wujud tuhan. Mendengar permintaan sang atheis, akhirnya ustadz itupun setuju untuk mendatangi kediaman sang atheis tersebut.

Keduanya sepakat bahwa pertemuan akan dimulai jam 8 pagi. Namun sampai jam 10 sang ustadz itu belum juga datang. Sampai jam 11, sang ustadz pun datang dengan terengah-tengah. Lantas sang atheispun bertanya “ kenapa begitu terengah-engah wahai ustadz? Lagipula kenapa baru datang jam 11 padahal perjanjian kita kan jam 8?” tanyanya pada ustadz tersebut.

“ aduhhh.. mohon maaf aku datang terlambat, makanya aku buru-buru. Tadi saat aku akan kesini, aku harus menyeberang sebuah sungai dulu, namun aku bingung karena aku tidak punya rakit atau perahu untuk menyebarang” kata sang ustadz sambil mengambil nafas karena lelah.

“lantas apa yang terjadi hingga engkau bisa sampai disini ustadz? Apakah engkau berenang?”

Sang ustadz menjawab “ hampir saja aku terpaksa berenang, namun saat aku baru menceburkan diri kedalam air, tiba-tiba ada beberapa gelondongan kayu mendekat kepadaku, lalu aku ambil kayu-kayu tersebut. Tidak berapa lama secara mengejutkan ada paku dan palu yang mengambang menghampiriku, sontak saja aku ambil. Dan lagi-lagi aku kaget, ada sebuah tali yang menyangkut di sebuah batang pepohonan didekatku. Talinya lumayan panjang hingga aku bisa menyusun semua yang aku dapatkan tadi menjadi sebuah rakit. Dan aku gunakan rakit tersebut untuk menyebarang kesini dan tiba dirumahmu.”

“hahahahaha” sang atheis tertawa terbahak-bahak. “mana mungkin bisa seperti itu ustadz, tidak mungkin itu terjadi , mana bisa bahan-bahan tersebut ada disungai dan berkumpul menjadi satu dengan sendirinya hingga dengan mudahnya ustadz bisa membuat rakit. Apalagi tadi kata ustadz ada paku dan palu yang mengambang di air. itu mustahil ustadz.”

Sang ustadzpun tersenyum. “maka kalau begitu” kata sang ustadz “Analoginya akan sama dengan dunia ini. Bumi ini saja terdiri dari banyak mahluk hidup. Ada hewan, ada tumbuhan, dan ada manusia, mereka tidak mungkin ada dengan sendirinya. Awan berjajar dengan indah, langit birupun begitu mempesona. intensitas cahaya matahari  ke bumi begitu hangat dan sesuai dengan kebutuhan mahluk di muka bumi, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Semua berjalan dengan perhitungan yang tepat. Sidik jari manusia yang berbeda satu sama lainnya meski anak kembar sekalipun. Matahari yang selalu konsisten terbit dari timur dan tenggelam disebalah barat. Itu semua seolah menunjukkan bahwa dunia ini tidak mungkin berdiri sendiri tanpa ada yang menciptakan. kalau tadi engkau katakan bahwa mustahil aku membuat rakit tersebut,  lantas bagaimana dengan dunia ini, apakah mungkin dunia dengan segala kerumitannya bisa berdiri dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan?.”

Sang atheispun tertunduk malu mendengar perkataan tersebut. Sebelum sempat ia berdebat dengan sang ustadz, ternyata ia sudah kalah telak. dan benarlah bahwa dunia ini tidak mungkin berdiri sendiri. pasti ada kekuatan maha dahsyat yang menciptakan. dan itulah tuhan, Allah SWT.

Pantai Yang Indah

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.