Skip to content


kisah kasih cinta, sebenarnya apa itu cinta?

Malam hari pun kembali tiba. jejaring sosial mulai menampakan lagi gairahnya. saat dingin menerpa batin seorang anak manusia, ia mulai bercerita tentang kisah hidupnya. apalagi kalau bukan cinta. cinta yang mendominasi gerak langkah anak manusia tersebut. hal yang tabu tapi ingin dirasakan tapi juga ingin diungkapkan. ah, manusia. lagi-lagi soal cinta. terutama cinta terhadap sesama. meletup dari yang meluap-luap sampai tersipu malu tak banyak kata terucap. dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir, kata Ti Phat kai.

lantas sekarang, sebenarnya cinta itu apa? perasaankah, memori keindahankah? atau ternyata hanya sebuah ilusi dari rasa menggebu yang tidak jelas pangkal dan ujungnya?

ada sebuah kisah. ada seorang wanita begitu mencintai suaminya. wanita itu begitu setianya mendampingi sang suami meski kadangkala sang suami lebih sering berada diluar rumah. ia setia dengan janji yang telah ia ucapkan untuk selalu taat dan tunduk terhadap perintah sang imam. dimalam yang menusuk tulang, dimana sang sanubari membutuhkan kehangatan dengan istiqomahnya ia menjaga diri dari godaan yang sebenarnya bisa ia lampiaskan dengan mudah. karena cinta begitu besar ia rela menyepi dalam kehampaan, meniti jalan kehidupan yang sebenarnya tidak tahu akan terarah kemana. tidak diragukan lagi, ialah sang istri sejati.

lalu bagaimanakah dengan sang suami?

ia seorang pekerja keras. ia juga seorang ustad. berdakwah dengan mengikhlaskan seluruh waktunya untuk kegiatan tersebut. suaminya orang yang sibuk hingga seringkali melupakan sang bidadari. ia mencari nafkah, ia juga mendidik umat, sekaligus ia hampir menelantarkan sang istri. ketika pulang yang ia inginkan hanyalah pelayanan yang terbaik dari istrinya. mulai dari makanan hingga yang tak layak untuk dibahas dalam tulisan ini. saat sang istri menghidangkan makanan diatas meja dengan penuh cinta, tetapi sang suami malah pergi begitu saja dengan alasan menunaikan tugas suci. bukankah mendidik istri dan menggaulinya dengan baik juga merupakan tugas suci. kalau hanya untuk menyelesaikan tugas rumah kenapa tidak dicari pembantu saja, serta kalau hanya dijadikan barang pajangan atau formalitas belaka kenapa tidak membeli hiasan dinding saja.

lagi-lagi sang suami pergi,berkali-kali juga ia sang istri melakukan rutinitas yang sama.  ia duduk manis menanti sang pujaan. seringkali teringat akan kisahnya dahulu sewaktu belum menikah. sebelum menjadi suami, pemuda itu begitu perhatian. dengan gagahnya ia datang kerumah dan mengatakan niatnya untuk berta’aruf. begitu terpesonanya sang calon mertua dengan sang calon menantu. selain gagah, ia juga seorang santri. sewaktu mahasiswa ia juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif menyuarakan nilai-nilai islam. maka tak heran jawaban mengiyakanpun keluar dari mulut sang bapak mertua.

awal pernikahan dijalani dengan indah. peringai sang suami sesuai dengan yang diharapkan, bahkan nyaris sempurna. sang istri begitu bahagianya. seolah hidupnya saat itu bisa dibilang lebih hidup. cepat-cepat mereka menyusun proposal masa depan dengan cita-cita yang idealis dan mengagumkan.

akan tetapi saat ini semua berbalik. 180 derajat menggambarkan kebalikan tersebut. dahulu yang selalu hangat sekarang berubah menjadi dingin. dahulu yang perhatian berubah menjadi acuh. dulu yang menguatkan di saat lemah sekarang melemahkan di saat jatuh tak berdaya. apakah ini yang dinamakan cinta? apa yang salah dengan cinta? atau manusia yang terlibat belum mencintai? mungkin juga belum mengerti tentang cinta?

Ibnu nashr a                   23: 06                    5 november 2011

 

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.