Skip to content


Marilah “Berkaca Diri”

koruptor

koruptor dan kawannya di demokrat. menurut sebagian orang, semua petinggi demokrat adalah tersangka. hanya nasib Nazarudin saja yang tidak mulus sehingga ia terendus oleh KPK.

Sejenak hanya ingin merefleksikan diri dengan apa yang ada. Berbagai masalah yang datang silih berganti di negara ini seolah mengisyaratkan keinginan untuk selalu berbuat demi perubahan. Akan tetapi ketika berfikir, sejenak aku mulai menyadari bahwa semua yang terjadi bisa saja akibat dari ulah individu-indvidu yang ada didalamnya.

Tak perlu jauh memberikan justifikasi terhadap orang lain. Juga jangan lebih dulu memvonis orang lain bersalah karena bisa jadi itu semua adalah salah dari kita. Mengapa? Ada alasan yang bisa menyertai pertanyaan dan pernyataan tersebut. Pertama, bisa saja kita yang salah karena kita juga bagian dari apa yang ada selama ini dan kalaupun kita tak berbuat seperti katakanlah seorang koruptor maka pada hakikatnya kesalahan itu juga masih bisa disebabkan oleh kita. Bisa karena kita tidak mengingatkan atau justru malah kita juga melakukannya walaupun dengan dosis yang sedikit. Sedangkan alasan yang kedua adalah kita yang pada dasarnya sudah melakukannya namun tidak pernah menyadari perbuatan yang telah kita lakukan tersebut. Dan inilah yang menjadi malapetaka. Kita berteriak lantang melakukan perubahan namun kita juga lupa bahwa sesungguhnya kitalah yang harus berubah terlebih dahulu. Tidak mungkin ada perubahan besar tanpa ada perubahan kecil yang mendahuluinya.

Sepintas orang selalu merindukan datangnya seorang pemimpin, sosok teladan bahkan pahlawan untuk menyelamatkan negeri ini. Namun tahukah anda bahwa sesengguhnya pahlawan itu ada di  sekitar kita. Siapa dia? Tidak lain dan tidak bukan adalah kita sendiri. Ya. kita adalah pahlawan itu. Kitalah yang seharusnya bergerak. Kita pula yang seharusnya menggerakkan perubahan. Kita hanya akan bermimpi selama masih mengharapkan orang lain yang akan merubahnya. Dan kalau saja semua orang berfikir seperti itu maka harapan dan impian perubahan bangsa hanya akan jadi mimpi semu di siang bolong. Hanya akan sirna seiiring dimakan usia.

Aku juga menyadari bahwa diriku seringkali berfikir seperti itu. Aku mengakui, aku juga pernah melakukan hal yang banyak orang akui sebagai sebuah kesalahan. Namun pada akhirnya aku berfikir memang mudah untuk menuliskan atau memberi saran bagi orang lain. Akan tetapi semuanya akan terasa berat manakala kita akan melakukannya. Dengan kalimat lain aku ingin mengatakan bahwa aku tak bermaksud untuk memberikan petuah kosong akan tetapi aku bermaksud untuk mengajak kita semua baik yang membaca atau mendengar pesan ini untuk sama-sama melakukan perubahan. Mari kita hentikan pertikiaian, perdebatan, perkelahian atau permusuhan. Karena semua niscaya hanya akan jadi kesia-siaan.

Mari camkan dalam hati kita masing-masing, bahwa yang bisa dan patut merubah keadaan bangsa ini adalah kita sendiri. sekali lagi kita sendiri. dari individu-individu yang ada bukan dari orang lain atau bahkan negara asing yang belakangan selalu mengitervensi setiap gerak langkah di negeri ini. Seorang guru pernah berkata “tidak ada harapan untuk Indonesia, tetapi kalau semua orang Indonesia sudah yakin akan perubahan, maka tidak ada lagi yang akan menghalanginya”. Satu kata kunci dari perkataan sang guru tersebut, KEYAKINAN.

IBNU NASHR ALFARABI, MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN

Posted in Article.


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. 中信房屋 says

    hooray, your writings on theater and writing much missed!



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.