Skip to content


Sedikit Cerita

akhwat

Pelajaran hari ini. sebenernya udah sering denger tentang kalimat ini “dont judge the book from its cover” tapi nggak tahu kenapa kalimat ini selalu saja seolah menjadi kalimat angin lalu,dari dulu hingga sekarang, ya lebih tepatnya sampai hari ini. perlahan kalimat ini membuktikan taji nya. bermula saat suatu hari bersama kawan beda fakultas yang baru dikenal dalam sebuah even kemahasiswaan (monev pkm)  berencana untuk mengambil formulir beasiswa di sekre universitas. kamipun melaju bersama ke tempat tujuan. sampai disana, kami bertemu dengan banyak orang (ya, namanya juga sekre bem universitas pasti rame lah ya). kami bertiga di sambut oleh seorang teman yang kebetulan memang anggota bem. kemudian kami menyampaikan maksud dan tujuan kami buat ngambil formulir beasiswa.

kebetulan saya yang maju lebih dulu dibanding dua teman saya yang lain. seorang mahasiswi anggota bem bertanya ke saya ” kang dari mana?” tanya dia. ” saya dari fisip” saya nyahut. “bukan kang, maksudnya akang dari mana? apa dari bem atau bpm?”

saya berfikir sejenak, “emangnya beasiswa itu hanya untuk “kaum elit” kampus aja ya?”. saya bilang ke dia “saya cuma mahasiswa biasa. paling banter saya cuma ikutan dkm fakultas” kata saya sambil liat wajahnya. trus dengan raut wajah yang kurang mengenakan dia bilang “oh ini untuk bem dan bpm aja”

kontan saja saya kesal, tapi mau apa lagi, ya sudahlah. setelah keluar dari kerumunan sekre bem tersebut saya bilang kepada kawan yang tadi ” ah gw kecewa, masa gw minta formulir beasiswa kaga dikasih”. temen saya jawab ” iya emang formulirnya terbatas”

” yaudah lah gpp, tapi bilang ke teteh yang ngasih formulir, bilang gw kecewa dengan sikapnya, seolah kalo orang biasa gabisa dapetin formulir itu, intinya gw kecewa deh” sayapun melengos pergi. perasaan kesal saya perlahan mulai berubah menjadi perasaan benci terhadap mahasiswi tersebut.

beberapa waktu kemudian, suatu malam waktu saya main fb di laptop, saya melihat sebuah nama yang sedikit mengganjal, saya lihat profilnya, oh ternyata mahasiswi yang waktu itu tidak memberikan saya formulir beasiswa. sedikit ada perasaan kesal hinggap di diri saya walaupun sebenernya saya tetep jadi mengajukan beasiswa tersebut dengan bantuan teman saya yang saya titipkan pesan untuk mahasiswi itu. iseng saya lihat lebih jauh profilnya. ada alamat blog ternyata, saya buka saja. oh ternyata seorang mahasiswi fakultas kedokteran. saya baca lebih banyak tentang tulisannya. dan ternyata memang, ia seorang yang sangat baik, kontras dengan pemikiran saya bahwa ia seorang yang judes dan sedikit angkuh. saat saya membacanya lebih mendalam,saya terpana seolah tulisannya mengisyaratkan bahwa mahasiswi ini seorang yang peka terhadap lingkungan dan kehidupan. bisa saya akui, saya terpesona dengan pemikirannya yang berbeda dari kebanyakan mahasiswi seusianya. berbeda dan paradoks dengan justifikasi indera yang saya miliki.

intinya mulai saat itu, saya sadar akan makna kalimat yang pada awalnya saya anggap hanya sebagai angin lalu tersebut, bahwa tidak pantas rasanya kita menilai seorang hanya dari luarnya saja. banyak hal yang belum kita ketahui tentangnya. tangkapan indera manusia terlau fana menangkap sebuah kejadian yang singkat. dalam hidup ini, akan ada banyak makna kehidupan yang kita bisa dapat meski datang dari orang yang paling kita benci sekalipun. orang yang kita kira sebagai musuh terkadang bisa berubah menjadi guru teladan bagi kita. finally saya mengambil kesimpulan bahwa :  “terkadang musuh bisa lebih baik daripada sahabat, karena hakikatnya sahabat bisa saja adalah seorang musuh yang belum menyerang, dan musuh bisa jadi adalah sahabat yang selalu menasehati kita dengan cara yang berbeda”.

Posted in pengalaman.

Tagged with , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.