Skip to content


Sedikit Pengetahuan Tentang NII

 

 

 

 

 

 

 

 

Entah siapa yang seharusnya disalahkan, namun sungguh aneh sekali berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Bagaimana tidak, mulai dari bom Cirebon yang terasa sangat mengada-ada karena terjadi hampir bersamaan dengan mencuatnya kasus penggelapan uang nasabah di sebuah bank dengan dugaan sebagai alat untuk “menghapus” kasus ini, hingga kasus yang terdekat, yaitu kasus NII kw ix atau lebih dikenal dengan kepanjangan Negara Islam Indonesia kw ix yang notabenenya merupakan kasus yang usang namun tidak pernah mendapatkan proporsi yang serius dari pemerintah untuk segera diberantas atau minimal diberikan sebuah solusi alternatif dalam menghadapi permasalahan laten ini.

Kasus terakhir menjadi perbincangan yang hangat diberbagai kalangan, apalagi dikalangan mahasiswa yang sebenarnya merupakan target utama dari program kaderisasi NII. pun juga menjadi bahasan yang tak kunjung habisnya mengingat fenomena ini terkadang hanyalah fenomena “teman minum teh” karena tidak disertai dengan solusi komprehensif yang memumpuni.
Pada awalnya gerakan NII merupakan sebuah kelanjutan dari gerakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo yang memproklamirkan berdirinya sebuah negara islam pada tahun 1949. Gerakan NII dianggap gerakan yang membahayakan karena diindikasikan sebagai gerakan yang mengancam kesatuan NKRI. Seiring berjalannnya waktu gerakan ini menjadi semakin berkurang sehingga pada akhirnya secara konstitusi mereka NII sudah dibubarkan dan terpecah menjadi tujuh kw, dari kw I hingga kw VII.

Namun yang menarik adalah munculnya fenomena kw IX yang diakui sebagai NII yang eksis sekarang. Akan tetapi beberapa pihak menyatakan seperti yang dikutip di website Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan bahwa NII kw IX ini merupakan sebuah konspirasi yang dilakukan oleh Inggris. sedikitnya ada beberapa hal yang membedakan antara NII yang “asli” dengan NII kw IX ini. Yang paling mencolok adalah saat NII kw IX menyatakan bahwa orang yang berada diluar golongannya adalah orang kafir bahkan darahnya halal untuk dibunuh. Ini sudah sangat bertentangan dengan konsepsi Islam sendiri dimana orang islam dilarang untuk mengatakan kafir kepada sesama muslim kecuali atas ijtihad dari para ulama atau ada dalil/nash yang memperbolehkan itu dilakukan terhadap golongan yang sudah dikategorikan sebagai orang kafir.

Kesesatan yang ada didalam NII kw IX ini banyak di katakan berasal dari sebuah kewajiban dari setiap anggota NII untuk selalu melakukan “shodaqoh” yang sebenanya merupakan kedok dari pemerasan yang dilakukan secara dogmatis/indoktrinasi. Mereka (NII) selalu menggunakan dalil-dalil alquran secara sembarangan demi mencapai memenuhi tujuannya tersebut. seorang kawan penulis yang sempat bergabung dengan gerakan ini menuturkan,bahwa setiap orang yang baru masuk diwajibkan untuk membayar shodaqoh wajib ini. Biasanya mereka menekan orang-orang yang baru masuk ini dengan iming-iming sebagai investasi kehidupan. Besaran biayanya pun tak tanggung-tanggung bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Sementara NII yang asli tidak melakukan hal itu.

Namun yang patut disayangkan bukan hanya apa yang terjadi pada kenyataan yang ada. tetapi pada ketidakjelasan alias ketidakbecusan pemerintah dalam menanggapi fenomena yang terjadi bahkan pemerintah dianggap tak peka bahkan acuh sekali. Hal inilah yang mendasari berbagai kecaman dan kekecewaan yang muncul dari banyak pihak. Ada beberapa pihak yang mengaitkan ini srategi pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Intelejen yang konon katanya jika diterapkan akan mampu memberangus berbagai aktifitas kritis yang sering dilancarkan oleh para aktifis terutama aktifis pergerakan kebangsaan dan pergerakan agama (dominan pergerakan agama islam) yang diprediksi akan semakin menurun secara signifikan dengan diterapkannya RUU yang penuh kontroversi ini.

Sebagai mahasiswa yang peduli akan kenyataan yang ada, sudah sepantasnya kita mulai kembali bergerak. Mari bersama-sama kita bangun negeri ini. Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa itu terletak pada generasi mudanya. Apabila generasi mudanya “mati” maka eksistensi bangsa sudah bisa dipertanyakan kembali kedepannya. Namun apabila generasi mudanya “hidup” dalam artian mampu membangun dan peduli dengan keadaan maka mustahil kehidupan bangsa tersebut akan masuk kedalam lubah nista kehancuran negara. So, mumpung masih muda, ayo sama-sama kita berjuang. Kita kembalikan citra mahasiswa sebagai the real agent of change or the real director of change bukan lagi sebagai the agent of minyak tanah. 

*Oleh : Ibnu Nashr Alfarabi
*Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran Angkatan 2009

Posted in Article.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.