AI, Masa Depan atau Ancaman?

May 20 2018

Mungkin sebagian dari kita pernah menonton film Terminator yang menceritakan bagaimana umat manusia diinvasi oleh kaum robot, atau mungkin Avengers Age of Ultron yang memperkenalkan sosok robot yang dikenal sebagai Ultron yang memiliki pemahaman tentang mewujudkan kedamaian adalah dengan memusnahkan penyebab peperangan itu sendiri. Hal menarik dari film tersebut adalah bagaimana robot-robot tersebut dapat memiliki pemikiran, dan tingkah laku yang apabila tidak dicermati secara teliti akan sangat sulit dibedakan apakah mereka adalah manusia atau robot. Baru-baru ini, Google memberi tau kita bahwa hal-hal tersebut bukanlah sebuah karya fiksi semata, dalam acara launching versi Android terbaru, mereka memperkenalkan ke publik mengenai “Google Duplex” sekaligus mempertontonkan bagaimana kemampuan AI tersebut berinteraksi layaknya manusia. Dalam demonstrasi yang dipertontonkan terlihat sangat menghibur, bagaimana tidak, kosakata yang diucapkan terdengar sangat persis dengan manusia, bahkan akan sangat sulit untuk meragukan bahwa itu adalah sebuah kecerdasan buatan.

Banyak kekaguman yang muncul atas inovasi yang diperlihatkan oleh Google, namun belakangan juga muncul banyak kontroversi yang mempermasalahkan ke etis an dari kecerdasan buatan tersebut.

Michael Kratsios, asisten deputi presiden Amerika Serikat menyatakan sikap  pemerintah tetap bakal memantau kecanggihan AI ini tanpa menghambatnya. Namun untuk meregulasinya, Gedung Putih akan membiarkan dulu sampai AI ini benar-benar beroperasi sepenuhnya. “Kami tidak memotong kabel telepon sebelum Alexander Graham Bell melakukan panggilan telepon pertamanya. Kami pun tidak mengatur penerbangan sebelum Wright bersaudara lepas landas di Kitty Hawk,” tandas Kratsios, kepada CNET.com

“Google Assistant menelepon mirip dengan orang tanpa menyebut jika dia adalah bot, tapi menambahkan ‘umm’ dan ‘aah’ untuk menipu orang lain yang ditelepon sementara para peserta di konferensi bersorak…mengerikan. Silicon Valley secara etis terhilang, tanpa arah dan tidak belajar apapun,” kritik seorang pengguna Twitter.

Tampak bahwa hal ini cukup memancing reaksi segala pihak dari bermacam elemen, bentuk pernyataan sikap pemerintah AS setidaknya cukup menggambarkan bahwa memang ada hal yang harus diantisipasi dari pekembangan AI agar tidak menjadi ancaman. Melihat hal itu Google juga telah menyatakan sikap  Mereka merilis sebuah pernyataan jika sistem AI itu akan memperkenalkan dirinya sebagai software pada awal pembicaraan di telepon. Hal ini untuk mencegah kebingungan. “Kami memahami dan menghargai diskusi seputar Google Duplex seperti yang telah kami katakan pada awalnya, transparansi dalam teknologi adalah hal penting,” ujar seorang juru bicara Google.

No responses yet

Hello world!

May 15 2018

Selamat datang di Blog Universitas Padjadjaran. Ini adalah artikel pertama Anda.

One response so far