• cropped-hi-hary.jpg

    cropped-hi-hary.jpg

Dalam suatu percakapan, adakalanya tindakan seseorang tidak selaras dengan pemikiran atau kebenaran yang kita yakini, saat itu. Ada banyak kemungkinan, mengapa hal ini bisa terjadi. Bisa jadi kita yang tidak piawai dalam menata argumentasi. Mungkin saja, Ia memiliki pengalaman yang berbeda. Mungkin juga, Ia memilih sudut pandang yang berbeda dalam melihat permasalahan. Bisa jadi, Ia belum memiliki pengetahuan yang sama dengan kita. Bisa jadi, bisa jadi, banyak lagi. Tetapi banyak yang memilih untuk MENGHAKIMI orang lain dengan “Kamu Salah”, “Kamu Tidak Pantas”, “Kamu Tidak Bertanggungjawab”, “Kamu Tidak Peduli”, “Kamu Malas”, “Kamu Sombong”.

Apa yang terjadi setelah itu? Percakapan akan bergulir ke dalam medan “menyerang” dan “bertahan”, karena setiap orang berkepentingan untuk melindungi harga diri dan melepaskan diri dari kecemasan. Percakapan akan menjauh dari aktivitas “memberi” dan “menerima” dalam bingkai kasih sayang. Percakapan positif membentur tembok, percakapan negatif menyeruak membobol nilai-nilai penghargaan dan penghormatan.

Ternyata oh Ternyata (ToT) : Penghambat PERCAKAPAN POSITIF itu bernama MENGHAKIMI.

Read more

Beberapa penulis memilih istilah TEGAS sebagai padanan kata ASSERTIVE. Ada yang kurang puas dan memilih istilah LUGAS, LUWES namun TEGAS. Saat ini saya memilih tetap menggunakan istilah ASSERTIVE. Setelah mengetahui ciri-ciri berikut ini, mungkin Anda menemukan kata dalam bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk ASSERTIVE.

Orang yang assertive …..
# merasa bebas untuk menyatakan dirinya; ia mampu menyatakan pandangannya, keinginan-keinginannya dan perasaannya secara langsung, spontan, dan jujur.
# nada suara, gerak-gerik, kontak mata, dan cara berdiri seluruhnya selaras dengan kata-kata yang diucapkannya
# sesuai antara yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.
# dapat berkomunikasi dengan keluarga, teman, orang lain dari berbagai jenjang bahkan dengan orang asing
# tidak pernah menegakkan hak-haknya dengan mengorbankan hak-hak orang lain, ia menghargai perasaan dan hak-hak orang lain
# dapat mengevaluasi suatu situasi, memutuskan bagimana harus bertindak tanpa keberatan
# mempunyai rasa percaya diri yang tinggi
# menerima keterbatasan-keterbatasan tingkah laku mereka tapi masih berusaha untuk nencapai tujuan mereka
# bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian dan situasi-situasi serta mencari pengalaman yang baru.

Hal yang paling penting adalah orang yang assertif, jujur pada dirinya sendiri.

Orang menampilkan tingkah laku assertive untuk menjalin komunikasi yang lebih baik, lebih sehat dan menemukan pemecahan masalah bersama-sama. Meskipun komunikasi assertive tidak menjamin bahwa kita akan mandapatkan apa yang kita inginkan, namun dengan bersikap assertive maka akan meningkatkan harga diri kita dan membantu kita untuk mengambangkan kepercayaan diri yang lebih besar. Kita akan merasa lebih nyaman setelah mampu mengatakan apa yang kita yakini tanpa rasa takut. Kita juga akan mendapatkan, hak kita dihargai sebagaimana halnya kita menghargai hak orang lain.

Read more

Tidak semua orang yang sedang mengalami masalah dan membutuhkan bantuan mampu menyatakan perasaannya dengan kata-kata. Bila kita ingin menjadi “teman curhat” yang menyediakan diri memberikan bantuan untuk seseorang yang sedang terlilit masalah, kita harus mengasah kepekaan mengenali pernyataan “Aku membutuhkan bantuanmu” yang disampaikan oleh tubuhnya. Kadang pernyataan tersebut begitu halusnya sehingga kita menjadi ragu akan maknanya.

Salah satu pernyataan yang cukup jelas dari orang sedang megalami masalah adalah perilakunya terlihat berbeda dari yang biasanya Ia tampilkan. Coba perhatikan beberapa orang di sekitar Anda, Anda mungkin pernah menyaksikan mereka menampilkan perilaku yang berbeda dari yang biasanya ditampilkan, seperti berikut ini :

#Teman yang biasanya ramah, ceria, lucu, dan lincah tiba-tiba menarik diri, menyendiri dan pendiam.
#Seseorang yang biasanya rapih dan selalu memperhatikan penampilannya, sekarang hadir di hadapan Anda dengan penampilan yang kusut.
#Sahabat yang biasanya mudah diminta bantuan, mudah diajak melakukan aktivitas, mendadak mengambil jarak, tampak mementingkan diri sendiri dan arogan
#Anggota keluarga yang terkenal humoris, banyak canda, sekarang menjadi mudah tersinggung dan menyalahkan orang lain.

Selain itu, ada pernyataan khas yang biasanya ditampilkan oleh seseorang yang sedang mengalami masalah emosional. Perhatikan caranya menatap, cara bicaranya, apa yang dikatakannya dan apa yang dilakukannya.

#Seseorang yang dekat dengan Anda, tiba-tiba enggan bertatapan mata dengan Anda dan sekilas terlihat matanya sembab seperti baru saja menangis
#Teman yang Anda kenal sebagai orang yang tegar, tiba-tiba mudah menitikkan air mata, nada suaranya tertekan atau suaranya terputus-putus atau gemetar
#Sahabat yang terlihat sedang berusaha tampil semuanya baik-baik saja, terlihat salah tingkah karena berusaha menutupi sesuatu

Contoh perilaku tersebut meerupakan pernyataan orang yang sedang terlilit masalah yang perlu diselesaikan. Ketika Anda menangkap pernyataan-pernyataan tersebut, Anda memiliki pilihan : Anda berikan kesempatan padanya untuk mengelola diri atau mengundangnya untuk bicara dan menawarkan bantuan.

Read more

Mengapa percakapan yang hangat jadi terhambat? Apa yang membuat pasangan, sahabat, anak kita berhenti berbagi rasa ? Mengapa mereka menghentikan curhatnya? Apa yang terjadi sehingga Ia tidak lagi produktif menyampaikan gagasan-gagasan kreatif ? Mengapa Ia tidak bergairah lagi mendiskusikan solusi atas masalahnya ?

Ingat kembali percakapan tersebut, perhatikan ragam tanggapan berikut ini, bisa jadi kita sering melakukannya sebagai tanggapan atas kesediaannya untuk berbagi rasa dengan kita.

MENGHARUSKAN suatu tindakan tertentu :
“Kamu harus …”
“Wah, kalau begitu kamu secepatnya harus …”
“Menurutku, yang seharusnya kamu lakukan adalah …”
“Kalau boleh Saya memberi saran, Anda seyogyanya…”

MELARANG suatu pemikiran, perasaan atau tindakan tertentu :
“Jangan bicara seperti itu…”
“Jangan mengeluh!”
“Tidak usah sedih….”
“Nggak usah nangis…”

MENGANCAM, mengatakan akibat-akibat yang akan terjadi bila Ia melakukan sesuatu
“Kau akan menyesal kalau kau…”
“Sebaiknya tidak kau lakukan kalau masih tetap ingin…”
“Kamu tidak boleh berbuat begitu.”

MENCERAMAHI dengan teori, informasi, doktrin, pengalaman subyektif atau logika klise
“Manusia harus belajar bagaimana menyesuaikan diri.”
“Dulu waktu Saya….”
“Kehidupan ini seperti roda berputar, kita kadang di atas, kadang di bawah”
“Di balik setiap awan, pasti ada seberkas cahaya”
“Ini kan belum seberapa buruk, masih banyak orang lain yang lebih menderita”

MENGKRITIK, membuat penilaian negatif, membuat orang semakin bersalah atau negatif memandang dirinya
“Ini terjadi karena Kau kurang …”
“Itu pandangan yang terlalu kekanak-kanakan.”
“Kau ini manja, gitu aja mengeluh”
“Kamu kok jadi cengeng begini…”
“Itu kesalahan fatal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang sepandai kamu…”

MENGHAKIMI, mengatakan penilaian Anda tentang motif yang melatari perilakunya, menyampaikan kesimpulan dari hasil analisa tentan dirinya yang belum tentu akurat :
“Ah, Kau hanya iri hati…”
“Kau katakan itu untuk …”
“Kau sebenarnya …”
“Kau merasa begitu karena kau …”

MENGALIHKAN PEMBICARAAN untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. berusah menjauhkan seseorang dari masalahnya, menarik diri dari persoalan, mengalihkan perhatian.
“Besok kau akan merasa lebih baik …”
“Jangan khawatir, segalanya akan beres nanti.”
“Lupakan saja hal itu …”
“Jangan bicara hal itu, lebih baik sekarang….”
“Marilah kita bicarakan hal yang lebih menyenangkan.”

MENGINTEROGASI, berusaha menggali alasan, sebab-sebab, mencari informasi lebih banyak
“Mengapa kau …”
“Mengapa mereka melakukan hal itu terhadapmu …”
“Sejak kapan kau mulai merasa …”

Read more

Mengapa mahasiswa yang sedang kesulitan mengerjakan skripsi enggan menemui pembimbing atau dosen wali untuk meminta bimbingan? Apa yang membuat anak tidak menjadikan orangtuanya sebagai tempat untuk berbagi, mencurahkan pikiran dan perasaannya? Mengapa begitu banyak laki-laki dan perempuan yang oleh pasangannya bukan sebagai sumber pertolongan?

Di sisi lain, apa yang membuat kita merasa nyaman berbagi pemikiran dengan sahabat kita? Bagaimana begitu banyak orang merasa lebih mudah berbicara dengan konselor, orang yang baru saja dikenalnya? Apa yang dilakukan oleh para konselor sehingga mereka dapat menjalin hubungan yang membantu dengan kliennya?

Bahasa penerimaan. Yah, itu dia jawabannya. Menyatakan, “Saya menerimamu sebagaimana adanya” adalah faktor penting untuk menjalin suatu hubungan. Pernyataan ini memberikan lahan yang subur bagi orang lain untuk tumbuh, berkembang, membuat perubahan yang konstruktif dan mampu mengaktualisasikan potensi luar biasa dalam dirinya.

Menyatakan penerimaan dapat disampaikan melalui kata-kata (pesan verbal) maupun pesan tanpa kata (pesan non verbal). Pesan tanpa kata ini dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, tatapan mata, posisi tubuh dan gerakan tubuh lainnya. Pesan tanpa kata ini diyakini memiliki dampak lebih besar dalam menyatakan penerimaan. Bahkan, sebelum kata terucap, tubuh kita sudah berteriak.

Bagaimana menyatakan penerimaan ?

Berikan kesempatan, buat jarak, tahan diri untuk tidak campur tangan. Menyatakan penerimaan dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan orang lain melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak atau caranya. Berikan kesempatan mereka belajar dan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya. Hindari campur tangan dengan mengawasi, menggabungkan diri, apalagi memaksakan pendapat. Saat Anda mengambil jarak, Ia akan merasa bahwa Ia diperbolehkan melakukan “dengan caraku”.

Pancarkan kepedulian dengan menjalin kontak mata. Kontak mata menandakan bahwa kita memperhatikan apa yang disampaikannya. Tentu saja kontak mata ini dilakukan dengan memperhatikan konteks norma dan budaya. Selain itu, menatap mata orang yang sedang berbicara secara terus menerus akan menimbulkan ketidaknyamanan. Jadi, lakukan dengan seimbang antara menatap matanya dan melihat ke arah lain, untuk menyatakan bahwa Anda bersedia menerima dirinya dalam percakapan tersebut.

Hadiahkan senyum tulus. Senyum yang spontan, tidak dibuat-buat, adalah pernyataan penerimaan yang sangat kuat dan menyampaikan pesan penerimaan yang lebih kaya dan bermakna daripada sekadar mengucapkan kalimat “aku menerima kehadiranmu”.

Dengarkan dengan seksama saat Ia menceritakan masalahnya. Tidak menyampaikan komentar atau nasehat saat Ia mengeluh juga merupakan pernyataan penerimaan. Berikan Ia kesempatan untuk menyampaikan keluh kesahnya sampai tuntas. Ketika Anda menyediakan diri untuk mendengarkan, Ia akan merasa bahwa Ia diperbolehkan mengungkapkan pemikiran dan perasaanya.

Ajak bicara lebih banyak, persilahkan Ia melanjutkan ceritanya Bukakan pintu bagi dirinya agar leluasa melanjutkan ceritanya. Beberapa tanggapan yang biasanya digunakan antara lain : “Maukah kamu membicarakan hal ini denganku?”, “Teruskan, Aku dengerin Kok”, “Kayaknya kamu mau menyampaikan sesuatu…”, “Kelihatannya ini penting sekali bagimu…”. Kadang orang ragu-ragu saat akan berbicara, undangan seperti ini akan mendorong dirinya untuk memulai atau melanjutkan kisahnya. Tanggapan yang lain yang membuat Ia merasa diterima antara lain : “Kamu berhak menyampaikan perasaanmu”, “Aku belajar sesuatu dari ceritamu ini”, “Pendapatmu layak didengar…”, “Ceritamu ini membuat aku mengenalmu lebih baik…

Pantulkan, sampaikan pengertian Anda. Pahami dengan akurat perasaan dan arti pesan yang disampaikannya. Setelah itu, nyatakan dengan kalimat dan pantulkan kembali kepada yang bersangkutan “pesannya” tanpa diembel-embeli dengan penilaian, nasehat atau analisa Anda.

(bersambung)

Read more

Percakapan yang menyenangkan bersama pasangan dapat menjadi pelepas penat dan pembangkit semangat. Sebaliknya, percakapan yang menyebalkan dan menegangkan bisa menjadi virus yang menggerogoti kekuatan hubungan, bahkan bisa menjadi pemicu runtuhnya komitmen untuk bersama.

Albert Ellis (psikolog yang terkemuka dalam kajian hubungan antar pribadi) dan Ted Crawford (pengembang kajian mengenai penyelesaian perbedaan dan konflik) dalam Making Intimate Connection (2000) merekomendasikan tujuh pedoman untuk mengembangkan hubungan yang menyenangkan dan komunikasi yang lebih lancar dengan pasangan.

1. Terimalah pasangan “sebagaimana adanya”. Hindari saling “menuntut” dan “menuduh”. Bebaskan diri Anda dari kewajiban memperbarui pasangan. Secara alamiah Anda dan pasangan Anda akan saling mempengaruhi dan menyesuaikan diri. Biarkan hal itu mengalir tanpa dibebani dengan “tuntutan” dan “seharusnya”.

2. Ungkapkan apresiasi sesering mungkin. Hindari kebawelan dan kebiasaan “mengkritik”. Tingkatkan frekuensi untuk mengakui keberhasilan dan perilaku positif yang ditampilkan pasangan. Perhatikan, temukan, dan sampaikan apresiasi sesering mungkin.

3. Komunikas yang berlandaskan integritas. Jika ada pemahaman yang berbeda sampaikan perbedaan tersebut dengan selaras. Bilamana pasangan Anda benar, akuilah meskipun pendapat tersebut berbeda atau tidak Anda sukai. Sepakati untuk tidak saling menghukum karena menyampaikan kejujuran.

4. Saling mengungkapkan dan menjelajahi perbedaan dengan pasangan. Jelajahi perbedaan dengan pasangan untuk menemukan solusi menang-menang. Bersiaplah berkompromi bila memang solusi menang-menang sulit ditemukan tanpa berpura-pura setuju padahal tidak.

5. Berikan dukungan bagi tujuan pasangan Anda. Dengan tulus berikan dukungan pada usaha pasangan dalam mencapai tujuannya tanpa berpura-pura bila Anda memiliki perbedaan dengannya.

6. Berikan pasangan Anda hak untuk melakukan kesalahan. Hargai hak setiap orang sebagai manusia yang memiliki kemungkinan untuk terjatuh pada kelalaian dan kesalahan.

7. Pertimbangkan kembali keinginan Anda sebagai tujuan yang akan Anda raih kelak. Bilamana Anda tidak mendapatkan keinginan atau hasrat Anda, ingatkan diri Anda sendiri bahwa Anda tak perlu mendapatkan apa yang Anda inginkan, kini dan selamanya.

Idealnya, ketujuh pedoman ini menjadi komitmen Anda bersama pasangan. Bila ternyata belum, pilihlah untuk mempraktekkan tujuh resep ini sebagai komitmen sepihak terlepas dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pasangan Anda. Selamat mencoba !

Read more

Tulisan ini merupakan karya Thomas Gordon, seorang psikolog dari Amerika yang dihormati karena pandangan dan metode yang dikembangkannya untuk memperbaiki hubungan antar pribadi. Saya pernah menggunakan tulisan ini sebagai surat untuk memperbaiki hubungan dengan orang terdekat. Alangkah indahnya bila hubungan dengan orang-orang di sekitar kita menggunakan prinsip-prinsip seperti ini.
Selamat menghayati.

“Kau dan aku berada dalam suatu hubungan yang aku hargai dan ingin kupertahankan. Tetapi masing-masing kita adalah suatu pribadi mandiri yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan sendiri, yang unik, dan mempunyai hak untuk mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Aku akan berusaha untuk benar-benar menerima tingkah lakumu bila kau berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu atau bila kau mempunyai persoalan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Bila kau membagi persoalan-persoalanmu, aku akan berusaha untuk mendengarkan dan memahaminya dengan sepenuh hati, dengan suatu cara yang dapat mendorongmu, supaya kau dapat mencari pemecahan sendiri dan tidak menggantungkan pemecahannya kepadaku. Bila kau memiliki suatu persoalan karena tingkah lakuku mengganggu pemenuhan kebutuhanmu, kuanjurkan padamu supaya mengatakan padaku secara jujur dan terbuka bagaimana perasaanmu sebenarnya. Pada waktu-waktu itu, aku akan mendengarkan dan lalu mencoba mengubah tingkah lakuku, seandainya kau bisa.

Tetapi, bila tingkah lakumu mengganggu pemenuhan kebutuhanku hingga menyebabkan aku merasa tak dapat menerimamu, aku akan membagi persoalanku ini denganmu dan mengatakan padamu dengan sejujur dan seterbuka mungkin bagaimana persaanku, dan percaya bahwa kamu cukup menghormati kebutuhan-kebutuhanku sehingga kamu mau mendengarkan lalu berusaha mengubah tingkah lakumu.

Bila kita sampai pada suatu keadaan dimana seorangpun diantara kita dapat mengubah tingkah lakunya untuk memenuhi kebutuhan yang lain dan menemukan bahwa kita punya konflik dalam hal kebutuhan dalam hubungan kita, marilah kita tetapkan buat diri kita sendiri bahwa kita akan menyelesaikan konflik semacam itu dengan tanpa pernah menggunakan kekuasaanku atau kekuasaanmu untuk menang diatas puing kekalahan yang lain. Aku menghormati kebutuhan-kebutuhanmu, tetapi aku juga harus menghormati kebutuhanku sendiri. Jadi, marilah kita selalu berusaha untuk mencari pemecahan yang dapat kita terima terhadap konflik-konflik kita yang tak terelakkan. Dengan cara ini, kebutuhanmu akan terpenuhi, tetapi demikian pula halnya dengan kebutuhanku-tak ada seorangpun yang akan kalah, kita berdua.

Sebagai akibatnya, kau dapat tetap berkembang menjadi suatu pribadi dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu, demikian pula aku. Dengan begitu hubungan kita akan selalu berupa hubungan yang sehat karena memuaskan kedua belah pihak. Masing-masing kita dapat mengembangkan kemampuannya, dan kita dapat tetap saling berhubungan dengan rasa saling menghargai dan saling mengasihi dalam suasana damai dan bersahabat”

Read more

Dalam percakapan, beberapa kali Saya mendengar komentar seperti ini :
“Yang penting niat kita baik, kalau Dia nggak suka, yahh…terserah aja”
“Kita sudah tunjukkan kalo kita peduli, kalo Dia nggak terima ya itu urusan Dia”
“Dia itu gimana sih, kita kan mau membantunya, kok malah marah-marah, aneh…”

Biasanya kalimat tersebut keluar dari seseorang yang memiliki niat baik untuk membantu, kepedulian untuk menolong, namun tidak dimaknakan sebagai bantuan oleh penerimanya.

Dalam sebuah kesempatan, seorang senior saya bercerita :
“Ini kisah tentang dua sahabat, Monyet dan Ikan. Mereka bersahabat cukup lama. Sejak kecil sudah sering bermain dan saling berbagi makanan. Suatu ketika, hujan turun sangat lebat. Semua penghuni rimba panik. Monyet menyaksikan teman-temannya sesama monyet menjerit-jerit sambil memanjat ke pohon yang lebih tinggi. Ia melihat seekor anak monyet menangis dibawah pohon sendirian. Karena kebaikan hati dan kepeduliannya, Ia segera rengkuh anak monyet tersebut, dipeluk dan dibawanya naik ke pohon yang lebih tinggi. Setelah berada di tempat aman, anak monyet tersebut berhenti menangis dan tertidur di pelukannya. Saat itu, Ia menjadi teringat akan keselamatan sahabatnya. Bergegas Si Monyet turun ke sungai memastikan keselamatan teman-temannya. Setelah berjalan kesana-kemari, Ia melihat Ikan sahabatnya terjebak diantara batang kayu dan batu. Temannya, Si Ikan, melompat-lompat, seolah berteriak minta pertolongan. Dengan tangkas si Monyet merengkuh dan memeluk sahabatnya. Ia tidak tega melihat sahabatnya ada dalam kesulitan. Ia ingin memberikan perasaan nyaman dan aman baginya, karena itu Ia segera peluk dan bawa naik sahabatnya ke tempat yang menurutnya lebih aman, pohon yang besar dan tinggi. Setelah berada di tempat yang dirasanya aman, Monyet menyaksikan sobatnya terdiam dan berhenti bergerak…”

Mungkin cerita ini terasa berlebihan, tetapi kisah ini mengingatkan Saya pada sejumlah peristiwa dimana bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang tidak diterima sebagai bentuk bantuan atau pertolongan.

Read more

Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa silabus pelatihan dan proses diskusi sejumlah tim fasilitator, Saya menangkap kesan “perumusan sasaran pembelajaran kurang mendapat perhatian yang layak”. Bahkan salah seorang fasilitator senior yang Saya kenal, pernah mengkritik Saya “terlalu akademis” ketika Saya bertanya kejelasan tentang sasaran pembelajaran sebelum menyusun rencana fasilitasi.

Bagi Saya, merumuskan sasaran pembelajaran secara jelas dan terukur merupakan kegiatan yang SANGAT PENTING dan Saya tidak keberatan dituduh “terlalu akademis” karena mementingkan proses ini. Menurut Saya, sasaran pembelajaran merupakan panduan dalam :
a. menentukan materi dan metode pelatihan
b. menyusun perangkat evaluasi pelatihan
c. menyamakan persepsi tim fasilitator mengenai : apa yang akan dicapai dan dipelajari dalam pembelajaran, bagaimana proses pembelajaran yang akan dilakukan dan berapa lama durasi yang diperlukan.

Pengklasifikasian sasaran pembelajaran yang populer digunakan terdiri dari tiga ranah, yaitu :
a. Kognitif, meliputi pengetahuan dan perkembangan keterampilan intelektual yang dibagi kedalam enam kategori utama mulai dari tingkah laku yang sederhana hingga kompleks, sebagai berikut : knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis dan evaluation.
b. Afektif, terdiri atas cara seseorang berhubungan dengan sesuatu secara emosional, seperti perasaan, apresiasi, antusiasme, motivasi dan sikap. Area afektif ini terdiri atas lima kategori utama, sebagai berikut : receiving, responding, valuing, organization dan characterization.
c. Psikomotorik, mencakup gerakan fisik, koordinasi, dan penggunaan area keterampilan motorik. Pengembangan keterampilan ini membutuhkan latihan dan diukur melalui kecepatan, prosedur atau teknik dalam pelaksanaannya. Tujuah kategori utama area ini adalah sebagai berikut : perception, set, guided response, mechanism, complex overt response, adaptation dan origination.

Menurut Nadler dan Nadler (1982), setidaknya rumusan sasaran harus mengandung unsur :
a. Performa, apa yang mampu dilakukan peserta setelah pelatihan. Performa dituliskan dalam kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati, misalnya : mengenali, menyebutkan dan menguraikan.
b. Kondisi, dalam kondisi apa peserta menunjukkan perilaku tersebut. Bagian kondisi dari tujuan ini berupa menetapkan keadaan (lingkungan), perintah, materi, arahan, dan lain sebagainya; yang diberikan kepada peserta untuk memprakarsai tingkah laku.
c. Kritera, tingkat keberhasilan peserta dalam mencapai perilaku tersebut. Biasanya, kriteria diekspresikan dalam ukuran minimum, atau sebagai apa yang seharusnya, sebagai minimum, termasuk dalam respon peserta.
Selanjutnya, dalam menulis sasaran, Nadler dan Nadler (1982), menyarankan kepada perancang untuk memulai dengan pernyataan sebagai berikut : “Setelah menyelesaikan pengalaman belajar ini, peserta akan dapat ……..”. Selain mengikuti saran tersebut, Saya juga sering memulai dengan pernyataan seperti ini : ” Di akhir pembelajaran ini, peserta mampu ……”.
Semoga bermanfaat.

Read more

Kegiatan penting yang kadang terabaikan dalam merancang program pembelajaran adalah identifikasi kebutuhan belajar. Pada kesempatan ini, Saya rangkumkan rekomendasi Mel Silberman (1990) mengenai cara mengenali kebutuhan belajar peserta, sebagai berikut :

Observasi, mengumpulkan informasi melalui hasil pengamatan pada sejumlah kriteria yang dapat diukur dan teramati langsung. Keunggulan metode ini adalah dalam hal penggunaan waktu yang cukup efisien. Keterbatasannya, subyektifitas ketika melakukan interpretasi terhadap apa yang terobservasi. Untuk mengatasi kekurangan tersebut biasanya metode observasi sering dilengkapi dengan wawancara dan memanfaatkan sejumlah ahli sebagai observer.

Kuesioner, dokumen yang berisi sejumlah pertanyaan untuk menjaring tanggapan dari calon peserta. Kuesioner yang efisien sebaiknya disusun sesingkat dan seringkas mungkin sehingga tidak memakan waktu banyak untuk mengisinya. Salah satu masalah yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan metode ini adalah waktu, terkait dengan pengambilan, pengolahan dan interpretasi data. Selain itu, kesulitan melakukan eksplorasi lebih lanjut berkaitan dengan informasi yang diperoleh pada saat itu juga dan keengganan responden untuk mengisi atau mengembalikan kuesioner yang diterimanya.

Key Consultation. Konsultasi dengan pihak yang dianggap mengetahui kebutuhan belajar para calon peserta, misalnya: atasan, pelanggan, bidang pengembangan SDM dan anggota asosiasi profesional. Metode ini sering dipilih saat perancang menghadapi keterbatasan waktu. Keandalan metode ini ditentuka oleh penentuan “orang kunci” dan informasi yang diberikannya.

Wawancara. Metode ini menggunakan serangkaian pertanyaan, yang akan ditanyakan satu persatu kepada responden. Media yang biasanya digunakan adalah tatap muka secara langsung, melalui telepon, ataupun e-mail. Metode ini akan sangat berguna khususnya ketika dibutuhkan informasi yang kompleks dan belum sepenuhnya jelas, sebab metode ini dapat dimodifikasi dengan cepat untuk memperoleh informasi yang tiba-tiba muncul. Selain itu melalui metode ini informasi yang diperoleh cukup padat hanya dalam waktu yang singkat, idealnya tidak lebih dari 30 menit tiap responden. Hal yang perlu diwaspadai adalah bila pewawancara tidak hati-hati responden akan merasa terancam dan terintimdasi. Selanjutnya, metode ini seringkali sulit dilakukan berkaitan dengan pengaturan waktu untuk melakukan proses wawancara.

Focus Group Discussion. Metode ini menggunakan sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada sekelompok orang dengan jumlah bervariasi (idealnya 7 sampai 9 orang), dengan pengarahan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya sering kali teridentifikasi (setidaknya nama panggilan saja), tapi tidak menutup kemungkinan anonim. Proses diskusi ini dapat berlangsung dalam waktu lama, namun jarang berlangsung lebih dari satu jam. Metode ini akan sangat berguna khususnya ketika dibutuhkan informasi yang kompleks dan belum sepenuhnya jelas, sebab teknik ini dapat dimodifikasi dengan cepat untuk memperoleh informasi baru yang tiba-tiba muncul. Metode ini efektif untuk mengatasi responden yang keberatan untuk dieksplorasi mengenai isu atau masalah yang rumit atau kontroversial. Melalui kelompok, setiap responden akan bertukar ide dan isu, untuk selanjutnya mencari consensus bersama tentang permasalahan yang diajukan. Materi pertanyaan diskusi dapat berbentuk pertanyaan yang terdefinisi dengan jelas ataupun terbuka. Kekurangan metode ini adalah berkaitan dengan penggunaan waktu yang cukup lama, tidak menutup kemungkinan ada responden yang “menghalangi” responden lain untuk berpendapat, relasi antara pemandu dengan responden (kesamaan minat/pemikiran) dapat memunculkan interpretasi yang bias, dan sulit dilakukan berkaitan dengan pengaturan waktu khususnya bila pihak manajemen tidak mendukung sepenuhnya.

Catatan atau Laporan. Laporan yang biasa digunakan adalah laporan tampilan kerja dari calon peserta pelatihan, baik itu self report maupun hasil evaluasi atasan, ataupun laporan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Laporan tersebut akan dianalisis oleh sejumlah ahli guna menentukan letak ketidaksesuaian dari apa yang dimunculkan dengan yang seharusnya.

Read more