• cropped-hi-hary.jpg

    cropped-hi-hary.jpg

Mengatakan Tidak, untuk apa?

TIDAK. Tampak singkat dan sederhana. Tapi mengapa kadang menjadi kata yang sangat sulit keluar dari mulut kita pada saat kita perlu mengatakannya?

TIDAK, merupakan salah satu kata yang penuh daya, ia bisa menolong kita atau membuat kita berada dalam kesulitan. Memutuskan mengatakan TIDAK kadang menghadirkan ketegangan karena tarik menarik antara memanfaatkan kekuatan dengan memelihara hubungan.

“…mengatakan YA saat kita ingin mengatakan tidak, berarti YA tak sehat yang menghasilkan kedamaian palsu hanya untuk sementara waktu” (Ury, 2007)

Setiap orang berhak mencintai diri sendiri. TIDAK semua energi dan waktu yang kita miliki dapat kita berikan kepada orang lain. Kita perlu menetapkan batas sehingga kita tidak harus diperas dan direndahkan. Sekali kita mengizinkan si manipulator mengeksploitasi dan mengendalikan hidup Anda, ia akan terus-menerus memanipulasi Anda.

Kita punya kekuatan untuk memilih. Orang yang mencoba menawarkan sesuatu kepada kita, tidak berhak memaksa kita untuk mengikuti kemauannya. Bila hal tersebut berdampak buruk bagi kita dan lingkungan, kita berhak mengatakan TIDAK. Kita yang memilih karena kita yang akan menanggung akibatnya.

Kesanggupan mengatakan TIDAK menghadirkan banyak manfaat, antara lain …

  • mengurangi daftar aktivitas sehingga lebih banyak memiliki waktu berkualitas
  • meningkatkan kepuasaan karena memiliki kendali atas hidup kita
  • melindungi diri dari jeratan manipulasi orang lain
  • menjalani kehidupan berlandaskan prinsip kebenaran yang kita yakini
  • menghindari perbuatan yang melanggar aturan atau norma kehidupan
  • menjalin hubungan yang sehat

 

Kapan mengatakan tidak?

Katakan TIDAK kepada …

  • orang yang mengajak, apalagi memaksa melakukan perbuatan kriminal atau melanggar peraturan
  • orang yang membujuk, apalagi memaksa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip kebenaran
  • ajakan, apalagi tuntutan melakukan perbuatan yang merugikan atau merusak lingkungan
  • permintaan, apalagi tuntutan yang membuat anda direndahkan dan dieksploitasi

 

Mengatakan tidak, bagaimana caranya?

Keberanian mengatakan TIDAK bisa dibangun dengan mengatakannya pada orang terdekat, pada masalah yang sederhana dan kecil resikonya. Berikut beberapa kiat yang bisa anda uji coba …

  • Mencegah, menghindari berada di tempat yang salah, pada waktu salah. Hindari situasi yang menekan, yang menuntut anda berkata “Tidak!”. Bila anda terjebak, segera tinggalkan.
  • Menetapkan batas, tindakan apa yang sebaiknya anda lakukan dan hindari, apa yang boleh dan terlarang dilakukan orang lain pada diri anda.
  • Memiliki agenda, beri kesempatan pada diri anda untuk membuat rencana dan jelaskan rencana tersebut kepada orang lain. “Tidak, saya sudah memiliki rencana lain.”
  • Menunda, sebelum merespon permintaan. Ini akan mengurangi tekanan dan memberi kesempatan untuk berpikir sebelum bertindak. “Tidak sekarang, saya perlu waktu memutuskannya”.
  • Menegaskan prinsip, menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang anda yakini kebenarannya dan akan anda pertahankan. “Tidak, karena bertentangan dengan ajaran agama saya”.
  • Berikan bukti. Bukti yang nyata dan masuk akal akan mendukung argumentasi pada penolakan kita. “Tidak karena sudah terbukti bahwa ….”
  • Ucapkan “Terimakasih, TAPI TIDAK, terimakasih”, untuk menampilkan kesantunan dan menghargai penawarannya.
  • Ulangi untuk menegaskan. Katakan saja dengan singkat, tegas dan meyakinkan “TIDAK”. Bila ia terus mendesak, ulangi lagi dengan katakan “TIDAK” dengan tenang tanpa perlu banyak argumentasi atau penjelasan.
  • Abaikan, bertindaklah seolah-olah ajakan tersebut tidak perlu dipikirkan atau dibahas, alihkan ke topik lain.

 

Silahkan mencoba, bila membutuhkan bantuan, anda bisa meminta bimbingan teman terpercaya atau bila perlu minta bantuan profesional untuk membimbing anda.

“…mengatakan TIDAK berdasarkan keyakinan terdalam lebih baik dan lebih hebat dari pada mengatakan YA hanya untuk menyenangkan, atau yang lebih buruk lagi, untuk menghindari masalah.” – Mahatma Gandhi

Read more

“Orang bijak bukan orang yang menyediakan jawaban yang benar, tetapi orang yang mengajukan pertanyaan yang benar”_Claude Levi-Strauss.

Kecakapan bertanya niscaya akan mengantarkan Anda mampu belajar lebih baik tentang apa dan siapa yang Anda hadapi. Selain itu, kecakapan bertanya juga akan memperlancar Anda dalam mempromosikan gagasan dan membantu orang lain menemukan solusi dari masalah yang dihadapinya.

Apakah pertanyaan itu?

Pertanyaan dapat dimaknakan sebagai:

# Pemandu, mengarahkan fokus perhatian. Pertanyaaan lebih dari sekedar alat untuk mengumpulkan informasi. Pertanyaan dapat menjadi pemandu percakapan. Saat Anda bertanya, Anda mengarahkan fokus perhatian. Informasi yang akan Anda terima ditentukan oleh informasi yang Anda minta. Pertanyaan yang Anda ajukan akan menentukan jawaban yang akan Anda terima.

# Undangan, bahkan tuntutan. Pertanyaan adalah pernyataan yang menuntut jawaban. Saat menerima pertanyaan, kita terdorong untuk memberikan tanggapan. Bahkan kadang seseorang akan menghindari pertanyaan karena merasakan pertanyaan menjadi tuntutan dan merasa tidak siap atau tidak sanggup menjawabnya.

# Perangkat pembelajaran. Pertanyaan akan membuat seseorang belajar. Saat menerima pertanyaan, kita terdorong untuk berpikir atau melakukan refleksi sejenak, mencermati pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Pertanyaan juga mengantarkan kita untuk mencoba melihat perspektif lain sehingga akhirnya mempertimbangkan pilihan-pilihan baru.

PERHATIKAN PERTANYAANMU!
“sometimes question can hurt more than answer”_Sarah Dessen.

Ternyata oh ternyata pertanyaan bisa membuat kita menjadi lebih berdaya atau malah semakin tak berdaya!

Masih ingatkah Anda, seseorang terluka karena sebuah pertanyaan? Pernahkan Anda menyaksikan, atau mungkin malah mengalami pertanyaan yang melukai perasaan dan melemahkan semangat. Pertanyaan yang memancing kemarahan, salah paham atau lebih seru lagi pertengkaran?

Jadi ingat, pertanyaan yang kita ajukan bisa:
– menghambat percakapan
– melemahkan motivasi
– menurunkan keyakinan diri
– merenggangkan relasi
– melukai perasaan.

Sebaliknya, ingatkah anda akan sebuah pertanyaan yang membangkitkan harapan? Pertanyaan yang membuat orang tercerahkan? Pertanyaan yang memampukan, merangsang berpikir kreatif dan memperlancar terurainya keruwetan permasalahan? Pertanyaan yang membuat Anda merasa dipedulikan? Pertanyaan yang membangkitkan semangat, harapan dan membuat Anda tergerak untuk melakukan perubahan?

Kabar baiknya, pertanyaan juga bermanfaat untuk …
– menampilkan kepedulian
– memelihara fokus dan alur percakapan
– memfasilitasi saling pengertian
– merangsang pemikiran
– memberi harapan

PERTANYAAN yang membangkitkan KEKUATAN
“…perubahan terjadi saat kita mengajukan pertanyaan.”_Whitney & Bloom.

Dengan bertanya, kita berharap dapat menstimulasi proses berpikir, memfasilitasi identifikasi permasalahan dan sumber daya, mengeksplorasi beragam alternatif solusi, memfasilitasi pengambilan keputusan, serta membangkitkan kesediaan bertanggung jawab dan rasa memiliki hasil akhirnya.

Pertanyaan yang mengembangkan sumber daya, membangkitkan kekuatan, hadir dari pola pikir seorang pembelajar yang memilih…

# fokus untuk belajar dan memahami, bukan menghakimi dan menghukum
# menyuburkan rasa ingin tahu, bukan sok tahu dan menyuburkan prasangka
# menantang asumsi, tidak menerima begitu saja
# mengapresiasi perbedaan, bersedia belajar, bukan merasa paling baik dan benar
# menerima ketidaktahuan, kekurangan dan kegagalan sebagai peluang belajar
# melihat dari berbagai perspektif, terbuka terhadap perubahan bila diperlukan
# mengambil tangggung jawab, bukan mengabaikan atau menghindar

Pertanyaan yang membangkitkan kekuatan lebih mudah hadir dalam jalinan percakapan yang …

# dilandasi saling menghargai, saling pengertian dan saling membantu
# mengutamakan dialog untuk menemukan solusi, bukan debat saling mengalahkan
# mengapresiasi pembelajaran, bukan menghakimi kesalahan dan kegagalan
# mengapresiasi perbedaan data atau perspektif, bukan memaksakan persetujuan

Jadi, mari kita tanyakan kembali kebiasaan bertanya kita: membangkitkan kekuatan atau melumpuhkannya?

“great result begin with great question”_Marilee G. Adams.

Mari belajar dan berbagi.

Read more

“…kata-kata dapat menyayat, tetapi diam lebih mematahkan hati.” (Phyllis McGinley)

Percakapan yang melukai merujuk pada penyerangan yang dilakukan melalui pilihan kata dan atau cara bicara. Penyerangan dengan percakapan dapat berpusat pada isu-isu tertentu, kejadian di masa lampau atau seekarang, psikologis, atau gangguan emosional pada orang lain.

Perkataan dan atau cara bicara yang berpotensi melukai, antara lain:

  • membentak, berteriak yang bertujuan merendahkan atau mengancam
  • merendahkan, mengejek, mencaci, memanggil dengan panggilan menyakitkan.
  • menghakimi, menuduh tanpa bukti
  • mengancam, mengintimidasi

 

Kabar baiknya, “..tak seorang pun bisa menyakitimu, tanpa seijinmu…”

Agar tidak terus menerus merasa disakiti …

  • Sadari bahwa anda telah tersakiti dan akui juga kerusakan yang terjadi akibat penganiayaan tersebut.
  • Berhenti merendahkan, menghakimi dan menyalahkan diri sendiri
  • Berhenti membuat pembenaran atas perilaku orang yang terbukti telah menyakiti
  • Raih sumber daya menguatkan batasan-batasan diri
  • Kembangkan ketegasan untuk menghentikan perilaku orang lain yang menyakiti anda.

Membiarkan orang terus menyakiti anda, bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi juga menghancurkan hubungan anda dengannya.

 

Percakapan untuk Membela Diri

saat kejadian …

  • Lindungi diri anda saat ia menyerang anda. Hindari percakapan negatif dengan diri sendiri yang membuat anda merasa tidak berdaya, ubah menjadi percakapan dalam diri yang membangkitkan kekuatan dalam diri anda.
  • Bicara secara langsung, jelas dan tegas, misalnya: “Saya merasa terhina dengan perkataanmu. Saya tidak berhak diperlakukan demikian. Saya tidak ingin kamu bicara dengan cara seperti itu.”
  • Bila ia membela diri dengan menyampaikan alasan atau menyalahkan anda, hindari perdebatan, cukup ulangi kalimat anda dengan tenang dan tegas.

 

Setelah kejadian …

  • Tenangkan diri, ambil jeda. Periksa kesiapan mental anda untuk bicara.
  • Beritahu bahwa ada hal serius yang hendak anda bicarakan. Mulailah dengan memberitahukan bahwa anda tidak bahagia dengan perlakuan yang anda diterima.
  • Katakan bahwa anda peduli dengannya dan cara bicaranya mempengaruhi perasaan Anda kepadanya. Sampaikan, anda khawatir hal ini menghancurkan hubungan Anda.
  • Apabila ia tampak bersedia untuk bekerjasama, katakan bahwa anda mengapresiasi kesediannya untuk memperbaiki hubungan baik, tanyakan apakah ia menginginkan contoh perilaku yang mengganggu.
  • Jangan kaget apabila ia memberikan banyak alasan, ini dapat dimengerti namun jangan biarkan diskusi berubah menjadi perdebatan. Apabila ia kemudian justru menampakkan perilaku yang menyakiti, katakan “inilah bentuk perilaku yang aku bicarakan”.
  • Bila ia terus menyakiti, manfaatkan kiat membela diri saat kejadian.

Semoga bermanfaat, mari berbagi.

Read more

Apakah puisi itu? Saya awam ilmu sastra, tapi tak memungkiri telah jatuh cinta. Jadi bagi saya, puisi itu seperti tari yang hentakannya di hati; rintihan rindu yang jeritannya menggema di dada.

I.
sungging senyummu memecah pagi,
merona oh betapa manisnya
tak tahu bagaimana lagi aku menahannya,
bingung aku dimana menyembunyikannya,
aku sayang kamu..
upsss

II.
kuselipkan rindu,
semoga engkau mengerti.
semestinya aku berdiri di beranda hatimu,
mengetuk pintu dan menyapa pagimu,
tapi aku masih disini, terpaku.
berharap lintasanmu menyentuh lembut bersama semilir angin …oh…

III.
aku masih disini, menemanimu,
dengan segenap cinta kurengkuh kerinduan,
geliat asaku kuasa gelombang, masih di sini !

IV.
mengapa aku MASIH DISINI BERSAMAMU ?
bukan karena aku tidak bisa pergi darimu,
bukan hanya karena mimpi kita,
tapi karena cinta yang menghunjam mengakar dalam,
menjalari nadi

V.
hembus nafasmu membelai lembut, puisi pun tak kuasa lukiskan, tak jua senandung
lelapmu luruhkan lelah letihku, rima nafasmu menghalau senyap,
kubisikkan impian di mimpimu, kucitakan keindahan hidupmu, kusematkan doa dalam namamu.

VI.
Bukan sakitku yang menyakitkan,
Tersayat kepeningan sanggup kuhiraukan
Bukan lelahku yang melayukan
Bukan letihku, bukan perihku
Dipaksa kenyataan tidak menikmati riang malam bersamamu
yang lebih memilukan

VII.
Aku mengalami kesakitan yang tak hendak kusembuhkan
kegelisahan yang enggan kuredakan
Rinduku akan pelukmu telak menampar jantungku
memporandakan kecerdasanku
Pada sayap keheningan kurintihkan …..
kurindukan pelukanmu malam ini

VIII
Bila tak sempat kugenggam tanganmu
Kan kugenggam rinduku dalam doaku
Bila tak sempat kupeluk tubuhmu
Kan kupeluk gemasku dalam mimpiku
Bila tak sempat kukecup keningmu
Kan kukecup sayangku dalam nafasku

IX
Rengkuhlah aku
Kedinginan ini tlah mengiris-iris nadiku
Dimana senandungmu ?
Aku menggigil dalam kesepian
Rengkuhlah aku….

X
Kerinduan ini tlah begitu lama menggodaku
Semakin kupendam, semakin genit kurasa
Bilakah Ia melepaskanku
Ohhhh……….

XI
Meskiku tak segagah sang panglima
Kukan jagamu sepenuh daya
Meskiku tak serimbun rimba raya
Kukan damaikanmu sepenuh asa
Meskiku tak setegar karang selatan
kukan temanimu sepenuh jiwa
Wahai gelombang pasang jiwaku
Larutkanlahku dalam rindumu

XII
Kuhamparkan pantaiku
Kubiarkan
Gelombang pasangmu jilati pasir putihku
Semilir hasratmu
Gelorakan rintih sunyi
Iringi tarian pelangi
Di retakan karang selatan
Bidukku kutambatkan

XIII
Bila bukan cinta yg menjadi terdakwa, siapa yang mendendangkan nada ini?
Bila bukan rindu yg menjadi tertuduh, siapa yang menyerap rasa ini?

IV
Bila bukan cinta, trus ini apa? Pelita diujung lorong gulita.
Bila bukan sayang, trus ini apa? Kehangatan yang menyeruak dari balik jendela.
Bila bukan rindu, trus ini apa? Senyuman yang tak layu tergerus waktu

Read more

Tulisan ini hadir terdorong oleh gairah beberapa sahabat yang tertarik untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan (PBK). Untuk sahabatku, tulisan ini merupakan pengantar aktivitas Lingkar Berbagi Apresiasi yang akan kita lakukan. Meski demikian, tulisan ini bukan rahasia, dan tentu saja sila dibagi bila dirasa menghadirkan manfaat.

Apa itu percakapan bertuah?

Percakapan merupakan proses berbagi. Aktivitas memberi dan menerima pernyataan, baik verbal maupun nonverbal. Arena melempar pertanyaan dan menerima jawaban. Bertuah bermakna memiliki kekuatan, pengaruh.  Sederhananya, percakapan bertuah adalah percakapan yang memiliki kekuatan, berdaya untuk mempengaruhi pola pikir, perasaan dan tindakan. Bukan sekedar percakapan. Bukan percakapan biasa.

Mari sejenak berhitung, berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk melakukan percakapan? Sejak bangun sampai tertidur kembali, berapa lama kita menjalani percakapan dengan orang-orang di sekitar kita? Bila ditambahkan dengan dialog batin, percakapan dengan diri sendiri, jadi berapa waktu yang telah kita curahkan untuk melakukan percakapan?

Bila pemanfaatan waktu menentukan kualitas kehidupan, maka kualitas percakapan akan menentukan kualitas kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah percakapan tersebut menghadirkan manfaat atau sebaliknya? Apakah percakapan yang kita lakukan menghadirkan friksi atau harmoni? membangkitkan semangat berprestasi atau melayukannya? Mengembangkan ketangguhan atau meluruhkannya?

Pada kesempatana ini kita akan berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan. Semoga ada lagi yang berminat untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Harmoni, Percakapan Bertuah Prestasi atau tuah-tuah percakapan lainnya.

Apa ketangguhan?

Sederhananya, ketangguhan merupakan kemampuan kita menghadapi masalah, kesulitan, bencana dan lain sebagainya yang berpotensi membuat kita tertekan dan menderita. Kita tidak akan mengelak dari masalah. Kita pernah dan mungkin akan (lagi) mengalami kejadian yang menyedihkan bahkan mungkin menyakitkan. Tetapi bukan peristiwa, kejadian yang membuat kita jatuh dan tak berdaya. Bagi pribadi tangguh, masalah akan membesarkannya, membangkitkan kekuatan ksatria dalam dirinya. Bagi pribadi rapuh, masalah akan mengkerdilkannya, meluruhkan kekuatannya.

Dalam Lingkaran Berbagi Apresiasi : Percakapan Bertuah Ketangguhan nanti kita akan berbagi mengenai :

  • Pilar Ketangguhan
  • Pilar Percakapan
  • Dinamika Percakapan
  • Menu Percakapan Bertuah Ketangguhan (Menghadirkan Kenyamanan, Menjalin Pengertian, Menginspirasi Perubahan)

Mari Berbagi !

Read more

Lingkar Berbagi Apresiasi merupakan metode yang digunakan untuk memfasilitasi perubahan positif berlandaskan pada beberapa pemahaman dasar, yaitu:

  • Lingkar bermakna bersama, menjadi bersama, dan secara langsung berpartisipasi aktif dalam interaksi.
  • Berbagi bermakna berdialog, memberi-menerima dan belajar dari satu sama. Aktivitas saling memperkaya dan menguatkan.
  • Apresiasi bermakna mengakui, menghargai dan memberi nilai tambah.

Dalam prakteknya, metode Lingkar Berbagi Apresiasi terdiri dari tiga fase, yaitu:

#Fase 1: Berbagi Harapan (Sharing Expectation) : Partisipan difasilitasi untuk berbagi harapan mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan dan menyatakan komitmennya untuk aktif terlibat dalam aktifitas.

#Fase 2: Eksplorasi Sumber Daya (Exploring Resources) : Partispan difasilitasi untuk mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan atau yang tersedia.

#Fase 3 : Merancang Masa Depan (Arranging The Future) : Partisipan difasilitasi untuk memformulasikan gambaran keberhasilan yang ingin dicapai dengan menyediakan dukungan dan tahapan untuk mencapainya.

Bila Anda berminat untuk belajar dan berbagi bersama tentang metode fasilitasi ini. Saya akan menyambutnya dengan senang hati.

Mari Berbagi !

Read more

Masa depan harus lebih baik dari masa sekarang adalah tekad kebanyakan orang. Menjadi lebih berkualitas adalah impian sebagian besar dari kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Marcus Buckingham (2005), mengungkapkan tiga pendekatan yang dilakukan orang atau organisasi untuk meningkatkan kualitas. Tiga pendekatan tersebut adalah :

“TEMUKAN TAKTIK YANG BENAR DAN TERAPKANLAH”

“TEMUKAN CACAT-CACAT ANDA DAN PERBAIKI”

“TEMUKAN KEKUATAN-KEKUATAN ANDA DAN GALILAH”

Read more

MENGERTI, sering menjadi terdakwa dari berbagai peristiwa. Kebanyakan tak disuka …”Ini terjadi karena kamu nggak mau ngerti!”, “Andai saja kita saling ngerti, mungkin nggak akan jadi begini”.

Sebaliknya, MENGERTI, juga menjadi perekat jalinan relasi dan kunci keberhasilan meraih prestasi, “Kita bisa bertahan melalui semua ini karena kita mengerti….”, “Keberhasilan ini terjadi karena kita mengerti …”

Kesadaran akan pentingnya saling mengerti kadang hadir belakangan. Alih-alih, berusaha untuk mengerti, yang sering muncul adalah tuntutan agar dimengerti, “mustinya kamu ngerti…”.

Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply _Stephen R. Covey

Bila anda serius memperbaiki jalinan relasi, berhenti saling menuntut untuk dimengerti dan mulai berusaha saling mengerti.

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Mengerti merupakan proses menerima, memperhatikan kepada, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Kemauan dan kemampuan mengerti menjadi penentu kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan kerjasama.

 

Mengapa mengerti terasa berat bagi sebagian orang?

  • Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.
  • Sibuk Sendiri. Saat mendengar, sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pAndang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan mitra bicara.
  • Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dahulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.
  • Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.
  • Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)
  • Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.
  • Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.

 

Cobalah menggerti

MENGERTI merupakan keterampilan yang menentukan kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan hubungan baik. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI, kata yang mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Untuk mengerti, kita perlu MENDENGARKAN, bukan hanya mendengar, apalagi pura-pura mendengar.

MENDENGARKAN mempersyaratkan kesediaan untuk memperhatikan pernyataan verbal maupun non verbal untuk dihayati dan ditangkap maknanya bagi penyampai dan selanjutnya menunjukkan kepada pemberi pesan bahwa ia telah dipahami secara akurat.

MENDENGARKAN melibatkan aktivitas fisik dan psikologis. Untuk mampu mendengarkan, kita tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

MENDENGARKAN memungkinkan kita untuk mengerti emosi dari sudut pandang orang lain, menangkap apa yang ia bicarakan berdasarkan pola pikirnya sehingga pada akhirnya kita dapat memahaminya dan pada akhirnya dapat menjalin saling pengertian.

“The reality of the other person is not in what he reveals to you, but in what he cannot reveal to you. Therefore, if you would understand him, listen not to what he says but rather what he does not say” Kahlil Gibran_

Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut :

  • Attending, Memperhatikan, hadir sepenuhnya. Kepedulian, kemauan dan kerelaan mendengarkan orang lain sehingga memudahkan telinga mendengar dan mata memperhatikan. Dalam percakapan, pesan yang disampaikan mitra bicara, dapat berwujud pesan verbal (kata-kata) maupun non verbal (cara bicara, yang terdengar dan terlihat).
  • Interpretating, Memaknakan, memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya. Memahami pikiran, perasaan dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya.
  • Responding, Menanggapi, Memberikan tanggapan terhadap pesan yang kita pahami. Memastikan akurasi pemahaman dan menyatakan pengertian. Aktivitas ini bermanfaat, terutama, ketika: Anda ingin memastikan pemahaman, mitra bicara ingin dimengerti, anda ingin mengelola pembicaraan.

 

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti.

Memang tidak mudah tapi cobalah untuk mengerti.

Read more