Hari Setyowibowo

Belajar_Berkarya_Berbagi

Archive for the ‘Teman Berbagi’ Category

Menjadi Teman Berbagi: BELAJAR BERTANYA

without comments

“Orang bijak bukan orang yang menyediakan jawaban yang benar, tetapi orang yang mengajukan pertanyaan yang benar”_Claude Levi-Strauss.

Kecakapan bertanya niscaya akan mengantarkan Anda mampu belajar lebih baik tentang apa dan siapa yang Anda hadapi. Selain itu, kecakapan bertanya juga akan memperlancar Anda dalam mempromosikan gagasan dan membantu orang lain menemukan solusi dari masalah yang dihadapinya.

Apakah pertanyaan itu?

Pertanyaan dapat dimaknakan sebagai:

# Pemandu, mengarahkan fokus perhatian. Pertanyaaan lebih dari sekedar alat untuk mengumpulkan informasi. Pertanyaan dapat menjadi pemandu percakapan. Saat Anda bertanya, Anda mengarahkan fokus perhatian. Informasi yang akan Anda terima ditentukan oleh informasi yang Anda minta. Pertanyaan yang Anda ajukan akan menentukan jawaban yang akan Anda terima.

# Undangan, bahkan tuntutan. Pertanyaan adalah pernyataan yang menuntut jawaban. Saat menerima pertanyaan, kita terdorong untuk memberikan tanggapan. Bahkan kadang seseorang akan menghindari pertanyaan karena merasakan pertanyaan menjadi tuntutan dan merasa tidak siap atau tidak sanggup menjawabnya.

# Perangkat pembelajaran. Pertanyaan akan membuat seseorang belajar. Saat menerima pertanyaan, kita terdorong untuk berpikir atau melakukan refleksi sejenak, mencermati pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Pertanyaan juga mengantarkan kita untuk mencoba melihat perspektif lain sehingga akhirnya mempertimbangkan pilihan-pilihan baru.

PERHATIKAN PERTANYAANMU!
“sometimes question can hurt more than answer”_Sarah Dessen.

Ternyata oh ternyata pertanyaan bisa membuat kita menjadi lebih berdaya atau malah semakin tak berdaya!

Masih ingatkah Anda, seseorang terluka karena sebuah pertanyaan? Pernahkan Anda menyaksikan, atau mungkin malah mengalami pertanyaan yang melukai perasaan dan melemahkan semangat. Pertanyaan yang memancing kemarahan, salah paham atau lebih seru lagi pertengkaran?

Jadi ingat, pertanyaan yang kita ajukan bisa:
– menghambat percakapan
– melemahkan motivasi
– menurunkan keyakinan diri
– merenggangkan relasi
– melukai perasaan.

Sebaliknya, ingatkah anda akan sebuah pertanyaan yang membangkitkan harapan? Pertanyaan yang membuat orang tercerahkan? Pertanyaan yang memampukan, merangsang berpikir kreatif dan memperlancar terurainya keruwetan permasalahan? Pertanyaan yang membuat Anda merasa dipedulikan? Pertanyaan yang membangkitkan semangat, harapan dan membuat Anda tergerak untuk melakukan perubahan?

Kabar baiknya, pertanyaan juga bermanfaat untuk …
– menampilkan kepedulian
– memelihara fokus dan alur percakapan
– memfasilitasi saling pengertian
– merangsang pemikiran
– memberi harapan

PERTANYAAN yang membangkitkan KEKUATAN
“…perubahan terjadi saat kita mengajukan pertanyaan.”_Whitney & Bloom.

Dengan bertanya, kita berharap dapat menstimulasi proses berpikir, memfasilitasi identifikasi permasalahan dan sumber daya, mengeksplorasi beragam alternatif solusi, memfasilitasi pengambilan keputusan, serta membangkitkan kesediaan bertanggung jawab dan rasa memiliki hasil akhirnya.

Pertanyaan yang mengembangkan sumber daya, membangkitkan kekuatan, hadir dari pola pikir seorang pembelajar yang memilih…

# fokus untuk belajar dan memahami, bukan menghakimi dan menghukum
# menyuburkan rasa ingin tahu, bukan sok tahu dan menyuburkan prasangka
# menantang asumsi, tidak menerima begitu saja
# mengapresiasi perbedaan, bersedia belajar, bukan merasa paling baik dan benar
# menerima ketidaktahuan, kekurangan dan kegagalan sebagai peluang belajar
# melihat dari berbagai perspektif, terbuka terhadap perubahan bila diperlukan
# mengambil tangggung jawab, bukan mengabaikan atau menghindar

Pertanyaan yang membangkitkan kekuatan lebih mudah hadir dalam jalinan percakapan yang …

# dilandasi saling menghargai, saling pengertian dan saling membantu
# mengutamakan dialog untuk menemukan solusi, bukan debat saling mengalahkan
# mengapresiasi pembelajaran, bukan menghakimi kesalahan dan kegagalan
# mengapresiasi perbedaan data atau perspektif, bukan memaksakan persetujuan

Jadi, mari kita tanyakan kembali kebiasaan bertanya kita: membangkitkan kekuatan atau melumpuhkannya?

“great result begin with great question”_Marilee G. Adams.

Mari belajar dan berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 29th, 2016 at 4:10 am

Posted in Teman Berbagi

agar tak rentan disakiti

without comments

“…kata-kata dapat menyayat, tetapi diam lebih mematahkan hati.” (Phyllis McGinley)

Percakapan yang melukai merujuk pada penyerangan yang dilakukan melalui pilihan kata dan atau cara bicara. Penyerangan dengan percakapan dapat berpusat pada isu-isu tertentu, kejadian di masa lampau atau seekarang, psikologis, atau gangguan emosional pada orang lain.

Perkataan dan atau cara bicara yang berpotensi melukai, antara lain:

  • membentak, berteriak yang bertujuan merendahkan atau mengancam
  • merendahkan, mengejek, mencaci, memanggil dengan panggilan menyakitkan.
  • menghakimi, menuduh tanpa bukti
  • mengancam, mengintimidasi

 

Kabar baiknya, “..tak seorang pun bisa menyakitimu, tanpa seijinmu…”

Agar tidak terus menerus merasa disakiti …

  • Sadari bahwa anda telah tersakiti dan akui juga kerusakan yang terjadi akibat penganiayaan tersebut.
  • Berhenti merendahkan, menghakimi dan menyalahkan diri sendiri
  • Berhenti membuat pembenaran atas perilaku orang yang terbukti telah menyakiti
  • Raih sumber daya menguatkan batasan-batasan diri
  • Kembangkan ketegasan untuk menghentikan perilaku orang lain yang menyakiti anda.

Membiarkan orang terus menyakiti anda, bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi juga menghancurkan hubungan anda dengannya.

 

Percakapan untuk Membela Diri

saat kejadian …

  • Lindungi diri anda saat ia menyerang anda. Hindari percakapan negatif dengan diri sendiri yang membuat anda merasa tidak berdaya, ubah menjadi percakapan dalam diri yang membangkitkan kekuatan dalam diri anda.
  • Bicara secara langsung, jelas dan tegas, misalnya: “Saya merasa terhina dengan perkataanmu. Saya tidak berhak diperlakukan demikian. Saya tidak ingin kamu bicara dengan cara seperti itu.”
  • Bila ia membela diri dengan menyampaikan alasan atau menyalahkan anda, hindari perdebatan, cukup ulangi kalimat anda dengan tenang dan tegas.

 

Setelah kejadian …

  • Tenangkan diri, ambil jeda. Periksa kesiapan mental anda untuk bicara.
  • Beritahu bahwa ada hal serius yang hendak anda bicarakan. Mulailah dengan memberitahukan bahwa anda tidak bahagia dengan perlakuan yang anda diterima.
  • Katakan bahwa anda peduli dengannya dan cara bicaranya mempengaruhi perasaan Anda kepadanya. Sampaikan, anda khawatir hal ini menghancurkan hubungan Anda.
  • Apabila ia tampak bersedia untuk bekerjasama, katakan bahwa anda mengapresiasi kesediannya untuk memperbaiki hubungan baik, tanyakan apakah ia menginginkan contoh perilaku yang mengganggu.
  • Jangan kaget apabila ia memberikan banyak alasan, ini dapat dimengerti namun jangan biarkan diskusi berubah menjadi perdebatan. Apabila ia kemudian justru menampakkan perilaku yang menyakiti, katakan “inilah bentuk perilaku yang aku bicarakan”.
  • Bila ia terus menyakiti, manfaatkan kiat membela diri saat kejadian.

Semoga bermanfaat, mari berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 28th, 2016 at 3:57 pm

Posted in Teman Berbagi

Lingkaran Berbagi Apresiasi : Percakapan Bertuah Ketangguhan

without comments

Tulisan ini hadir terdorong oleh gairah beberapa sahabat yang tertarik untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan (PBK). Untuk sahabatku, tulisan ini merupakan pengantar aktivitas Lingkar Berbagi Apresiasi yang akan kita lakukan. Meski demikian, tulisan ini bukan rahasia, dan tentu saja sila dibagi bila dirasa menghadirkan manfaat.

Apa itu percakapan bertuah?

Percakapan merupakan proses berbagi. Aktivitas memberi dan menerima pernyataan, baik verbal maupun nonverbal. Arena melempar pertanyaan dan menerima jawaban. Bertuah bermakna memiliki kekuatan, pengaruh.  Sederhananya, percakapan bertuah adalah percakapan yang memiliki kekuatan, berdaya untuk mempengaruhi pola pikir, perasaan dan tindakan. Bukan sekedar percakapan. Bukan percakapan biasa.

Mari sejenak berhitung, berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk melakukan percakapan? Sejak bangun sampai tertidur kembali, berapa lama kita menjalani percakapan dengan orang-orang di sekitar kita? Bila ditambahkan dengan dialog batin, percakapan dengan diri sendiri, jadi berapa waktu yang telah kita curahkan untuk melakukan percakapan?

Bila pemanfaatan waktu menentukan kualitas kehidupan, maka kualitas percakapan akan menentukan kualitas kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah percakapan tersebut menghadirkan manfaat atau sebaliknya? Apakah percakapan yang kita lakukan menghadirkan friksi atau harmoni? membangkitkan semangat berprestasi atau melayukannya? Mengembangkan ketangguhan atau meluruhkannya?

Pada kesempatana ini kita akan berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan. Semoga ada lagi yang berminat untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Harmoni, Percakapan Bertuah Prestasi atau tuah-tuah percakapan lainnya.

Apa ketangguhan?

Sederhananya, ketangguhan merupakan kemampuan kita menghadapi masalah, kesulitan, bencana dan lain sebagainya yang berpotensi membuat kita tertekan dan menderita. Kita tidak akan mengelak dari masalah. Kita pernah dan mungkin akan (lagi) mengalami kejadian yang menyedihkan bahkan mungkin menyakitkan. Tetapi bukan peristiwa, kejadian yang membuat kita jatuh dan tak berdaya. Bagi pribadi tangguh, masalah akan membesarkannya, membangkitkan kekuatan ksatria dalam dirinya. Bagi pribadi rapuh, masalah akan mengkerdilkannya, meluruhkan kekuatannya.

Dalam Lingkaran Berbagi Apresiasi : Percakapan Bertuah Ketangguhan nanti kita akan berbagi mengenai :

  • Pilar Ketangguhan
  • Pilar Percakapan
  • Dinamika Percakapan
  • Menu Percakapan Bertuah Ketangguhan (Menghadirkan Kenyamanan, Menjalin Pengertian, Menginspirasi Perubahan)

Mari Berbagi !

Written by Hari Setyowibowo

January 17th, 2013 at 2:10 pm

Posted in Teman Berbagi

Berusaha MENGERTI

without comments

MENGERTI, sering menjadi terdakwa dari berbagai peristiwa. Kebanyakan tak disuka …”Ini terjadi karena kamu nggak mau ngerti!”, “Andai saja kita saling ngerti, mungkin nggak akan jadi begini”.

Sebaliknya, MENGERTI, juga menjadi perekat jalinan relasi dan kunci keberhasilan meraih prestasi, “Kita bisa bertahan melalui semua ini karena kita mengerti….”, “Keberhasilan ini terjadi karena kita mengerti …”

Kesadaran akan pentingnya saling mengerti kadang hadir belakangan. Alih-alih, berusaha untuk mengerti, yang sering muncul adalah tuntutan agar dimengerti, “mustinya kamu ngerti…”.

Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply _Stephen R. Covey

Bila anda serius memperbaiki jalinan relasi, berhenti saling menuntut untuk dimengerti dan mulai berusaha saling mengerti.

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Mengerti merupakan proses menerima, memperhatikan kepada, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Kemauan dan kemampuan mengerti menjadi penentu kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan kerjasama.

 

Mengapa mengerti terasa berat bagi sebagian orang?

  • Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.
  • Sibuk Sendiri. Saat mendengar, sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pAndang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan mitra bicara.
  • Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dahulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.
  • Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.
  • Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)
  • Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.
  • Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.

 

Cobalah menggerti

MENGERTI merupakan keterampilan yang menentukan kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan hubungan baik. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI, kata yang mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Untuk mengerti, kita perlu MENDENGARKAN, bukan hanya mendengar, apalagi pura-pura mendengar.

MENDENGARKAN mempersyaratkan kesediaan untuk memperhatikan pernyataan verbal maupun non verbal untuk dihayati dan ditangkap maknanya bagi penyampai dan selanjutnya menunjukkan kepada pemberi pesan bahwa ia telah dipahami secara akurat.

MENDENGARKAN melibatkan aktivitas fisik dan psikologis. Untuk mampu mendengarkan, kita tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

MENDENGARKAN memungkinkan kita untuk mengerti emosi dari sudut pandang orang lain, menangkap apa yang ia bicarakan berdasarkan pola pikirnya sehingga pada akhirnya kita dapat memahaminya dan pada akhirnya dapat menjalin saling pengertian.

“The reality of the other person is not in what he reveals to you, but in what he cannot reveal to you. Therefore, if you would understand him, listen not to what he says but rather what he does not say” Kahlil Gibran_

Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut :

  • Attending, Memperhatikan, hadir sepenuhnya. Kepedulian, kemauan dan kerelaan mendengarkan orang lain sehingga memudahkan telinga mendengar dan mata memperhatikan. Dalam percakapan, pesan yang disampaikan mitra bicara, dapat berwujud pesan verbal (kata-kata) maupun non verbal (cara bicara, yang terdengar dan terlihat).
  • Interpretating, Memaknakan, memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya. Memahami pikiran, perasaan dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya.
  • Responding, Menanggapi, Memberikan tanggapan terhadap pesan yang kita pahami. Memastikan akurasi pemahaman dan menyatakan pengertian. Aktivitas ini bermanfaat, terutama, ketika: Anda ingin memastikan pemahaman, mitra bicara ingin dimengerti, anda ingin mengelola pembicaraan.

 

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti.

Memang tidak mudah tapi cobalah untuk mengerti.

Written by Hari Setyowibowo

January 15th, 2013 at 2:07 pm

Posted in Teman Berbagi

ToT : “orang akan merasa nyaman berdekatan dengan orang yang mengerti pikiran dan perasaannya”.

with 2 comments

Saya belajar dari sahabat, keluarga, mahasiswa, rekan kerja yang didekatnya Saya merasa nyaman. Berbicara dengannya waktu seolah berputar lebih cepat. Apa yang Saya temukan? Ternyata oh Ternyata : “orang akan merasa nyaman berdekatan dengan orang yang mengerti pikiran dan perasaannya”.

Saya berusaha mengingat lebih dalam, apa yang dilakukannya dan mencoba menguraikan dalam bentuk resep sederhana untuk diri Saya sendiri. Saya ingin seperti mereka, menjadi orang yang menyenangkan, menjadi orang yang dirindukan kehadirannya.

Mendengarkan. Yah, itu yang mereka lakukan. Sederhana tapi sungguh sangat bermakna dan sering diabaikan. Banyak orang yang menuntut didengarkan tapi tidak bersedia mendengarkan orang lain. Bagi orang yang tidak peduli dengan pemikiran dan perasaan orang lain mendengarkan adalah kegiatan yang sangat sulit dilakukan. Begitu pula bagi mereka yang tidak bersedia memberikan kesempatan orang lain menyatakan pemikiran dan perasaannya, mendengarkan adalah kegiatan mewah.

Belajar dari orang-orang penuh pengertian itu, ada dua hal yang sering mereka lakukan : menunjukkan bahwa Ia sedang mendengarkan Saya dan menunjukkan pada Saya bahwa Ia memahami apa yang Saya pikirkan dan rasakan. Hemmm….

Written by Hari Setyowibowo

February 15th, 2010 at 4:06 am

Posted in Teman Berbagi