Teman Berbagi

“…kata-kata dapat menyayat, tetapi diam lebih mematahkan hati.” (Phyllis McGinley)

Percakapan yang melukai merujuk pada penyerangan yang dilakukan melalui pilihan kata dan atau cara bicara. Penyerangan dengan percakapan dapat berpusat pada isu-isu tertentu, kejadian di masa lampau atau seekarang, psikologis, atau gangguan emosional pada orang lain.

Perkataan dan atau cara bicara yang berpotensi melukai, antara lain:

  • membentak, berteriak yang bertujuan merendahkan atau mengancam
  • merendahkan, mengejek, mencaci, memanggil dengan panggilan menyakitkan.
  • menghakimi, menuduh tanpa bukti
  • mengancam, mengintimidasi

 

Kabar baiknya, “..tak seorang pun bisa menyakitimu, tanpa seijinmu…”

Agar tidak terus menerus merasa disakiti …

  • Sadari bahwa anda telah tersakiti dan akui juga kerusakan yang terjadi akibat penganiayaan tersebut.
  • Berhenti merendahkan, menghakimi dan menyalahkan diri sendiri
  • Berhenti membuat pembenaran atas perilaku orang yang terbukti telah menyakiti
  • Raih sumber daya menguatkan batasan-batasan diri
  • Kembangkan ketegasan untuk menghentikan perilaku orang lain yang menyakiti anda.

Membiarkan orang terus menyakiti anda, bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi juga menghancurkan hubungan anda dengannya.

 

Percakapan untuk Membela Diri

saat kejadian …

  • Lindungi diri anda saat ia menyerang anda. Hindari percakapan negatif dengan diri sendiri yang membuat anda merasa tidak berdaya, ubah menjadi percakapan dalam diri yang membangkitkan kekuatan dalam diri anda.
  • Bicara secara langsung, jelas dan tegas, misalnya: “Saya merasa terhina dengan perkataanmu. Saya tidak berhak diperlakukan demikian. Saya tidak ingin kamu bicara dengan cara seperti itu.”
  • Bila ia membela diri dengan menyampaikan alasan atau menyalahkan anda, hindari perdebatan, cukup ulangi kalimat anda dengan tenang dan tegas.

 

Setelah kejadian …

  • Tenangkan diri, ambil jeda. Periksa kesiapan mental anda untuk bicara.
  • Beritahu bahwa ada hal serius yang hendak anda bicarakan. Mulailah dengan memberitahukan bahwa anda tidak bahagia dengan perlakuan yang anda diterima.
  • Katakan bahwa anda peduli dengannya dan cara bicaranya mempengaruhi perasaan Anda kepadanya. Sampaikan, anda khawatir hal ini menghancurkan hubungan Anda.
  • Apabila ia tampak bersedia untuk bekerjasama, katakan bahwa anda mengapresiasi kesediannya untuk memperbaiki hubungan baik, tanyakan apakah ia menginginkan contoh perilaku yang mengganggu.
  • Jangan kaget apabila ia memberikan banyak alasan, ini dapat dimengerti namun jangan biarkan diskusi berubah menjadi perdebatan. Apabila ia kemudian justru menampakkan perilaku yang menyakiti, katakan “inilah bentuk perilaku yang aku bicarakan”.
  • Bila ia terus menyakiti, manfaatkan kiat membela diri saat kejadian.

Semoga bermanfaat, mari berbagi.

Read more

Tulisan ini hadir terdorong oleh gairah beberapa sahabat yang tertarik untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan (PBK). Untuk sahabatku, tulisan ini merupakan pengantar aktivitas Lingkar Berbagi Apresiasi yang akan kita lakukan. Meski demikian, tulisan ini bukan rahasia, dan tentu saja sila dibagi bila dirasa menghadirkan manfaat.

Apa itu percakapan bertuah?

Percakapan merupakan proses berbagi. Aktivitas memberi dan menerima pernyataan, baik verbal maupun nonverbal. Arena melempar pertanyaan dan menerima jawaban. Bertuah bermakna memiliki kekuatan, pengaruh.  Sederhananya, percakapan bertuah adalah percakapan yang memiliki kekuatan, berdaya untuk mempengaruhi pola pikir, perasaan dan tindakan. Bukan sekedar percakapan. Bukan percakapan biasa.

Mari sejenak berhitung, berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk melakukan percakapan? Sejak bangun sampai tertidur kembali, berapa lama kita menjalani percakapan dengan orang-orang di sekitar kita? Bila ditambahkan dengan dialog batin, percakapan dengan diri sendiri, jadi berapa waktu yang telah kita curahkan untuk melakukan percakapan?

Bila pemanfaatan waktu menentukan kualitas kehidupan, maka kualitas percakapan akan menentukan kualitas kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah percakapan tersebut menghadirkan manfaat atau sebaliknya? Apakah percakapan yang kita lakukan menghadirkan friksi atau harmoni? membangkitkan semangat berprestasi atau melayukannya? Mengembangkan ketangguhan atau meluruhkannya?

Pada kesempatana ini kita akan berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan. Semoga ada lagi yang berminat untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Harmoni, Percakapan Bertuah Prestasi atau tuah-tuah percakapan lainnya.

Apa ketangguhan?

Sederhananya, ketangguhan merupakan kemampuan kita menghadapi masalah, kesulitan, bencana dan lain sebagainya yang berpotensi membuat kita tertekan dan menderita. Kita tidak akan mengelak dari masalah. Kita pernah dan mungkin akan (lagi) mengalami kejadian yang menyedihkan bahkan mungkin menyakitkan. Tetapi bukan peristiwa, kejadian yang membuat kita jatuh dan tak berdaya. Bagi pribadi tangguh, masalah akan membesarkannya, membangkitkan kekuatan ksatria dalam dirinya. Bagi pribadi rapuh, masalah akan mengkerdilkannya, meluruhkan kekuatannya.

Dalam Lingkaran Berbagi Apresiasi : Percakapan Bertuah Ketangguhan nanti kita akan berbagi mengenai :

  • Pilar Ketangguhan
  • Pilar Percakapan
  • Dinamika Percakapan
  • Menu Percakapan Bertuah Ketangguhan (Menghadirkan Kenyamanan, Menjalin Pengertian, Menginspirasi Perubahan)

Mari Berbagi !

Read more

MENGERTI, sering menjadi terdakwa dari berbagai peristiwa. Kebanyakan tak disuka …”Ini terjadi karena kamu nggak mau ngerti!”, “Andai saja kita saling ngerti, mungkin nggak akan jadi begini”.

Sebaliknya, MENGERTI, juga menjadi perekat jalinan relasi dan kunci keberhasilan meraih prestasi, “Kita bisa bertahan melalui semua ini karena kita mengerti….”, “Keberhasilan ini terjadi karena kita mengerti …”

Kesadaran akan pentingnya saling mengerti kadang hadir belakangan. Alih-alih, berusaha untuk mengerti, yang sering muncul adalah tuntutan agar dimengerti, “mustinya kamu ngerti…”.

Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply _Stephen R. Covey

Bila anda serius memperbaiki jalinan relasi, berhenti saling menuntut untuk dimengerti dan mulai berusaha saling mengerti.

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Mengerti merupakan proses menerima, memperhatikan kepada, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Kemauan dan kemampuan mengerti menjadi penentu kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan kerjasama.

 

Mengapa mengerti terasa berat bagi sebagian orang?

  • Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.
  • Sibuk Sendiri. Saat mendengar, sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pAndang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan mitra bicara.
  • Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dahulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.
  • Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.
  • Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)
  • Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.
  • Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.

 

Cobalah menggerti

MENGERTI merupakan keterampilan yang menentukan kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan hubungan baik. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI, kata yang mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Untuk mengerti, kita perlu MENDENGARKAN, bukan hanya mendengar, apalagi pura-pura mendengar.

MENDENGARKAN mempersyaratkan kesediaan untuk memperhatikan pernyataan verbal maupun non verbal untuk dihayati dan ditangkap maknanya bagi penyampai dan selanjutnya menunjukkan kepada pemberi pesan bahwa ia telah dipahami secara akurat.

MENDENGARKAN melibatkan aktivitas fisik dan psikologis. Untuk mampu mendengarkan, kita tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

MENDENGARKAN memungkinkan kita untuk mengerti emosi dari sudut pandang orang lain, menangkap apa yang ia bicarakan berdasarkan pola pikirnya sehingga pada akhirnya kita dapat memahaminya dan pada akhirnya dapat menjalin saling pengertian.

“The reality of the other person is not in what he reveals to you, but in what he cannot reveal to you. Therefore, if you would understand him, listen not to what he says but rather what he does not say” Kahlil Gibran_

Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut :

  • Attending, Memperhatikan, hadir sepenuhnya. Kepedulian, kemauan dan kerelaan mendengarkan orang lain sehingga memudahkan telinga mendengar dan mata memperhatikan. Dalam percakapan, pesan yang disampaikan mitra bicara, dapat berwujud pesan verbal (kata-kata) maupun non verbal (cara bicara, yang terdengar dan terlihat).
  • Interpretating, Memaknakan, memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya. Memahami pikiran, perasaan dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya.
  • Responding, Menanggapi, Memberikan tanggapan terhadap pesan yang kita pahami. Memastikan akurasi pemahaman dan menyatakan pengertian. Aktivitas ini bermanfaat, terutama, ketika: Anda ingin memastikan pemahaman, mitra bicara ingin dimengerti, anda ingin mengelola pembicaraan.

 

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti.

Memang tidak mudah tapi cobalah untuk mengerti.

Read more

Pertanyaan berikut, bukan pertanyaan biasa. Pertanyaan pembangkit gairah. Pertanyaan penarik diri untuk merenung, sejenak…

“Apa yang ingin Anda lakukan, tapi ternyata belum Anda lakukan?”

“Apa yang tidak ingin Anda lakukan, tapi ternyata sering Anda lakukan?”

“Apakah Anda sudah melengkapi pemahaman Anda dengan pemahaman orang lain?”

“Apakah mereka merasa dihargai dan bangga belajar bersamamu di sini ?”

“Bila gambaran tentang diri Anda akan dituliskan di sebuah majalah terkemuka, judul apa yang paling PAS menggambarkan tentang diri Anda ?”

“Apa yang akan disampaikan Anakku pada temannya tentang diriku ?”

“Apa yang sebenarnya kudambakan akan terjadi tahun depan pada diriku ? Apa yang akan kulakukan untuk mewujudkannya ?”

Sebelum tidur, melihat ke cermin, “terlihat seperti apa diriku hari ini ?”
Bangun tidur, melihat ke cermin, “akan terlihat seperti apa diriku hari ini ?”

“Apa hal istimewa yang Anda lakukan minggu ini ?”

“Apa yang akan kulakukan saat aku terperangkap?”

“in what way are you unique ?”

Read more

Beberapa penulis memilih istilah TEGAS sebagai padanan kata ASSERTIVE. Ada yang kurang puas dan memilih istilah LUGAS, LUWES namun TEGAS. Saat ini saya memilih tetap menggunakan istilah ASSERTIVE. Setelah mengetahui ciri-ciri berikut ini, mungkin Anda menemukan kata dalam bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk ASSERTIVE.

Orang yang assertive …..
# merasa bebas untuk menyatakan dirinya; ia mampu menyatakan pandangannya, keinginan-keinginannya dan perasaannya secara langsung, spontan, dan jujur.
# nada suara, gerak-gerik, kontak mata, dan cara berdiri seluruhnya selaras dengan kata-kata yang diucapkannya
# sesuai antara yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.
# dapat berkomunikasi dengan keluarga, teman, orang lain dari berbagai jenjang bahkan dengan orang asing
# tidak pernah menegakkan hak-haknya dengan mengorbankan hak-hak orang lain, ia menghargai perasaan dan hak-hak orang lain
# dapat mengevaluasi suatu situasi, memutuskan bagimana harus bertindak tanpa keberatan
# mempunyai rasa percaya diri yang tinggi
# menerima keterbatasan-keterbatasan tingkah laku mereka tapi masih berusaha untuk nencapai tujuan mereka
# bertanggung jawab terhadap kejadian-kejadian dan situasi-situasi serta mencari pengalaman yang baru.

Hal yang paling penting adalah orang yang assertif, jujur pada dirinya sendiri.

Orang menampilkan tingkah laku assertive untuk menjalin komunikasi yang lebih baik, lebih sehat dan menemukan pemecahan masalah bersama-sama. Meskipun komunikasi assertive tidak menjamin bahwa kita akan mandapatkan apa yang kita inginkan, namun dengan bersikap assertive maka akan meningkatkan harga diri kita dan membantu kita untuk mengambangkan kepercayaan diri yang lebih besar. Kita akan merasa lebih nyaman setelah mampu mengatakan apa yang kita yakini tanpa rasa takut. Kita juga akan mendapatkan, hak kita dihargai sebagaimana halnya kita menghargai hak orang lain.

Read more

Tidak semua orang yang sedang mengalami masalah dan membutuhkan bantuan mampu menyatakan perasaannya dengan kata-kata. Bila kita ingin menjadi “teman curhat” yang menyediakan diri memberikan bantuan untuk seseorang yang sedang terlilit masalah, kita harus mengasah kepekaan mengenali pernyataan “Aku membutuhkan bantuanmu” yang disampaikan oleh tubuhnya. Kadang pernyataan tersebut begitu halusnya sehingga kita menjadi ragu akan maknanya.

Salah satu pernyataan yang cukup jelas dari orang sedang megalami masalah adalah perilakunya terlihat berbeda dari yang biasanya Ia tampilkan. Coba perhatikan beberapa orang di sekitar Anda, Anda mungkin pernah menyaksikan mereka menampilkan perilaku yang berbeda dari yang biasanya ditampilkan, seperti berikut ini :

#Teman yang biasanya ramah, ceria, lucu, dan lincah tiba-tiba menarik diri, menyendiri dan pendiam.
#Seseorang yang biasanya rapih dan selalu memperhatikan penampilannya, sekarang hadir di hadapan Anda dengan penampilan yang kusut.
#Sahabat yang biasanya mudah diminta bantuan, mudah diajak melakukan aktivitas, mendadak mengambil jarak, tampak mementingkan diri sendiri dan arogan
#Anggota keluarga yang terkenal humoris, banyak canda, sekarang menjadi mudah tersinggung dan menyalahkan orang lain.

Selain itu, ada pernyataan khas yang biasanya ditampilkan oleh seseorang yang sedang mengalami masalah emosional. Perhatikan caranya menatap, cara bicaranya, apa yang dikatakannya dan apa yang dilakukannya.

#Seseorang yang dekat dengan Anda, tiba-tiba enggan bertatapan mata dengan Anda dan sekilas terlihat matanya sembab seperti baru saja menangis
#Teman yang Anda kenal sebagai orang yang tegar, tiba-tiba mudah menitikkan air mata, nada suaranya tertekan atau suaranya terputus-putus atau gemetar
#Sahabat yang terlihat sedang berusaha tampil semuanya baik-baik saja, terlihat salah tingkah karena berusaha menutupi sesuatu

Contoh perilaku tersebut meerupakan pernyataan orang yang sedang terlilit masalah yang perlu diselesaikan. Ketika Anda menangkap pernyataan-pernyataan tersebut, Anda memiliki pilihan : Anda berikan kesempatan padanya untuk mengelola diri atau mengundangnya untuk bicara dan menawarkan bantuan.

Read more

Mengapa percakapan yang hangat jadi terhambat? Apa yang membuat pasangan, sahabat, anak kita berhenti berbagi rasa ? Mengapa mereka menghentikan curhatnya? Apa yang terjadi sehingga Ia tidak lagi produktif menyampaikan gagasan-gagasan kreatif ? Mengapa Ia tidak bergairah lagi mendiskusikan solusi atas masalahnya ?

Ingat kembali percakapan tersebut, perhatikan ragam tanggapan berikut ini, bisa jadi kita sering melakukannya sebagai tanggapan atas kesediaannya untuk berbagi rasa dengan kita.

MENGHARUSKAN suatu tindakan tertentu :
“Kamu harus …”
“Wah, kalau begitu kamu secepatnya harus …”
“Menurutku, yang seharusnya kamu lakukan adalah …”
“Kalau boleh Saya memberi saran, Anda seyogyanya…”

MELARANG suatu pemikiran, perasaan atau tindakan tertentu :
“Jangan bicara seperti itu…”
“Jangan mengeluh!”
“Tidak usah sedih….”
“Nggak usah nangis…”

MENGANCAM, mengatakan akibat-akibat yang akan terjadi bila Ia melakukan sesuatu
“Kau akan menyesal kalau kau…”
“Sebaiknya tidak kau lakukan kalau masih tetap ingin…”
“Kamu tidak boleh berbuat begitu.”

MENCERAMAHI dengan teori, informasi, doktrin, pengalaman subyektif atau logika klise
“Manusia harus belajar bagaimana menyesuaikan diri.”
“Dulu waktu Saya….”
“Kehidupan ini seperti roda berputar, kita kadang di atas, kadang di bawah”
“Di balik setiap awan, pasti ada seberkas cahaya”
“Ini kan belum seberapa buruk, masih banyak orang lain yang lebih menderita”

MENGKRITIK, membuat penilaian negatif, membuat orang semakin bersalah atau negatif memandang dirinya
“Ini terjadi karena Kau kurang …”
“Itu pandangan yang terlalu kekanak-kanakan.”
“Kau ini manja, gitu aja mengeluh”
“Kamu kok jadi cengeng begini…”
“Itu kesalahan fatal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang sepandai kamu…”

MENGHAKIMI, mengatakan penilaian Anda tentang motif yang melatari perilakunya, menyampaikan kesimpulan dari hasil analisa tentan dirinya yang belum tentu akurat :
“Ah, Kau hanya iri hati…”
“Kau katakan itu untuk …”
“Kau sebenarnya …”
“Kau merasa begitu karena kau …”

MENGALIHKAN PEMBICARAAN untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. berusah menjauhkan seseorang dari masalahnya, menarik diri dari persoalan, mengalihkan perhatian.
“Besok kau akan merasa lebih baik …”
“Jangan khawatir, segalanya akan beres nanti.”
“Lupakan saja hal itu …”
“Jangan bicara hal itu, lebih baik sekarang….”
“Marilah kita bicarakan hal yang lebih menyenangkan.”

MENGINTEROGASI, berusaha menggali alasan, sebab-sebab, mencari informasi lebih banyak
“Mengapa kau …”
“Mengapa mereka melakukan hal itu terhadapmu …”
“Sejak kapan kau mulai merasa …”

Read more

Mengapa mahasiswa yang sedang kesulitan mengerjakan skripsi enggan menemui pembimbing atau dosen wali untuk meminta bimbingan? Apa yang membuat anak tidak menjadikan orangtuanya sebagai tempat untuk berbagi, mencurahkan pikiran dan perasaannya? Mengapa begitu banyak laki-laki dan perempuan yang oleh pasangannya bukan sebagai sumber pertolongan?

Di sisi lain, apa yang membuat kita merasa nyaman berbagi pemikiran dengan sahabat kita? Bagaimana begitu banyak orang merasa lebih mudah berbicara dengan konselor, orang yang baru saja dikenalnya? Apa yang dilakukan oleh para konselor sehingga mereka dapat menjalin hubungan yang membantu dengan kliennya?

Bahasa penerimaan. Yah, itu dia jawabannya. Menyatakan, “Saya menerimamu sebagaimana adanya” adalah faktor penting untuk menjalin suatu hubungan. Pernyataan ini memberikan lahan yang subur bagi orang lain untuk tumbuh, berkembang, membuat perubahan yang konstruktif dan mampu mengaktualisasikan potensi luar biasa dalam dirinya.

Menyatakan penerimaan dapat disampaikan melalui kata-kata (pesan verbal) maupun pesan tanpa kata (pesan non verbal). Pesan tanpa kata ini dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, tatapan mata, posisi tubuh dan gerakan tubuh lainnya. Pesan tanpa kata ini diyakini memiliki dampak lebih besar dalam menyatakan penerimaan. Bahkan, sebelum kata terucap, tubuh kita sudah berteriak.

Bagaimana menyatakan penerimaan ?

Berikan kesempatan, buat jarak, tahan diri untuk tidak campur tangan. Menyatakan penerimaan dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan orang lain melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak atau caranya. Berikan kesempatan mereka belajar dan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya. Hindari campur tangan dengan mengawasi, menggabungkan diri, apalagi memaksakan pendapat. Saat Anda mengambil jarak, Ia akan merasa bahwa Ia diperbolehkan melakukan “dengan caraku”.

Pancarkan kepedulian dengan menjalin kontak mata. Kontak mata menandakan bahwa kita memperhatikan apa yang disampaikannya. Tentu saja kontak mata ini dilakukan dengan memperhatikan konteks norma dan budaya. Selain itu, menatap mata orang yang sedang berbicara secara terus menerus akan menimbulkan ketidaknyamanan. Jadi, lakukan dengan seimbang antara menatap matanya dan melihat ke arah lain, untuk menyatakan bahwa Anda bersedia menerima dirinya dalam percakapan tersebut.

Hadiahkan senyum tulus. Senyum yang spontan, tidak dibuat-buat, adalah pernyataan penerimaan yang sangat kuat dan menyampaikan pesan penerimaan yang lebih kaya dan bermakna daripada sekadar mengucapkan kalimat “aku menerima kehadiranmu”.

Dengarkan dengan seksama saat Ia menceritakan masalahnya. Tidak menyampaikan komentar atau nasehat saat Ia mengeluh juga merupakan pernyataan penerimaan. Berikan Ia kesempatan untuk menyampaikan keluh kesahnya sampai tuntas. Ketika Anda menyediakan diri untuk mendengarkan, Ia akan merasa bahwa Ia diperbolehkan mengungkapkan pemikiran dan perasaanya.

Ajak bicara lebih banyak, persilahkan Ia melanjutkan ceritanya Bukakan pintu bagi dirinya agar leluasa melanjutkan ceritanya. Beberapa tanggapan yang biasanya digunakan antara lain : “Maukah kamu membicarakan hal ini denganku?”, “Teruskan, Aku dengerin Kok”, “Kayaknya kamu mau menyampaikan sesuatu…”, “Kelihatannya ini penting sekali bagimu…”. Kadang orang ragu-ragu saat akan berbicara, undangan seperti ini akan mendorong dirinya untuk memulai atau melanjutkan kisahnya. Tanggapan yang lain yang membuat Ia merasa diterima antara lain : “Kamu berhak menyampaikan perasaanmu”, “Aku belajar sesuatu dari ceritamu ini”, “Pendapatmu layak didengar…”, “Ceritamu ini membuat aku mengenalmu lebih baik…

Pantulkan, sampaikan pengertian Anda. Pahami dengan akurat perasaan dan arti pesan yang disampaikannya. Setelah itu, nyatakan dengan kalimat dan pantulkan kembali kepada yang bersangkutan “pesannya” tanpa diembel-embeli dengan penilaian, nasehat atau analisa Anda.

(bersambung)

Read more

Percakapan yang menyenangkan bersama pasangan dapat menjadi pelepas penat dan pembangkit semangat. Sebaliknya, percakapan yang menyebalkan dan menegangkan bisa menjadi virus yang menggerogoti kekuatan hubungan, bahkan bisa menjadi pemicu runtuhnya komitmen untuk bersama.

Albert Ellis (psikolog yang terkemuka dalam kajian hubungan antar pribadi) dan Ted Crawford (pengembang kajian mengenai penyelesaian perbedaan dan konflik) dalam Making Intimate Connection (2000) merekomendasikan tujuh pedoman untuk mengembangkan hubungan yang menyenangkan dan komunikasi yang lebih lancar dengan pasangan.

1. Terimalah pasangan “sebagaimana adanya”. Hindari saling “menuntut” dan “menuduh”. Bebaskan diri Anda dari kewajiban memperbarui pasangan. Secara alamiah Anda dan pasangan Anda akan saling mempengaruhi dan menyesuaikan diri. Biarkan hal itu mengalir tanpa dibebani dengan “tuntutan” dan “seharusnya”.

2. Ungkapkan apresiasi sesering mungkin. Hindari kebawelan dan kebiasaan “mengkritik”. Tingkatkan frekuensi untuk mengakui keberhasilan dan perilaku positif yang ditampilkan pasangan. Perhatikan, temukan, dan sampaikan apresiasi sesering mungkin.

3. Komunikas yang berlandaskan integritas. Jika ada pemahaman yang berbeda sampaikan perbedaan tersebut dengan selaras. Bilamana pasangan Anda benar, akuilah meskipun pendapat tersebut berbeda atau tidak Anda sukai. Sepakati untuk tidak saling menghukum karena menyampaikan kejujuran.

4. Saling mengungkapkan dan menjelajahi perbedaan dengan pasangan. Jelajahi perbedaan dengan pasangan untuk menemukan solusi menang-menang. Bersiaplah berkompromi bila memang solusi menang-menang sulit ditemukan tanpa berpura-pura setuju padahal tidak.

5. Berikan dukungan bagi tujuan pasangan Anda. Dengan tulus berikan dukungan pada usaha pasangan dalam mencapai tujuannya tanpa berpura-pura bila Anda memiliki perbedaan dengannya.

6. Berikan pasangan Anda hak untuk melakukan kesalahan. Hargai hak setiap orang sebagai manusia yang memiliki kemungkinan untuk terjatuh pada kelalaian dan kesalahan.

7. Pertimbangkan kembali keinginan Anda sebagai tujuan yang akan Anda raih kelak. Bilamana Anda tidak mendapatkan keinginan atau hasrat Anda, ingatkan diri Anda sendiri bahwa Anda tak perlu mendapatkan apa yang Anda inginkan, kini dan selamanya.

Idealnya, ketujuh pedoman ini menjadi komitmen Anda bersama pasangan. Bila ternyata belum, pilihlah untuk mempraktekkan tujuh resep ini sebagai komitmen sepihak terlepas dari apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pasangan Anda. Selamat mencoba !

Read more