Curahan Hati

Ketika senja menjelang…
Saat menjalani hidup dengan beraneka peran dan tuntutan. Kusadari, setiap kenyataan adalah buah pilihan.
Di depan cermin aku bertanya…
Selama ini kemana waktumu berlalu?
Dengan menghabiskan banyak waktu yang tak kembali, apa yang sebenarnya kau cari?
Dengan begitu banyak yang akan dikorbankan, apa yang sesungguhnya kau perjuangkan?
Dan saya tercekat …
“semoga kita masih bisa memanfaatkan waktu yang tersisa; semoga kesempatan dan kesehatan yang kita miliki bisa terisi dengan berbagi kebenaran dan kebaikan; semoga ilmu yang telah dan sedang kita pelajari bisa diamalkan dan terus tersebar terbagi; semoga harta yang kita miliki halal dan mampu menjadi bekal di akhirat yang kekal…”
#catatansenjahary

Read more

Apakah puisi itu? Saya awam ilmu sastra, tapi tak memungkiri telah jatuh cinta. Jadi bagi saya, puisi itu seperti tari yang hentakannya di hati; rintihan rindu yang jeritannya menggema di dada.

I.
sungging senyummu memecah pagi,
merona oh betapa manisnya
tak tahu bagaimana lagi aku menahannya,
bingung aku dimana menyembunyikannya,
aku sayang kamu..
upsss

II.
kuselipkan rindu,
semoga engkau mengerti.
semestinya aku berdiri di beranda hatimu,
mengetuk pintu dan menyapa pagimu,
tapi aku masih disini, terpaku.
berharap lintasanmu menyentuh lembut bersama semilir angin …oh…

III.
aku masih disini, menemanimu,
dengan segenap cinta kurengkuh kerinduan,
geliat asaku kuasa gelombang, masih di sini !

IV.
mengapa aku MASIH DISINI BERSAMAMU ?
bukan karena aku tidak bisa pergi darimu,
bukan hanya karena mimpi kita,
tapi karena cinta yang menghunjam mengakar dalam,
menjalari nadi

V.
hembus nafasmu membelai lembut, puisi pun tak kuasa lukiskan, tak jua senandung
lelapmu luruhkan lelah letihku, rima nafasmu menghalau senyap,
kubisikkan impian di mimpimu, kucitakan keindahan hidupmu, kusematkan doa dalam namamu.

VI.
Bukan sakitku yang menyakitkan,
Tersayat kepeningan sanggup kuhiraukan
Bukan lelahku yang melayukan
Bukan letihku, bukan perihku
Dipaksa kenyataan tidak menikmati riang malam bersamamu
yang lebih memilukan

VII.
Aku mengalami kesakitan yang tak hendak kusembuhkan
kegelisahan yang enggan kuredakan
Rinduku akan pelukmu telak menampar jantungku
memporandakan kecerdasanku
Pada sayap keheningan kurintihkan …..
kurindukan pelukanmu malam ini

VIII
Bila tak sempat kugenggam tanganmu
Kan kugenggam rinduku dalam doaku
Bila tak sempat kupeluk tubuhmu
Kan kupeluk gemasku dalam mimpiku
Bila tak sempat kukecup keningmu
Kan kukecup sayangku dalam nafasku

IX
Rengkuhlah aku
Kedinginan ini tlah mengiris-iris nadiku
Dimana senandungmu ?
Aku menggigil dalam kesepian
Rengkuhlah aku….

X
Kerinduan ini tlah begitu lama menggodaku
Semakin kupendam, semakin genit kurasa
Bilakah Ia melepaskanku
Ohhhh……….

XI
Meskiku tak segagah sang panglima
Kukan jagamu sepenuh daya
Meskiku tak serimbun rimba raya
Kukan damaikanmu sepenuh asa
Meskiku tak setegar karang selatan
kukan temanimu sepenuh jiwa
Wahai gelombang pasang jiwaku
Larutkanlahku dalam rindumu

XII
Kuhamparkan pantaiku
Kubiarkan
Gelombang pasangmu jilati pasir putihku
Semilir hasratmu
Gelorakan rintih sunyi
Iringi tarian pelangi
Di retakan karang selatan
Bidukku kutambatkan

XIII
Bila bukan cinta yg menjadi terdakwa, siapa yang mendendangkan nada ini?
Bila bukan rindu yg menjadi tertuduh, siapa yang menyerap rasa ini?

IV
Bila bukan cinta, trus ini apa? Pelita diujung lorong gulita.
Bila bukan sayang, trus ini apa? Kehangatan yang menyeruak dari balik jendela.
Bila bukan rindu, trus ini apa? Senyuman yang tak layu tergerus waktu

Read more

Apakah puisi itu? Saya awam ilmu sastra, tapi tak memungkiri telah jatuh cinta.
Jadi bagi saya, puisi itu seperti tari yang hentakannya di hati; rintihan rindu yang jeritannya menggema di dada.

#
Bila bukan cinta yg menjadi terdakwa, siapa yang mendendangkan nada ini?
Bila bukan rindu yg menjadi tertuduh, siapa yang menyerap rasa ini?
Bila bukan cinta, trus ini apa? Pelita diujung lorong gulita.
Bila bukan sayang, trus ini apa? Kehangatan yang menyeruak dari balik jendela.
Bila bukan rindu, trus ini apa? Senyuman yang tak layu tergerus waktu

#
sungging senyummu memecah pagi,
merona oh betapa manisnya
tak tahu bagaimana lagi aku menahannya,
bingung aku dimana menyembunyikannya,
aku sayang kamu..
upsss

#
kuselipkan rindu,
semoga engkau mengerti.
semestinya aku berdiri di beranda hatimu,
mengetuk pintu dan menyapa pagimu,
tapi aku masih disini, terpaku.
berharap lintasanmu menyentuh lembut bersama semilir angin …oh…

#
aku masih disini, menemanimu,
dengan segenap cinta kurengkuh kerinduan,
geliat asaku kuasa gelombang, masih di sini!

#
mengapa aku MASIH DISINI BERSAMAMU ?
bukan karena aku tidak bisa pergi darimu,
bukan hanya karena mimpi kita,
tapi karena cinta yang menghunjam mengakar dalam,
menjalari nadi

#
Bukan sakitku yang menyakitkan,
Tersayat kepeningan sanggup kuhiraukan
Bukan lelahku yang melayukan
Bukan letihku, bukan perihku
Dipaksa kenyataan tidak menikmati riang malam bersamamu
yang lebih memilukan

#
Aku mengalami kesakitan yang tak hendak kusembuhkan
kegelisahan yang enggan kuredakan
Rinduku akan pelukmu telak menampar jantungku
memporandakan kecerdasanku
Pada sayap keheningan kurintihkan …..
kurindukan pelukanmu malam ini

#
Bila tak sempat kugenggam tanganmu
Kan kugenggam rinduku dalam doaku
Bila tak sempat kupeluk tubuhmu
Kan kupeluk gemasku dalam mimpiku
Bila tak sempat kukecup keningmu
Kan kukecup sayangku dalam nafasku

#
Rengkuhlah aku
Kedinginan ini tlah mengiris-iris nadiku
Dimana senandungmu ?
Aku menggigil dalam kesepian
Rengkuhlah aku….

#
Kerinduan ini tlah begitu lama menggodaku
Semakin kupendam, semakin genit kurasa
Bilakah Ia melepaskanku
Ohhhh……….

#
Meskiku tak segagah sang panglima
Kukan jagamu sepenuh daya
Meskiku tak serimbun rimba raya
Kukan damaikanmu sepenuh asa
Meskiku tak setegar karang selatan
kukan temanimu sepenuh jiwa
Wahai gelombang pasang jiwaku
Larutkanlahku dalam rindumu

#
Kuhamparkan pantaiku
Kubiarkan
Gelombang pasangmu jilati pasir putihku
Semilir hasratmu
Gelorakan rintih sunyi
Iringi tarian pelangi
Di retakan karang selatan
Bidukku kutambatkan

#
kubisikkan impian di mimpimu,
kucitakan keindahan hidupmu,
kusematkan doa dalam namamu
lelapmu luruhkan lelah letihku,
rima nafasmu menghalu senyap …
hembus nafasmu membelai lembut,
puisi pun tak kuasa lukiskan,
tak jua senandung.

Read more

Ketika Aku ingin selalu di dekatnya, dan hanya Aku yang paling dekat dengan dirinya
Ketika Aku ingin memeluknya, dan hanya Aku yang boleh memeluknya
Ketika Aku ingin menjadi istimewa di hatinya, dan hanya Aku….

Apakah ini berarti Aku mencintainya…?

(di sudut ruang hening ada yang berbisik)

Tidak, itu berarti Engkau INGIN MEMILIKINYA

Engkau mencintainya ketika Engkau
memberikan lebih banyak waktumu untuknya
bersedia melindungi dirinya, bahkan dari dirimu
memberikan kesempatan padanya MENJADI

Ohh, Kekasihku, apakah aku sudah mencintaimu?

Read more

I
Bukan sakitku yang menyakitkan,
Tersayat kepeningan sanggup kuhiraukan

Bukan lelahku yang melayukan
Bukan letihku, bukan perihku

Dipaksa kenyataan tidak menikmati riang malam bersamamu
yang lebih memilukan

II.
Aku mengalami kesakitan yang tak hendak kusembuhkan
kegelisahan yang enggan kuredakan

Rinduku akan pelukmu telak menampar jantungku
memporandakan kecerdasanku

Pada sayap keheningan kurintihkan …..
kurindukan pelukanmu malam ini

III
Bila tak sempat kugenggam tanganmu
Kan kugenggam rinduku dalam doaku

Bila tak sempat kupeluk tubuhmu
Kan kupeluk gemasku dalam mimpiku

Bila tak sempat kukecup keningmu
Kan kukecup sayangku dalam nafasku

IV
Rengkuhlah aku
Kedinginan ini tlah mengiris-iris nadiku

Dimana senandungmu ?
Aku menggigil dalam kesepian

Rengkuhlah aku….

V
Kerinduan ini tlah begitu lama menggodaku
Semakin kupendam, semakin genit kurasa

Bilakah Ia melepaskanku

Ohhhh……….

VI
Meskiku tak segagah sang panglima
Kukan jagamu sepenuh daya

Meskiku tak serimbun rimba raya
Kukan damaikanmu sepenuh asa

Meskiku tak setegar karang selatan
kukan temanimu sepenuh jiwa

Wahai gelombang pasang jiwaku
Larutkanlahku dalam rindumu

VII
Kuhamparkan pantaiku

Kubiarkan
Gelombang pasangmu jilati pasir putihku

Semilir hasratmu
Gelorakan rintih sunyi
Iringi tarian pelangi

Di retakan karang selatan
Bidukku kutambatkan

Read more

Ia menulis sesuatu yang tak engkau pahami,
Ia terdiam saat engkau bertanya,
bahkan saat ditanya apa yang ditulisnya.
Apakah Ia bodoh ? atau
Mungkin Ia perlu banyak belajar mengungkapkan pikirannya

Perhatiannya begitu mendalam pada hal-hal yang kau anggap biasa-biasa saja,
Gagasannya tidak sama dengan gagasan kebanyakan orang,
Pilihan katanya terasa asing di telingamu,
Koreografi argumentasinya tidak mengikuti pakem yang kau yakini,
Cara kerjanya tidak mengikuti apa yang biasanya kau kerjakan,
Apakah Ia mengalami gangguan mental? atau
Mungkin Ia memiliki temuan unik ?

Engkau kecewa karena Ia jarang datang,
Engkau kecewa karena Ia terlambat datang saat kau undang,
Engkau kecewa karena Ia tidak memberikan hasil seperti yang engkau harapkan,
Apakah Ia tidak bertanggungjawab? Atau
Mungkin Ia mengalami kesulitan dalam memenuhi harapanmu ?

Saat orang lain perhatian pada hal rinci, Kau bilang Ia cerewet
Saat orang lain kurang perhatian pada hal rinci, Kau bilang Ia teledor
Saat orang lain berusaha keras mempertahankan pendapatnya, Kau bilang Ia keras kepala
Saat orang lain mengikuti pendapatmu, Kau bilang Ia plin-plan
Saat orang lain berusaha menegakkan peraturan, Kau bilang Ia kaku
Saat orang lain melakukan uji coba cara baru, Kau bilang Ia kacau

Hemmm….

Read more

Dalam suatu percakapan, adakalanya tindakan seseorang tidak selaras dengan pemikiran atau kebenaran yang kita yakini, saat itu. Ada banyak kemungkinan, mengapa hal ini bisa terjadi. Bisa jadi kita yang tidak piawai dalam menata argumentasi. Mungkin saja, Ia memiliki pengalaman yang berbeda. Mungkin juga, Ia memilih sudut pandang yang berbeda dalam melihat permasalahan. Bisa jadi, Ia belum memiliki pengetahuan yang sama dengan kita. Bisa jadi, bisa jadi, banyak lagi. Tetapi banyak yang memilih untuk MENGHAKIMI orang lain dengan “Kamu Salah”, “Kamu Tidak Pantas”, “Kamu Tidak Bertanggungjawab”, “Kamu Tidak Peduli”, “Kamu Malas”, “Kamu Sombong”.

Apa yang terjadi setelah itu? Percakapan akan bergulir ke dalam medan “menyerang” dan “bertahan”, karena setiap orang berkepentingan untuk melindungi harga diri dan melepaskan diri dari kecemasan. Percakapan akan menjauh dari aktivitas “memberi” dan “menerima” dalam bingkai kasih sayang. Percakapan positif membentur tembok, percakapan negatif menyeruak membobol nilai-nilai penghargaan dan penghormatan.

Ternyata oh Ternyata (ToT) : Penghambat PERCAKAPAN POSITIF itu bernama MENGHAKIMI.

Read more

Tulisan ini merupakan karya Thomas Gordon, seorang psikolog dari Amerika yang dihormati karena pandangan dan metode yang dikembangkannya untuk memperbaiki hubungan antar pribadi. Saya pernah menggunakan tulisan ini sebagai surat untuk memperbaiki hubungan dengan orang terdekat. Alangkah indahnya bila hubungan dengan orang-orang di sekitar kita menggunakan prinsip-prinsip seperti ini.
Selamat menghayati.

“Kau dan aku berada dalam suatu hubungan yang aku hargai dan ingin kupertahankan. Tetapi masing-masing kita adalah suatu pribadi mandiri yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan sendiri, yang unik, dan mempunyai hak untuk mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Aku akan berusaha untuk benar-benar menerima tingkah lakumu bila kau berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu atau bila kau mempunyai persoalan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Bila kau membagi persoalan-persoalanmu, aku akan berusaha untuk mendengarkan dan memahaminya dengan sepenuh hati, dengan suatu cara yang dapat mendorongmu, supaya kau dapat mencari pemecahan sendiri dan tidak menggantungkan pemecahannya kepadaku. Bila kau memiliki suatu persoalan karena tingkah lakuku mengganggu pemenuhan kebutuhanmu, kuanjurkan padamu supaya mengatakan padaku secara jujur dan terbuka bagaimana perasaanmu sebenarnya. Pada waktu-waktu itu, aku akan mendengarkan dan lalu mencoba mengubah tingkah lakuku, seandainya kau bisa.

Tetapi, bila tingkah lakumu mengganggu pemenuhan kebutuhanku hingga menyebabkan aku merasa tak dapat menerimamu, aku akan membagi persoalanku ini denganmu dan mengatakan padamu dengan sejujur dan seterbuka mungkin bagaimana persaanku, dan percaya bahwa kamu cukup menghormati kebutuhan-kebutuhanku sehingga kamu mau mendengarkan lalu berusaha mengubah tingkah lakumu.

Bila kita sampai pada suatu keadaan dimana seorangpun diantara kita dapat mengubah tingkah lakunya untuk memenuhi kebutuhan yang lain dan menemukan bahwa kita punya konflik dalam hal kebutuhan dalam hubungan kita, marilah kita tetapkan buat diri kita sendiri bahwa kita akan menyelesaikan konflik semacam itu dengan tanpa pernah menggunakan kekuasaanku atau kekuasaanmu untuk menang diatas puing kekalahan yang lain. Aku menghormati kebutuhan-kebutuhanmu, tetapi aku juga harus menghormati kebutuhanku sendiri. Jadi, marilah kita selalu berusaha untuk mencari pemecahan yang dapat kita terima terhadap konflik-konflik kita yang tak terelakkan. Dengan cara ini, kebutuhanmu akan terpenuhi, tetapi demikian pula halnya dengan kebutuhanku-tak ada seorangpun yang akan kalah, kita berdua.

Sebagai akibatnya, kau dapat tetap berkembang menjadi suatu pribadi dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu, demikian pula aku. Dengan begitu hubungan kita akan selalu berupa hubungan yang sehat karena memuaskan kedua belah pihak. Masing-masing kita dapat mengembangkan kemampuannya, dan kita dapat tetap saling berhubungan dengan rasa saling menghargai dan saling mengasihi dalam suasana damai dan bersahabat”

Read more