Catatan Pagi/Sore Hary

Memelihara jalinan hubungan baik dengan orang-orang yang paling banyak menghabiskan waktu, pikiran dan perasaan kita menentukan kualitas hidup kita. Tiga hal berikut ini, bisa menjadi penanda kualitas hubungan baik dengan orang-orang yang bermakna bagi kita:

# Kedekatan. Hubungan baik ditandai dengan adanya kedekatan. Bila berjauhan akan berusaha untuk saling mendekati, dengan beragam cara. Ketika anda memiliki hubungan baik dengan seseorang, anda akan merasa nyaman berada di dekatnya dan bisa jadi anda akan kangen bila lama tidak “bertemu” dengannya.

# Penghargaan. Orang yang memiliki hubungan bak, tak selalu memiliki pemikiran, perasaan dan kebutuhan yang sama. Bisa jadi mereka memiliki pilihan dan selera yang berbeda, tapi mereka saling menghargai perbedaan diantara mereka. Bisa saja mereka saling adu argumentasi tapi mereka tidak akan saling merendahkan apalagi menjatuhkan. Ketika anda memiliki hubungan baik dengan seseorang tak berarti anda akan selalu seirama dan setuju dengannya.

# Pemulihan. Orang yang memiliki hubungan baik, bisa jadi akan terlibat konflik. Salah satu pihak, atau malah keduanya, akan emosional. Bila mereka ada yang melanggar batas dan atau tak mampu mengendalikan diri, keretakan hubungan baik kadang tak terelakkan. Namun, bila diantara mereka sudah terjalin hubungan baik, maka proses pemulihan hubungan akan mudah dan tidak berlangsung lama.

Makanya, konflik menjadi salah satu ujian kualitas hubungan. Bila jalinan hubungan baik masih rapuh, permasalahan sederhana sangat mudah memancing keributan, dan proses pemulihannya akan berlangsung lama. Sebaliknya bila hubungan baik sudah terjalin kuat, maka hubungan tersebut akan sulit “putus” hanya karena perbedaan gagasan atau pilihan. Bila kerenggangan hubungan terjadi karena salah satu pihak atau kedua pihak tidak mampu mengendalikan diri, maka mereka akan mudah didamaikan atau biasanya salah satu pihak akan berinisiatif untuk melancarkan proses saling memaafkan.

Meminta maaf bukan hanya bermakna pengakuan “saya juga ikut berkontribusi terhadap apa yang terjadi” tapi juga wujud keyakinan bahwa “memelihara hubungan baik denganmu lebih berharga daripada memenangkan hasrat dan ambisiku”.

#catatanpagihary

Read more

Selama pelayanan saya sebagai psikolog, saya bertemu dengan beragam kisah, ada yang lelah menjalani kehidupan, banyak juga yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dari beragam kisah tersebut, setidaknya ada tiga hal yang saya jadikan pelajaran bagi hidup saya.
Mereka yang berbahagia dalam kehidupannya:

1. Mengapresiasi apa yang terjadi dalam dirinya. Mengapresiasi merujuk pada upaya menerima, mengakui, menghargai dan memberi nilai tambah pada sesuatu yang terjadi dan atau dimilikinya. Bukan hanya hal yang kebanyakan orang akan bernilai positif tapi juga berbagai kejadian yang kebanyakan orang menilai negatif. Orang-orang yang bahagia, mampu mensyukuri sekecil apapun nikmat yang diberi, mampu memetik hikmah dari apa yang telah terjadi, dan mengintip tabir masa depan dengan mempelajari beragam potensi yang ada saat ini.

2. Menjalani kehidupan bermakna. Orang-orang yang bahagia dalam hidupnya menjalani kehidupan yang bermakna. Ia mensyukuri nikmat yang dimiliki dengan menemukan dan memanfaatkan peluang untuk berbagi. Mereka menjadikan uang, posisi dan popularitas sebagai alat bukan tujuan. Mereka memanfatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melayani yang lebih besar dari dirinya sendiri.

3. Menjalin hubungan baik. Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang signifikan dalam hidupnya. Mereka senantiasa memelihara silaturahmi dan kualitas relasi dengan orang-orang yang paling banyak menyita waktu dan energinya.

Mari memulai pagi ini dengan senyuman, mensyukuri nikmat yang ada, dan kembali merajut jalinan hubungan baik dengan orang-orang yang bermakna bagi kehidupan kita.
#catatanpagihary

Read more

Pagi ini, saat sedang minum kopi. Seorang sahabat, mengirim pertanyaan via wa. Sebuah pertanyaan yang sanggup melahirkan tulisan spontan. Saat menulis ini, saya terkesan oleh sahabat-sahabat saya yang berhasil mendaki dan meraih prestasi. Bisa jadi itu kamu, iya kamu. 🙂

Setidaknya, ada tiga pesan yang saya pelajari dari sahabat-sahabatku yang berprestasi. Tiga pesan yang merubah paradigma saya tentang meraih prestasi.

Perubahan 1. dari mengelola waktu ke mengelola energi
Prestasi kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita miliki. Bahkan kita tak sanggup mengendalikan waktu. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki waktu sampai tuntas hari ini, apalagi esok hari. Meski hari ini kita “tidak melakukan apa-apa”, kita tak bisa menyimpan waktu kita untuk jaminan esok hari. Prestasi kita tampak dari kontribusi yang kita beri dengan mengelola energi seoptimal mungkin untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya yang tersedia. Mari kita teliti, apakah kita sebenarnya sedang “mengelola waktu” atau menyusun prioritas aktivitas dan mengelola enerji?

Perubahan 2. dari menghindari tekanan ke mengelola tantangan.
Beberapa orang menyangka akan bahagia hidupnya dengan sedikit bekerja, punya banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang mengira, hidupnya akan lebih leluasa bila tanpa tujuan dan rencana. Menghindari tekanan katanya. Namun ketika terlena dan sampai tiba waktunya banyak peluang terbuang percuma dan banyak hal berharga tak mampu dirasa, baru ketemu pemahaman baru menghindari tekanan malah ketemu tekanan yang baru. Para peraih prestasi biasanya menjadi “pendaki”. Mereka tak menghindari tekanan, tetapi mengelola tantangan dengan mempertimbangkan sumber daya dan peluang yang tersedia. Bagi pendaki, puncak yang layak dinikmati dicapai melalui perjuangan tiada henti. Itulah yang mereka nikmati.

Perubahan 3. dari berpikir positif ke bertindak konstruktif.
Anjuran masa lalu, pikirkan yang positif hindari berpikir yang negatif., mungkin perlu dikaji kembali. Beberapa orang kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu mengusir pemikiran yang negatif. Ada juga yang jadi sebel karena dipaksa hanya memikirkan yang positif dan membuang yang negatif. “Kenyataanya di dunia ini tidak hanya ada yang positif!”, begitu katanya. Hmm…benar juga, “..bahkan memikirkan yang negatif membuat kita bisa mempelajari, mewaspadai dan mengantisipasinya..”, tambahhnya. Bener juga ya…bukankah prestasi diraih dengan melipatgandakan “yang positif” dan menyiasati “yang negatif”?. Jadi, bukan hanya berpikir positif, tapi bertindak konstruktif.

Sementara demikian, lain waktu dilanjutkan.

#catatanpagiHary

Read more

Rasa bersalah tak selalu salah.
Jadi, apa masalahnya dengan rasa bersalah?
Rasa bersalah yang tak selaras bisa mengakibatkan penghukuman diri dan
pembuntu berkembangnya jalinan hubungan yang sehat.
Ternyata, rasa bersalah bisa bermasalah, rasa bersalah bisa menghadirkan masalah.
Apa yang biasanya dilakukan untuk mengatasi rasa bersalah?
Meminta maaf,
Ya, meminta maaf merupakan pernyataan penyesalan atas apa yg terjadi,
Nyatakan dengan jelas dan tulus perasaan Anda.
Ingat, memaafkan perlu waktu dan enerji,
Pertimbangan situasi saat meminta, dan setelahnya beri keleluasaan padanya mengelola diri dan memberi.
Menuntut maaf sebaiknya dihindari, melakukan pemerasan emosi apalagi.
Akan lebih bijak bila mengerahkan enerji untuk memperbaiki situasi, karena tuntutan memperoleh maaf bisa menjadi luka baru, dan rasa bersalah jadi masalah yang tak mudah berlalu.
#catatanpagihary

Read more

Hari ini hari kelahiran bapak. Banyak kisah tertanam kuat dalam ingatanku. Salah satunya adalah tentang hal berikut ini.
Semakin ke sini, semakin memahami betapa hormatnya bapak dan ibu pada anak-anaknya. Hebatnya, pengejawantahan rasa itu berbeda-beda pada setiap anaknya. Apa yang saya alami, beda dengan yang tampak terjadi pada adik-adik saya. Saya memperoleh keleluasaan untuk mengambil keputusan, bahkan meski bertentangan dengan pendapat dan keinginan beliau. Beberapa anggota keluarga berkata, bapak adalah sosok keras kepala. Tampaknya, saya berhasil pula menirunya. Ketika dua orang keras kepala beradu pendapat, hampir ujungnya beliau yang melunak dan berkata…”Yen bisa, dipikir maneh…mbok menawa ana sing keri, nanging yen sliramu wis teteg, yakin tenanan…yo wis…sliramu sing bakal nglakoni…aku wong tua mung bisa urun donga..”. Maturnuwun Pak, atas kepercayaan panjenengan. Beberapa keputusan saya ternyata salah, tapi panjenengan tidak pernah menyalahkan.
Seingatku, bapak tidak pernah memanggilku dengan KOWE, beliau memanggilku dengan SLIRAMU (kalau ibu memanggilku dengan SAMPEYAN).

Read more

Banyak orang merasa terjebak. Mereka berpikir akan menemukan kebahagiaan setelah menghabiskan banyak waktu dan energi demi tiga hal berikut ini:
1. Uang. Siapa yang tidak membutuhkannya? Kita akan kerepotan bila tidak memiliki cukup uang. Banyak sekali kemudahan yang akan diperoleh dengan memiliki cukup uang. Tapi, apakah semakin banyak uang akan semakin bahagia hidupnya?
2. Posisi. Beberapa orang rela meninggalkan orang-orang terkasih demi mengejar posisi. Tak sedikit yang tega sikut-sikutan, dan berkhianat demi rebutan posisi. Memang tak mudah bergerak bila kita memiliki wewenang terbatas. Betapa ribet dan rusuhnya bila kita hanya jadi pesuruh dan pelayan. Bahkan, bisa jadi menderita bila kita diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan orang yang berkuasa. Tapi, benarkah semakin tinggi posisi seseorang akan membuatnya semakin bahagia?
3. Popularitas. Banyak orang merindukan menjadi terkenal dan dielukan banyak orang. Berbagai tingkah ditempuh demi mengejar popularitas. Tak disangkal, banyak kenikmatan dan kemudahan ketika kita dikenal orang. Bisa jadi, peluang dan pertolongan akan mudah datang saat kita terkenal. Tapi apakah kebahagiaan berbanding lurus dengan tingkat kemasyuran kita?
Saya menduga anda sudah memiliki jawaban sediri yang anda yakini. Pada kesempatan ini, ijinkan saya berbagi pengamatan saya pada orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dari beragam kisah, setidaknya ada dua hal yang perlu kita pelajari dari mereka.
1. Menjalani kehidupan bermakna. Orang-orang yang bahagia dalam hidupnya menjalani kehidupan yang bermakna. Ia mensyukuri nikmat yang dimiliki dengan menemukan dan memanfaatkan peluang untuk berbagi. Mereka menjadikan uang, posisi dan popularitas sebagai alat bukan tujuan. Mereka memanfatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melayani yang lebih besar dari dirinya sendiri.
2. Menjalin hubungan baik. Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang signifikan dalam hidupnya. Mereka senantiasa memelihara silaturahmi dan kualitas relasi dengan orang-orang yang paling banyak menyita waktu dan energinya.
#catatanpagihary

Read more

Pemerasan emosional merupakan bentuk manipulasi yang ampuh. Pemerasan jenis ini lebih menyerang ke hal-hal yang sifatnya pribadi. Biasanya terjadi diantara orang yang memiliki kedekatan hubungan. Pemeras baik langsung maupun tidak langsung, mengancam akan menghukum jika orang lain tidak melakukan apa yang mereka inginkan. Pemeras memahami bahwa korbannya sangat menghargai relasi diantara mereka. Mereka mengenali dengan baik kelemahan korbannya, informasi terdalam, paling pribadi yang dimiliki korbannya.

Susan Forward (1997) mengidentifikasi ada tiga taktik yang sering digunakan oleh para pemeras emosional. Ia menggunakan metafora kabut (FOG), yang merupakan singkatan dari Fear (ketakutan), Obligation (kewajiban) dan Guilt (perasaan bersalah).

Fear (ketakutan).
Para pemeras memanfaatkan informasi yang mereka miliki tentang ketakutan, kegelisahan dan kecemasan korbannya. Mereka memanfaatkan informasi tersebut agar korbannya tunduk, patuh, mengikuti kehendaknya. “Lakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanku maka aku tidak akan …..(meninggalkanmu, mencelamu, memarahimu, membentakmu, melawanmu, menentangmu, memecatmu, berhenti mencintaimu …..)”

Obligation (kewajiban)
Kita dibesarkan dengan rasa tanggung jawab dan kewajiban yang mengikuti peran kita dalam masyarakat. Rasa tanggungjawab dan kewajiban akan membentuk landasan etika dan moral hidup kita. Namun upaya kita untuk menunjukkan rasa tanggungjawab dan kewajiban kita pada diri sendiri seringkali tidak seimbang dengan perasaan berhutang pada orang lain. Kita bertindak berlebihan atas nama tanggungjawab dan kewajiban. Para pemeras tidak ragu-ragu memanfaatkan rasa ini, menekankan kepada korbannya seberapa besar mereka telah berkorban, seberapa banyak yang telah mereka lakukan untuk korbannya, seberapa banyak korban seharusnya merasa berhutang budi pada dirinya. Bila perlu, para pemeras akan mengutip ajaran agama, norma, tradisi sosial untuk menguatkan tekanannya.

Guilt (perasaan bersalah)
Perasaan bersalah merupakan alat hati nurani, bagian penting untuk menjadi sosok yang peduli dan bertanggungjawab. Perasaan ini mendominasi perhatian kita sampai kita melakukan sesuatu agar terlepas darinya. Untuk menghindari rasa bersalah, kita berusaha untuk tidak membuat orang kecewa dan sakit hati. Perasaan ini yang seringkali dimanfaatkan oleh para pemeras. Pemeras mendorong korbannya untuk bertanggungjawab secara menyeluruh atas keluhan, kekecewaan dan perasan tidak bahagia yang dialaminya. Rasa bersalah yang dibangkitkan akan membuat korban merasa harus memenuhi kehendak pemeras. Bila tidak, korban akan merasa “semakin bersalah”. Pemeras akan melakukan apa saja untuk menyampaikan pesan…”Ini semua salahmu, karena kamu”.

Siapa pemeras dan siapa yang menjadi korbannya? Bisa Anda sendiri atau orang-orang yang ada di sekitar Anda, orang-orang yang pentig bagi Anda. Yang perlu diingat : pemerasan merupakan transaksi, diperlukan dua pihak. Orang yang melakukan pemerasan (sadar atau tidak) dan orang yang mengijinkan orang lain melakukan pemerasan pada dirinya (sadar atau tidak).

Semoga hubungan dengan orang-orang terkasih terhindar dari hubungan yang saling menuntut, mengancam dan memeras. Semoga kita terpelihara untuk menikmati hubungan yang saling memberi, menghormati dan melengkapi.

Read more

Bila Anda sering merasa tidak cukup waktu untuk mengerjakan pesanan/perintah orang sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk dinikmati bersama keluarga, atau sendirian,

Bila Anda sering berpikir bahwa masih banyak Agenda yang belum terselesaikan, masih sangat jauh pencapaian Anda dari harapan sehingga Anda sulit sekali bersantai atau menikmati prosesnya ….

Bila hubungan Anda dengan orang-orang yang signifikan bagi Anda menjadi semakin renggang karena semakin jarangnya berbagi kasih sehingga hubungan Anda membeku diatas bara kekesalan …..

Bila kerja keras meraih posisi, kekayaan dan popularitas begitu melelahkan sehingga menggerogoti kesehatan Anda . . .

Berhentilah sejenak untuk berpikir . . .semoga Anda tidak sedang DIBELI DIAM – DIAM oleh pekerjaan atau posisi Anda saat ini….

Hemmmm

Read more

“Percaya pada diri Anda dan Anda tak terhentikan” -Emily Guay-

Percaya Diri (PeDe) mendukung upaya kita dalam meraih keberhasilan, menjalin hubungan yang sehat dan kesejahteraan. PeDe dalam tulisan ini merujuk pada perasaan yakin terhadap keunikan kekuatan yang dimiliki diri sendiri berdasarkan pada pengalaman keberhasilan dan mengakui keterbatasan.

Orang yang PeDe merasakan bahwa dirinya positif, berharga dan bernilai. Mereka berbeda dengan orang yang tampil arogan atau sombong. Tampil arogan justru menandakan rendahnya kepercayaan diri. Hal itu dilakukan untuk melindungi keterancaman atau menyembunyikan kelemahannya. Orang yang arogan terlalu berorientasi pada diri sendiri, ingin selalu mendominasi pembicaraan, sangat khawatir jika mereka tidak cukup baik, sehingga mereka merasa harus membanggakan diri di setiap kesempatan. Perilaku tersebut bukannya menggambarkan kepercayaan diri seseorang, tetapi justru menggambarkan rendahnya kepercayaan diri orang tersebut.

“Arogansi merupakan bentuk pembelaan diri karena sebenarnya ia tidak percaya diri”- (Ros Taylor dan kolega, 2009)

Orang yang PeDe merasa nyaman karena mengenali dengan baik kekuatannya, menerima keterbatasannya, sehingga bisa lebih tenang, bersedia mendengarkan, dan belajar dari orang lain.

“..munculnya kepercayaan diri diawali dari mengetahui bahwa Anda mempunyai kecakapan dan percaya bahwa Anda bisa menggunakan keahlian yang Anda miliki untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”(Kouzes dan Posner 2011)

Selain memiliki pemahaman yang memadai mengenai kemampuan dan potensi yang dimiliki, kepercayaan diri juga melibatkan pemahaman yang akurat terhadap nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Ketika kita memiliki pemahamanan dan keyakinan yang kuat terhadap nilai yang kita anut, maka kita akan dengan percaya diri mempertahankannya. Dan ketika kita sangat memahami kemampuan diri sendiri, kita akan dapat menggunakannya seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

“..kepercayaan diri muncul karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap nilai, kemampuan, serta tujuan yang kita miliki..” Daniel Goleman (2003)

 

Read more

Masa depan harus lebih baik dari masa sekarang adalah tekad kebanyakan orang. Menjadi lebih berkualitas adalah impian sebagian besar dari kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Marcus Buckingham (2005), mengungkapkan tiga pendekatan yang dilakukan orang atau organisasi untuk meningkatkan kualitas. Tiga pendekatan tersebut adalah :

“TEMUKAN TAKTIK YANG BENAR DAN TERAPKANLAH”

“TEMUKAN CACAT-CACAT ANDA DAN PERBAIKI”

“TEMUKAN KEKUATAN-KEKUATAN ANDA DAN GALILAH”

Read more