Berbagi Pemikiran

Sejak memulai karir sampai bulan ini, masih ada beberapa sahabat yang mengajukan pertanyaan ini. Sungguh pertanyaan yang meneguhkan. Biasanya, setelah bertanya mereka memberikan pertanyaan retoris…
“Bukankah gajinya kecil…?”
“Apa gajinya cukup untuk membiayai biaya operasionalmu (transport, makan, pulsa, buku, internet)?”
“Apa nggak iri dengan teman-teman seusia yang gajinya 10 x dari gajimu”?
“Sorry ya, kayaknya gajimu sebulan lebih kecil dari satu sesi?”
“Bukankah karirnya lama…10 tahun di perusahaan yang sama, u sudah jadi GM..”

dan banyak lagi pertanyaan, yang kurang lebih isinya, meragukan imbalan yang akan diterima.

Dulu Saya menjawab dengan jawaban seperti ini :
“Saya telah mengamati, meski gajinya kecil, dosen-dosen Saya bisa kuliah, punya rumah, punya kendaraan & bisa menyekolahkan anaknya….”
“Saya memiliki banyak waktu untuk diskusi, belajar dengan kolega dan bercengkerama dengan keluarga”
“Saya terngiang-ngiang nasehat orang tua, harta tidak dibawa mati…amal baik, ilmu yang bermanfaat dan doa yang akan menemani…”

dan jawaban serupa yang kurang lebih isinya, betapa Saya penuh pertimbangan sebelum menekuni profesi ini.

Setelah lebih dari 9 tahun mengabdi dan berkarya….banyak sekali hal-hal yang semakin meneguhkan pilihan Saya…beberapa diantaranya adalah umpan balik seperti ini :

“mata kuliah ini benar-benar mendongkrak kemampuan, kepercayaan diri, dan keberanian saya untuk berpikir lebih kritis dan lebih berani mengungkapkan ide-ide”

“Pada awalnya saya merasa asing dan tidak terlalu suka dengan cara Mas Hary membimbing yang cenderung agak cerewet (hehe maaf Mas). Tetapi, lama-kelamaan saya malah menjadi suka dan terbiasa dengan cerewetnya. Karena saya pikir cerewetnya itu bukan sekedar cerewet, tetapi cerewet yang memang benar-benar logis, rasional, dan memang penting untuk penelitian yang kami lakukan. Setiap kecerewetan yang ada itu selalu menimbulkan insight untuk saya, membuat saya menyadari bahwa sesuatu itu harusnya begini dan harusnya begitu…”

“terdengarlah isu-isu bahwa Mas Hary itu perfeksionis, sangat kritis dan sebagainya, sedikit-sedikit saya ikut terpengaruh dan bawaannya jadi ikut tegang, takut salah, atau takut terlihat bodoh…..” (upsss)

“Mas Hary sering memberikan apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan, tidak peduli hasil akhirnya seperti apa, tapi lebih menekankan pada kesungguhan dalam prosesnya. Dengan apresiasi itu, walaupun saya menyadari banyak sekali kekurangan yang saya lakukan dalam penelitian atau dalam pembahasan, saya merasa sedikit terangkat. Saya merasa, perjuangan saya tidak sia-sia, meski banyak hal yang harus dibenahi. Saya suka cara Mas mengatakan, “kelompok ini ada peningkatan,” atau “Kelompok ini sudah baik dalam hal …”

“jadwal Mas Hary yang padat sehingga tidak memungkinkan untuk berada di kampus setiap hari…” (upssss…)

Bagi Saya umpan balik mahasiswa adalah imbalan yang tak ternilai….

bersambung….

Read more

terbayang jelas kulit Ayahku menghitam, peluhnya belum kering benar, senyumnya tetap mengembang.
lahan yang digelutinya tak lagi ramah, meski demikian tak surut langkahnya ke sawah.

bila tak ingat mimpi-mimpinya terwujud karena sawah ini, sudah dijualnya Ia
bila tak ingat langkah-langkah besar anak-anaknya berawal dari sawah ini, sudah lelah rasanya Ia

maafkan ayah…aku tak menemanimu…
ketika harga pupuk melambung
ketika harga beras terjerembab

maafkan Ayah Aku tak bisa menemanimu seperti dulu, membajak sawah, menabur benih,
anakmu menyibukkan diri dengan keangkuhan kota besar…

(ditulis dengan deraian air mata dan gelora kerinduan)

Read more

Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa silabus pelatihan dan proses diskusi sejumlah tim fasilitator, Saya menangkap kesan “perumusan sasaran pembelajaran kurang mendapat perhatian yang layak”. Bahkan salah seorang fasilitator senior yang Saya kenal, pernah mengkritik Saya “terlalu akademis” ketika Saya bertanya kejelasan tentang sasaran pembelajaran sebelum menyusun rencana fasilitasi.

Bagi Saya, merumuskan sasaran pembelajaran secara jelas dan terukur merupakan kegiatan yang SANGAT PENTING dan Saya tidak keberatan dituduh “terlalu akademis” karena mementingkan proses ini. Menurut Saya, sasaran pembelajaran merupakan panduan dalam :
a. menentukan materi dan metode pelatihan
b. menyusun perangkat evaluasi pelatihan
c. menyamakan persepsi tim fasilitator mengenai : apa yang akan dicapai dan dipelajari dalam pembelajaran, bagaimana proses pembelajaran yang akan dilakukan dan berapa lama durasi yang diperlukan.

Pengklasifikasian sasaran pembelajaran yang populer digunakan terdiri dari tiga ranah, yaitu :
a. Kognitif, meliputi pengetahuan dan perkembangan keterampilan intelektual yang dibagi kedalam enam kategori utama mulai dari tingkah laku yang sederhana hingga kompleks, sebagai berikut : knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis dan evaluation.
b. Afektif, terdiri atas cara seseorang berhubungan dengan sesuatu secara emosional, seperti perasaan, apresiasi, antusiasme, motivasi dan sikap. Area afektif ini terdiri atas lima kategori utama, sebagai berikut : receiving, responding, valuing, organization dan characterization.
c. Psikomotorik, mencakup gerakan fisik, koordinasi, dan penggunaan area keterampilan motorik. Pengembangan keterampilan ini membutuhkan latihan dan diukur melalui kecepatan, prosedur atau teknik dalam pelaksanaannya. Tujuah kategori utama area ini adalah sebagai berikut : perception, set, guided response, mechanism, complex overt response, adaptation dan origination.

Menurut Nadler dan Nadler (1982), setidaknya rumusan sasaran harus mengandung unsur :
a. Performa, apa yang mampu dilakukan peserta setelah pelatihan. Performa dituliskan dalam kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati, misalnya : mengenali, menyebutkan dan menguraikan.
b. Kondisi, dalam kondisi apa peserta menunjukkan perilaku tersebut. Bagian kondisi dari tujuan ini berupa menetapkan keadaan (lingkungan), perintah, materi, arahan, dan lain sebagainya; yang diberikan kepada peserta untuk memprakarsai tingkah laku.
c. Kritera, tingkat keberhasilan peserta dalam mencapai perilaku tersebut. Biasanya, kriteria diekspresikan dalam ukuran minimum, atau sebagai apa yang seharusnya, sebagai minimum, termasuk dalam respon peserta.
Selanjutnya, dalam menulis sasaran, Nadler dan Nadler (1982), menyarankan kepada perancang untuk memulai dengan pernyataan sebagai berikut : “Setelah menyelesaikan pengalaman belajar ini, peserta akan dapat ……..”. Selain mengikuti saran tersebut, Saya juga sering memulai dengan pernyataan seperti ini : ” Di akhir pembelajaran ini, peserta mampu ……”.
Semoga bermanfaat.

Read more

Kegiatan penting yang kadang terabaikan dalam merancang program pembelajaran adalah identifikasi kebutuhan belajar. Pada kesempatan ini, Saya rangkumkan rekomendasi Mel Silberman (1990) mengenai cara mengenali kebutuhan belajar peserta, sebagai berikut :

Observasi, mengumpulkan informasi melalui hasil pengamatan pada sejumlah kriteria yang dapat diukur dan teramati langsung. Keunggulan metode ini adalah dalam hal penggunaan waktu yang cukup efisien. Keterbatasannya, subyektifitas ketika melakukan interpretasi terhadap apa yang terobservasi. Untuk mengatasi kekurangan tersebut biasanya metode observasi sering dilengkapi dengan wawancara dan memanfaatkan sejumlah ahli sebagai observer.

Kuesioner, dokumen yang berisi sejumlah pertanyaan untuk menjaring tanggapan dari calon peserta. Kuesioner yang efisien sebaiknya disusun sesingkat dan seringkas mungkin sehingga tidak memakan waktu banyak untuk mengisinya. Salah satu masalah yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan metode ini adalah waktu, terkait dengan pengambilan, pengolahan dan interpretasi data. Selain itu, kesulitan melakukan eksplorasi lebih lanjut berkaitan dengan informasi yang diperoleh pada saat itu juga dan keengganan responden untuk mengisi atau mengembalikan kuesioner yang diterimanya.

Key Consultation. Konsultasi dengan pihak yang dianggap mengetahui kebutuhan belajar para calon peserta, misalnya: atasan, pelanggan, bidang pengembangan SDM dan anggota asosiasi profesional. Metode ini sering dipilih saat perancang menghadapi keterbatasan waktu. Keandalan metode ini ditentuka oleh penentuan “orang kunci” dan informasi yang diberikannya.

Wawancara. Metode ini menggunakan serangkaian pertanyaan, yang akan ditanyakan satu persatu kepada responden. Media yang biasanya digunakan adalah tatap muka secara langsung, melalui telepon, ataupun e-mail. Metode ini akan sangat berguna khususnya ketika dibutuhkan informasi yang kompleks dan belum sepenuhnya jelas, sebab metode ini dapat dimodifikasi dengan cepat untuk memperoleh informasi yang tiba-tiba muncul. Selain itu melalui metode ini informasi yang diperoleh cukup padat hanya dalam waktu yang singkat, idealnya tidak lebih dari 30 menit tiap responden. Hal yang perlu diwaspadai adalah bila pewawancara tidak hati-hati responden akan merasa terancam dan terintimdasi. Selanjutnya, metode ini seringkali sulit dilakukan berkaitan dengan pengaturan waktu untuk melakukan proses wawancara.

Focus Group Discussion. Metode ini menggunakan sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada sekelompok orang dengan jumlah bervariasi (idealnya 7 sampai 9 orang), dengan pengarahan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya sering kali teridentifikasi (setidaknya nama panggilan saja), tapi tidak menutup kemungkinan anonim. Proses diskusi ini dapat berlangsung dalam waktu lama, namun jarang berlangsung lebih dari satu jam. Metode ini akan sangat berguna khususnya ketika dibutuhkan informasi yang kompleks dan belum sepenuhnya jelas, sebab teknik ini dapat dimodifikasi dengan cepat untuk memperoleh informasi baru yang tiba-tiba muncul. Metode ini efektif untuk mengatasi responden yang keberatan untuk dieksplorasi mengenai isu atau masalah yang rumit atau kontroversial. Melalui kelompok, setiap responden akan bertukar ide dan isu, untuk selanjutnya mencari consensus bersama tentang permasalahan yang diajukan. Materi pertanyaan diskusi dapat berbentuk pertanyaan yang terdefinisi dengan jelas ataupun terbuka. Kekurangan metode ini adalah berkaitan dengan penggunaan waktu yang cukup lama, tidak menutup kemungkinan ada responden yang “menghalangi” responden lain untuk berpendapat, relasi antara pemandu dengan responden (kesamaan minat/pemikiran) dapat memunculkan interpretasi yang bias, dan sulit dilakukan berkaitan dengan pengaturan waktu khususnya bila pihak manajemen tidak mendukung sepenuhnya.

Catatan atau Laporan. Laporan yang biasa digunakan adalah laporan tampilan kerja dari calon peserta pelatihan, baik itu self report maupun hasil evaluasi atasan, ataupun laporan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Laporan tersebut akan dianalisis oleh sejumlah ahli guna menentukan letak ketidaksesuaian dari apa yang dimunculkan dengan yang seharusnya.

Read more