Hari Setyowibowo

Belajar_Berkarya_Berbagi

Archive for the ‘Berbagi Pemikiran’ Category

Rasa bersalah, bermasalah?

without comments

Rasa bersalah tak selalu salah.
Jadi, apa masalahnya dengan rasa bersalah?
Rasa bersalah yang tak selaras bisa mengakibatkan penghukuman diri dan
pembuntu berkembangnya jalinan hubungan yang sehat.
Ternyata, rasa bersalah bisa bermasalah, rasa bersalah bisa menghadirkan masalah.
Apa yang biasanya dilakukan untuk mengatasi rasa bersalah?
Meminta maaf,
Ya, meminta maaf merupakan pernyataan penyesalan atas apa yg terjadi,
Nyatakan dengan jelas dan tulus perasaan Anda.
Ingat, memaafkan perlu waktu dan enerji,
Pertimbangan situasi saat meminta, dan setelahnya beri keleluasaan padanya mengelola diri dan memberi.
Menuntut maaf sebaiknya dihindari, melakukan pemerasan emosi apalagi.
Akan lebih bijak bila mengerahkan enerji untuk memperbaiki situasi, karena tuntutan memperoleh maaf bisa menjadi luka baru, dan rasa bersalah jadi masalah yang tak mudah berlalu.
#catatanpagihary

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:10 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Jebakan Kebahagiaan

without comments

Banyak orang merasa terjebak. Mereka berpikir akan menemukan kebahagiaan setelah menghabiskan banyak waktu dan energi demi tiga hal berikut ini:
1. Uang. Siapa yang tidak membutuhkannya? Kita akan kerepotan bila tidak memiliki cukup uang. Banyak sekali kemudahan yang akan diperoleh dengan memiliki cukup uang. Tapi, apakah semakin banyak uang akan semakin bahagia hidupnya?
2. Posisi. Beberapa orang rela meninggalkan orang-orang terkasih demi mengejar posisi. Tak sedikit yang tega sikut-sikutan, dan berkhianat demi rebutan posisi. Memang tak mudah bergerak bila kita memiliki wewenang terbatas. Betapa ribet dan rusuhnya bila kita hanya jadi pesuruh dan pelayan. Bahkan, bisa jadi menderita bila kita diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan orang yang berkuasa. Tapi, benarkah semakin tinggi posisi seseorang akan membuatnya semakin bahagia?
3. Popularitas. Banyak orang merindukan menjadi terkenal dan dielukan banyak orang. Berbagai tingkah ditempuh demi mengejar popularitas. Tak disangkal, banyak kenikmatan dan kemudahan ketika kita dikenal orang. Bisa jadi, peluang dan pertolongan akan mudah datang saat kita terkenal. Tapi apakah kebahagiaan berbanding lurus dengan tingkat kemasyuran kita?
Saya menduga anda sudah memiliki jawaban sediri yang anda yakini. Pada kesempatan ini, ijinkan saya berbagi pengamatan saya pada orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dari beragam kisah, setidaknya ada dua hal yang perlu kita pelajari dari mereka.
1. Menjalani kehidupan bermakna. Orang-orang yang bahagia dalam hidupnya menjalani kehidupan yang bermakna. Ia mensyukuri nikmat yang dimiliki dengan menemukan dan memanfaatkan peluang untuk berbagi. Mereka menjadikan uang, posisi dan popularitas sebagai alat bukan tujuan. Mereka memanfatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melayani yang lebih besar dari dirinya sendiri.
2. Menjalin hubungan baik. Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang signifikan dalam hidupnya. Mereka senantiasa memelihara silaturahmi dan kualitas relasi dengan orang-orang yang paling banyak menyita waktu dan energinya.
#catatanpagihary

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:04 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Pemerasan Emosional

without comments

Pemerasan emosional merupakan bentuk manipulasi yang ampuh. Pemerasan jenis ini lebih menyerang ke hal-hal yang sifatnya pribadi. Biasanya terjadi diantara orang yang memiliki kedekatan hubungan. Pemeras baik langsung maupun tidak langsung, mengancam akan menghukum jika orang lain tidak melakukan apa yang mereka inginkan. Pemeras memahami bahwa korbannya sangat menghargai relasi diantara mereka. Mereka mengenali dengan baik kelemahan korbannya, informasi terdalam, paling pribadi yang dimiliki korbannya.

Susan Forward (1997) mengidentifikasi ada tiga taktik yang sering digunakan oleh para pemeras emosional. Ia menggunakan metafora kabut (FOG), yang merupakan singkatan dari Fear (ketakutan), Obligation (kewajiban) dan Guilt (perasaan bersalah).

Fear (ketakutan).
Para pemeras memanfaatkan informasi yang mereka miliki tentang ketakutan, kegelisahan dan kecemasan korbannya. Mereka memanfaatkan informasi tersebut agar korbannya tunduk, patuh, mengikuti kehendaknya. “Lakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanku maka aku tidak akan …..(meninggalkanmu, mencelamu, memarahimu, membentakmu, melawanmu, menentangmu, memecatmu, berhenti mencintaimu …..)”

Obligation (kewajiban)
Kita dibesarkan dengan rasa tanggung jawab dan kewajiban yang mengikuti peran kita dalam masyarakat. Rasa tanggungjawab dan kewajiban akan membentuk landasan etika dan moral hidup kita. Namun upaya kita untuk menunjukkan rasa tanggungjawab dan kewajiban kita pada diri sendiri seringkali tidak seimbang dengan perasaan berhutang pada orang lain. Kita bertindak berlebihan atas nama tanggungjawab dan kewajiban. Para pemeras tidak ragu-ragu memanfaatkan rasa ini, menekankan kepada korbannya seberapa besar mereka telah berkorban, seberapa banyak yang telah mereka lakukan untuk korbannya, seberapa banyak korban seharusnya merasa berhutang budi pada dirinya. Bila perlu, para pemeras akan mengutip ajaran agama, norma, tradisi sosial untuk menguatkan tekanannya.

Guilt (perasaan bersalah)
Perasaan bersalah merupakan alat hati nurani, bagian penting untuk menjadi sosok yang peduli dan bertanggungjawab. Perasaan ini mendominasi perhatian kita sampai kita melakukan sesuatu agar terlepas darinya. Untuk menghindari rasa bersalah, kita berusaha untuk tidak membuat orang kecewa dan sakit hati. Perasaan ini yang seringkali dimanfaatkan oleh para pemeras. Pemeras mendorong korbannya untuk bertanggungjawab secara menyeluruh atas keluhan, kekecewaan dan perasan tidak bahagia yang dialaminya. Rasa bersalah yang dibangkitkan akan membuat korban merasa harus memenuhi kehendak pemeras. Bila tidak, korban akan merasa “semakin bersalah”. Pemeras akan melakukan apa saja untuk menyampaikan pesan…”Ini semua salahmu, karena kamu”.

Siapa pemeras dan siapa yang menjadi korbannya? Bisa Anda sendiri atau orang-orang yang ada di sekitar Anda, orang-orang yang pentig bagi Anda. Yang perlu diingat : pemerasan merupakan transaksi, diperlukan dua pihak. Orang yang melakukan pemerasan (sadar atau tidak) dan orang yang mengijinkan orang lain melakukan pemerasan pada dirinya (sadar atau tidak).

Semoga hubungan dengan orang-orang terkasih terhindar dari hubungan yang saling menuntut, mengancam dan memeras. Semoga kita terpelihara untuk menikmati hubungan yang saling memberi, menghormati dan melengkapi.

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:00 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Dibeli Diam – Diam . . .

without comments

Bila Anda sering merasa tidak cukup waktu untuk mengerjakan pesanan/perintah orang sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk dinikmati bersama keluarga, atau sendirian,

Bila Anda sering berpikir bahwa masih banyak Agenda yang belum terselesaikan, masih sangat jauh pencapaian Anda dari harapan sehingga Anda sulit sekali bersantai atau menikmati prosesnya ….

Bila hubungan Anda dengan orang-orang yang signifikan bagi Anda menjadi semakin renggang karena semakin jarangnya berbagi kasih sehingga hubungan Anda membeku diatas bara kekesalan …..

Bila kerja keras meraih posisi, kekayaan dan popularitas begitu melelahkan sehingga menggerogoti kesehatan Anda . . .

Berhentilah sejenak untuk berpikir . . .semoga Anda tidak sedang DIBELI DIAM – DIAM oleh pekerjaan atau posisi Anda saat ini….

Hemmmm

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 7:55 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Ragam Teknik Fasilitasi

without comments

“satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman” _Albert Einstein

Teknik Fasilitasi pada dasarnya merupakan “alat bantu” fasilitasi. Semakin efektif seorang fasilitator dalam menggunakan teknik fasilitasi, semakin mudah ia membantu peserta mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu faktor kunci keberhasilan fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran adalah pemilihan teknik yang tepat pada setiap tahapan pembelajaran.
Berdasarkan kajian kepustakaan dan rangkaian pengalaman kami dalam memfasilitasi, kami rekomendasikan ragam teknik fasilitasi yang dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :
A. Membangun landasan belajar
B. Mempercepat penguasaan
C. Mengoptimalkan pencapaian

A. Membangun Landasan Belajar
Aktivitas pembelajaran pada bagian ini ditujukan untuk memfasilitasi kesiapan peserta untuk belajar serta membangkitkan ketertarikan dan kesediaan peserta untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Contoh aktivitas membangun landasan pembelajaran :
⇒ Penataan Lingkungan Fisik, ragam aktivitas untuk menciptakan lingkungan fisik kelas yang nyaman dan membangkitkan minat dan semangat peserta selama berada di kelas.
⇒ Pencairan Suasana & Pembangkit Semangat, ragam aktivitas untuk membantu peserta mengurangi kecanggungan, memfasilitasi peserta merasakan iklim belajar yang menyenangkan, melancarkan interaksi antar peserta dan mengembalikan gairah belajar peserta.
⇒ PEMBULATAN TEKAD BELAJAR, ragam aktivitas berikut untuk memfasilitasi peserta menemukan ketertarikan pada pembelajaran, mengeksplorasi manfaat pembelajaran, berbagi harapan dan membangun komitmen untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

B. Mempercepat Penguasaan
Ragam aktivitas pada bagian ini, sebaiknya disajikan ketika peserta telah siap mengikuti pembelajaran. Berikut contoh tekik fasilitasi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta mempercepat penguasaan materi pembelajaran atau mencapai tujuan pembelajaran:
# PERMAINAN INSPIRATIF: Fasilitator menghadirkan pengalaman belajar yang dikemas dalam sebuah dan atau serangkaian permainan yang dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran, kondisi peserta dan sumber daya yang tersedia.
# PRESENTASI INTERAKTIF: Fasilitator memulai presentasi dengan informasi yang mengejutkan peserta dan menghentikan presentasi secara periodik untuk mengajukan pertanyaan. Peserta membahas pertanyaan tersebut secara berpasangan kemudiaan menyatakan jawabannya. Fasilitator memberikan umpan balik atas jawaban yang diberikan.
# PENEMUAN METAFORA: Fasilitator menggunakan benda, binatang atau tumbuhan yang dikenali peserta sebagai perumpamaan untuk memudahkan peserta memahami materi pembelajaran. Teknik ini bisa juga dilakukan dengan meminta peserta menemukan metafora (perumpamaan) untuk menggambarkan materi pembelajaran agar mudah dipahami dan atau diingat.
# VIDEO INTERAKTIF: Fasilitator menayangkan sebuah tayangan video kepada peserta dan meminta peserta mencatat poin-poin kunci dari video yang ditayangkan. Seusai penayangan, peserta berdiskusi mengenai poin-poin kunci yang mereka buat.
# REKONSTRUKSI: Fasilitator meminta peserta berkelompok dan memberikan kelompok kartu-kartu yang berisikan bagian-bagian dari materi yang memiliki sekuen / urutan prosedural. Peserta akan mengurutkan kartu sesuai dengan urutan prosedur yang benar dan menjelaskan mengapa urutan tersebut mereka susun sedemikian rupa.
# JIGSAW PUZZLE: Fasilitator membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan bagian dari suatu materi belajar. Setelah mendiskusikan materi, setiap kelompok dibagi menjadi dua atau lebih sub kelompok. Beberapa sub kelompok akan menjadi perwakilan kelompok untuk bertamu ke kelompok lain dan mencari informasi mengenai materi yang dikuasai kelompok lain tersebut. Satu sub kelompok akan menjadi tuan rumah yang akan menjelaskan materi kepada perwakilan tamu dari sub kelompok lain. Setelah selesai, seluruh perwakilan kelompok akan kembali ke kelompoknya dan memberikan penjelasan tentang materi yang mereka pelajari dari kelompok lain. Fasilitator mengakhiri sesi dengan mereview semua materi yang telah dipelajari dengan seluruh peserta.
# DESAIN POSTER: Fasilitator memberikan bagian materi pelajaran kepada setiap peserta. Peserta diminta membuat sebuah gambaran visual tentang bagian materi yang diperolehnya dengan menggunakan flip chart kemudian memajang hasil pekerjaannya di dinding kelas dan mempresentasikannya kepada peserta lain.
#MNEMONIC: Fasilitator menggunakan singkatan nama, rima (seperti akhiran dalam puisi), akronim ketika menyajikan infomasi/materi pembelajaran. STAR : Stimulate, Transfer, Apply, Review
# DEMONSTRASI: Fasilitator mendemonstrasikan cara-cara yang benar dalam melakukan pekerjaan. Peserta memperhatikan fasilitator dan kemudian menirunya.
# BERMAIN PERAN: Fasilitator meminta peserta untuk memerankan suatu situasi yang mungkin dialaminya di pekerjaan ataupun di kehidupan sehari-hari
# SOSIO DRAMA: Fasilitator meminta kelompok peserta untuk merancang dan menampilkan rangkaian adegan yang menggambarkan suatu situasi sosial yang merepresentasikan materi pembelajaran.

C. Mengoptimalkan Pencapaian
Ragam aktivitas pada bagian ini dimanfaatkan untuk mengoptimalkan materi pembelajaran yang telah berhasil dipelajari peserta dengan cara mengkaji ulang, mengeksplorasi, menerapkan dan mempraktekkanya. Berikut beberapa contoh yang biasanya kami lakukan:
# VISUAL AID REVIEW: Fasilitator menampilkan kembali materi pembelajaran yang disajikan melalui alat bantu visual dan menanyakan kembali kepada peserta tentang poin-poin penting di dalamnya. Peserta diminta menjawab pertanyaan dengan menjelaskan maksud dari setiap poin & mengapa poin tersebut penting.
# BENAR ATAU SALAH: Fasilitator memberikan masing-masing peserta secarik kertas yang berisikan setengah informasi yang benar dan setengah informasi salah. Peserta akan menentukan mana informasi yang benar dan mana yang salah dengan mengemukakan alasannya.
# PERTIMBANGKAN KEMBALI: Fasilitator meminta peserta menuliskan pandangannya tentang materi pelajaran di awal dan akhir sesi. Peserta kemudian mengemukakan apakah pandangan mereka terhadap materi yang diberikan masih sama atau telah mengalami perubahan. Fasilitator memberikan apresiasi atas perubahan positif yang dialami peserta.
# TEKA-TEKI SILANG: Fasilitator menyiapkan teka-teki silang sederhana dengan jawaban yang berisikan istilah penting dalam materi pelajaran. Peserta menjawab teka-teki secara berpasangan dengan menggunakan petunjuk yang diberikan seperti definisi singkat, kategori kata, contoh dan lawan kata.
# TUNJUKKAN ANDA TAHU: Fasilitator meminta peserta memperagakan suatu proses ataupun seri dari suatu proses yang berkaitan dengan materi pelajaran. Peserta mempraktekkannya sambil mengucapkan keras-keras apa yang sedang mereka lakukan dalam setiap tahapnya dan mengapa mereka melakukannya.
# LATIHAN BERPASANGAN: Fasilitator meminta peserta berpasangan kemudian memberikan kartu berisikan gambaran situasi nyata yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setiap pasangan akan menjelaskan secara detail bagaimana mereka akan mengatasi situasi tersebut berdasarkan pada pengetahuan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# KONSULTASI SESAMA REKAN: Fasilitator meminta seorang peserta untuk menyatakan masalah yang dihadapinya yang berhubungan dengan materi pelajaran yang baru mereka dapatkan. Peserta lain akan membantu peserta tersebut untuk memberikan solusi dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# PERKIRAAN RINTANGAN: Fasilitator meminta seorang peserta memperkirakan rintangan yang akan dihadapi saat menerapkan pengetahuan baru yang mereka peroleh dari sesi pelatihan. Fasilitator kemudian meminta peserta lain untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan secara riil di kehidupan nyata peserta.
# BERBAGI KISAH & HARAPAN: Fasilitator meminta peserta untuk menceritakan proses dan hasil belajar yang mereka capai. Peserta diminta untuk menemukan manfaat apa yang mereka peroleh dari sesi pembelajaran, dan memikirkan tentang bagaimana mereka dapat menerapkan apa yang telah dipelajari dari sesi pelatihan di kehidupan nyata.

Referensi:
Lou Russel.2011. The Accelerated Learning Fieldbook: Panduan belajar cepat untuk pelajar dan umum. Diterjemahkan olehM Irfan Zakkie.Bandung: Nusa Media
Meier, Dave. 2000. The Accelerated Learning Handbook. United States of America: McGraw-Hill.
Silberman, Mel. 2005. 101 Ways To Make Training Actives. Pfeiffer.

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 7:32 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Paradigma Para Pendaki

without comments

Pagi ini, saat sedang minum kopi. Seorang sahabat, mengirim pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sanggup melahirkan tulisan spontan. Saat menulis ini, saya terkesan oleh sahabat-sahabat saya yang berhasil mendaki dan meraih prestasi. Bisa jadi itu kamu, iya kamu.
Setidaknya, ada tiga pesan yang saya pelajari dari sahabat-sahabatku yang berprestasi itu. Tiga pesan yang merubah paradigma saya tentang meraih prestasi.

Perubahan pertama, dari mengelola waktu ke mengelola energi
Prestasi kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita miliki. Bahkan kita tak sanggup mengendalikan waktu. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki waktu sampai tuntas hari ini, apalagi esok hari. Meski hari ini kita “tidak melakukan apa-apa”, kita tak bisa menyimpan waktu kita untuk jaminan esok hari. Prestasi kita tampak dari kontribusi yang kita beri dengan mengelola energi seoptimal mungkin untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya yang tersedia. Mari kita teliti, apakah kita sebenarnya sedang “mengelola waktu” atau menyusun prioritas aktivitas dan mengelola enerji?

Perubahan kedua, dari menghindari tekanan ke mengelola tantangan.
Beberapa orang menyangka akan bahagia hidupnya dengan sedikit bekerja, punya banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang mengira, hidupnya akan lebih leluasa bila tanpa tujuan dan rencana. Menghindari tekanan katanya. Namun ketika terlena dan sampai tiba waktunya banyak peluang terbuang percuma dan banyak hal berharga tak mampu dirasa, baru ketemu pemahaman baru menghindari tekanan malah ketemu tekanan yang baru. Para peraih prestasi biasanya menjadi “pendaki”. Mereka tak menghindari tekanan, tetapi mengelola tantangan dengan mempertimbangkan sumber daya dan peluang yang tersedia. Bagi pendaki, puncak yang layak dinikmati dicapai melalui perjuangan tiada henti. Itulah yang mereka nikmati.

Perubahan ketiga, dari berpikir positif ke bertindak konstruktif.
Anjuran masa lalu, pikirkan yang positif hindari berpikir yang negatif., mungkin perlu dikaji kembali. Beberapa orang kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu mengusir pemikiran yang negatif. Ada juga yang jadi sebel karena dipaksa hanya memikirkan yang positif dan membuang yang negatif. “Kenyataanya di dunia ini tidak hanya ada yang positif!”, begitu katanya. Hmm…benar juga, “..bahkan memikirkan yang negatif membuat kita bisa mempelajari, mewaspadai dan mengantisipasinya..”, tambahhnya. Bener juga ya…bukankah prestasi diraih dengan melipatgandakan “yang positif” dan menyiasati “yang negatif”?. Jadi, bukan hanya berpikir positif, tapi bertindak konstruktif.

Sementara demikian, lain waktu dilanjutkan.

Written by Hari Setyowibowo

March 10th, 2018 at 8:15 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Orang yang PeDe

without comments

“Percaya pada diri Anda dan Anda tak terhentikan” -Emily Guay-

Percaya Diri (PeDe) mendukung upaya kita dalam meraih keberhasilan, menjalin hubungan yang sehat dan kesejahteraan. PeDe dalam tulisan ini merujuk pada perasaan yakin terhadap keunikan kekuatan yang dimiliki diri sendiri berdasarkan pada pengalaman keberhasilan dan mengakui keterbatasan.

Orang yang PeDe merasakan bahwa dirinya positif, berharga dan bernilai. Mereka berbeda dengan orang yang tampil arogan atau sombong. Tampil arogan justru menandakan rendahnya kepercayaan diri. Hal itu dilakukan untuk melindungi keterancaman atau menyembunyikan kelemahannya. Orang yang arogan terlalu berorientasi pada diri sendiri, ingin selalu mendominasi pembicaraan, sangat khawatir jika mereka tidak cukup baik, sehingga mereka merasa harus membanggakan diri di setiap kesempatan. Perilaku tersebut bukannya menggambarkan kepercayaan diri seseorang, tetapi justru menggambarkan rendahnya kepercayaan diri orang tersebut.

“Arogansi merupakan bentuk pembelaan diri karena sebenarnya ia tidak percaya diri”- (Ros Taylor dan kolega, 2009)

Orang yang PeDe merasa nyaman karena mengenali dengan baik kekuatannya, menerima keterbatasannya, sehingga bisa lebih tenang, bersedia mendengarkan, dan belajar dari orang lain.

“..munculnya kepercayaan diri diawali dari mengetahui bahwa Anda mempunyai kecakapan dan percaya bahwa Anda bisa menggunakan keahlian yang Anda miliki untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”(Kouzes dan Posner 2011)

Selain memiliki pemahaman yang memadai mengenai kemampuan dan potensi yang dimiliki, kepercayaan diri juga melibatkan pemahaman yang akurat terhadap nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Ketika kita memiliki pemahamanan dan keyakinan yang kuat terhadap nilai yang kita anut, maka kita akan dengan percaya diri mempertahankannya. Dan ketika kita sangat memahami kemampuan diri sendiri, kita akan dapat menggunakannya seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

“..kepercayaan diri muncul karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap nilai, kemampuan, serta tujuan yang kita miliki..” Daniel Goleman (2003)

 

Written by Hari Setyowibowo

January 31st, 2016 at 4:05 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Lingkar Berbagi Apresiasi

without comments

Lingkar Berbagi Apresiasi merupakan metode yang digunakan untuk memfasilitasi perubahan positif berlandaskan pada beberapa pemahaman dasar, yaitu:

  • Lingkar bermakna bersama, menjadi bersama, dan secara langsung berpartisipasi aktif dalam interaksi.
  • Berbagi bermakna berdialog, memberi-menerima dan belajar dari satu sama. Aktivitas saling memperkaya dan menguatkan.
  • Apresiasi bermakna mengakui, menghargai dan memberi nilai tambah.

Dalam prakteknya, metode Lingkar Berbagi Apresiasi terdiri dari tiga fase, yaitu:

#Fase 1: Berbagi Harapan (Sharing Expectation) : Partisipan difasilitasi untuk berbagi harapan mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan dan menyatakan komitmennya untuk aktif terlibat dalam aktifitas.

#Fase 2: Eksplorasi Sumber Daya (Exploring Resources) : Partispan difasilitasi untuk mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan atau yang tersedia.

#Fase 3 : Merancang Masa Depan (Arranging The Future) : Partisipan difasilitasi untuk memformulasikan gambaran keberhasilan yang ingin dicapai dengan menyediakan dukungan dan tahapan untuk mencapainya.

Bila Anda berminat untuk belajar dan berbagi bersama tentang metode fasilitasi ini. Saya akan menyambutnya dengan senang hati.

Mari Berbagi !

Written by Hari Setyowibowo

January 17th, 2013 at 1:21 pm

Posted in Berbagi Pemikiran

TIGA JALAN PENINGKATAN KUALITAS

without comments

Masa depan harus lebih baik dari masa sekarang adalah tekad kebanyakan orang. Menjadi lebih berkualitas adalah impian sebagian besar dari kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Marcus Buckingham (2005), mengungkapkan tiga pendekatan yang dilakukan orang atau organisasi untuk meningkatkan kualitas. Tiga pendekatan tersebut adalah :

“TEMUKAN TAKTIK YANG BENAR DAN TERAPKANLAH”

“TEMUKAN CACAT-CACAT ANDA DAN PERBAIKI”

“TEMUKAN KEKUATAN-KEKUATAN ANDA DAN GALILAH”

Written by Hari Setyowibowo

January 15th, 2013 at 2:09 pm

Posted in Berbagi Pemikiran

Perguruan Palu Gada | leapinstitute.com

without comments

Written by Hari Setyowibowo

February 4th, 2011 at 3:36 am

Posted in Berbagi Pemikiran