Berbagi Pemikiran

“satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman” _Albert Einstein

Teknik Fasilitasi pada dasarnya merupakan “alat bantu” fasilitasi. Semakin efektif seorang fasilitator dalam menggunakan teknik fasilitasi, semakin mudah ia membantu peserta mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu faktor kunci keberhasilan fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran adalah pemilihan teknik yang tepat pada setiap tahapan pembelajaran.
Berdasarkan kajian kepustakaan dan rangkaian pengalaman kami dalam memfasilitasi, kami rekomendasikan ragam teknik fasilitasi yang dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :
A. Membangun landasan belajar
B. Mempercepat penguasaan
C. Mengoptimalkan pencapaian

A. Membangun Landasan Belajar
Aktivitas pembelajaran pada bagian ini ditujukan untuk memfasilitasi kesiapan peserta untuk belajar serta membangkitkan ketertarikan dan kesediaan peserta untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Contoh aktivitas membangun landasan pembelajaran :
⇒ Penataan Lingkungan Fisik, ragam aktivitas untuk menciptakan lingkungan fisik kelas yang nyaman dan membangkitkan minat dan semangat peserta selama berada di kelas.
⇒ Pencairan Suasana & Pembangkit Semangat, ragam aktivitas untuk membantu peserta mengurangi kecanggungan, memfasilitasi peserta merasakan iklim belajar yang menyenangkan, melancarkan interaksi antar peserta dan mengembalikan gairah belajar peserta.
⇒ PEMBULATAN TEKAD BELAJAR, ragam aktivitas berikut untuk memfasilitasi peserta menemukan ketertarikan pada pembelajaran, mengeksplorasi manfaat pembelajaran, berbagi harapan dan membangun komitmen untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

B. Mempercepat Penguasaan
Ragam aktivitas pada bagian ini, sebaiknya disajikan ketika peserta telah siap mengikuti pembelajaran. Berikut contoh tekik fasilitasi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta mempercepat penguasaan materi pembelajaran atau mencapai tujuan pembelajaran:
# PERMAINAN INSPIRATIF: Fasilitator menghadirkan pengalaman belajar yang dikemas dalam sebuah dan atau serangkaian permainan yang dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran, kondisi peserta dan sumber daya yang tersedia.
# PRESENTASI INTERAKTIF: Fasilitator memulai presentasi dengan informasi yang mengejutkan peserta dan menghentikan presentasi secara periodik untuk mengajukan pertanyaan. Peserta membahas pertanyaan tersebut secara berpasangan kemudiaan menyatakan jawabannya. Fasilitator memberikan umpan balik atas jawaban yang diberikan.
# PENEMUAN METAFORA: Fasilitator menggunakan benda, binatang atau tumbuhan yang dikenali peserta sebagai perumpamaan untuk memudahkan peserta memahami materi pembelajaran. Teknik ini bisa juga dilakukan dengan meminta peserta menemukan metafora (perumpamaan) untuk menggambarkan materi pembelajaran agar mudah dipahami dan atau diingat.
# VIDEO INTERAKTIF: Fasilitator menayangkan sebuah tayangan video kepada peserta dan meminta peserta mencatat poin-poin kunci dari video yang ditayangkan. Seusai penayangan, peserta berdiskusi mengenai poin-poin kunci yang mereka buat.
# REKONSTRUKSI: Fasilitator meminta peserta berkelompok dan memberikan kelompok kartu-kartu yang berisikan bagian-bagian dari materi yang memiliki sekuen / urutan prosedural. Peserta akan mengurutkan kartu sesuai dengan urutan prosedur yang benar dan menjelaskan mengapa urutan tersebut mereka susun sedemikian rupa.
# JIGSAW PUZZLE: Fasilitator membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan bagian dari suatu materi belajar. Setelah mendiskusikan materi, setiap kelompok dibagi menjadi dua atau lebih sub kelompok. Beberapa sub kelompok akan menjadi perwakilan kelompok untuk bertamu ke kelompok lain dan mencari informasi mengenai materi yang dikuasai kelompok lain tersebut. Satu sub kelompok akan menjadi tuan rumah yang akan menjelaskan materi kepada perwakilan tamu dari sub kelompok lain. Setelah selesai, seluruh perwakilan kelompok akan kembali ke kelompoknya dan memberikan penjelasan tentang materi yang mereka pelajari dari kelompok lain. Fasilitator mengakhiri sesi dengan mereview semua materi yang telah dipelajari dengan seluruh peserta.
# DESAIN POSTER: Fasilitator memberikan bagian materi pelajaran kepada setiap peserta. Peserta diminta membuat sebuah gambaran visual tentang bagian materi yang diperolehnya dengan menggunakan flip chart kemudian memajang hasil pekerjaannya di dinding kelas dan mempresentasikannya kepada peserta lain.
#MNEMONIC: Fasilitator menggunakan singkatan nama, rima (seperti akhiran dalam puisi), akronim ketika menyajikan infomasi/materi pembelajaran. STAR : Stimulate, Transfer, Apply, Review
# DEMONSTRASI: Fasilitator mendemonstrasikan cara-cara yang benar dalam melakukan pekerjaan. Peserta memperhatikan fasilitator dan kemudian menirunya.
# BERMAIN PERAN: Fasilitator meminta peserta untuk memerankan suatu situasi yang mungkin dialaminya di pekerjaan ataupun di kehidupan sehari-hari
# SOSIO DRAMA: Fasilitator meminta kelompok peserta untuk merancang dan menampilkan rangkaian adegan yang menggambarkan suatu situasi sosial yang merepresentasikan materi pembelajaran.

C. Mengoptimalkan Pencapaian
Ragam aktivitas pada bagian ini dimanfaatkan untuk mengoptimalkan materi pembelajaran yang telah berhasil dipelajari peserta dengan cara mengkaji ulang, mengeksplorasi, menerapkan dan mempraktekkanya. Berikut beberapa contoh yang biasanya kami lakukan:
# VISUAL AID REVIEW: Fasilitator menampilkan kembali materi pembelajaran yang disajikan melalui alat bantu visual dan menanyakan kembali kepada peserta tentang poin-poin penting di dalamnya. Peserta diminta menjawab pertanyaan dengan menjelaskan maksud dari setiap poin & mengapa poin tersebut penting.
# BENAR ATAU SALAH: Fasilitator memberikan masing-masing peserta secarik kertas yang berisikan setengah informasi yang benar dan setengah informasi salah. Peserta akan menentukan mana informasi yang benar dan mana yang salah dengan mengemukakan alasannya.
# PERTIMBANGKAN KEMBALI: Fasilitator meminta peserta menuliskan pandangannya tentang materi pelajaran di awal dan akhir sesi. Peserta kemudian mengemukakan apakah pandangan mereka terhadap materi yang diberikan masih sama atau telah mengalami perubahan. Fasilitator memberikan apresiasi atas perubahan positif yang dialami peserta.
# TEKA-TEKI SILANG: Fasilitator menyiapkan teka-teki silang sederhana dengan jawaban yang berisikan istilah penting dalam materi pelajaran. Peserta menjawab teka-teki secara berpasangan dengan menggunakan petunjuk yang diberikan seperti definisi singkat, kategori kata, contoh dan lawan kata.
# TUNJUKKAN ANDA TAHU: Fasilitator meminta peserta memperagakan suatu proses ataupun seri dari suatu proses yang berkaitan dengan materi pelajaran. Peserta mempraktekkannya sambil mengucapkan keras-keras apa yang sedang mereka lakukan dalam setiap tahapnya dan mengapa mereka melakukannya.
# LATIHAN BERPASANGAN: Fasilitator meminta peserta berpasangan kemudian memberikan kartu berisikan gambaran situasi nyata yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setiap pasangan akan menjelaskan secara detail bagaimana mereka akan mengatasi situasi tersebut berdasarkan pada pengetahuan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# KONSULTASI SESAMA REKAN: Fasilitator meminta seorang peserta untuk menyatakan masalah yang dihadapinya yang berhubungan dengan materi pelajaran yang baru mereka dapatkan. Peserta lain akan membantu peserta tersebut untuk memberikan solusi dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# PERKIRAAN RINTANGAN: Fasilitator meminta seorang peserta memperkirakan rintangan yang akan dihadapi saat menerapkan pengetahuan baru yang mereka peroleh dari sesi pelatihan. Fasilitator kemudian meminta peserta lain untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan secara riil di kehidupan nyata peserta.
# BERBAGI KISAH & HARAPAN: Fasilitator meminta peserta untuk menceritakan proses dan hasil belajar yang mereka capai. Peserta diminta untuk menemukan manfaat apa yang mereka peroleh dari sesi pembelajaran, dan memikirkan tentang bagaimana mereka dapat menerapkan apa yang telah dipelajari dari sesi pelatihan di kehidupan nyata.

Referensi:
Lou Russel.2011. The Accelerated Learning Fieldbook: Panduan belajar cepat untuk pelajar dan umum. Diterjemahkan olehM Irfan Zakkie.Bandung: Nusa Media
Meier, Dave. 2000. The Accelerated Learning Handbook. United States of America: McGraw-Hill.
Silberman, Mel. 2005. 101 Ways To Make Training Actives. Pfeiffer.

Read more

Pagi ini, saat sedang minum kopi. Seorang sahabat, mengirim pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sanggup melahirkan tulisan spontan. Saat menulis ini, saya terkesan oleh sahabat-sahabat saya yang berhasil mendaki dan meraih prestasi. Bisa jadi itu kamu, iya kamu.
Setidaknya, ada tiga pesan yang saya pelajari dari sahabat-sahabatku yang berprestasi itu. Tiga pesan yang merubah paradigma saya tentang meraih prestasi.

Perubahan pertama, dari mengelola waktu ke mengelola energi
Prestasi kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita miliki. Bahkan kita tak sanggup mengendalikan waktu. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki waktu sampai tuntas hari ini, apalagi esok hari. Meski hari ini kita “tidak melakukan apa-apa”, kita tak bisa menyimpan waktu kita untuk jaminan esok hari. Prestasi kita tampak dari kontribusi yang kita beri dengan mengelola energi seoptimal mungkin untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya yang tersedia. Mari kita teliti, apakah kita sebenarnya sedang “mengelola waktu” atau menyusun prioritas aktivitas dan mengelola enerji?

Perubahan kedua, dari menghindari tekanan ke mengelola tantangan.
Beberapa orang menyangka akan bahagia hidupnya dengan sedikit bekerja, punya banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang mengira, hidupnya akan lebih leluasa bila tanpa tujuan dan rencana. Menghindari tekanan katanya. Namun ketika terlena dan sampai tiba waktunya banyak peluang terbuang percuma dan banyak hal berharga tak mampu dirasa, baru ketemu pemahaman baru menghindari tekanan malah ketemu tekanan yang baru. Para peraih prestasi biasanya menjadi “pendaki”. Mereka tak menghindari tekanan, tetapi mengelola tantangan dengan mempertimbangkan sumber daya dan peluang yang tersedia. Bagi pendaki, puncak yang layak dinikmati dicapai melalui perjuangan tiada henti. Itulah yang mereka nikmati.

Perubahan ketiga, dari berpikir positif ke bertindak konstruktif.
Anjuran masa lalu, pikirkan yang positif hindari berpikir yang negatif., mungkin perlu dikaji kembali. Beberapa orang kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu mengusir pemikiran yang negatif. Ada juga yang jadi sebel karena dipaksa hanya memikirkan yang positif dan membuang yang negatif. “Kenyataanya di dunia ini tidak hanya ada yang positif!”, begitu katanya. Hmm…benar juga, “..bahkan memikirkan yang negatif membuat kita bisa mempelajari, mewaspadai dan mengantisipasinya..”, tambahhnya. Bener juga ya…bukankah prestasi diraih dengan melipatgandakan “yang positif” dan menyiasati “yang negatif”?. Jadi, bukan hanya berpikir positif, tapi bertindak konstruktif.

Sementara demikian, lain waktu dilanjutkan.

Read more

Lingkar Berbagi Apresiasi merupakan metode yang digunakan untuk memfasilitasi perubahan positif berlandaskan pada beberapa pemahaman dasar, yaitu:

  • Lingkar bermakna bersama, menjadi bersama, dan secara langsung berpartisipasi aktif dalam interaksi.
  • Berbagi bermakna berdialog, memberi-menerima dan belajar dari satu sama. Aktivitas saling memperkaya dan menguatkan.
  • Apresiasi bermakna mengakui, menghargai dan memberi nilai tambah.

Dalam prakteknya, metode Lingkar Berbagi Apresiasi terdiri dari tiga fase, yaitu:

#Fase 1: Berbagi Harapan (Sharing Expectation) : Partisipan difasilitasi untuk berbagi harapan mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan dan menyatakan komitmennya untuk aktif terlibat dalam aktifitas.

#Fase 2: Eksplorasi Sumber Daya (Exploring Resources) : Partispan difasilitasi untuk mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan atau yang tersedia.

#Fase 3 : Merancang Masa Depan (Arranging The Future) : Partisipan difasilitasi untuk memformulasikan gambaran keberhasilan yang ingin dicapai dengan menyediakan dukungan dan tahapan untuk mencapainya.

Bila Anda berminat untuk belajar dan berbagi bersama tentang metode fasilitasi ini. Saya akan menyambutnya dengan senang hati.

Mari Berbagi !

Read more

Sumber kecemasan fasilitator :

a.Materi. Materi yang kurang dikuasai dengan baik dapat menjadi sumber kecemasan. Fasilitator dapat menjadi kurang percaya diri apabila ia merasa ia kurang menguasai/mengetahui tentang suatu materi yang akan diberikannya.

b.Tim. Tim kerja yang kurang mendukung fasilitator dalam memberikan pelatihan bahkan yang perilaku tim yang dapat menjatuhkan kredibilitas fasilitator di depan peserta.

c.Peserta. Banyak hal dari peserta yang dapat memicu kecemasan kita antara lain karakteristik dan perilaku peserta saat pelatihan.

d.Fasilitas. Keterbatasan fasilitas pelatihan merupakan salah satu pemicu yang dapat mengganggu focus konsentrasi fasilitator dalam menyampaikan pelatihan

e.Diri sendiri. Ketakutan, ketidakpercayaan diri, rasa kurang memiliki pengetahuan dan banyak hal dalam diri yang memicu munculnya kekhawatiran dalam diri.

Tips untuk Mengatasi kecemasan sebelum memfasilitasi, antara lain :

Persiapan
Siapkan dan tata segala hal yang anda butuhkan untuk menjalankan kelas pelatihan baik dari sisi materi, tim maupun fasilitas yang dibutuhkan.

Persiapan Materi :
– Susun materi sesuai dengan kebutuhan peserta
– Susun alur/agenda pelatihan sesuai dengan kebutuhan peserta
– Kembangkan material pelatihan yang dibutuhkan (slide, handout, workbook, references)
– Pastikan Anda menguasai materi yang akan diberikan

Persiapan Tim Fasilitator :
– Briefing dengan tim yang akan bekerjasama dengan anda dalam memberikan pelatihan, jelaskan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim.

Persiapan Fasilitas :
– Persiapkan audiovisual untuk melakukan pelatihan
– Persiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk menunjang metode pelatihan

Visualisasi
Dengan menciptakan bayangan visual tentang keadaan kelas pelatihan yang akan dibawakan, anda secara aktual membuat perilaku yang diinginkan dengan spesifik yang akan membuat anda untuk melakukan hal tersebut pada kelas yang akan anda bawakan. Visualisasikan kelas pelatihan dalam pikiran anda. Bayangkan jalannya pelatihan dari awal hingga akhir. Mengingat hal ini dilakukan dalam bayangan anda, bebaskan diri anda dari segala kecemasan dan ketika anda sedang dalam kelas pelatihan bayangan anda, ciptakan peserta-peserta yang penuh keingintahuan dan bayangkan kesuksesan pencapaian tujuan pelatihan.

Latihan
Berlatih untuk menyampaikan materi pelatihan. Latihan akan membuat anda lebih yakin bahwa anda memang mampu untuk melakukannya.

Relaksasi
Banyak cara untuk melakukan relaksasi. Metode-metode yang dapat dilakukan antara lain: Menikmati hiburan, Mengelola Pernafasan dan Relaksasi Otot.

Temukan Pendukung
Pendukung adalah orang-orang yang bersedia memberikan penguatan pada Anda, melalui pernyataan verbal maupun non verbal.

(bersambung)

Read more

Dalam sebuah pelatihan, akan memungkinkan ada beberapa orang peserta yang menantang, mengkonfrontasikan dan merusak suasana pelatihan. Individu-individu ini harus ditangani sesuai dengan tingkah laku dan gaya mereka. Jika tidak, mereka akan mempengaruhi sikap negatif kepada peserta yang lainnya dan memperburuk suasana pelatihan.

Lingkungan belajar yang interaktif membuka kesempatan untuk para peserta yang menyulitkan untuk muncul. Pada pelatihan yang menekankan pada peserta (participant centered), teknik menangani orang-orang sulit ini merupakan salah satu teknik yang paling penting untuk mencegah terganggunya proses pelatihan. Tetapi tidak selalu memungkinkan untuk mencegah mereka.

Berikut ini adalah 10 tipe peserta yang merepotkan dan beberapa cara yang dapat digunakan oleh fasilitator untuk menanganinya.

THE SNIPER
Seperti namanya, peserta ini bekerja secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya adalah secara diam-diam berupaya untuk menurunkan kredibilitas Anda sebagai fasilitator dimata peserta yang lain. Hal ini mungkin terjadi saat perbincangan dengan peserta lain selama aktivitas kelompok. Hal ini mungkin juga terjadi di luar kelas saat istirahat. Peserta tipe ini hanya bekerja secara tersembunyi, jika fasilitator menghilangkan kesempatan ini maka peserta tipe ini tidak akan membuat kerusakan yang mengganggu pelatihan, Ia tidak akan dapat mempengaruhi peserta lain. Jika dibiarkan maka peserta ini dapat membuat banyak kerusakan dalam proses pelatihan.

Teknik menangani:
– Ciptakan suatu panduan untuk sesi yang produktif dengan berjalan mengelilingi peserta dan mendengar dengan baik saat aktivitas diskusi. Hal ini akan memunculkan semua peserta sehingga peserta tipe ini tidak mendapatkan kesempatan untuk mempengaruhi orang lain.
– Ciptakan kelompok baru dengan merotasikan peserta. Bila perlu, lakukan ini satu kali setap harinya. Hal ini membuat peserta untuk bekerja dengan orang lain dan membuat peserta ini tidak dapat menciptakan pengikut karena ia membutuhkan waktu untuk itu.
– Jika anda telah menduga bahwa seseorang telah menjadi The Sniper, tanyakan suatu pertanyaan padanya. Ajak dia untuk terlibat. Beberapa pertanyaan yang bisa anda pergunakan antara lain: “Bagaimana pendapat anda?”, ‘Bagaimana anda menangani situasi ini?”, “Cara lain apa yang terpikir oleh anda untuk menangani masalah ini?”.
– Diskusi kelompok membuat The Sniper terlibat dalam proses diskusi dan jika ia cenderung untuk menyebarkan pengaruh negatif, kemungkinan akan banyak partisipan yang melawannya.
– Jika hal ini semakin menjadi, ajak dia untuk berbicara secara pribadi.

THE FIGHTER
Seperti layaknya petarung, tipe ini menyukai pertengkaran. Peserta tipe ini menyukai melawan dan menantang orang lain. Individu ini biasanya memiliki kepribadian yang kuat dan sangat keras dalam mengajukan pendapat serta agresif untuk memastikan bahwa orang lain mendengarkannya. Mereka memiliki mentalitas “Saya Menang dan Anda Kalah”. Kekuasaan dan kekuatan adalah penting agar mereka memiliki kendali.

Teknik menangani:
– Pergunakan keinginan berkelahinya sebagai bahan diskusi, apa yang terjadi, apa yang dapat dipelajari dan bagaimana kondisi aktual dalam pekerjaan.
– Pergunakan tiga pertanyaan ini kepada peserta untuk memberikan feedback yaitu Apa yang benar mengenai situasi tersebut?, Bagaimana situasi itu dapat ditangani secara berbeda? Dan Bagaimana anda memodifikasi tingkah laku untuk mengimplemetasikannya?.
– Perkenalkan sudut pandang yang berbeda.
– Pergunakan Bola Bicara. Sehingga peserta yang ingin menantang lebih sedikit kesempatannya.

THE COMPLAINER
Peserta tipe ini adalah individu selalu yang mencari hal-hal yang dapat dikeluhkan. Menurut mereka, tidak ada yang berjalan dengan baik. Mereka dikenal sebagai orang yang mengeluh atau orang dengan sindroma “aku tidak bisa”. Yang mereka inginkan adalah perhatian dan mengeluh bagaimana mereka mendapatkannya. Ia enggan untuk mencoba suatu hal yang baru dan bekerjasama dengan orang lain untuk menyelesaikan tugas dengan alasan tidak mampu. The Complainer menginginkan simpati bahwa ia adalah korban yang mencari penyelamat untuk memperhatikannya. Ia selalu memberikan alasan kenapa tidak bisa melakukan sesuatu atau kenapa sesuatu tidak berjalan dengan baik.

Teknik menangani:
– Minta mereka untuk menjelaskan situasi yang mereka rasakan
– Jangan coba-coba untuk menjadi penolong! Setelah situasinya jelas, tanyakan: “apa yang tidak berjalan?”, “cara apa lagi menurut anda tepat untuk menangani situasi ini?”.
– Tanyakan apakah ada pelajaran tambahan yang ia inginkan untuk ia pelajari Pergunakan aktivitas tim yang memiliki peran yang spesifik
– Tanyakan pada dirinya “langkah apa yang dapat kamu ambil untuk dapat maju?” atau “bagaimana anda menangani situasi ini untuk maju ke arah yang lebih produktif?”

THE HECKLER
Peserta tipe ini adalah individu yang menginginkan untuk dilihat dan akan menyela untuk mendapatkan perhatian. Ia akan membuat komentar untuk tim dan biasanya dengan niat untuk menjadi lelucon dan dengan suara keras agar dapat didengar. Ia adalah individu yang sering melemparkan lelucon yang tidak berkaitan dengan topik diskusi untuk mencari perhatian orang lain.

Teknik menangani:
– Dekati The Heckler ini dan katakan : maaf, saya melewatinya tadi. Apa observasimu? Atau apakah anda punya pertanyaan?
– Secara sopan berikan perhatian kepada tata tertib pelatihan
– Peserta tipe ini tidak suka untuk di pamerkan. Dengan konfrontasi akan meminimalkan keinginannya
– Secara pribadi, minta padanya untuk meminimalkan lelucon-leluconnya.
– Rangkum seluruh sessi sebelum terjadi gangguan lelucon tersebut sehingga partisipan dapat kembali fokus pada proses diskusi
– Peserta lain mungkin akan mengingatkannya dengan cara yang lebih tidak sopan.

THE TALKER
Peserta ini adalah individu yang selalu memiliki opini mengenai berbagai macam hal dan menginginkan agar semua orang mendengarkannya. Ia akan menjelaskan dengan detil meskipun kedetilan ini tidak diperlukan. Ia memiliki kesulitan untuk meng-edit informasi yang dimilikinya. The Talker ini selalu siap dan ingin berbicara kepada siapapun yang mau mendengarkannya.

Teknik menangani:
– Dengan menggunakan teknik “bola bicara” dapat meminimalkannya. Yang memegang bola yang berbicara, yang lainnya tidak. Peserta yang melempar dan menentukan siapa yang akan bicara berikutnya. Biasanya The Talker tidak akan mendapatkan bola tersebut.
– Ubah peserta dalam tim
– Tekankan prinsip KISS (keep it simply structured) dalam berkomentar

THE STUBBORN
Seperti rekaman yang rusak, peserta ini seperti berhenti pada satu poin (fokus yang sempit) dan tidak mau berubah. Mereka memiliki pemikiran yang spesifik dan tidak terbuka dengan ide lain. Mereka memiliki Closed-minded. Biasanya The Stubborn memfokuskan pada bagaimana ia akan berespon ketika ia ditanya apa yang ia dengar dan ia akan mengakui bahwa ia tidak terlalu mendengarkannya. Tujuannya bukan untuk mempermalukannya tetapi untuk menunjukkan ada pandangan yang berbeda. Fasilitator dapat memberikan rangkuman dari beberapa pandangan tersebut. Dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menekankan pentingan memahami berbagai sudut pandang.

Teknik menangani:
– Ingatkan mengenai keanekaragaman pemikiran. Mereka tidak harus selalu setuju tetapi adalah penting untuk memahami berbagai sudut pandang.
– Jika ia tetap bersikeras dan memegang jalannya sesi, ubah fokusnya dengan mempergunakan pertanyaan. Sebagai contoh fasilitator dapat berkata: “itu merupakan salah satu sudut pandang dari situasi ini, sekarang ada pendapat lain? (gunakan bola bicara) ketika sampai pada The Stubborn tanyakan “apa yang anda dengar?” Biasanya The Stubborn memfokuskan pada bagaimana ia akan berespon ketika ia ditanya apa yang ia dengar dan ia akan mengakui bahwa ia tidak terlalu mendengarkannya. Tujuannya bukan untuk mempermalukannya tetapi untuk menunjukkan ada pandangan yang berbeda. Fasilitator dapat memberikan rangkuman dari beberapa pandangan tersebut. Dan ini merupakan kesmpatan yang baik untuk menekankan pentingnya memahami berbagai sudut pandang.

THE KNOW-IT-ALL
Individu ini selalu ingin menambahkan sesuatu untuk setiap diskusi dan selalu memiliki komentar dari yang dibicarakan peserta lain. Ia menganggap dirinya sebagai yang paling tahu segalanya. Kegemaran peserta ini adalah mengajukan pendapat. Kegemarannya ini bisa jadi karena ia cerewet, keras kepala dengan pendapatnya atau ia merasa mengetahui segalanya. Jika ini dibiarkan, ia akan mengganggu dan peserta lain akan mulai bebrbicara dengan pendekatan yang negatif untuk menghadapinya.

Teknik menangani:
– Tunggu sampai ia menarik napas kemudian ucapkan terimakasih dan katakan, “mari kita dengar dari yang lainnya”.
– Buat The Know-It-All ini berpikir dengan mengajukan suatu pertanyaan yang sulit pada dirinya.
Jika ia jelas-jelas melakukan kesalahan maka ajukan kembali kepada peserta lain untuk memperbaikinya.
– Gunakan bola sebagai alat bantu. Peserta yang memegang bola adalah peserta yang berbicara, setelah ia selesai berbicara maka lemparkan bola tersebut dan orang berikutnya yang berbicara. Sehingga orang yang terlalu sering berbicara akan diam jika bukan gilirannya.

THE OFF-TRACK
Biasanya, peserta tipe ini seringkali tidak sejalan dengan topik diskusi dan tidak dapat mengerti topik diskusi tersebut. Mereka mungkin punya ide bagus tetapi mereka tidak fokus. Mereka berpkir secara keras dan mungkin tidak mengerti materi yang diberikan. Seringkali, mereka cenderung menampilkan diri mereka sebagai individu yang kekurangan rasa percaya diri dengan menempatkan diri mereka lebih rendah dihadapan peserta lainnya.

Teknik menangani:
– Saat latihan atau diskusi dalam kelompok, tekankan untuk melakukan dengan benar tanpa terburu-buru. Hal ini akan membangun rasa percaya diri.
– Saat aktivitas dalam kelompok, buat jadwal dengan tugas yang sangat spesifik. Hal ini membantu mereka untuk tetap fokus
Tanyakan pertanyaan yang spesifik yang menuntut jawaban yang telah terspesifik pula

THE DROOPY EYES
Peserta tipe ini adalah peserta yang tampak tidak bersemangat dalam mengikuti pelatihan seperti hobi terlambat, malas mengerjakan tugas dan seringkali mengantuk ketika sedang berlangsung proses pembelajaran. Mereka tidak memperhatikan pada proses pelatihan. Mereka tidak mengganggu, bahkan tidak peduli.

Teknik menangani:
– Dalam aktivitas tim, Jaga agar ia tetap terlibat. Dengan terlibat maka ia akan lebih banyak menggunakan tubuhnya sehingga dapat tetap terjaga untuk fokus sehingga tidak mengantuk. Cara ini merupakan cara paling efektif.
– Pastikan anda tetap melibatkannya ketika memberikan pertanyaan. Terutama dengan bola sehingga ia akan tetap terbangun walaupun dengan sedikit kaget! Bangun situasi yang terpusat pada partisipan dan sangat interaktif sehingga tidak waktu untuk mereka-mereka ini untuk tidur siang.

Semakin banyak jam pelatihan yang Anda alami. Tentu semakin banyak pengalaman Anda dalam menghadapi berbagai tipe peserta. Apapun yang akan anda lakukan, ingatlah PADA DASARNYA SETIAP PESERTA ADALAH ORANG BAIK. Selamat berlatih.

Read more