Author's Posts

Hubungan yang sehat bersama pasangan tidak terjadi begitu saja. Apakah anda merasa aman karena pasangan memiliki beragam kebaikan? Apakah anda tetap yakin akan selalu dimaklumi? Bila beberapa hal dibawah ini sering hadir dalam percakapan anda dengan pasangan, sebaiknya pikirkan kembali dan mulai membenahi diri.

1. Saling menyerang saat menghadapi perbedaan. Masalah akan selalu hadir dalam kehidupan bersama pasangan. Kebersamaan menghadapi masalah, kolaborasi menemukan solusi, akan semakin menguatkan jalinan harmoni bersama kekasih hati. Perbedaan dalam menghadapi permasalahan adalah keniscayaan. Bagaimana pasangan menghadapinya akan menentukan, jalinan asmara semakin kukuh atau luruh. Perhatikan cara bicara anda dan pasangan: apakah saling menaikkan nada bicara dan menajamkan ekspresi wajah sehingga terkesan ketus? Apakah ada niat untuk berdiskusi atau setiap orang sibuk dengan pikiran sendiri? Apakah saling menghargai kontribusi meski belum memperoleh solusi? merasa aman berbagi gagasan tanpa khawatir disalahkan?

2. Saling menyalahkan, bukan mengingatkan. Mengherankan, lebih pasnya menyedihkan, ketika ada orang yang membiarkan bahkan menikmati pasangannya tersiksa dengan perasaan bersalah. Masalah akan semakin rumit dan melelahkan bila setiap pihak sibuk membela diri dan menyangkal kontribusi. Lebih parah lagi bila ditambah dengan terang-terangan menuduh atau pelan-pelan menyudutkan dan menghadirkan perasaan bersalah. Pasangan kita bukan sosok sempurna, selalu akan ada kekurangan dan kesalahan. Maka dari itu, pasangan perlu belajar saling memberi dan menerima umpan balik yang mengembangkan bukan meruntuhkan.

3. Memulai dan mengakhiri hari dengan pernyataan negatif. Apa yang biasa terjadi di pagi hari bersama pasangan anda? Bersyukurlah bila memiliki kebiasaan berbagi kelembutan kepedulian dan kehangatan kasih sayang. Waspada, bila masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri, saling menuntut diperhatikan. Dan, pamer tampang dingin dan menyebalkan. Apa yang akan terjadi seharian bila awalnya seperti ini? Begitu pula saat malam menjelang, ketika lelah dan gerah melanda. Bersyukurlah, kalau anda dan pasangan bisa saling berbagi dan menyegarkan diri. Waspada, bila anda dan pasangan berbagi mimpi buruk bahkan sebelum tidur dimulai.

4. Mudah salah paham, sulit memaafkan. Salah paham tak terelakkan. Salah paham sering terjadi bila setiap pihak menuntut dimengerti. Kesediaan untuk mendahulukan mengerti, setelah itu memudahkan untuk dimengerti akan membantu pasangan menjalin saling pengertian. Waspada bila anda mudah salah paham karena menyuburkan prasangka atau enggan konfirmasi dan klarifikasi. Hati-hati, pertengkaran sering diawali karena salah paham dan saling menyalahkan.

5. Gampang NGeluh, NGambek, NGomel, NGecam. Tekanan hadir silih berganti. Semakin lama, akan saling mengenali kekuatan dan keterbatasan pasangan. Hati-hati, bila anda gampang ngeluh, ngambek, ngomel dan ngecam. Mungkin anda menikmati karena setelahnya anda merasa sesak di dada lepas, tapi coba hayati apa yang dipikirkan dan dirasakan pasangan anda. Mungkin ia diam dan menahan diri, tapi bila hal ini terjadi setiap hari…sebaiknya anda mempertimbangkan dampak buruk yang akan terjadi nanti.

Sementara segini dulu, apakah ada pertanda lainnya? Mari berbagi.

Read more

Sebuah percakapan singkat, di suatu sore, saat saya menggendong Reynard yang sedang menangis, Mas Aby memulai percakapan:
“…dik reynard mungkin marah tapi belum bisa bicara, makanya ia nangis nggak jelas…nanti kalau sudah bisa bicara, kalau marah ngomong saja agar orang lain ngerti kalau kita marah…ayah, waktu tadi ade minta ijin main “tab” tapi ayah malah minta ade main huruf-huruf..ade sebenarnya marah lho…”
“oh”, hanya itu yang keluar dari mulut saya. Terhenyak, tersadar akan kegagalan memperhatikan perasaan Mas Aby saat itu.
“Iya, tapi ade menahan diri, ade diam sebentar…terus nggak jadi marah dan ngikutin kata-kata ayah…jadi kalau marah…tahan saja dulu…baru nanti bicara kalau sudah tenang, kalau langsung bicara jadinya ngomel-ngomel nggak jelas…”
Catatan percakapan ini saya usahakan mirip dengan apa yang disampaikan Mas Aby (5 th), meski saya juga tak sanggup menjamin sama persis dengan apa yang ia ucapkan. Tetapi, saya belajar dan diingatkan kembali pentingnya menahan diri. Terimakasih nak, untuk kesekian kalinya menjadi teman belajar ayahmu.

Read more

“satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman” _Albert Einstein

Teknik Fasilitasi pada dasarnya merupakan “alat bantu” fasilitasi. Semakin efektif seorang fasilitator dalam menggunakan teknik fasilitasi, semakin mudah ia membantu peserta mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu faktor kunci keberhasilan fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran adalah pemilihan teknik yang tepat pada setiap tahapan pembelajaran.
Berdasarkan kajian kepustakaan dan rangkaian pengalaman kami dalam memfasilitasi, kami rekomendasikan ragam teknik fasilitasi yang dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :
A. Membangun landasan belajar
B. Mempercepat penguasaan
C. Mengoptimalkan pencapaian

A. Membangun Landasan Belajar
Aktivitas pembelajaran pada bagian ini ditujukan untuk memfasilitasi kesiapan peserta untuk belajar serta membangkitkan ketertarikan dan kesediaan peserta untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Contoh aktivitas membangun landasan pembelajaran :
⇒ Penataan Lingkungan Fisik, ragam aktivitas untuk menciptakan lingkungan fisik kelas yang nyaman dan membangkitkan minat dan semangat peserta selama berada di kelas.
⇒ Pencairan Suasana & Pembangkit Semangat, ragam aktivitas untuk membantu peserta mengurangi kecanggungan, memfasilitasi peserta merasakan iklim belajar yang menyenangkan, melancarkan interaksi antar peserta dan mengembalikan gairah belajar peserta.
⇒ PEMBULATAN TEKAD BELAJAR, ragam aktivitas berikut untuk memfasilitasi peserta menemukan ketertarikan pada pembelajaran, mengeksplorasi manfaat pembelajaran, berbagi harapan dan membangun komitmen untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

B. Mempercepat Penguasaan
Ragam aktivitas pada bagian ini, sebaiknya disajikan ketika peserta telah siap mengikuti pembelajaran. Berikut contoh tekik fasilitasi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta mempercepat penguasaan materi pembelajaran atau mencapai tujuan pembelajaran:
# PERMAINAN INSPIRATIF: Fasilitator menghadirkan pengalaman belajar yang dikemas dalam sebuah dan atau serangkaian permainan yang dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran, kondisi peserta dan sumber daya yang tersedia.
# PRESENTASI INTERAKTIF: Fasilitator memulai presentasi dengan informasi yang mengejutkan peserta dan menghentikan presentasi secara periodik untuk mengajukan pertanyaan. Peserta membahas pertanyaan tersebut secara berpasangan kemudiaan menyatakan jawabannya. Fasilitator memberikan umpan balik atas jawaban yang diberikan.
# PENEMUAN METAFORA: Fasilitator menggunakan benda, binatang atau tumbuhan yang dikenali peserta sebagai perumpamaan untuk memudahkan peserta memahami materi pembelajaran. Teknik ini bisa juga dilakukan dengan meminta peserta menemukan metafora (perumpamaan) untuk menggambarkan materi pembelajaran agar mudah dipahami dan atau diingat.
# VIDEO INTERAKTIF: Fasilitator menayangkan sebuah tayangan video kepada peserta dan meminta peserta mencatat poin-poin kunci dari video yang ditayangkan. Seusai penayangan, peserta berdiskusi mengenai poin-poin kunci yang mereka buat.
# REKONSTRUKSI: Fasilitator meminta peserta berkelompok dan memberikan kelompok kartu-kartu yang berisikan bagian-bagian dari materi yang memiliki sekuen / urutan prosedural. Peserta akan mengurutkan kartu sesuai dengan urutan prosedur yang benar dan menjelaskan mengapa urutan tersebut mereka susun sedemikian rupa.
# JIGSAW PUZZLE: Fasilitator membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan bagian dari suatu materi belajar. Setelah mendiskusikan materi, setiap kelompok dibagi menjadi dua atau lebih sub kelompok. Beberapa sub kelompok akan menjadi perwakilan kelompok untuk bertamu ke kelompok lain dan mencari informasi mengenai materi yang dikuasai kelompok lain tersebut. Satu sub kelompok akan menjadi tuan rumah yang akan menjelaskan materi kepada perwakilan tamu dari sub kelompok lain. Setelah selesai, seluruh perwakilan kelompok akan kembali ke kelompoknya dan memberikan penjelasan tentang materi yang mereka pelajari dari kelompok lain. Fasilitator mengakhiri sesi dengan mereview semua materi yang telah dipelajari dengan seluruh peserta.
# DESAIN POSTER: Fasilitator memberikan bagian materi pelajaran kepada setiap peserta. Peserta diminta membuat sebuah gambaran visual tentang bagian materi yang diperolehnya dengan menggunakan flip chart kemudian memajang hasil pekerjaannya di dinding kelas dan mempresentasikannya kepada peserta lain.
#MNEMONIC: Fasilitator menggunakan singkatan nama, rima (seperti akhiran dalam puisi), akronim ketika menyajikan infomasi/materi pembelajaran. STAR : Stimulate, Transfer, Apply, Review
# DEMONSTRASI: Fasilitator mendemonstrasikan cara-cara yang benar dalam melakukan pekerjaan. Peserta memperhatikan fasilitator dan kemudian menirunya.
# BERMAIN PERAN: Fasilitator meminta peserta untuk memerankan suatu situasi yang mungkin dialaminya di pekerjaan ataupun di kehidupan sehari-hari
# SOSIO DRAMA: Fasilitator meminta kelompok peserta untuk merancang dan menampilkan rangkaian adegan yang menggambarkan suatu situasi sosial yang merepresentasikan materi pembelajaran.

C. Mengoptimalkan Pencapaian
Ragam aktivitas pada bagian ini dimanfaatkan untuk mengoptimalkan materi pembelajaran yang telah berhasil dipelajari peserta dengan cara mengkaji ulang, mengeksplorasi, menerapkan dan mempraktekkanya. Berikut beberapa contoh yang biasanya kami lakukan:
# VISUAL AID REVIEW: Fasilitator menampilkan kembali materi pembelajaran yang disajikan melalui alat bantu visual dan menanyakan kembali kepada peserta tentang poin-poin penting di dalamnya. Peserta diminta menjawab pertanyaan dengan menjelaskan maksud dari setiap poin & mengapa poin tersebut penting.
# BENAR ATAU SALAH: Fasilitator memberikan masing-masing peserta secarik kertas yang berisikan setengah informasi yang benar dan setengah informasi salah. Peserta akan menentukan mana informasi yang benar dan mana yang salah dengan mengemukakan alasannya.
# PERTIMBANGKAN KEMBALI: Fasilitator meminta peserta menuliskan pandangannya tentang materi pelajaran di awal dan akhir sesi. Peserta kemudian mengemukakan apakah pandangan mereka terhadap materi yang diberikan masih sama atau telah mengalami perubahan. Fasilitator memberikan apresiasi atas perubahan positif yang dialami peserta.
# TEKA-TEKI SILANG: Fasilitator menyiapkan teka-teki silang sederhana dengan jawaban yang berisikan istilah penting dalam materi pelajaran. Peserta menjawab teka-teki secara berpasangan dengan menggunakan petunjuk yang diberikan seperti definisi singkat, kategori kata, contoh dan lawan kata.
# TUNJUKKAN ANDA TAHU: Fasilitator meminta peserta memperagakan suatu proses ataupun seri dari suatu proses yang berkaitan dengan materi pelajaran. Peserta mempraktekkannya sambil mengucapkan keras-keras apa yang sedang mereka lakukan dalam setiap tahapnya dan mengapa mereka melakukannya.
# LATIHAN BERPASANGAN: Fasilitator meminta peserta berpasangan kemudian memberikan kartu berisikan gambaran situasi nyata yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setiap pasangan akan menjelaskan secara detail bagaimana mereka akan mengatasi situasi tersebut berdasarkan pada pengetahuan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# KONSULTASI SESAMA REKAN: Fasilitator meminta seorang peserta untuk menyatakan masalah yang dihadapinya yang berhubungan dengan materi pelajaran yang baru mereka dapatkan. Peserta lain akan membantu peserta tersebut untuk memberikan solusi dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# PERKIRAAN RINTANGAN: Fasilitator meminta seorang peserta memperkirakan rintangan yang akan dihadapi saat menerapkan pengetahuan baru yang mereka peroleh dari sesi pelatihan. Fasilitator kemudian meminta peserta lain untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan secara riil di kehidupan nyata peserta.
# BERBAGI KISAH & HARAPAN: Fasilitator meminta peserta untuk menceritakan proses dan hasil belajar yang mereka capai. Peserta diminta untuk menemukan manfaat apa yang mereka peroleh dari sesi pembelajaran, dan memikirkan tentang bagaimana mereka dapat menerapkan apa yang telah dipelajari dari sesi pelatihan di kehidupan nyata.

Referensi:
Lou Russel.2011. The Accelerated Learning Fieldbook: Panduan belajar cepat untuk pelajar dan umum. Diterjemahkan olehM Irfan Zakkie.Bandung: Nusa Media
Meier, Dave. 2000. The Accelerated Learning Handbook. United States of America: McGraw-Hill.
Silberman, Mel. 2005. 101 Ways To Make Training Actives. Pfeiffer.

Read more

Pagi ini, saat sedang minum kopi. Seorang sahabat, mengirim pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sanggup melahirkan tulisan spontan. Saat menulis ini, saya terkesan oleh sahabat-sahabat saya yang berhasil mendaki dan meraih prestasi. Bisa jadi itu kamu, iya kamu.
Setidaknya, ada tiga pesan yang saya pelajari dari sahabat-sahabatku yang berprestasi itu. Tiga pesan yang merubah paradigma saya tentang meraih prestasi.

Perubahan pertama, dari mengelola waktu ke mengelola energi
Prestasi kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita miliki. Bahkan kita tak sanggup mengendalikan waktu. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki waktu sampai tuntas hari ini, apalagi esok hari. Meski hari ini kita “tidak melakukan apa-apa”, kita tak bisa menyimpan waktu kita untuk jaminan esok hari. Prestasi kita tampak dari kontribusi yang kita beri dengan mengelola energi seoptimal mungkin untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya yang tersedia. Mari kita teliti, apakah kita sebenarnya sedang “mengelola waktu” atau menyusun prioritas aktivitas dan mengelola enerji?

Perubahan kedua, dari menghindari tekanan ke mengelola tantangan.
Beberapa orang menyangka akan bahagia hidupnya dengan sedikit bekerja, punya banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang mengira, hidupnya akan lebih leluasa bila tanpa tujuan dan rencana. Menghindari tekanan katanya. Namun ketika terlena dan sampai tiba waktunya banyak peluang terbuang percuma dan banyak hal berharga tak mampu dirasa, baru ketemu pemahaman baru menghindari tekanan malah ketemu tekanan yang baru. Para peraih prestasi biasanya menjadi “pendaki”. Mereka tak menghindari tekanan, tetapi mengelola tantangan dengan mempertimbangkan sumber daya dan peluang yang tersedia. Bagi pendaki, puncak yang layak dinikmati dicapai melalui perjuangan tiada henti. Itulah yang mereka nikmati.

Perubahan ketiga, dari berpikir positif ke bertindak konstruktif.
Anjuran masa lalu, pikirkan yang positif hindari berpikir yang negatif., mungkin perlu dikaji kembali. Beberapa orang kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu mengusir pemikiran yang negatif. Ada juga yang jadi sebel karena dipaksa hanya memikirkan yang positif dan membuang yang negatif. “Kenyataanya di dunia ini tidak hanya ada yang positif!”, begitu katanya. Hmm…benar juga, “..bahkan memikirkan yang negatif membuat kita bisa mempelajari, mewaspadai dan mengantisipasinya..”, tambahhnya. Bener juga ya…bukankah prestasi diraih dengan melipatgandakan “yang positif” dan menyiasati “yang negatif”?. Jadi, bukan hanya berpikir positif, tapi bertindak konstruktif.

Sementara demikian, lain waktu dilanjutkan.

Read more

Rasa bersalah tak selalu salah.Jadi, apa masalahnya dengan rasa bersalah?
Rasa bersalah yang tak selaras bisa mengakibatkan penghukuman diri dan
pembuntu berkembangnya jalinan hubungan yang sehat.
Ternyata, rasa bersalah bisa bermasalah.
Rasa bersalah bisa menghadirkan masalah.
Apa yang biasanya dilakukan untuk mengatasi rasa bersalah?
Meminta maaf,
Ya, meminta maaf merupakan pernyataan penyesalan atas apa yg terjadi,
Nyatakan dengan jelas dan tulus perasaan Anda.
Ingat, memaafkan perlu waktu dan enerji,
Pertimbangan situasi saat meminta, dan
setelahnya beri keleluasaan padanya mengelola diri dan memberi.
Menuntut maaf sebaiknya dihindari,
melakukan pemerasan emosi apalagi.
Akan lebih bijak bila mengerahkan enerji untuk memperbaiki situasi,
karena tuntutan memperoleh maaf bisa menjadi luka baru,
dan rasa bersalah jadi masalah yang tak mudah berlalu.

Read more

“Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply” _Stephen R. Covey.

Ternyata oh ternyata, seringkali seseorang merindukan teman yang bersedia menerima, menghargai dan mengerti. Kemampuan untuk mengerti menentukan kualitas percakapan, jalinan hubungan baik dan tentu saja kualitas kita sebagai teman berbagi.

Pengertian sering menjadi terdakwa atas berbagai permasalahan, “Ini terjadi karena Ia nggak mengerti bahwa…”….“Kalau saja Ia bersedia mengerti …”. Sebaliknya, pengertian, juga menjadi perekat hubungan dan kunci keberhasilan, “Saya memilihnya karena Ia mengerti …”…“Keberhasilan …. karena Ia mengerti …”

Mengerti tak harus setuju. Mengerti merujuk pada proses menerima, memperhatikan dan menetapkan makna dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Mengerti bisa menjadi bantuan karena …

# Menyatakan penerimaan. Penerimaan merupakan faktor penting untuk menjalin kedekatan dan memfasilitasi keterbukaan.

# Membangun hubungan baik. Pengertian akan memfasilitasi keakraban dan hubungan baik. Memudahkan membangun kepercayaan dan keterbukaan.

# Memfasilitasi ekspresi. Bisa jadi teman kita terlilit masalah merasa kesulitan untuk membicarakan dan mengurai masalahnya. Saat kita berusaha untuk mengerti, ia akan terfasilitasi untuk mengeskpresikan pemikiran dan perasaannya.

HAMBATAN untuk MENGERTI

“…dahulukan mengerti, baru dimengerti”_Stephen R. Covey.

Mengapa mengerti menjadi tantangan bagi sebagian orang? Bisa jadi karena beberapa faktor berikut ini:

# Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.

# Sibuk Sendiri. Sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pandang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan teman berbagi.

# Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.

# Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.

# Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)

# Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.

# Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.


Berusaha MENGERTI

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti!

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

Usaha untuk mengerti setidaknya mengandung tiga aktivitas penting sebagai berikut:

# Attending, memperhatikan, hadir sepenuhnya. Menampilkan kepedulian dengan pernyataan verbal maupun non verbal.

# Interpretating, memaknakan pesan. Memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya.

# Responding, menanggapi, menyampaikan pemahaman sekaligus memeriksa akurasinya.

Semoga dimengerti. Mari belajar dan berbagi.

Read more

Setelah kita menyadari mencela orang lain adalah salah satu bentuk kekerasan, semoga kita tergerak untuk menghindarinya. Kita bisa mengendalikan pikiran dan mulut kita untuk tidak mencela orang lain.

Kabar tak sedapnya, bisa jadi sampai saat ini para pencela masih bergentayangan di sekitar kita. Kita bisa berupaya menyampaikan himbauan akan dampak celaan dan merekomendasikan percakapan yang lebih konstruktif. Meskipun demikian, kita bisa menjamin bisa menghentikan celaan keluar dari mulutnya. Jadi, mari kita coba persiapkan diri untuk menghadapi celaan yang terlanjur meluncur dari mulut mereka.

Celaan merupakan perkataan yang menghakimi, menghina, merendahkan, dan menjatuhkan orang lain. Para pencela memiliki kebiasaan mengkritik untuk menjatuhkan diri Anda, apa pun yang Anda lakukan, saat anda melakukan hal yang benar apalagi bila anda melakukan kesalahan. Celaan dapat menjatuhkan kepercayaan diri Anda serta membuat Anda merasa tidak berdaya.

 

Jadi, bagaimana menghadapi celaan?

Mari kita cermati tiga resep berikut ini:

  1. Bingkai ulang celaan, mengubah sudut pandang untuk memperoleh makna yang lebih bermanfaat. Terdapat dua cara untuk membingkai ulang sebuah fakta, yaitu context reframe dan meaning reframe (David Molden, 2001). Context reframe merupakan cara membingkai ulang dimana kita mencoba mengubah konteks atau keadaannya. Meaning reframe merupakan cara membingkai ulang dengan membuat makna alternatif untuk tingkah laku tertentu.
  2. Pasang LAMPU LALU LINTAS di benak anda. Seperti layaknya lampu lintas, Anda perlu memberikan tiga tanda kepada diri Anda saat menerima celaan: Merah (tanda berhenti), untuk celaan yang anda rasa membahayakan, merusak, dan menjatuhkan harga diri kita, Kuning (tanda hati-hati) untuk celaan yang dirasakan ada benarnya tetapi tidak seutuhnya benar, kita perlu menyaringnya dan tidak menerimanya mentah-mentah, Hijau (tanda lanjutkan) hanya untuk hal-hal yang dirasa bermanfaat untuk memperbaiki diri kita.
  3. Tampilkan ketegasan. Bila perlu nyatakan perasaan anda dengan tegas untuk menyatakan keberatan, menetapkan batas atau melindungi diri anda dari kekerasan verbal lebih lanjut.

 

Apakah anda memiliki pengalaman lain, mari berbagi.

Read more

“Percaya pada diri Anda dan Anda tak terhentikan” -Emily Guay-

Percaya Diri (PeDe) mendukung upaya kita dalam meraih keberhasilan, menjalin hubungan yang sehat dan kesejahteraan. PeDe dalam tulisan ini merujuk pada perasaan yakin terhadap keunikan kekuatan yang dimiliki diri sendiri berdasarkan pada pengalaman keberhasilan dan mengakui keterbatasan.

Orang yang PeDe merasakan bahwa dirinya positif, berharga dan bernilai. Mereka berbeda dengan orang yang tampil arogan atau sombong. Tampil arogan justru menandakan rendahnya kepercayaan diri. Hal itu dilakukan untuk melindungi keterancaman atau menyembunyikan kelemahannya. Orang yang arogan terlalu berorientasi pada diri sendiri, ingin selalu mendominasi pembicaraan, sangat khawatir jika mereka tidak cukup baik, sehingga mereka merasa harus membanggakan diri di setiap kesempatan. Perilaku tersebut bukannya menggambarkan kepercayaan diri seseorang, tetapi justru menggambarkan rendahnya kepercayaan diri orang tersebut.

“Arogansi merupakan bentuk pembelaan diri karena sebenarnya ia tidak percaya diri”- (Ros Taylor dan kolega, 2009)

Orang yang PeDe merasa nyaman karena mengenali dengan baik kekuatannya, menerima keterbatasannya, sehingga bisa lebih tenang, bersedia mendengarkan, dan belajar dari orang lain.

“..munculnya kepercayaan diri diawali dari mengetahui bahwa Anda mempunyai kecakapan dan percaya bahwa Anda bisa menggunakan keahlian yang Anda miliki untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”(Kouzes dan Posner 2011)

Selain memiliki pemahaman yang memadai mengenai kemampuan dan potensi yang dimiliki, kepercayaan diri juga melibatkan pemahaman yang akurat terhadap nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Ketika kita memiliki pemahamanan dan keyakinan yang kuat terhadap nilai yang kita anut, maka kita akan dengan percaya diri mempertahankannya. Dan ketika kita sangat memahami kemampuan diri sendiri, kita akan dapat menggunakannya seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

“..kepercayaan diri muncul karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap nilai, kemampuan, serta tujuan yang kita miliki..” Daniel Goleman (2003)

 

Read more

Setiap orang pernah dan akan melakukan kesalahan. Pembedanya adalah ragam faktor yang melatarinya dan tindakan yang dilakukan setelahnya. Dalam tulisan ini saya mencoba memilah beberapa tipe orang, semoga menjadi cermin bagi kita.

  • Tipe 1, tidak mengakui kesalahan dan melemparkan tanggungjawab kepada sesuatu yang di luar diriya. Beberapa diantaranya berusaha menutupi dan menghindari pembicaraan. Sebagian yang lain, malah menyerang pihak lain sebagai kambing hitam. Meskipun banyak fakta yang menguatkan bukti kesalahannya, orang-orang seperti ini enggan menerima umpan balik. Mereka lebih sibuk membela diri.
  • Tipe 2, mengakui kesalahan, selanjutnya terus menerus minta maaf dan tidak melakukan hal yang lain untuk memperbaiki keadaan. Mereka menginginkan orang lain memaklumi kesalahannya. Kadang mereka tidak peduli bahwa permintaan maafnya sudah menjadi tuntutan yang menyebalkan. Bahkan, beberapa diantaranya melakukan kesalahan lagi dengan marah karena tuntutan maafnya belum ditanggapi.
  • Tipe 3, mengakui kesalahan, minta maaf dan bertanggungjawab. Saat melakukan kesalahan, mereka lebih memilih untuk mengakui, minta maaf dan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dilakukannya.

 

Pilihan yang kita ambil akan berakibat pada kepercayaan orang lain pada kita.

Jika Anda memlih untuk tidak melakukan apa-apa atau memilih mempertahankan diri Anda, berarti Anda memilih untuk kehilangan kepercayaan dari orang lain (Sandy Allgeier, 2009).

Berusaha menyembunyikan kesalahan akan lebih membahayakan dan akan semakin cenderung mengikis kepercayaan dari orang lain.

Dengan mengakui kesaalahan kemudian melakukan sesuatu untuk memperbaikinya, Anda memperkuat kepercayaan kepada Anda, bukannya menguranginya (Kouzes dan Posner, 2011).

Dengan meminta maaf dan bertanggung jawab memungkinkan orang lain mengetahui bahwa kita peduli pada akibat dan masalah yang muncul dari kesalahan kita dan memudahkan kita memperoleh kembali kepercayaan dari mereka.

Pada tahap ini Anda juga memberi tahu orang yang tepat bahwa Anda mengambil tanggung jawab atas kesalahan tersebut (Sandy Allgeier, 2009)

Mari bercermin dan membenahi diri.

Read more

Menghadirkan percakapan yang konstruktif merujuk pada upaya menjalin percakapan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri, jalinan relasi dan prestasi. Berdasarkan pengalaman praktis dan sejumlah referensi, saya merekomendasikan sejumlah kiat sebagai berikut:

  • Peduli pada “kita”, bukan hanya “aku”. Memahami pikiran, perasaan, dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya. Kita berusaha mengartikan “apa yang terdengar” dan “apa yang terlihat” dari lawan bicara.
  • Menginspirasi, bukan memanipulasi dan mengintimidasi. Jika Anda memanipulasi informasi, akibatnya antara lain saling menyalahkan, pertengkaran, pencapaian tujuan terhambat, hubungan renggang, bahkan bisa sampai putus.
  • Dahulukan mengerti, setelah itu mudahkan dimengerti. Mengerti itu tidak hanya mendengar tapi mendengarkan. Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut : terima,simpulkan,pantulkan. Cara memudahkan orang lain mengerti apa yang Anda pikirkan, rasakan dan harapkan adalah dengan menyatakannya, baik secara verbal maupun nonverbal.
  • Kembangkan kesesuaian, bukan pertikaian. Sesuai disini adalah menjadi jujur dan mengkomunikasikan apa yang diniatkan. Ada dua hal yang bisa dianggap tidak sesuai pertama adalah kesenjangan antara apa yang dialami oleh seseorang dan apa yang disadarinya. Kedua adalah kesenjangan antara apa yang dipikirkan oleh seseorang dan apa yang dikomunikasikannya.
  • Bicara berdasarkan data, bukan prasangka. Jelaskan, gambarkan fakta dan kenyataan, bukan sibuk menyalahkan dan menghakimi.
  • Fokus pada masalah yang ada dalam wilayah kendali, bukan menyalahkan pihak lain dan atau kondisi yang tak mampu dikendalikan.

Apakah anda bisa menambahkan kiat lain? Mari berbagi.

Read more