Hari Setyowibowo

Belajar_Berkarya_Berbagi

Author Archive

Paradigma Para Pendaki

without comments

Pagi ini, saat sedang minum kopi. Seorang sahabat, mengirim pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sanggup melahirkan tulisan spontan. Saat menulis ini, saya terkesan oleh sahabat-sahabat saya yang berhasil mendaki dan meraih prestasi. Bisa jadi itu kamu, iya kamu.
Setidaknya, ada tiga pesan yang saya pelajari dari sahabat-sahabatku yang berprestasi itu. Tiga pesan yang merubah paradigma saya tentang meraih prestasi.

Perubahan pertama, dari mengelola waktu ke mengelola energi
Prestasi kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita miliki. Bahkan kita tak sanggup mengendalikan waktu. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki waktu sampai tuntas hari ini, apalagi esok hari. Meski hari ini kita “tidak melakukan apa-apa”, kita tak bisa menyimpan waktu kita untuk jaminan esok hari. Prestasi kita tampak dari kontribusi yang kita beri dengan mengelola energi seoptimal mungkin untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya yang tersedia. Mari kita teliti, apakah kita sebenarnya sedang “mengelola waktu” atau menyusun prioritas aktivitas dan mengelola enerji?

Perubahan kedua, dari menghindari tekanan ke mengelola tantangan.
Beberapa orang menyangka akan bahagia hidupnya dengan sedikit bekerja, punya banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang mengira, hidupnya akan lebih leluasa bila tanpa tujuan dan rencana. Menghindari tekanan katanya. Namun ketika terlena dan sampai tiba waktunya banyak peluang terbuang percuma dan banyak hal berharga tak mampu dirasa, baru ketemu pemahaman baru menghindari tekanan malah ketemu tekanan yang baru. Para peraih prestasi biasanya menjadi “pendaki”. Mereka tak menghindari tekanan, tetapi mengelola tantangan dengan mempertimbangkan sumber daya dan peluang yang tersedia. Bagi pendaki, puncak yang layak dinikmati dicapai melalui perjuangan tiada henti. Itulah yang mereka nikmati.

Perubahan ketiga, dari berpikir positif ke bertindak konstruktif.
Anjuran masa lalu, pikirkan yang positif hindari berpikir yang negatif., mungkin perlu dikaji kembali. Beberapa orang kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu mengusir pemikiran yang negatif. Ada juga yang jadi sebel karena dipaksa hanya memikirkan yang positif dan membuang yang negatif. “Kenyataanya di dunia ini tidak hanya ada yang positif!”, begitu katanya. Hmm…benar juga, “..bahkan memikirkan yang negatif membuat kita bisa mempelajari, mewaspadai dan mengantisipasinya..”, tambahhnya. Bener juga ya…bukankah prestasi diraih dengan melipatgandakan “yang positif” dan menyiasati “yang negatif”?. Jadi, bukan hanya berpikir positif, tapi bertindak konstruktif.

Sementara demikian, lain waktu dilanjutkan.

Written by Hari Setyowibowo

March 10th, 2018 at 8:15 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Rasa bersalah, bermasalah?

without comments

Rasa bersalah tak selalu salah.Jadi, apa masalahnya dengan rasa bersalah?
Rasa bersalah yang tak selaras bisa mengakibatkan penghukuman diri dan
pembuntu berkembangnya jalinan hubungan yang sehat.
Ternyata, rasa bersalah bisa bermasalah.
Rasa bersalah bisa menghadirkan masalah.
Apa yang biasanya dilakukan untuk mengatasi rasa bersalah?
Meminta maaf,
Ya, meminta maaf merupakan pernyataan penyesalan atas apa yg terjadi,
Nyatakan dengan jelas dan tulus perasaan Anda.
Ingat, memaafkan perlu waktu dan enerji,
Pertimbangan situasi saat meminta, dan
setelahnya beri keleluasaan padanya mengelola diri dan memberi.
Menuntut maaf sebaiknya dihindari,
melakukan pemerasan emosi apalagi.
Akan lebih bijak bila mengerahkan enerji untuk memperbaiki situasi,
karena tuntutan memperoleh maaf bisa menjadi luka baru,
dan rasa bersalah jadi masalah yang tak mudah berlalu.

Written by Hari Setyowibowo

March 10th, 2018 at 8:11 am

Posted in Teman Berbagi

BELAJAR MENGERTI

without comments

“Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply” _Stephen R. Covey.

Ternyata oh ternyata, seringkali seseorang merindukan teman yang bersedia menerima, menghargai dan mengerti. Kemampuan untuk mengerti menentukan kualitas percakapan, jalinan hubungan baik dan tentu saja kualitas kita sebagai teman berbagi.

Pengertian sering menjadi terdakwa atas berbagai permasalahan, “Ini terjadi karena Ia nggak mengerti bahwa…”….“Kalau saja Ia bersedia mengerti …”. Sebaliknya, pengertian, juga menjadi perekat hubungan dan kunci keberhasilan, “Saya memilihnya karena Ia mengerti …”…“Keberhasilan …. karena Ia mengerti …”

Mengerti tak harus setuju. Mengerti merujuk pada proses menerima, memperhatikan dan menetapkan makna dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Mengerti bisa menjadi bantuan karena …

# Menyatakan penerimaan. Penerimaan merupakan faktor penting untuk menjalin kedekatan dan memfasilitasi keterbukaan.

# Membangun hubungan baik. Pengertian akan memfasilitasi keakraban dan hubungan baik. Memudahkan membangun kepercayaan dan keterbukaan.

# Memfasilitasi ekspresi. Bisa jadi teman kita terlilit masalah merasa kesulitan untuk membicarakan dan mengurai masalahnya. Saat kita berusaha untuk mengerti, ia akan terfasilitasi untuk mengeskpresikan pemikiran dan perasaannya.

HAMBATAN untuk MENGERTI

“…dahulukan mengerti, baru dimengerti”_Stephen R. Covey.

Mengapa mengerti menjadi tantangan bagi sebagian orang? Bisa jadi karena beberapa faktor berikut ini:

# Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.

# Sibuk Sendiri. Sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pandang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan teman berbagi.

# Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.

# Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.

# Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)

# Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.

# Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.


Berusaha MENGERTI

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti!

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

Usaha untuk mengerti setidaknya mengandung tiga aktivitas penting sebagai berikut:

# Attending, memperhatikan, hadir sepenuhnya. Menampilkan kepedulian dengan pernyataan verbal maupun non verbal.

# Interpretating, memaknakan pesan. Memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya.

# Responding, menanggapi, menyampaikan pemahaman sekaligus memeriksa akurasinya.

Semoga dimengerti. Mari belajar dan berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

July 15th, 2016 at 3:46 am

Posted in Teman Berbagi

Menghadapi Celaan

without comments

Setelah kita menyadari mencela orang lain adalah salah satu bentuk kekerasan, semoga kita tergerak untuk menghindarinya. Kita bisa mengendalikan pikiran dan mulut kita untuk tidak mencela orang lain.

Kabar tak sedapnya, bisa jadi sampai saat ini para pencela masih bergentayangan di sekitar kita. Kita bisa berupaya menyampaikan himbauan akan dampak celaan dan merekomendasikan percakapan yang lebih konstruktif. Meskipun demikian, kita bisa menjamin bisa menghentikan celaan keluar dari mulutnya. Jadi, mari kita coba persiapkan diri untuk menghadapi celaan yang terlanjur meluncur dari mulut mereka.

Celaan merupakan perkataan yang menghakimi, menghina, merendahkan, dan menjatuhkan orang lain. Para pencela memiliki kebiasaan mengkritik untuk menjatuhkan diri Anda, apa pun yang Anda lakukan, saat anda melakukan hal yang benar apalagi bila anda melakukan kesalahan. Celaan dapat menjatuhkan kepercayaan diri Anda serta membuat Anda merasa tidak berdaya.

 

Jadi, bagaimana menghadapi celaan?

Mari kita cermati tiga resep berikut ini:

  1. Bingkai ulang celaan, mengubah sudut pandang untuk memperoleh makna yang lebih bermanfaat. Terdapat dua cara untuk membingkai ulang sebuah fakta, yaitu context reframe dan meaning reframe (David Molden, 2001). Context reframe merupakan cara membingkai ulang dimana kita mencoba mengubah konteks atau keadaannya. Meaning reframe merupakan cara membingkai ulang dengan membuat makna alternatif untuk tingkah laku tertentu.
  2. Pasang LAMPU LALU LINTAS di benak anda. Seperti layaknya lampu lintas, Anda perlu memberikan tiga tanda kepada diri Anda saat menerima celaan: Merah (tanda berhenti), untuk celaan yang anda rasa membahayakan, merusak, dan menjatuhkan harga diri kita, Kuning (tanda hati-hati) untuk celaan yang dirasakan ada benarnya tetapi tidak seutuhnya benar, kita perlu menyaringnya dan tidak menerimanya mentah-mentah, Hijau (tanda lanjutkan) hanya untuk hal-hal yang dirasa bermanfaat untuk memperbaiki diri kita.
  3. Tampilkan ketegasan. Bila perlu nyatakan perasaan anda dengan tegas untuk menyatakan keberatan, menetapkan batas atau melindungi diri anda dari kekerasan verbal lebih lanjut.

 

Apakah anda memiliki pengalaman lain, mari berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 31st, 2016 at 4:36 am

Posted in Teman Berbagi

Orang yang PeDe

without comments

“Percaya pada diri Anda dan Anda tak terhentikan” -Emily Guay-

Percaya Diri (PeDe) mendukung upaya kita dalam meraih keberhasilan, menjalin hubungan yang sehat dan kesejahteraan. PeDe dalam tulisan ini merujuk pada perasaan yakin terhadap keunikan kekuatan yang dimiliki diri sendiri berdasarkan pada pengalaman keberhasilan dan mengakui keterbatasan.

Orang yang PeDe merasakan bahwa dirinya positif, berharga dan bernilai. Mereka berbeda dengan orang yang tampil arogan atau sombong. Tampil arogan justru menandakan rendahnya kepercayaan diri. Hal itu dilakukan untuk melindungi keterancaman atau menyembunyikan kelemahannya. Orang yang arogan terlalu berorientasi pada diri sendiri, ingin selalu mendominasi pembicaraan, sangat khawatir jika mereka tidak cukup baik, sehingga mereka merasa harus membanggakan diri di setiap kesempatan. Perilaku tersebut bukannya menggambarkan kepercayaan diri seseorang, tetapi justru menggambarkan rendahnya kepercayaan diri orang tersebut.

“Arogansi merupakan bentuk pembelaan diri karena sebenarnya ia tidak percaya diri”- (Ros Taylor dan kolega, 2009)

Orang yang PeDe merasa nyaman karena mengenali dengan baik kekuatannya, menerima keterbatasannya, sehingga bisa lebih tenang, bersedia mendengarkan, dan belajar dari orang lain.

“..munculnya kepercayaan diri diawali dari mengetahui bahwa Anda mempunyai kecakapan dan percaya bahwa Anda bisa menggunakan keahlian yang Anda miliki untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”(Kouzes dan Posner 2011)

Selain memiliki pemahaman yang memadai mengenai kemampuan dan potensi yang dimiliki, kepercayaan diri juga melibatkan pemahaman yang akurat terhadap nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Ketika kita memiliki pemahamanan dan keyakinan yang kuat terhadap nilai yang kita anut, maka kita akan dengan percaya diri mempertahankannya. Dan ketika kita sangat memahami kemampuan diri sendiri, kita akan dapat menggunakannya seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

“..kepercayaan diri muncul karena pemahaman dan keyakinan yang kuat terhadap nilai, kemampuan, serta tujuan yang kita miliki..” Daniel Goleman (2003)

 

Written by Hari Setyowibowo

January 31st, 2016 at 4:05 am

Posted in Berbagi Pemikiran

setelah melakukan kesalahan

without comments

Setiap orang pernah dan akan melakukan kesalahan. Pembedanya adalah ragam faktor yang melatarinya dan tindakan yang dilakukan setelahnya. Dalam tulisan ini saya mencoba memilah beberapa tipe orang, semoga menjadi cermin bagi kita.

  • Tipe 1, tidak mengakui kesalahan dan melemparkan tanggungjawab kepada sesuatu yang di luar diriya. Beberapa diantaranya berusaha menutupi dan menghindari pembicaraan. Sebagian yang lain, malah menyerang pihak lain sebagai kambing hitam. Meskipun banyak fakta yang menguatkan bukti kesalahannya, orang-orang seperti ini enggan menerima umpan balik. Mereka lebih sibuk membela diri.
  • Tipe 2, mengakui kesalahan, selanjutnya terus menerus minta maaf dan tidak melakukan hal yang lain untuk memperbaiki keadaan. Mereka menginginkan orang lain memaklumi kesalahannya. Kadang mereka tidak peduli bahwa permintaan maafnya sudah menjadi tuntutan yang menyebalkan. Bahkan, beberapa diantaranya melakukan kesalahan lagi dengan marah karena tuntutan maafnya belum ditanggapi.
  • Tipe 3, mengakui kesalahan, minta maaf dan bertanggungjawab. Saat melakukan kesalahan, mereka lebih memilih untuk mengakui, minta maaf dan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang telah dilakukannya.

 

Pilihan yang kita ambil akan berakibat pada kepercayaan orang lain pada kita.

Jika Anda memlih untuk tidak melakukan apa-apa atau memilih mempertahankan diri Anda, berarti Anda memilih untuk kehilangan kepercayaan dari orang lain (Sandy Allgeier, 2009).

Berusaha menyembunyikan kesalahan akan lebih membahayakan dan akan semakin cenderung mengikis kepercayaan dari orang lain.

Dengan mengakui kesaalahan kemudian melakukan sesuatu untuk memperbaikinya, Anda memperkuat kepercayaan kepada Anda, bukannya menguranginya (Kouzes dan Posner, 2011).

Dengan meminta maaf dan bertanggung jawab memungkinkan orang lain mengetahui bahwa kita peduli pada akibat dan masalah yang muncul dari kesalahan kita dan memudahkan kita memperoleh kembali kepercayaan dari mereka.

Pada tahap ini Anda juga memberi tahu orang yang tepat bahwa Anda mengambil tanggung jawab atas kesalahan tersebut (Sandy Allgeier, 2009)

Mari bercermin dan membenahi diri.

Written by Hari Setyowibowo

January 31st, 2016 at 3:17 am

Posted in Teman Berbagi

MENGHADIRKAN PERCAKAPAN KONSTRUKTIF

without comments

Menghadirkan percakapan yang konstruktif merujuk pada upaya menjalin percakapan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri, jalinan relasi dan prestasi. Berdasarkan pengalaman praktis dan sejumlah referensi, saya merekomendasikan sejumlah kiat sebagai berikut:

  • Peduli pada “kita”, bukan hanya “aku”. Memahami pikiran, perasaan, dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya. Kita berusaha mengartikan “apa yang terdengar” dan “apa yang terlihat” dari lawan bicara.
  • Menginspirasi, bukan memanipulasi dan mengintimidasi. Jika Anda memanipulasi informasi, akibatnya antara lain saling menyalahkan, pertengkaran, pencapaian tujuan terhambat, hubungan renggang, bahkan bisa sampai putus.
  • Dahulukan mengerti, setelah itu mudahkan dimengerti. Mengerti itu tidak hanya mendengar tapi mendengarkan. Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut : terima,simpulkan,pantulkan. Cara memudahkan orang lain mengerti apa yang Anda pikirkan, rasakan dan harapkan adalah dengan menyatakannya, baik secara verbal maupun nonverbal.
  • Kembangkan kesesuaian, bukan pertikaian. Sesuai disini adalah menjadi jujur dan mengkomunikasikan apa yang diniatkan. Ada dua hal yang bisa dianggap tidak sesuai pertama adalah kesenjangan antara apa yang dialami oleh seseorang dan apa yang disadarinya. Kedua adalah kesenjangan antara apa yang dipikirkan oleh seseorang dan apa yang dikomunikasikannya.
  • Bicara berdasarkan data, bukan prasangka. Jelaskan, gambarkan fakta dan kenyataan, bukan sibuk menyalahkan dan menghakimi.
  • Fokus pada masalah yang ada dalam wilayah kendali, bukan menyalahkan pihak lain dan atau kondisi yang tak mampu dikendalikan.

Apakah anda bisa menambahkan kiat lain? Mari berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 30th, 2016 at 2:44 pm

Posted in Teman Berbagi

mengatakan TIDAK, mengapa tidak?

without comments

Mengatakan Tidak, untuk apa?

TIDAK. Tampak singkat dan sederhana. Tapi mengapa kadang menjadi kata yang sangat sulit keluar dari mulut kita pada saat kita perlu mengatakannya?

TIDAK, merupakan salah satu kata yang penuh daya, ia bisa menolong kita atau membuat kita berada dalam kesulitan. Memutuskan mengatakan TIDAK kadang menghadirkan ketegangan karena tarik menarik antara memanfaatkan kekuatan dengan memelihara hubungan.

“…mengatakan YA saat kita ingin mengatakan tidak, berarti YA tak sehat yang menghasilkan kedamaian palsu hanya untuk sementara waktu” (Ury, 2007)

Setiap orang berhak mencintai diri sendiri. TIDAK semua energi dan waktu yang kita miliki dapat kita berikan kepada orang lain. Kita perlu menetapkan batas sehingga kita tidak harus diperas dan direndahkan. Sekali kita mengizinkan si manipulator mengeksploitasi dan mengendalikan hidup Anda, ia akan terus-menerus memanipulasi Anda.

Kita punya kekuatan untuk memilih. Orang yang mencoba menawarkan sesuatu kepada kita, tidak berhak memaksa kita untuk mengikuti kemauannya. Bila hal tersebut berdampak buruk bagi kita dan lingkungan, kita berhak mengatakan TIDAK. Kita yang memilih karena kita yang akan menanggung akibatnya.

Kesanggupan mengatakan TIDAK menghadirkan banyak manfaat, antara lain …

  • mengurangi daftar aktivitas sehingga lebih banyak memiliki waktu berkualitas
  • meningkatkan kepuasaan karena memiliki kendali atas hidup kita
  • melindungi diri dari jeratan manipulasi orang lain
  • menjalani kehidupan berlandaskan prinsip kebenaran yang kita yakini
  • menghindari perbuatan yang melanggar aturan atau norma kehidupan
  • menjalin hubungan yang sehat

 

Kapan mengatakan tidak?

Katakan TIDAK kepada …

  • orang yang mengajak, apalagi memaksa melakukan perbuatan kriminal atau melanggar peraturan
  • orang yang membujuk, apalagi memaksa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip kebenaran
  • ajakan, apalagi tuntutan melakukan perbuatan yang merugikan atau merusak lingkungan
  • permintaan, apalagi tuntutan yang membuat anda direndahkan dan dieksploitasi

 

Mengatakan tidak, bagaimana caranya?

Keberanian mengatakan TIDAK bisa dibangun dengan mengatakannya pada orang terdekat, pada masalah yang sederhana dan kecil resikonya. Berikut beberapa kiat yang bisa anda uji coba …

  • Mencegah, menghindari berada di tempat yang salah, pada waktu salah. Hindari situasi yang menekan, yang menuntut anda berkata “Tidak!”. Bila anda terjebak, segera tinggalkan.
  • Menetapkan batas, tindakan apa yang sebaiknya anda lakukan dan hindari, apa yang boleh dan terlarang dilakukan orang lain pada diri anda.
  • Memiliki agenda, beri kesempatan pada diri anda untuk membuat rencana dan jelaskan rencana tersebut kepada orang lain. “Tidak, saya sudah memiliki rencana lain.”
  • Menunda, sebelum merespon permintaan. Ini akan mengurangi tekanan dan memberi kesempatan untuk berpikir sebelum bertindak. “Tidak sekarang, saya perlu waktu memutuskannya”.
  • Menegaskan prinsip, menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang anda yakini kebenarannya dan akan anda pertahankan. “Tidak, karena bertentangan dengan ajaran agama saya”.
  • Berikan bukti. Bukti yang nyata dan masuk akal akan mendukung argumentasi pada penolakan kita. “Tidak karena sudah terbukti bahwa ….”
  • Ucapkan “Terimakasih, TAPI TIDAK, terimakasih”, untuk menampilkan kesantunan dan menghargai penawarannya.
  • Ulangi untuk menegaskan. Katakan saja dengan singkat, tegas dan meyakinkan “TIDAK”. Bila ia terus mendesak, ulangi lagi dengan katakan “TIDAK” dengan tenang tanpa perlu banyak argumentasi atau penjelasan.
  • Abaikan, bertindaklah seolah-olah ajakan tersebut tidak perlu dipikirkan atau dibahas, alihkan ke topik lain.

 

Silahkan mencoba, bila membutuhkan bantuan, anda bisa meminta bimbingan teman terpercaya atau bila perlu minta bantuan profesional untuk membimbing anda.

“…mengatakan TIDAK berdasarkan keyakinan terdalam lebih baik dan lebih hebat dari pada mengatakan YA hanya untuk menyenangkan, atau yang lebih buruk lagi, untuk menghindari masalah.” – Mahatma Gandhi

Written by Hari Setyowibowo

January 30th, 2016 at 2:28 am

Posted in Teman Berbagi

Menjadi Teman Berbagi: BELAJAR BERTANYA

without comments

“Orang bijak bukan orang yang menyediakan jawaban yang benar, tetapi orang yang mengajukan pertanyaan yang benar”_Claude Levi-Strauss.

Kecakapan bertanya niscaya akan mengantarkan Anda mampu belajar lebih baik tentang apa dan siapa yang Anda hadapi. Selain itu, kecakapan bertanya juga akan memperlancar Anda dalam mempromosikan gagasan dan membantu orang lain menemukan solusi dari masalah yang dihadapinya.

Apakah pertanyaan itu?

Pertanyaan dapat dimaknakan sebagai:

# Pemandu, mengarahkan fokus perhatian. Pertanyaaan lebih dari sekedar alat untuk mengumpulkan informasi. Pertanyaan dapat menjadi pemandu percakapan. Saat Anda bertanya, Anda mengarahkan fokus perhatian. Informasi yang akan Anda terima ditentukan oleh informasi yang Anda minta. Pertanyaan yang Anda ajukan akan menentukan jawaban yang akan Anda terima.

# Undangan, bahkan tuntutan. Pertanyaan adalah pernyataan yang menuntut jawaban. Saat menerima pertanyaan, kita terdorong untuk memberikan tanggapan. Bahkan kadang seseorang akan menghindari pertanyaan karena merasakan pertanyaan menjadi tuntutan dan merasa tidak siap atau tidak sanggup menjawabnya.

# Perangkat pembelajaran. Pertanyaan akan membuat seseorang belajar. Saat menerima pertanyaan, kita terdorong untuk berpikir atau melakukan refleksi sejenak, mencermati pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Pertanyaan juga mengantarkan kita untuk mencoba melihat perspektif lain sehingga akhirnya mempertimbangkan pilihan-pilihan baru.

PERHATIKAN PERTANYAANMU!
“sometimes question can hurt more than answer”_Sarah Dessen.

Ternyata oh ternyata pertanyaan bisa membuat kita menjadi lebih berdaya atau malah semakin tak berdaya!

Masih ingatkah Anda, seseorang terluka karena sebuah pertanyaan? Pernahkan Anda menyaksikan, atau mungkin malah mengalami pertanyaan yang melukai perasaan dan melemahkan semangat. Pertanyaan yang memancing kemarahan, salah paham atau lebih seru lagi pertengkaran?

Jadi ingat, pertanyaan yang kita ajukan bisa:
– menghambat percakapan
– melemahkan motivasi
– menurunkan keyakinan diri
– merenggangkan relasi
– melukai perasaan.

Sebaliknya, ingatkah anda akan sebuah pertanyaan yang membangkitkan harapan? Pertanyaan yang membuat orang tercerahkan? Pertanyaan yang memampukan, merangsang berpikir kreatif dan memperlancar terurainya keruwetan permasalahan? Pertanyaan yang membuat Anda merasa dipedulikan? Pertanyaan yang membangkitkan semangat, harapan dan membuat Anda tergerak untuk melakukan perubahan?

Kabar baiknya, pertanyaan juga bermanfaat untuk …
– menampilkan kepedulian
– memelihara fokus dan alur percakapan
– memfasilitasi saling pengertian
– merangsang pemikiran
– memberi harapan

PERTANYAAN yang membangkitkan KEKUATAN
“…perubahan terjadi saat kita mengajukan pertanyaan.”_Whitney & Bloom.

Dengan bertanya, kita berharap dapat menstimulasi proses berpikir, memfasilitasi identifikasi permasalahan dan sumber daya, mengeksplorasi beragam alternatif solusi, memfasilitasi pengambilan keputusan, serta membangkitkan kesediaan bertanggung jawab dan rasa memiliki hasil akhirnya.

Pertanyaan yang mengembangkan sumber daya, membangkitkan kekuatan, hadir dari pola pikir seorang pembelajar yang memilih…

# fokus untuk belajar dan memahami, bukan menghakimi dan menghukum
# menyuburkan rasa ingin tahu, bukan sok tahu dan menyuburkan prasangka
# menantang asumsi, tidak menerima begitu saja
# mengapresiasi perbedaan, bersedia belajar, bukan merasa paling baik dan benar
# menerima ketidaktahuan, kekurangan dan kegagalan sebagai peluang belajar
# melihat dari berbagai perspektif, terbuka terhadap perubahan bila diperlukan
# mengambil tangggung jawab, bukan mengabaikan atau menghindar

Pertanyaan yang membangkitkan kekuatan lebih mudah hadir dalam jalinan percakapan yang …

# dilandasi saling menghargai, saling pengertian dan saling membantu
# mengutamakan dialog untuk menemukan solusi, bukan debat saling mengalahkan
# mengapresiasi pembelajaran, bukan menghakimi kesalahan dan kegagalan
# mengapresiasi perbedaan data atau perspektif, bukan memaksakan persetujuan

Jadi, mari kita tanyakan kembali kebiasaan bertanya kita: membangkitkan kekuatan atau melumpuhkannya?

“great result begin with great question”_Marilee G. Adams.

Mari belajar dan berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 29th, 2016 at 4:10 am

Posted in Teman Berbagi

agar tak rentan disakiti

without comments

“…kata-kata dapat menyayat, tetapi diam lebih mematahkan hati.” (Phyllis McGinley)

Percakapan yang melukai merujuk pada penyerangan yang dilakukan melalui pilihan kata dan atau cara bicara. Penyerangan dengan percakapan dapat berpusat pada isu-isu tertentu, kejadian di masa lampau atau seekarang, psikologis, atau gangguan emosional pada orang lain.

Perkataan dan atau cara bicara yang berpotensi melukai, antara lain:

  • membentak, berteriak yang bertujuan merendahkan atau mengancam
  • merendahkan, mengejek, mencaci, memanggil dengan panggilan menyakitkan.
  • menghakimi, menuduh tanpa bukti
  • mengancam, mengintimidasi

 

Kabar baiknya, “..tak seorang pun bisa menyakitimu, tanpa seijinmu…”

Agar tidak terus menerus merasa disakiti …

  • Sadari bahwa anda telah tersakiti dan akui juga kerusakan yang terjadi akibat penganiayaan tersebut.
  • Berhenti merendahkan, menghakimi dan menyalahkan diri sendiri
  • Berhenti membuat pembenaran atas perilaku orang yang terbukti telah menyakiti
  • Raih sumber daya menguatkan batasan-batasan diri
  • Kembangkan ketegasan untuk menghentikan perilaku orang lain yang menyakiti anda.

Membiarkan orang terus menyakiti anda, bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi juga menghancurkan hubungan anda dengannya.

 

Percakapan untuk Membela Diri

saat kejadian …

  • Lindungi diri anda saat ia menyerang anda. Hindari percakapan negatif dengan diri sendiri yang membuat anda merasa tidak berdaya, ubah menjadi percakapan dalam diri yang membangkitkan kekuatan dalam diri anda.
  • Bicara secara langsung, jelas dan tegas, misalnya: “Saya merasa terhina dengan perkataanmu. Saya tidak berhak diperlakukan demikian. Saya tidak ingin kamu bicara dengan cara seperti itu.”
  • Bila ia membela diri dengan menyampaikan alasan atau menyalahkan anda, hindari perdebatan, cukup ulangi kalimat anda dengan tenang dan tegas.

 

Setelah kejadian …

  • Tenangkan diri, ambil jeda. Periksa kesiapan mental anda untuk bicara.
  • Beritahu bahwa ada hal serius yang hendak anda bicarakan. Mulailah dengan memberitahukan bahwa anda tidak bahagia dengan perlakuan yang anda diterima.
  • Katakan bahwa anda peduli dengannya dan cara bicaranya mempengaruhi perasaan Anda kepadanya. Sampaikan, anda khawatir hal ini menghancurkan hubungan Anda.
  • Apabila ia tampak bersedia untuk bekerjasama, katakan bahwa anda mengapresiasi kesediannya untuk memperbaiki hubungan baik, tanyakan apakah ia menginginkan contoh perilaku yang mengganggu.
  • Jangan kaget apabila ia memberikan banyak alasan, ini dapat dimengerti namun jangan biarkan diskusi berubah menjadi perdebatan. Apabila ia kemudian justru menampakkan perilaku yang menyakiti, katakan “inilah bentuk perilaku yang aku bicarakan”.
  • Bila ia terus menyakiti, manfaatkan kiat membela diri saat kejadian.

Semoga bermanfaat, mari berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 28th, 2016 at 3:57 pm

Posted in Teman Berbagi