Paradigma Para Pendaki

Pagi ini, saat sedang minum kopi. Seorang sahabat, mengirim pertanyaan via wa. Sebuah pertanyaan yang sanggup melahirkan tulisan spontan. Saat menulis ini, saya terkesan oleh sahabat-sahabat saya yang berhasil mendaki dan meraih prestasi. Bisa jadi itu kamu, iya kamu. 🙂

Setidaknya, ada tiga pesan yang saya pelajari dari sahabat-sahabatku yang berprestasi. Tiga pesan yang merubah paradigma saya tentang meraih prestasi.

Perubahan 1. dari mengelola waktu ke mengelola energi
Prestasi kita bukan ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita miliki. Bahkan kita tak sanggup mengendalikan waktu. Siapa yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki waktu sampai tuntas hari ini, apalagi esok hari. Meski hari ini kita “tidak melakukan apa-apa”, kita tak bisa menyimpan waktu kita untuk jaminan esok hari. Prestasi kita tampak dari kontribusi yang kita beri dengan mengelola energi seoptimal mungkin untuk memanfaatkan waktu dan sumber daya yang tersedia. Mari kita teliti, apakah kita sebenarnya sedang “mengelola waktu” atau menyusun prioritas aktivitas dan mengelola enerji?

Perubahan 2. dari menghindari tekanan ke mengelola tantangan.
Beberapa orang menyangka akan bahagia hidupnya dengan sedikit bekerja, punya banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa. Sebagian orang mengira, hidupnya akan lebih leluasa bila tanpa tujuan dan rencana. Menghindari tekanan katanya. Namun ketika terlena dan sampai tiba waktunya banyak peluang terbuang percuma dan banyak hal berharga tak mampu dirasa, baru ketemu pemahaman baru menghindari tekanan malah ketemu tekanan yang baru. Para peraih prestasi biasanya menjadi “pendaki”. Mereka tak menghindari tekanan, tetapi mengelola tantangan dengan mempertimbangkan sumber daya dan peluang yang tersedia. Bagi pendaki, puncak yang layak dinikmati dicapai melalui perjuangan tiada henti. Itulah yang mereka nikmati.

Perubahan 3. dari berpikir positif ke bertindak konstruktif.
Anjuran masa lalu, pikirkan yang positif hindari berpikir yang negatif., mungkin perlu dikaji kembali. Beberapa orang kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu mengusir pemikiran yang negatif. Ada juga yang jadi sebel karena dipaksa hanya memikirkan yang positif dan membuang yang negatif. “Kenyataanya di dunia ini tidak hanya ada yang positif!”, begitu katanya. Hmm…benar juga, “..bahkan memikirkan yang negatif membuat kita bisa mempelajari, mewaspadai dan mengantisipasinya..”, tambahhnya. Bener juga ya…bukankah prestasi diraih dengan melipatgandakan “yang positif” dan menyiasati “yang negatif”?. Jadi, bukan hanya berpikir positif, tapi bertindak konstruktif.

Sementara demikian, lain waktu dilanjutkan.

#catatanpagiHary

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*