Sepenggal kisahku dengan Bapak

Hari ini hari kelahiran bapak. Banyak kisah tertanam kuat dalam ingatanku. Salah satunya adalah tentang hal berikut ini.
Semakin ke sini, semakin memahami betapa hormatnya bapak dan ibu pada anak-anaknya. Hebatnya, pengejawantahan rasa itu berbeda-beda pada setiap anaknya. Apa yang saya alami, beda dengan yang tampak terjadi pada adik-adik saya. Saya memperoleh keleluasaan untuk mengambil keputusan, bahkan meski bertentangan dengan pendapat dan keinginan beliau. Beberapa anggota keluarga berkata, bapak adalah sosok keras kepala. Tampaknya, saya berhasil pula menirunya. Ketika dua orang keras kepala beradu pendapat, hampir ujungnya beliau yang melunak dan berkata…”Yen bisa, dipikir maneh…mbok menawa ana sing keri, nanging yen sliramu wis teteg, yakin tenanan…yo wis…sliramu sing bakal nglakoni…aku wong tua mung bisa urun donga..”. Maturnuwun Pak, atas kepercayaan panjenengan. Beberapa keputusan saya ternyata salah, tapi panjenengan tidak pernah menyalahkan.
Seingatku, bapak tidak pernah memanggilku dengan KOWE, beliau memanggilku dengan SLIRAMU (kalau ibu memanggilku dengan SAMPEYAN).

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*