Pemerasan Emosional

Pemerasan emosional merupakan bentuk manipulasi yang ampuh. Pemerasan jenis ini lebih menyerang ke hal-hal yang sifatnya pribadi. Biasanya terjadi diantara orang yang memiliki kedekatan hubungan. Pemeras baik langsung maupun tidak langsung, mengancam akan menghukum jika orang lain tidak melakukan apa yang mereka inginkan. Pemeras memahami bahwa korbannya sangat menghargai relasi diantara mereka. Mereka mengenali dengan baik kelemahan korbannya, informasi terdalam, paling pribadi yang dimiliki korbannya.

Susan Forward (1997) mengidentifikasi ada tiga taktik yang sering digunakan oleh para pemeras emosional. Ia menggunakan metafora kabut (FOG), yang merupakan singkatan dari Fear (ketakutan), Obligation (kewajiban) dan Guilt (perasaan bersalah).

Fear (ketakutan).
Para pemeras memanfaatkan informasi yang mereka miliki tentang ketakutan, kegelisahan dan kecemasan korbannya. Mereka memanfaatkan informasi tersebut agar korbannya tunduk, patuh, mengikuti kehendaknya. “Lakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanku maka aku tidak akan …..(meninggalkanmu, mencelamu, memarahimu, membentakmu, melawanmu, menentangmu, memecatmu, berhenti mencintaimu …..)”

Obligation (kewajiban)
Kita dibesarkan dengan rasa tanggung jawab dan kewajiban yang mengikuti peran kita dalam masyarakat. Rasa tanggungjawab dan kewajiban akan membentuk landasan etika dan moral hidup kita. Namun upaya kita untuk menunjukkan rasa tanggungjawab dan kewajiban kita pada diri sendiri seringkali tidak seimbang dengan perasaan berhutang pada orang lain. Kita bertindak berlebihan atas nama tanggungjawab dan kewajiban. Para pemeras tidak ragu-ragu memanfaatkan rasa ini, menekankan kepada korbannya seberapa besar mereka telah berkorban, seberapa banyak yang telah mereka lakukan untuk korbannya, seberapa banyak korban seharusnya merasa berhutang budi pada dirinya. Bila perlu, para pemeras akan mengutip ajaran agama, norma, tradisi sosial untuk menguatkan tekanannya.

Guilt (perasaan bersalah)
Perasaan bersalah merupakan alat hati nurani, bagian penting untuk menjadi sosok yang peduli dan bertanggungjawab. Perasaan ini mendominasi perhatian kita sampai kita melakukan sesuatu agar terlepas darinya. Untuk menghindari rasa bersalah, kita berusaha untuk tidak membuat orang kecewa dan sakit hati. Perasaan ini yang seringkali dimanfaatkan oleh para pemeras. Pemeras mendorong korbannya untuk bertanggungjawab secara menyeluruh atas keluhan, kekecewaan dan perasan tidak bahagia yang dialaminya. Rasa bersalah yang dibangkitkan akan membuat korban merasa harus memenuhi kehendak pemeras. Bila tidak, korban akan merasa “semakin bersalah”. Pemeras akan melakukan apa saja untuk menyampaikan pesan…”Ini semua salahmu, karena kamu”.

Siapa pemeras dan siapa yang menjadi korbannya? Bisa Anda sendiri atau orang-orang yang ada di sekitar Anda, orang-orang yang pentig bagi Anda. Yang perlu diingat : pemerasan merupakan transaksi, diperlukan dua pihak. Orang yang melakukan pemerasan (sadar atau tidak) dan orang yang mengijinkan orang lain melakukan pemerasan pada dirinya (sadar atau tidak).

Semoga hubungan dengan orang-orang terkasih terhindar dari hubungan yang saling menuntut, mengancam dan memeras. Semoga kita terpelihara untuk menikmati hubungan yang saling memberi, menghormati dan melengkapi.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*