Kuncinya, Menahan Diri

Sebuah percakapan singkat, di suatu sore, saat saya menggendong Reynard yang sedang menangis, Mas Aby memulai percakapan:
“…dik reynard mungkin marah tapi belum bisa bicara, makanya ia nangis nggak jelas…nanti kalau sudah bisa bicara, kalau marah ngomong saja agar orang lain ngerti kalau kita marah…ayah, waktu tadi ade minta ijin main “tab” tapi ayah malah minta ade main huruf-huruf..ade sebenarnya marah lho…”
“oh”, hanya itu yang keluar dari mulut saya. Terhenyak, tersadar akan kegagalan memperhatikan perasaan Mas Aby saat itu.
“Iya, tapi ade menahan diri, ade diam sebentar…terus nggak jadi marah dan ngikutin kata-kata ayah…jadi kalau marah…tahan saja dulu…baru nanti bicara kalau sudah tenang, kalau langsung bicara jadinya ngomel-ngomel nggak jelas…”
Catatan percakapan ini saya usahakan mirip dengan apa yang disampaikan Mas Aby (5 th), meski saya juga tak sanggup menjamin sama persis dengan apa yang ia ucapkan. Tetapi, saya belajar dan diingatkan kembali pentingnya menahan diri. Terimakasih nak, untuk kesekian kalinya menjadi teman belajar ayahmu.

About Hari Setyowibowo

Psikolog. Dosen. Peneliti. Mitra Belajar
This entry was posted in Berbagi Pemikiran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *