Jebakan Kebahagiaan

Banyak orang merasa terjebak. Mereka berpikir akan menemukan kebahagiaan setelah menghabiskan banyak waktu dan energi demi tiga hal berikut ini:
1. Uang. Siapa yang tidak membutuhkannya? Kita akan kerepotan bila tidak memiliki cukup uang. Banyak sekali kemudahan yang akan diperoleh dengan memiliki cukup uang. Tapi, apakah semakin banyak uang akan semakin bahagia hidupnya?
2. Posisi. Beberapa orang rela meninggalkan orang-orang terkasih demi mengejar posisi. Tak sedikit yang tega sikut-sikutan, dan berkhianat demi rebutan posisi. Memang tak mudah bergerak bila kita memiliki wewenang terbatas. Betapa ribet dan rusuhnya bila kita hanya jadi pesuruh dan pelayan. Bahkan, bisa jadi menderita bila kita diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan orang yang berkuasa. Tapi, benarkah semakin tinggi posisi seseorang akan membuatnya semakin bahagia?
3. Popularitas. Banyak orang merindukan menjadi terkenal dan dielukan banyak orang. Berbagai tingkah ditempuh demi mengejar popularitas. Tak disangkal, banyak kenikmatan dan kemudahan ketika kita dikenal orang. Bisa jadi, peluang dan pertolongan akan mudah datang saat kita terkenal. Tapi apakah kebahagiaan berbanding lurus dengan tingkat kemasyuran kita?
Saya menduga anda sudah memiliki jawaban sediri yang anda yakini. Pada kesempatan ini, ijinkan saya berbagi pengamatan saya pada orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dari beragam kisah, setidaknya ada dua hal yang perlu kita pelajari dari mereka.
1. Menjalani kehidupan bermakna. Orang-orang yang bahagia dalam hidupnya menjalani kehidupan yang bermakna. Ia mensyukuri nikmat yang dimiliki dengan menemukan dan memanfaatkan peluang untuk berbagi. Mereka menjadikan uang, posisi dan popularitas sebagai alat bukan tujuan. Mereka memanfatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melayani yang lebih besar dari dirinya sendiri.
2. Menjalin hubungan baik. Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang signifikan dalam hidupnya. Mereka senantiasa memelihara silaturahmi dan kualitas relasi dengan orang-orang yang paling banyak menyita waktu dan energinya.
#catatanpagihary

About Hari Setyowibowo

Psikolog. Dosen. Peneliti. Mitra Belajar
This entry was posted in Berbagi Pemikiran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *