Belajar menjadi orang tua.

Suatu saat ada yang bertanya, “mas, saya ingin berguru, bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik?”. Meski malu, tapi saya tetap bertekad menjawab, “saya juga sedang belajar, jadi saya tak pantas menjadi rujukan apalagi guru pada bidang ini. Saya ini, hampir setiap hari memperoleh umpan balik dari istri dan anak, tentang bagaimana sebaiknya saya menjalankan peran sebagai suami dan ayah. Saya itu, membutuhkan waktu dan dialog yg cukup panjang agar anak-anak saya bersedia mengikuti apa yang saya nilai baik. Saya itu, seringkali ditertawakan karena lupa atau mlakukan beberapa kekonyolan. Saya juga pemerhati tulisan teman-teman saya para ahli parenting, juga membaca banyak referensi yang terkait, dan semakin banyak belajar semakin saya malu karena semakin tahu banyak yang saya tidak tahu.
Jadi, mari belajar bersama…”.
……
Salah satu sumber belajar adalah anak-anak kita. Mereka bisa memberikan umpan balik yang membangun bila kita bersedia. Tak mudah memang mengendalikan diri, tapi bila kita sedia mendengarkan, akan kaya pelajaran yang bisa dipetik.
Berikut ini umpan balik yang pernah saya terima dari Aby (waktu itu usianya 5th):
“Ayah bekerja terlalu malam, bukankah ayah bilang jam 9 sudah harus masuk kamar tidur?”
“Ayah tadi memotong pembicaraan, ade belum selesai bicara…ade masih mikir mau ngomong apa, sekarang jadi hilang deh…karena ayah memotong pembicaraan”
“Kalau ayah memberitahu sambil marah-marah, ade nggak akan dengar (sambil tutup kuping dengan kedua tangan)”- saya membela diri “ayah tidak marah, ayah memberitahu bahwa …..”… Eh ia membalas…”suara ayah itu seperti yang sedang marah….”.
Yah, ternyata menjadi orang tua adalah menjadi pembelajar.
#catatanpagihary

About Hari Setyowibowo

Psikolog. Dosen. Peneliti. Mitra Belajar
This entry was posted in Berbagi Pemikiran. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *