Hari Setyowibowo

Belajar_Berkarya_Berbagi

Archive for June, 2018

Rasa bersalah, bermasalah?

without comments

Rasa bersalah tak selalu salah.
Jadi, apa masalahnya dengan rasa bersalah?
Rasa bersalah yang tak selaras bisa mengakibatkan penghukuman diri dan
pembuntu berkembangnya jalinan hubungan yang sehat.
Ternyata, rasa bersalah bisa bermasalah, rasa bersalah bisa menghadirkan masalah.
Apa yang biasanya dilakukan untuk mengatasi rasa bersalah?
Meminta maaf,
Ya, meminta maaf merupakan pernyataan penyesalan atas apa yg terjadi,
Nyatakan dengan jelas dan tulus perasaan Anda.
Ingat, memaafkan perlu waktu dan enerji,
Pertimbangan situasi saat meminta, dan setelahnya beri keleluasaan padanya mengelola diri dan memberi.
Menuntut maaf sebaiknya dihindari, melakukan pemerasan emosi apalagi.
Akan lebih bijak bila mengerahkan enerji untuk memperbaiki situasi, karena tuntutan memperoleh maaf bisa menjadi luka baru, dan rasa bersalah jadi masalah yang tak mudah berlalu.
#catatanpagihary

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:10 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Belajar menjadi orang tua.

without comments

Suatu saat ada yang bertanya, “mas, saya ingin berguru, bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik?”. Meski malu, tapi saya tetap bertekad menjawab, “saya juga sedang belajar, jadi saya tak pantas menjadi rujukan apalagi guru pada bidang ini. Saya ini, hampir setiap hari memperoleh umpan balik dari istri dan anak, tentang bagaimana sebaiknya saya menjalankan peran sebagai suami dan ayah. Saya itu, membutuhkan waktu dan dialog yg cukup panjang agar anak-anak saya bersedia mengikuti apa yang saya nilai baik. Saya itu, seringkali ditertawakan karena lupa atau mlakukan beberapa kekonyolan. Saya juga pemerhati tulisan teman-teman saya para ahli parenting, juga membaca banyak referensi yang terkait, dan semakin banyak belajar semakin saya malu karena semakin tahu banyak yang saya tidak tahu.
Jadi, mari belajar bersama…”.
……
Salah satu sumber belajar adalah anak-anak kita. Mereka bisa memberikan umpan balik yang membangun bila kita bersedia. Tak mudah memang mengendalikan diri, tapi bila kita sedia mendengarkan, akan kaya pelajaran yang bisa dipetik.
Berikut ini umpan balik yang pernah saya terima dari Aby (waktu itu usianya 5th):
“Ayah bekerja terlalu malam, bukankah ayah bilang jam 9 sudah harus masuk kamar tidur?”
“Ayah tadi memotong pembicaraan, ade belum selesai bicara…ade masih mikir mau ngomong apa, sekarang jadi hilang deh…karena ayah memotong pembicaraan”
“Kalau ayah memberitahu sambil marah-marah, ade nggak akan dengar (sambil tutup kuping dengan kedua tangan)”- saya membela diri “ayah tidak marah, ayah memberitahu bahwa …..”… Eh ia membalas…”suara ayah itu seperti yang sedang marah….”.
Yah, ternyata menjadi orang tua adalah menjadi pembelajar.
#catatanpagihary

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:09 am

Posted in Teman Berbagi

Sepenggal kisahku dengan Bapak

without comments

Hari ini hari kelahiran bapak. Banyak kisah tertanam kuat dalam ingatanku. Salah satunya adalah tentang hal berikut ini.
Semakin ke sini, semakin memahami betapa hormatnya bapak dan ibu pada anak-anaknya. Hebatnya, pengejawantahan rasa itu berbeda-beda pada setiap anaknya. Apa yang saya alami, beda dengan yang tampak terjadi pada adik-adik saya. Saya memperoleh keleluasaan untuk mengambil keputusan, bahkan meski bertentangan dengan pendapat dan keinginan beliau. Beberapa anggota keluarga berkata, bapak adalah sosok keras kepala. Tampaknya, saya berhasil pula menirunya. Ketika dua orang keras kepala beradu pendapat, hampir ujungnya beliau yang melunak dan berkata…”Yen bisa, dipikir maneh…mbok menawa ana sing keri, nanging yen sliramu wis teteg, yakin tenanan…yo wis…sliramu sing bakal nglakoni…aku wong tua mung bisa urun donga..”. Maturnuwun Pak, atas kepercayaan panjenengan. Beberapa keputusan saya ternyata salah, tapi panjenengan tidak pernah menyalahkan.
Seingatku, bapak tidak pernah memanggilku dengan KOWE, beliau memanggilku dengan SLIRAMU (kalau ibu memanggilku dengan SAMPEYAN).

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:06 am

Posted in Teman Berbagi

Jebakan Kebahagiaan

without comments

Banyak orang merasa terjebak. Mereka berpikir akan menemukan kebahagiaan setelah menghabiskan banyak waktu dan energi demi tiga hal berikut ini:
1. Uang. Siapa yang tidak membutuhkannya? Kita akan kerepotan bila tidak memiliki cukup uang. Banyak sekali kemudahan yang akan diperoleh dengan memiliki cukup uang. Tapi, apakah semakin banyak uang akan semakin bahagia hidupnya?
2. Posisi. Beberapa orang rela meninggalkan orang-orang terkasih demi mengejar posisi. Tak sedikit yang tega sikut-sikutan, dan berkhianat demi rebutan posisi. Memang tak mudah bergerak bila kita memiliki wewenang terbatas. Betapa ribet dan rusuhnya bila kita hanya jadi pesuruh dan pelayan. Bahkan, bisa jadi menderita bila kita diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan orang yang berkuasa. Tapi, benarkah semakin tinggi posisi seseorang akan membuatnya semakin bahagia?
3. Popularitas. Banyak orang merindukan menjadi terkenal dan dielukan banyak orang. Berbagai tingkah ditempuh demi mengejar popularitas. Tak disangkal, banyak kenikmatan dan kemudahan ketika kita dikenal orang. Bisa jadi, peluang dan pertolongan akan mudah datang saat kita terkenal. Tapi apakah kebahagiaan berbanding lurus dengan tingkat kemasyuran kita?
Saya menduga anda sudah memiliki jawaban sediri yang anda yakini. Pada kesempatan ini, ijinkan saya berbagi pengamatan saya pada orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dari beragam kisah, setidaknya ada dua hal yang perlu kita pelajari dari mereka.
1. Menjalani kehidupan bermakna. Orang-orang yang bahagia dalam hidupnya menjalani kehidupan yang bermakna. Ia mensyukuri nikmat yang dimiliki dengan menemukan dan memanfaatkan peluang untuk berbagi. Mereka menjadikan uang, posisi dan popularitas sebagai alat bukan tujuan. Mereka memanfatkan sumber daya yang dimilikinya untuk melayani yang lebih besar dari dirinya sendiri.
2. Menjalin hubungan baik. Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam hidupnya memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang signifikan dalam hidupnya. Mereka senantiasa memelihara silaturahmi dan kualitas relasi dengan orang-orang yang paling banyak menyita waktu dan energinya.
#catatanpagihary

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:04 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Senja Menjelang

without comments

Ketika senja menjelang…
Saat menjalani hidup dengan beraneka peran dan tuntutan. Kusadari, setiap kenyataan adalah buah pilihan.
Di depan cermin aku bertanya…
Selama ini kemana waktumu berlalu?
Dengan menghabiskan banyak waktu yang tak kembali, apa yang sebenarnya kau cari?
Dengan begitu banyak yang akan dikorbankan, apa yang sesungguhnya kau perjuangkan?
Dan saya tercekat …
“semoga kita masih bisa memanfaatkan waktu yang tersisa; semoga kesempatan dan kesehatan yang kita miliki bisa terisi dengan berbagi kebenaran dan kebaikan; semoga ilmu yang telah dan sedang kita pelajari bisa diamalkan dan terus tersebar terbagi; semoga harta yang kita miliki halal dan mampu menjadi bekal di akhirat yang kekal…”
#catatansenjahary

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:03 am

Posted in Curahan Hati

Pemerasan Emosional

without comments

Pemerasan emosional merupakan bentuk manipulasi yang ampuh. Pemerasan jenis ini lebih menyerang ke hal-hal yang sifatnya pribadi. Biasanya terjadi diantara orang yang memiliki kedekatan hubungan. Pemeras baik langsung maupun tidak langsung, mengancam akan menghukum jika orang lain tidak melakukan apa yang mereka inginkan. Pemeras memahami bahwa korbannya sangat menghargai relasi diantara mereka. Mereka mengenali dengan baik kelemahan korbannya, informasi terdalam, paling pribadi yang dimiliki korbannya.

Susan Forward (1997) mengidentifikasi ada tiga taktik yang sering digunakan oleh para pemeras emosional. Ia menggunakan metafora kabut (FOG), yang merupakan singkatan dari Fear (ketakutan), Obligation (kewajiban) dan Guilt (perasaan bersalah).

Fear (ketakutan).
Para pemeras memanfaatkan informasi yang mereka miliki tentang ketakutan, kegelisahan dan kecemasan korbannya. Mereka memanfaatkan informasi tersebut agar korbannya tunduk, patuh, mengikuti kehendaknya. “Lakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginanku maka aku tidak akan …..(meninggalkanmu, mencelamu, memarahimu, membentakmu, melawanmu, menentangmu, memecatmu, berhenti mencintaimu …..)”

Obligation (kewajiban)
Kita dibesarkan dengan rasa tanggung jawab dan kewajiban yang mengikuti peran kita dalam masyarakat. Rasa tanggungjawab dan kewajiban akan membentuk landasan etika dan moral hidup kita. Namun upaya kita untuk menunjukkan rasa tanggungjawab dan kewajiban kita pada diri sendiri seringkali tidak seimbang dengan perasaan berhutang pada orang lain. Kita bertindak berlebihan atas nama tanggungjawab dan kewajiban. Para pemeras tidak ragu-ragu memanfaatkan rasa ini, menekankan kepada korbannya seberapa besar mereka telah berkorban, seberapa banyak yang telah mereka lakukan untuk korbannya, seberapa banyak korban seharusnya merasa berhutang budi pada dirinya. Bila perlu, para pemeras akan mengutip ajaran agama, norma, tradisi sosial untuk menguatkan tekanannya.

Guilt (perasaan bersalah)
Perasaan bersalah merupakan alat hati nurani, bagian penting untuk menjadi sosok yang peduli dan bertanggungjawab. Perasaan ini mendominasi perhatian kita sampai kita melakukan sesuatu agar terlepas darinya. Untuk menghindari rasa bersalah, kita berusaha untuk tidak membuat orang kecewa dan sakit hati. Perasaan ini yang seringkali dimanfaatkan oleh para pemeras. Pemeras mendorong korbannya untuk bertanggungjawab secara menyeluruh atas keluhan, kekecewaan dan perasan tidak bahagia yang dialaminya. Rasa bersalah yang dibangkitkan akan membuat korban merasa harus memenuhi kehendak pemeras. Bila tidak, korban akan merasa “semakin bersalah”. Pemeras akan melakukan apa saja untuk menyampaikan pesan…”Ini semua salahmu, karena kamu”.

Siapa pemeras dan siapa yang menjadi korbannya? Bisa Anda sendiri atau orang-orang yang ada di sekitar Anda, orang-orang yang pentig bagi Anda. Yang perlu diingat : pemerasan merupakan transaksi, diperlukan dua pihak. Orang yang melakukan pemerasan (sadar atau tidak) dan orang yang mengijinkan orang lain melakukan pemerasan pada dirinya (sadar atau tidak).

Semoga hubungan dengan orang-orang terkasih terhindar dari hubungan yang saling menuntut, mengancam dan memeras. Semoga kita terpelihara untuk menikmati hubungan yang saling memberi, menghormati dan melengkapi.

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 8:00 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Dibeli Diam – Diam . . .

without comments

Bila Anda sering merasa tidak cukup waktu untuk mengerjakan pesanan/perintah orang sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk dinikmati bersama keluarga, atau sendirian,

Bila Anda sering berpikir bahwa masih banyak Agenda yang belum terselesaikan, masih sangat jauh pencapaian Anda dari harapan sehingga Anda sulit sekali bersantai atau menikmati prosesnya ….

Bila hubungan Anda dengan orang-orang yang signifikan bagi Anda menjadi semakin renggang karena semakin jarangnya berbagi kasih sehingga hubungan Anda membeku diatas bara kekesalan …..

Bila kerja keras meraih posisi, kekayaan dan popularitas begitu melelahkan sehingga menggerogoti kesehatan Anda . . .

Berhentilah sejenak untuk berpikir . . .semoga Anda tidak sedang DIBELI DIAM – DIAM oleh pekerjaan atau posisi Anda saat ini….

Hemmmm

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 7:55 am

Posted in Berbagi Pemikiran

Peluruh Jalinan Asmara

without comments

Hubungan yang sehat bersama pasangan tidak terjadi begitu saja. Apakah anda merasa aman karena pasangan memiliki beragam kebaikan? Apakah anda tetap yakin akan selalu dimaklumi? Bila beberapa hal dibawah ini sering hadir dalam percakapan anda dengan pasangan, sebaiknya pikirkan kembali dan mulai membenahi diri.

1. Saling menyerang saat menghadapi perbedaan. Masalah akan selalu hadir dalam kehidupan bersama pasangan. Kebersamaan menghadapi masalah, kolaborasi menemukan solusi, akan semakin menguatkan jalinan harmoni bersama kekasih hati. Perbedaan dalam menghadapi permasalahan adalah keniscayaan. Bagaimana pasangan menghadapinya akan menentukan, jalinan asmara semakin kukuh atau luruh. Perhatikan cara bicara anda dan pasangan: apakah saling menaikkan nada bicara dan menajamkan ekspresi wajah sehingga terkesan ketus? Apakah ada niat untuk berdiskusi atau setiap orang sibuk dengan pikiran sendiri? Apakah saling menghargai kontribusi meski belum memperoleh solusi? merasa aman berbagi gagasan tanpa khawatir disalahkan?

2. Saling menyalahkan, bukan mengingatkan. Mengherankan, lebih pasnya menyedihkan, ketika ada orang yang membiarkan bahkan menikmati pasangannya tersiksa dengan perasaan bersalah. Masalah akan semakin rumit dan melelahkan bila setiap pihak sibuk membela diri dan menyangkal kontribusi. Lebih parah lagi bila ditambah dengan terang-terangan menuduh atau pelan-pelan menyudutkan dan menghadirkan perasaan bersalah. Pasangan kita bukan sosok sempurna, selalu akan ada kekurangan dan kesalahan. Maka dari itu, pasangan perlu belajar saling memberi dan menerima umpan balik yang mengembangkan bukan meruntuhkan.

3. Memulai dan mengakhiri hari dengan pernyataan negatif. Apa yang biasa terjadi di pagi hari bersama pasangan anda? Bersyukurlah bila memiliki kebiasaan berbagi kelembutan kepedulian dan kehangatan kasih sayang. Waspada, bila masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri, saling menuntut diperhatikan. Dan, pamer tampang dingin dan menyebalkan. Apa yang akan terjadi seharian bila awalnya seperti ini? Begitu pula saat malam menjelang, ketika lelah dan gerah melanda. Bersyukurlah, kalau anda dan pasangan bisa saling berbagi dan menyegarkan diri. Waspada, bila anda dan pasangan berbagi mimpi buruk bahkan sebelum tidur dimulai.

4. Mudah salah paham, sulit memaafkan. Salah paham tak terelakkan. Salah paham sering terjadi bila setiap pihak menuntut dimengerti. Kesediaan untuk mendahulukan mengerti, setelah itu memudahkan untuk dimengerti akan membantu pasangan menjalin saling pengertian. Waspada bila anda mudah salah paham karena menyuburkan prasangka atau enggan konfirmasi dan klarifikasi. Hati-hati, pertengkaran sering diawali karena salah paham dan saling menyalahkan.

5. Gampang NGeluh, NGambek, NGomel, NGecam. Tekanan hadir silih berganti. Semakin lama, akan saling mengenali kekuatan dan keterbatasan pasangan. Hati-hati, bila anda gampang ngeluh, ngambek, ngomel dan ngecam. Mungkin anda menikmati karena setelahnya anda merasa sesak di dada lepas, tapi coba hayati apa yang dipikirkan dan dirasakan pasangan anda. Mungkin ia diam dan menahan diri, tapi bila hal ini terjadi setiap hari…sebaiknya anda mempertimbangkan dampak buruk yang akan terjadi nanti.

Sementara segini dulu, apakah ada pertanda lainnya? Mari berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 7:50 am

Posted in Teman Berbagi

Kuncinya, Menahan Diri

without comments

Sebuah percakapan singkat, di suatu sore, saat saya menggendong Reynard yang sedang menangis, Mas Aby memulai percakapan:
“…dik reynard mungkin marah tapi belum bisa bicara, makanya ia nangis nggak jelas…nanti kalau sudah bisa bicara, kalau marah ngomong saja agar orang lain ngerti kalau kita marah…ayah, waktu tadi ade minta ijin main “tab” tapi ayah malah minta ade main huruf-huruf..ade sebenarnya marah lho…”
“oh”, hanya itu yang keluar dari mulut saya. Terhenyak, tersadar akan kegagalan memperhatikan perasaan Mas Aby saat itu.
“Iya, tapi ade menahan diri, ade diam sebentar…terus nggak jadi marah dan ngikutin kata-kata ayah…jadi kalau marah…tahan saja dulu…baru nanti bicara kalau sudah tenang, kalau langsung bicara jadinya ngomel-ngomel nggak jelas…”
Catatan percakapan ini saya usahakan mirip dengan apa yang disampaikan Mas Aby (5 th), meski saya juga tak sanggup menjamin sama persis dengan apa yang ia ucapkan. Tetapi, saya belajar dan diingatkan kembali pentingnya menahan diri. Terimakasih nak, untuk kesekian kalinya menjadi teman belajar ayahmu.

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 7:48 am

Posted in Teman Berbagi

Ragam Teknik Fasilitasi

without comments

“satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman” _Albert Einstein

Teknik Fasilitasi pada dasarnya merupakan “alat bantu” fasilitasi. Semakin efektif seorang fasilitator dalam menggunakan teknik fasilitasi, semakin mudah ia membantu peserta mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu faktor kunci keberhasilan fasilitator dalam memfasilitasi pembelajaran adalah pemilihan teknik yang tepat pada setiap tahapan pembelajaran.
Berdasarkan kajian kepustakaan dan rangkaian pengalaman kami dalam memfasilitasi, kami rekomendasikan ragam teknik fasilitasi yang dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :
A. Membangun landasan belajar
B. Mempercepat penguasaan
C. Mengoptimalkan pencapaian

A. Membangun Landasan Belajar
Aktivitas pembelajaran pada bagian ini ditujukan untuk memfasilitasi kesiapan peserta untuk belajar serta membangkitkan ketertarikan dan kesediaan peserta untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Contoh aktivitas membangun landasan pembelajaran :
⇒ Penataan Lingkungan Fisik, ragam aktivitas untuk menciptakan lingkungan fisik kelas yang nyaman dan membangkitkan minat dan semangat peserta selama berada di kelas.
⇒ Pencairan Suasana & Pembangkit Semangat, ragam aktivitas untuk membantu peserta mengurangi kecanggungan, memfasilitasi peserta merasakan iklim belajar yang menyenangkan, melancarkan interaksi antar peserta dan mengembalikan gairah belajar peserta.
⇒ PEMBULATAN TEKAD BELAJAR, ragam aktivitas berikut untuk memfasilitasi peserta menemukan ketertarikan pada pembelajaran, mengeksplorasi manfaat pembelajaran, berbagi harapan dan membangun komitmen untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

B. Mempercepat Penguasaan
Ragam aktivitas pada bagian ini, sebaiknya disajikan ketika peserta telah siap mengikuti pembelajaran. Berikut contoh tekik fasilitasi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta mempercepat penguasaan materi pembelajaran atau mencapai tujuan pembelajaran:
# PERMAINAN INSPIRATIF: Fasilitator menghadirkan pengalaman belajar yang dikemas dalam sebuah dan atau serangkaian permainan yang dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran, kondisi peserta dan sumber daya yang tersedia.
# PRESENTASI INTERAKTIF: Fasilitator memulai presentasi dengan informasi yang mengejutkan peserta dan menghentikan presentasi secara periodik untuk mengajukan pertanyaan. Peserta membahas pertanyaan tersebut secara berpasangan kemudiaan menyatakan jawabannya. Fasilitator memberikan umpan balik atas jawaban yang diberikan.
# PENEMUAN METAFORA: Fasilitator menggunakan benda, binatang atau tumbuhan yang dikenali peserta sebagai perumpamaan untuk memudahkan peserta memahami materi pembelajaran. Teknik ini bisa juga dilakukan dengan meminta peserta menemukan metafora (perumpamaan) untuk menggambarkan materi pembelajaran agar mudah dipahami dan atau diingat.
# VIDEO INTERAKTIF: Fasilitator menayangkan sebuah tayangan video kepada peserta dan meminta peserta mencatat poin-poin kunci dari video yang ditayangkan. Seusai penayangan, peserta berdiskusi mengenai poin-poin kunci yang mereka buat.
# REKONSTRUKSI: Fasilitator meminta peserta berkelompok dan memberikan kelompok kartu-kartu yang berisikan bagian-bagian dari materi yang memiliki sekuen / urutan prosedural. Peserta akan mengurutkan kartu sesuai dengan urutan prosedur yang benar dan menjelaskan mengapa urutan tersebut mereka susun sedemikian rupa.
# JIGSAW PUZZLE: Fasilitator membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan bagian dari suatu materi belajar. Setelah mendiskusikan materi, setiap kelompok dibagi menjadi dua atau lebih sub kelompok. Beberapa sub kelompok akan menjadi perwakilan kelompok untuk bertamu ke kelompok lain dan mencari informasi mengenai materi yang dikuasai kelompok lain tersebut. Satu sub kelompok akan menjadi tuan rumah yang akan menjelaskan materi kepada perwakilan tamu dari sub kelompok lain. Setelah selesai, seluruh perwakilan kelompok akan kembali ke kelompoknya dan memberikan penjelasan tentang materi yang mereka pelajari dari kelompok lain. Fasilitator mengakhiri sesi dengan mereview semua materi yang telah dipelajari dengan seluruh peserta.
# DESAIN POSTER: Fasilitator memberikan bagian materi pelajaran kepada setiap peserta. Peserta diminta membuat sebuah gambaran visual tentang bagian materi yang diperolehnya dengan menggunakan flip chart kemudian memajang hasil pekerjaannya di dinding kelas dan mempresentasikannya kepada peserta lain.
#MNEMONIC: Fasilitator menggunakan singkatan nama, rima (seperti akhiran dalam puisi), akronim ketika menyajikan infomasi/materi pembelajaran. STAR : Stimulate, Transfer, Apply, Review
# DEMONSTRASI: Fasilitator mendemonstrasikan cara-cara yang benar dalam melakukan pekerjaan. Peserta memperhatikan fasilitator dan kemudian menirunya.
# BERMAIN PERAN: Fasilitator meminta peserta untuk memerankan suatu situasi yang mungkin dialaminya di pekerjaan ataupun di kehidupan sehari-hari
# SOSIO DRAMA: Fasilitator meminta kelompok peserta untuk merancang dan menampilkan rangkaian adegan yang menggambarkan suatu situasi sosial yang merepresentasikan materi pembelajaran.

C. Mengoptimalkan Pencapaian
Ragam aktivitas pada bagian ini dimanfaatkan untuk mengoptimalkan materi pembelajaran yang telah berhasil dipelajari peserta dengan cara mengkaji ulang, mengeksplorasi, menerapkan dan mempraktekkanya. Berikut beberapa contoh yang biasanya kami lakukan:
# VISUAL AID REVIEW: Fasilitator menampilkan kembali materi pembelajaran yang disajikan melalui alat bantu visual dan menanyakan kembali kepada peserta tentang poin-poin penting di dalamnya. Peserta diminta menjawab pertanyaan dengan menjelaskan maksud dari setiap poin & mengapa poin tersebut penting.
# BENAR ATAU SALAH: Fasilitator memberikan masing-masing peserta secarik kertas yang berisikan setengah informasi yang benar dan setengah informasi salah. Peserta akan menentukan mana informasi yang benar dan mana yang salah dengan mengemukakan alasannya.
# PERTIMBANGKAN KEMBALI: Fasilitator meminta peserta menuliskan pandangannya tentang materi pelajaran di awal dan akhir sesi. Peserta kemudian mengemukakan apakah pandangan mereka terhadap materi yang diberikan masih sama atau telah mengalami perubahan. Fasilitator memberikan apresiasi atas perubahan positif yang dialami peserta.
# TEKA-TEKI SILANG: Fasilitator menyiapkan teka-teki silang sederhana dengan jawaban yang berisikan istilah penting dalam materi pelajaran. Peserta menjawab teka-teki secara berpasangan dengan menggunakan petunjuk yang diberikan seperti definisi singkat, kategori kata, contoh dan lawan kata.
# TUNJUKKAN ANDA TAHU: Fasilitator meminta peserta memperagakan suatu proses ataupun seri dari suatu proses yang berkaitan dengan materi pelajaran. Peserta mempraktekkannya sambil mengucapkan keras-keras apa yang sedang mereka lakukan dalam setiap tahapnya dan mengapa mereka melakukannya.
# LATIHAN BERPASANGAN: Fasilitator meminta peserta berpasangan kemudian memberikan kartu berisikan gambaran situasi nyata yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setiap pasangan akan menjelaskan secara detail bagaimana mereka akan mengatasi situasi tersebut berdasarkan pada pengetahuan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# KONSULTASI SESAMA REKAN: Fasilitator meminta seorang peserta untuk menyatakan masalah yang dihadapinya yang berhubungan dengan materi pelajaran yang baru mereka dapatkan. Peserta lain akan membantu peserta tersebut untuk memberikan solusi dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dari sesi pelatihan.
# PERKIRAAN RINTANGAN: Fasilitator meminta seorang peserta memperkirakan rintangan yang akan dihadapi saat menerapkan pengetahuan baru yang mereka peroleh dari sesi pelatihan. Fasilitator kemudian meminta peserta lain untuk memberikan solusi yang dapat diterapkan secara riil di kehidupan nyata peserta.
# BERBAGI KISAH & HARAPAN: Fasilitator meminta peserta untuk menceritakan proses dan hasil belajar yang mereka capai. Peserta diminta untuk menemukan manfaat apa yang mereka peroleh dari sesi pembelajaran, dan memikirkan tentang bagaimana mereka dapat menerapkan apa yang telah dipelajari dari sesi pelatihan di kehidupan nyata.

Referensi:
Lou Russel.2011. The Accelerated Learning Fieldbook: Panduan belajar cepat untuk pelajar dan umum. Diterjemahkan olehM Irfan Zakkie.Bandung: Nusa Media
Meier, Dave. 2000. The Accelerated Learning Handbook. United States of America: McGraw-Hill.
Silberman, Mel. 2005. 101 Ways To Make Training Actives. Pfeiffer.

Written by Hari Setyowibowo

June 2nd, 2018 at 7:32 am

Posted in Berbagi Pemikiran