Hari Setyowibowo

Belajar_Berkarya_Berbagi

Menghadapi Celaan

without comments

Setelah kita menyadari mencela orang lain adalah salah satu bentuk kekerasan, semoga kita tergerak untuk menghindarinya. Kita bisa mengendalikan pikiran dan mulut kita untuk tidak mencela orang lain.

Kabar tak sedapnya, bisa jadi sampai saat ini para pencela masih bergentayangan di sekitar kita. Kita bisa berupaya menyampaikan himbauan akan dampak celaan dan merekomendasikan percakapan yang lebih konstruktif. Meskipun demikian, kita bisa menjamin bisa menghentikan celaan keluar dari mulutnya. Jadi, mari kita coba persiapkan diri untuk menghadapi celaan yang terlanjur meluncur dari mulut mereka.

Celaan merupakan perkataan yang menghakimi, menghina, merendahkan, dan menjatuhkan orang lain. Para pencela memiliki kebiasaan mengkritik untuk menjatuhkan diri Anda, apa pun yang Anda lakukan, saat anda melakukan hal yang benar apalagi bila anda melakukan kesalahan. Celaan dapat menjatuhkan kepercayaan diri Anda serta membuat Anda merasa tidak berdaya.

 

Jadi, bagaimana menghadapi celaan?

Mari kita cermati tiga resep berikut ini:

  1. Bingkai ulang celaan, mengubah sudut pandang untuk memperoleh makna yang lebih bermanfaat. Terdapat dua cara untuk membingkai ulang sebuah fakta, yaitu context reframe dan meaning reframe (David Molden, 2001). Context reframe merupakan cara membingkai ulang dimana kita mencoba mengubah konteks atau keadaannya. Meaning reframe merupakan cara membingkai ulang dengan membuat makna alternatif untuk tingkah laku tertentu.
  2. Pasang LAMPU LALU LINTAS di benak anda. Seperti layaknya lampu lintas, Anda perlu memberikan tiga tanda kepada diri Anda saat menerima celaan: Merah (tanda berhenti), untuk celaan yang anda rasa membahayakan, merusak, dan menjatuhkan harga diri kita, Kuning (tanda hati-hati) untuk celaan yang dirasakan ada benarnya tetapi tidak seutuhnya benar, kita perlu menyaringnya dan tidak menerimanya mentah-mentah, Hijau (tanda lanjutkan) hanya untuk hal-hal yang dirasa bermanfaat untuk memperbaiki diri kita.
  3. Tampilkan ketegasan. Bila perlu nyatakan perasaan anda dengan tegas untuk menyatakan keberatan, menetapkan batas atau melindungi diri anda dari kekerasan verbal lebih lanjut.

 

Apakah anda memiliki pengalaman lain, mari berbagi.

Written by Hari Setyowibowo

January 31st, 2016 at 4:36 am

Posted in Teman Berbagi

Leave a Reply