Berusaha MENGERTI

MENGERTI, sering menjadi terdakwa dari berbagai peristiwa. Kebanyakan tak disuka …”Ini terjadi karena kamu nggak mau ngerti!”, “Andai saja kita saling ngerti, mungkin nggak akan jadi begini”.

Sebaliknya, MENGERTI, juga menjadi perekat jalinan relasi dan kunci keberhasilan meraih prestasi, “Kita bisa bertahan melalui semua ini karena kita mengerti….”, “Keberhasilan ini terjadi karena kita mengerti …”

Kesadaran akan pentingnya saling mengerti kadang hadir belakangan. Alih-alih, berusaha untuk mengerti, yang sering muncul adalah tuntutan agar dimengerti, “mustinya kamu ngerti…”.

Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply _Stephen R. Covey

Bila anda serius memperbaiki jalinan relasi, berhenti saling menuntut untuk dimengerti dan mulai berusaha saling mengerti.

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Mengerti merupakan proses menerima, memperhatikan kepada, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Kemauan dan kemampuan mengerti menjadi penentu kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan kerjasama.

 

Mengapa mengerti terasa berat bagi sebagian orang?

  • Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.
  • Sibuk Sendiri. Saat mendengar, sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pAndang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan mitra bicara.
  • Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dahulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.
  • Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.
  • Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)
  • Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.
  • Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.

 

Cobalah menggerti

MENGERTI merupakan keterampilan yang menentukan kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan hubungan baik. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI, kata yang mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Untuk mengerti, kita perlu MENDENGARKAN, bukan hanya mendengar, apalagi pura-pura mendengar.

MENDENGARKAN mempersyaratkan kesediaan untuk memperhatikan pernyataan verbal maupun non verbal untuk dihayati dan ditangkap maknanya bagi penyampai dan selanjutnya menunjukkan kepada pemberi pesan bahwa ia telah dipahami secara akurat.

MENDENGARKAN melibatkan aktivitas fisik dan psikologis. Untuk mampu mendengarkan, kita tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

MENDENGARKAN memungkinkan kita untuk mengerti emosi dari sudut pandang orang lain, menangkap apa yang ia bicarakan berdasarkan pola pikirnya sehingga pada akhirnya kita dapat memahaminya dan pada akhirnya dapat menjalin saling pengertian.

“The reality of the other person is not in what he reveals to you, but in what he cannot reveal to you. Therefore, if you would understand him, listen not to what he says but rather what he does not say” Kahlil Gibran_

Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut :

  • Attending, Memperhatikan, hadir sepenuhnya. Kepedulian, kemauan dan kerelaan mendengarkan orang lain sehingga memudahkan telinga mendengar dan mata memperhatikan. Dalam percakapan, pesan yang disampaikan mitra bicara, dapat berwujud pesan verbal (kata-kata) maupun non verbal (cara bicara, yang terdengar dan terlihat).
  • Interpretating, Memaknakan, memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya. Memahami pikiran, perasaan dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya.
  • Responding, Menanggapi, Memberikan tanggapan terhadap pesan yang kita pahami. Memastikan akurasi pemahaman dan menyatakan pengertian. Aktivitas ini bermanfaat, terutama, ketika: Anda ingin memastikan pemahaman, mitra bicara ingin dimengerti, anda ingin mengelola pembicaraan.

 

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti.

Memang tidak mudah tapi cobalah untuk mengerti.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*