January 2013

Tulisan ini hadir terdorong oleh gairah beberapa sahabat yang tertarik untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan (PBK). Untuk sahabatku, tulisan ini merupakan pengantar aktivitas Lingkar Berbagi Apresiasi yang akan kita lakukan. Meski demikian, tulisan ini bukan rahasia, dan tentu saja sila dibagi bila dirasa menghadirkan manfaat.

Apa itu percakapan bertuah?

Percakapan merupakan proses berbagi. Aktivitas memberi dan menerima pernyataan, baik verbal maupun nonverbal. Arena melempar pertanyaan dan menerima jawaban. Bertuah bermakna memiliki kekuatan, pengaruh.  Sederhananya, percakapan bertuah adalah percakapan yang memiliki kekuatan, berdaya untuk mempengaruhi pola pikir, perasaan dan tindakan. Bukan sekedar percakapan. Bukan percakapan biasa.

Mari sejenak berhitung, berapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk melakukan percakapan? Sejak bangun sampai tertidur kembali, berapa lama kita menjalani percakapan dengan orang-orang di sekitar kita? Bila ditambahkan dengan dialog batin, percakapan dengan diri sendiri, jadi berapa waktu yang telah kita curahkan untuk melakukan percakapan?

Bila pemanfaatan waktu menentukan kualitas kehidupan, maka kualitas percakapan akan menentukan kualitas kehidupan kita. Pertanyaan selanjutnya, apakah percakapan tersebut menghadirkan manfaat atau sebaliknya? Apakah percakapan yang kita lakukan menghadirkan friksi atau harmoni? membangkitkan semangat berprestasi atau melayukannya? Mengembangkan ketangguhan atau meluruhkannya?

Pada kesempatana ini kita akan berbagi pengalaman, pengetahuan dan perasaan tentang Percakapan Bertuah Ketangguhan. Semoga ada lagi yang berminat untuk berbagi tentang Percakapan Bertuah Harmoni, Percakapan Bertuah Prestasi atau tuah-tuah percakapan lainnya.

Apa ketangguhan?

Sederhananya, ketangguhan merupakan kemampuan kita menghadapi masalah, kesulitan, bencana dan lain sebagainya yang berpotensi membuat kita tertekan dan menderita. Kita tidak akan mengelak dari masalah. Kita pernah dan mungkin akan (lagi) mengalami kejadian yang menyedihkan bahkan mungkin menyakitkan. Tetapi bukan peristiwa, kejadian yang membuat kita jatuh dan tak berdaya. Bagi pribadi tangguh, masalah akan membesarkannya, membangkitkan kekuatan ksatria dalam dirinya. Bagi pribadi rapuh, masalah akan mengkerdilkannya, meluruhkan kekuatannya.

Dalam Lingkaran Berbagi Apresiasi : Percakapan Bertuah Ketangguhan nanti kita akan berbagi mengenai :

  • Pilar Ketangguhan
  • Pilar Percakapan
  • Dinamika Percakapan
  • Menu Percakapan Bertuah Ketangguhan (Menghadirkan Kenyamanan, Menjalin Pengertian, Menginspirasi Perubahan)

Mari Berbagi !

Read more

Lingkar Berbagi Apresiasi merupakan metode yang digunakan untuk memfasilitasi perubahan positif berlandaskan pada beberapa pemahaman dasar, yaitu:

  • Lingkar bermakna bersama, menjadi bersama, dan secara langsung berpartisipasi aktif dalam interaksi.
  • Berbagi bermakna berdialog, memberi-menerima dan belajar dari satu sama. Aktivitas saling memperkaya dan menguatkan.
  • Apresiasi bermakna mengakui, menghargai dan memberi nilai tambah.

Dalam prakteknya, metode Lingkar Berbagi Apresiasi terdiri dari tiga fase, yaitu:

#Fase 1: Berbagi Harapan (Sharing Expectation) : Partisipan difasilitasi untuk berbagi harapan mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan dan menyatakan komitmennya untuk aktif terlibat dalam aktifitas.

#Fase 2: Eksplorasi Sumber Daya (Exploring Resources) : Partispan difasilitasi untuk mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki dan atau yang tersedia.

#Fase 3 : Merancang Masa Depan (Arranging The Future) : Partisipan difasilitasi untuk memformulasikan gambaran keberhasilan yang ingin dicapai dengan menyediakan dukungan dan tahapan untuk mencapainya.

Bila Anda berminat untuk belajar dan berbagi bersama tentang metode fasilitasi ini. Saya akan menyambutnya dengan senang hati.

Mari Berbagi !

Read more

Masa depan harus lebih baik dari masa sekarang adalah tekad kebanyakan orang. Menjadi lebih berkualitas adalah impian sebagian besar dari kita. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Marcus Buckingham (2005), mengungkapkan tiga pendekatan yang dilakukan orang atau organisasi untuk meningkatkan kualitas. Tiga pendekatan tersebut adalah :

“TEMUKAN TAKTIK YANG BENAR DAN TERAPKANLAH”

“TEMUKAN CACAT-CACAT ANDA DAN PERBAIKI”

“TEMUKAN KEKUATAN-KEKUATAN ANDA DAN GALILAH”

Read more

MENGERTI, sering menjadi terdakwa dari berbagai peristiwa. Kebanyakan tak disuka …”Ini terjadi karena kamu nggak mau ngerti!”, “Andai saja kita saling ngerti, mungkin nggak akan jadi begini”.

Sebaliknya, MENGERTI, juga menjadi perekat jalinan relasi dan kunci keberhasilan meraih prestasi, “Kita bisa bertahan melalui semua ini karena kita mengerti….”, “Keberhasilan ini terjadi karena kita mengerti …”

Kesadaran akan pentingnya saling mengerti kadang hadir belakangan. Alih-alih, berusaha untuk mengerti, yang sering muncul adalah tuntutan agar dimengerti, “mustinya kamu ngerti…”.

Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply _Stephen R. Covey

Bila anda serius memperbaiki jalinan relasi, berhenti saling menuntut untuk dimengerti dan mulai berusaha saling mengerti.

MENGERTI, mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Mengerti merupakan proses menerima, memperhatikan kepada, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. Kemauan dan kemampuan mengerti menjadi penentu kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan kerjasama.

 

Mengapa mengerti terasa berat bagi sebagian orang?

  • Hambatan Fisik. Keterbatasan alat indra bisa menjadi penghambat komunikasi. Selain itu, kondisi lingkungan juga bisa menjadi penghambat, misalnya : telepon yang terus berdering, jarak yang terlalu jauh atau adanya barang yang menutupi satu sama lain.
  • Sibuk Sendiri. Saat mendengar, sibuk dengan pemikiran lain atau sambil mengerjakan hal lain, sehingga sehingga terdapat informasi yang hilang. Banyak sekali gagasan di pikiran, sehingga sulit untuk memahami sudut pAndang orang lain. Sibuk dengan kepentingan pribadi sehinga cenderung mengabaikan sebagian atau seluruh isi pesan yang disampaikan mitra bicara.
  • Merasa sudah tahu. Menebak dan atau sudah membuat penilaian lebih dahulu atas apa yang akan disampaikan mitra bicara. Menyusun informasi yang didengar sesuai dengan kerangka dugaan pribadi. Memiliki sesuatu yang hendak dikatakan berikutnya, hanya menunggu giliran bicara dan ingin segera menyela pembicaraan.
  • Hambatan emosional. Sedang dalam emosi yang tidak menyenangkan, baik karena mitra bicara, topik pembicaraan atau faktor lainnya.
  • Prasangka. Menyuburkan asumsi sebelum maupun selama komunikasi berlangsung. Prasangka karena perbedaan (dalam hal agama, budaya, ras, posisi, dll.)
  • Defensif. Orang yang mendengarkan dengan defensif bisa melihat komentar netral menjadi sebuah serangan personal tanpa benar-benar memahami hal yang dinyatakan oleh orang yang berbicara.
  • Evaluasi Dini. Tegesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mitra komunikasi menyelesaikan kalimatnya. Terburu-buru, menilai apa yang sedang disampaikan mitra komunikasi. Lebih parah lagi, menghakimi atau menyalahkannya.

 

Cobalah menggerti

MENGERTI merupakan keterampilan yang menentukan kualitas percakapan dan meningkatkan jalinan hubungan baik. MENGERTI merupakan proses menerima, memperhatikan, dan menetapkan arti dari pesan yang didengarkan dan dilihat. MENGERTI, kata yang mudah diucapkan, namun perlu kesungguhan untuk mempraktekkannya. Untuk mengerti, kita perlu MENDENGARKAN, bukan hanya mendengar, apalagi pura-pura mendengar.

MENDENGARKAN mempersyaratkan kesediaan untuk memperhatikan pernyataan verbal maupun non verbal untuk dihayati dan ditangkap maknanya bagi penyampai dan selanjutnya menunjukkan kepada pemberi pesan bahwa ia telah dipahami secara akurat.

MENDENGARKAN melibatkan aktivitas fisik dan psikologis. Untuk mampu mendengarkan, kita tidak hanya memanfaatkan fungsi mata dan telinga, tetapi juga kebesaran hati, kesediaan, kepedulian dan konsentrasi.

MENDENGARKAN memungkinkan kita untuk mengerti emosi dari sudut pandang orang lain, menangkap apa yang ia bicarakan berdasarkan pola pikirnya sehingga pada akhirnya kita dapat memahaminya dan pada akhirnya dapat menjalin saling pengertian.

“The reality of the other person is not in what he reveals to you, but in what he cannot reveal to you. Therefore, if you would understand him, listen not to what he says but rather what he does not say” Kahlil Gibran_

Dalam mendengarkan untuk mengerti, setidaknya terkandung tiga aktivitas penting sebagai berikut :

  • Attending, Memperhatikan, hadir sepenuhnya. Kepedulian, kemauan dan kerelaan mendengarkan orang lain sehingga memudahkan telinga mendengar dan mata memperhatikan. Dalam percakapan, pesan yang disampaikan mitra bicara, dapat berwujud pesan verbal (kata-kata) maupun non verbal (cara bicara, yang terdengar dan terlihat).
  • Interpretating, Memaknakan, memperoleh pemahaman bukan hanya dari “apa” yang dikatakan tetapi juga dari “bagaimana” cara bicaranya. Memahami pikiran, perasaan dan kebutuhan mitra bicara yang melatari pernyataannya.
  • Responding, Menanggapi, Memberikan tanggapan terhadap pesan yang kita pahami. Memastikan akurasi pemahaman dan menyatakan pengertian. Aktivitas ini bermanfaat, terutama, ketika: Anda ingin memastikan pemahaman, mitra bicara ingin dimengerti, anda ingin mengelola pembicaraan.

 

Ternyata oh Ternyata, mengerti dimulai dari KESEDIAAN untuk mengerti, bukan tuntutan agar orang lain mudah dimengerti, apalagi keluhan bahwa orang lain sulit dimengerti.

Memang tidak mudah tapi cobalah untuk mengerti.

Read more