July 2010

Bila Anda sering merasa tidak cukup waktu untuk mengerjakan pesanan/perintah orang sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk dinikmati bersama keluarga, atau sendirian,

Bila Anda sering berpikir bahwa masih banyak Agenda yang belum terselesaikan, masih sangat jauh pencapaian Anda dari harapan sehingga Anda sulit sekali bersantai atau menikmati prosesnya ….

Bila hubungan Anda dengan orang-orang yang signifikan bagi Anda menjadi semakin renggang karena semakin jarangnya berbagi kasih sehingga hubungan Anda membeku diatas bara kekesalan …..

Bila kerja keras meraih posisi, kekayaan dan popularitas begitu melelahkan sehingga menggerogoti kesehatan Anda . . .

Berhentilah sejenak untuk berpikir . . .semoga Anda tidak sedang DIBELI DIAM – DIAM oleh pekerjaan atau posisi Anda saat ini….

Hemmmm

Read more

Sumber kecemasan fasilitator :

a.Materi. Materi yang kurang dikuasai dengan baik dapat menjadi sumber kecemasan. Fasilitator dapat menjadi kurang percaya diri apabila ia merasa ia kurang menguasai/mengetahui tentang suatu materi yang akan diberikannya.

b.Tim. Tim kerja yang kurang mendukung fasilitator dalam memberikan pelatihan bahkan yang perilaku tim yang dapat menjatuhkan kredibilitas fasilitator di depan peserta.

c.Peserta. Banyak hal dari peserta yang dapat memicu kecemasan kita antara lain karakteristik dan perilaku peserta saat pelatihan.

d.Fasilitas. Keterbatasan fasilitas pelatihan merupakan salah satu pemicu yang dapat mengganggu focus konsentrasi fasilitator dalam menyampaikan pelatihan

e.Diri sendiri. Ketakutan, ketidakpercayaan diri, rasa kurang memiliki pengetahuan dan banyak hal dalam diri yang memicu munculnya kekhawatiran dalam diri.

Tips untuk Mengatasi kecemasan sebelum memfasilitasi, antara lain :

Persiapan
Siapkan dan tata segala hal yang anda butuhkan untuk menjalankan kelas pelatihan baik dari sisi materi, tim maupun fasilitas yang dibutuhkan.

Persiapan Materi :
– Susun materi sesuai dengan kebutuhan peserta
– Susun alur/agenda pelatihan sesuai dengan kebutuhan peserta
– Kembangkan material pelatihan yang dibutuhkan (slide, handout, workbook, references)
– Pastikan Anda menguasai materi yang akan diberikan

Persiapan Tim Fasilitator :
– Briefing dengan tim yang akan bekerjasama dengan anda dalam memberikan pelatihan, jelaskan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota tim.

Persiapan Fasilitas :
– Persiapkan audiovisual untuk melakukan pelatihan
– Persiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk menunjang metode pelatihan

Visualisasi
Dengan menciptakan bayangan visual tentang keadaan kelas pelatihan yang akan dibawakan, anda secara aktual membuat perilaku yang diinginkan dengan spesifik yang akan membuat anda untuk melakukan hal tersebut pada kelas yang akan anda bawakan. Visualisasikan kelas pelatihan dalam pikiran anda. Bayangkan jalannya pelatihan dari awal hingga akhir. Mengingat hal ini dilakukan dalam bayangan anda, bebaskan diri anda dari segala kecemasan dan ketika anda sedang dalam kelas pelatihan bayangan anda, ciptakan peserta-peserta yang penuh keingintahuan dan bayangkan kesuksesan pencapaian tujuan pelatihan.

Latihan
Berlatih untuk menyampaikan materi pelatihan. Latihan akan membuat anda lebih yakin bahwa anda memang mampu untuk melakukannya.

Relaksasi
Banyak cara untuk melakukan relaksasi. Metode-metode yang dapat dilakukan antara lain: Menikmati hiburan, Mengelola Pernafasan dan Relaksasi Otot.

Temukan Pendukung
Pendukung adalah orang-orang yang bersedia memberikan penguatan pada Anda, melalui pernyataan verbal maupun non verbal.

(bersambung)

Read more

Dalam sebuah pelatihan, akan memungkinkan ada beberapa orang peserta yang menantang, mengkonfrontasikan dan merusak suasana pelatihan. Individu-individu ini harus ditangani sesuai dengan tingkah laku dan gaya mereka. Jika tidak, mereka akan mempengaruhi sikap negatif kepada peserta yang lainnya dan memperburuk suasana pelatihan.

Lingkungan belajar yang interaktif membuka kesempatan untuk para peserta yang menyulitkan untuk muncul. Pada pelatihan yang menekankan pada peserta (participant centered), teknik menangani orang-orang sulit ini merupakan salah satu teknik yang paling penting untuk mencegah terganggunya proses pelatihan. Tetapi tidak selalu memungkinkan untuk mencegah mereka.

Berikut ini adalah 10 tipe peserta yang merepotkan dan beberapa cara yang dapat digunakan oleh fasilitator untuk menanganinya.

THE SNIPER
Seperti namanya, peserta ini bekerja secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya adalah secara diam-diam berupaya untuk menurunkan kredibilitas Anda sebagai fasilitator dimata peserta yang lain. Hal ini mungkin terjadi saat perbincangan dengan peserta lain selama aktivitas kelompok. Hal ini mungkin juga terjadi di luar kelas saat istirahat. Peserta tipe ini hanya bekerja secara tersembunyi, jika fasilitator menghilangkan kesempatan ini maka peserta tipe ini tidak akan membuat kerusakan yang mengganggu pelatihan, Ia tidak akan dapat mempengaruhi peserta lain. Jika dibiarkan maka peserta ini dapat membuat banyak kerusakan dalam proses pelatihan.

Teknik menangani:
– Ciptakan suatu panduan untuk sesi yang produktif dengan berjalan mengelilingi peserta dan mendengar dengan baik saat aktivitas diskusi. Hal ini akan memunculkan semua peserta sehingga peserta tipe ini tidak mendapatkan kesempatan untuk mempengaruhi orang lain.
– Ciptakan kelompok baru dengan merotasikan peserta. Bila perlu, lakukan ini satu kali setap harinya. Hal ini membuat peserta untuk bekerja dengan orang lain dan membuat peserta ini tidak dapat menciptakan pengikut karena ia membutuhkan waktu untuk itu.
– Jika anda telah menduga bahwa seseorang telah menjadi The Sniper, tanyakan suatu pertanyaan padanya. Ajak dia untuk terlibat. Beberapa pertanyaan yang bisa anda pergunakan antara lain: “Bagaimana pendapat anda?”, ‘Bagaimana anda menangani situasi ini?”, “Cara lain apa yang terpikir oleh anda untuk menangani masalah ini?”.
– Diskusi kelompok membuat The Sniper terlibat dalam proses diskusi dan jika ia cenderung untuk menyebarkan pengaruh negatif, kemungkinan akan banyak partisipan yang melawannya.
– Jika hal ini semakin menjadi, ajak dia untuk berbicara secara pribadi.

THE FIGHTER
Seperti layaknya petarung, tipe ini menyukai pertengkaran. Peserta tipe ini menyukai melawan dan menantang orang lain. Individu ini biasanya memiliki kepribadian yang kuat dan sangat keras dalam mengajukan pendapat serta agresif untuk memastikan bahwa orang lain mendengarkannya. Mereka memiliki mentalitas “Saya Menang dan Anda Kalah”. Kekuasaan dan kekuatan adalah penting agar mereka memiliki kendali.

Teknik menangani:
– Pergunakan keinginan berkelahinya sebagai bahan diskusi, apa yang terjadi, apa yang dapat dipelajari dan bagaimana kondisi aktual dalam pekerjaan.
– Pergunakan tiga pertanyaan ini kepada peserta untuk memberikan feedback yaitu Apa yang benar mengenai situasi tersebut?, Bagaimana situasi itu dapat ditangani secara berbeda? Dan Bagaimana anda memodifikasi tingkah laku untuk mengimplemetasikannya?.
– Perkenalkan sudut pandang yang berbeda.
– Pergunakan Bola Bicara. Sehingga peserta yang ingin menantang lebih sedikit kesempatannya.

THE COMPLAINER
Peserta tipe ini adalah individu selalu yang mencari hal-hal yang dapat dikeluhkan. Menurut mereka, tidak ada yang berjalan dengan baik. Mereka dikenal sebagai orang yang mengeluh atau orang dengan sindroma “aku tidak bisa”. Yang mereka inginkan adalah perhatian dan mengeluh bagaimana mereka mendapatkannya. Ia enggan untuk mencoba suatu hal yang baru dan bekerjasama dengan orang lain untuk menyelesaikan tugas dengan alasan tidak mampu. The Complainer menginginkan simpati bahwa ia adalah korban yang mencari penyelamat untuk memperhatikannya. Ia selalu memberikan alasan kenapa tidak bisa melakukan sesuatu atau kenapa sesuatu tidak berjalan dengan baik.

Teknik menangani:
– Minta mereka untuk menjelaskan situasi yang mereka rasakan
– Jangan coba-coba untuk menjadi penolong! Setelah situasinya jelas, tanyakan: “apa yang tidak berjalan?”, “cara apa lagi menurut anda tepat untuk menangani situasi ini?”.
– Tanyakan apakah ada pelajaran tambahan yang ia inginkan untuk ia pelajari Pergunakan aktivitas tim yang memiliki peran yang spesifik
– Tanyakan pada dirinya “langkah apa yang dapat kamu ambil untuk dapat maju?” atau “bagaimana anda menangani situasi ini untuk maju ke arah yang lebih produktif?”

THE HECKLER
Peserta tipe ini adalah individu yang menginginkan untuk dilihat dan akan menyela untuk mendapatkan perhatian. Ia akan membuat komentar untuk tim dan biasanya dengan niat untuk menjadi lelucon dan dengan suara keras agar dapat didengar. Ia adalah individu yang sering melemparkan lelucon yang tidak berkaitan dengan topik diskusi untuk mencari perhatian orang lain.

Teknik menangani:
– Dekati The Heckler ini dan katakan : maaf, saya melewatinya tadi. Apa observasimu? Atau apakah anda punya pertanyaan?
– Secara sopan berikan perhatian kepada tata tertib pelatihan
– Peserta tipe ini tidak suka untuk di pamerkan. Dengan konfrontasi akan meminimalkan keinginannya
– Secara pribadi, minta padanya untuk meminimalkan lelucon-leluconnya.
– Rangkum seluruh sessi sebelum terjadi gangguan lelucon tersebut sehingga partisipan dapat kembali fokus pada proses diskusi
– Peserta lain mungkin akan mengingatkannya dengan cara yang lebih tidak sopan.

THE TALKER
Peserta ini adalah individu yang selalu memiliki opini mengenai berbagai macam hal dan menginginkan agar semua orang mendengarkannya. Ia akan menjelaskan dengan detil meskipun kedetilan ini tidak diperlukan. Ia memiliki kesulitan untuk meng-edit informasi yang dimilikinya. The Talker ini selalu siap dan ingin berbicara kepada siapapun yang mau mendengarkannya.

Teknik menangani:
– Dengan menggunakan teknik “bola bicara” dapat meminimalkannya. Yang memegang bola yang berbicara, yang lainnya tidak. Peserta yang melempar dan menentukan siapa yang akan bicara berikutnya. Biasanya The Talker tidak akan mendapatkan bola tersebut.
– Ubah peserta dalam tim
– Tekankan prinsip KISS (keep it simply structured) dalam berkomentar

THE STUBBORN
Seperti rekaman yang rusak, peserta ini seperti berhenti pada satu poin (fokus yang sempit) dan tidak mau berubah. Mereka memiliki pemikiran yang spesifik dan tidak terbuka dengan ide lain. Mereka memiliki Closed-minded. Biasanya The Stubborn memfokuskan pada bagaimana ia akan berespon ketika ia ditanya apa yang ia dengar dan ia akan mengakui bahwa ia tidak terlalu mendengarkannya. Tujuannya bukan untuk mempermalukannya tetapi untuk menunjukkan ada pandangan yang berbeda. Fasilitator dapat memberikan rangkuman dari beberapa pandangan tersebut. Dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menekankan pentingan memahami berbagai sudut pandang.

Teknik menangani:
– Ingatkan mengenai keanekaragaman pemikiran. Mereka tidak harus selalu setuju tetapi adalah penting untuk memahami berbagai sudut pandang.
– Jika ia tetap bersikeras dan memegang jalannya sesi, ubah fokusnya dengan mempergunakan pertanyaan. Sebagai contoh fasilitator dapat berkata: “itu merupakan salah satu sudut pandang dari situasi ini, sekarang ada pendapat lain? (gunakan bola bicara) ketika sampai pada The Stubborn tanyakan “apa yang anda dengar?” Biasanya The Stubborn memfokuskan pada bagaimana ia akan berespon ketika ia ditanya apa yang ia dengar dan ia akan mengakui bahwa ia tidak terlalu mendengarkannya. Tujuannya bukan untuk mempermalukannya tetapi untuk menunjukkan ada pandangan yang berbeda. Fasilitator dapat memberikan rangkuman dari beberapa pandangan tersebut. Dan ini merupakan kesmpatan yang baik untuk menekankan pentingnya memahami berbagai sudut pandang.

THE KNOW-IT-ALL
Individu ini selalu ingin menambahkan sesuatu untuk setiap diskusi dan selalu memiliki komentar dari yang dibicarakan peserta lain. Ia menganggap dirinya sebagai yang paling tahu segalanya. Kegemaran peserta ini adalah mengajukan pendapat. Kegemarannya ini bisa jadi karena ia cerewet, keras kepala dengan pendapatnya atau ia merasa mengetahui segalanya. Jika ini dibiarkan, ia akan mengganggu dan peserta lain akan mulai bebrbicara dengan pendekatan yang negatif untuk menghadapinya.

Teknik menangani:
– Tunggu sampai ia menarik napas kemudian ucapkan terimakasih dan katakan, “mari kita dengar dari yang lainnya”.
– Buat The Know-It-All ini berpikir dengan mengajukan suatu pertanyaan yang sulit pada dirinya.
Jika ia jelas-jelas melakukan kesalahan maka ajukan kembali kepada peserta lain untuk memperbaikinya.
– Gunakan bola sebagai alat bantu. Peserta yang memegang bola adalah peserta yang berbicara, setelah ia selesai berbicara maka lemparkan bola tersebut dan orang berikutnya yang berbicara. Sehingga orang yang terlalu sering berbicara akan diam jika bukan gilirannya.

THE OFF-TRACK
Biasanya, peserta tipe ini seringkali tidak sejalan dengan topik diskusi dan tidak dapat mengerti topik diskusi tersebut. Mereka mungkin punya ide bagus tetapi mereka tidak fokus. Mereka berpkir secara keras dan mungkin tidak mengerti materi yang diberikan. Seringkali, mereka cenderung menampilkan diri mereka sebagai individu yang kekurangan rasa percaya diri dengan menempatkan diri mereka lebih rendah dihadapan peserta lainnya.

Teknik menangani:
– Saat latihan atau diskusi dalam kelompok, tekankan untuk melakukan dengan benar tanpa terburu-buru. Hal ini akan membangun rasa percaya diri.
– Saat aktivitas dalam kelompok, buat jadwal dengan tugas yang sangat spesifik. Hal ini membantu mereka untuk tetap fokus
Tanyakan pertanyaan yang spesifik yang menuntut jawaban yang telah terspesifik pula

THE DROOPY EYES
Peserta tipe ini adalah peserta yang tampak tidak bersemangat dalam mengikuti pelatihan seperti hobi terlambat, malas mengerjakan tugas dan seringkali mengantuk ketika sedang berlangsung proses pembelajaran. Mereka tidak memperhatikan pada proses pelatihan. Mereka tidak mengganggu, bahkan tidak peduli.

Teknik menangani:
– Dalam aktivitas tim, Jaga agar ia tetap terlibat. Dengan terlibat maka ia akan lebih banyak menggunakan tubuhnya sehingga dapat tetap terjaga untuk fokus sehingga tidak mengantuk. Cara ini merupakan cara paling efektif.
– Pastikan anda tetap melibatkannya ketika memberikan pertanyaan. Terutama dengan bola sehingga ia akan tetap terbangun walaupun dengan sedikit kaget! Bangun situasi yang terpusat pada partisipan dan sangat interaktif sehingga tidak waktu untuk mereka-mereka ini untuk tidur siang.

Semakin banyak jam pelatihan yang Anda alami. Tentu semakin banyak pengalaman Anda dalam menghadapi berbagai tipe peserta. Apapun yang akan anda lakukan, ingatlah PADA DASARNYA SETIAP PESERTA ADALAH ORANG BAIK. Selamat berlatih.

Read more