May 2010

Sejak memulai karir sampai bulan ini, masih ada beberapa sahabat yang mengajukan pertanyaan ini. Sungguh pertanyaan yang meneguhkan. Biasanya, setelah bertanya mereka memberikan pertanyaan retoris…
“Bukankah gajinya kecil…?”
“Apa gajinya cukup untuk membiayai biaya operasionalmu (transport, makan, pulsa, buku, internet)?”
“Apa nggak iri dengan teman-teman seusia yang gajinya 10 x dari gajimu”?
“Sorry ya, kayaknya gajimu sebulan lebih kecil dari satu sesi?”
“Bukankah karirnya lama…10 tahun di perusahaan yang sama, u sudah jadi GM..”

dan banyak lagi pertanyaan, yang kurang lebih isinya, meragukan imbalan yang akan diterima.

Dulu Saya menjawab dengan jawaban seperti ini :
“Saya telah mengamati, meski gajinya kecil, dosen-dosen Saya bisa kuliah, punya rumah, punya kendaraan & bisa menyekolahkan anaknya….”
“Saya memiliki banyak waktu untuk diskusi, belajar dengan kolega dan bercengkerama dengan keluarga”
“Saya terngiang-ngiang nasehat orang tua, harta tidak dibawa mati…amal baik, ilmu yang bermanfaat dan doa yang akan menemani…”

dan jawaban serupa yang kurang lebih isinya, betapa Saya penuh pertimbangan sebelum menekuni profesi ini.

Setelah lebih dari 9 tahun mengabdi dan berkarya….banyak sekali hal-hal yang semakin meneguhkan pilihan Saya…beberapa diantaranya adalah umpan balik seperti ini :

“mata kuliah ini benar-benar mendongkrak kemampuan, kepercayaan diri, dan keberanian saya untuk berpikir lebih kritis dan lebih berani mengungkapkan ide-ide”

“Pada awalnya saya merasa asing dan tidak terlalu suka dengan cara Mas Hary membimbing yang cenderung agak cerewet (hehe maaf Mas). Tetapi, lama-kelamaan saya malah menjadi suka dan terbiasa dengan cerewetnya. Karena saya pikir cerewetnya itu bukan sekedar cerewet, tetapi cerewet yang memang benar-benar logis, rasional, dan memang penting untuk penelitian yang kami lakukan. Setiap kecerewetan yang ada itu selalu menimbulkan insight untuk saya, membuat saya menyadari bahwa sesuatu itu harusnya begini dan harusnya begitu…”

“terdengarlah isu-isu bahwa Mas Hary itu perfeksionis, sangat kritis dan sebagainya, sedikit-sedikit saya ikut terpengaruh dan bawaannya jadi ikut tegang, takut salah, atau takut terlihat bodoh…..” (upsss)

“Mas Hary sering memberikan apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan, tidak peduli hasil akhirnya seperti apa, tapi lebih menekankan pada kesungguhan dalam prosesnya. Dengan apresiasi itu, walaupun saya menyadari banyak sekali kekurangan yang saya lakukan dalam penelitian atau dalam pembahasan, saya merasa sedikit terangkat. Saya merasa, perjuangan saya tidak sia-sia, meski banyak hal yang harus dibenahi. Saya suka cara Mas mengatakan, “kelompok ini ada peningkatan,” atau “Kelompok ini sudah baik dalam hal …”

“jadwal Mas Hary yang padat sehingga tidak memungkinkan untuk berada di kampus setiap hari…” (upssss…)

Bagi Saya umpan balik mahasiswa adalah imbalan yang tak ternilai….

bersambung….

Read more