temani petani, siapakah ?

terbayang jelas kulit Ayahku menghitam, peluhnya belum kering benar, senyumnya tetap mengembang.
lahan yang digelutinya tak lagi ramah, meski demikian tak surut langkahnya ke sawah.

bila tak ingat mimpi-mimpinya terwujud karena sawah ini, sudah dijualnya Ia
bila tak ingat langkah-langkah besar anak-anaknya berawal dari sawah ini, sudah lelah rasanya Ia

maafkan ayah…aku tak menemanimu…
ketika harga pupuk melambung
ketika harga beras terjerembab

maafkan Ayah Aku tak bisa menemanimu seperti dulu, membajak sawah, menabur benih,
anakmu menyibukkan diri dengan keangkuhan kota besar…

(ditulis dengan deraian air mata dan gelora kerinduan)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*