April 2010

terbayang jelas kulit Ayahku menghitam, peluhnya belum kering benar, senyumnya tetap mengembang.
lahan yang digelutinya tak lagi ramah, meski demikian tak surut langkahnya ke sawah.

bila tak ingat mimpi-mimpinya terwujud karena sawah ini, sudah dijualnya Ia
bila tak ingat langkah-langkah besar anak-anaknya berawal dari sawah ini, sudah lelah rasanya Ia

maafkan ayah…aku tak menemanimu…
ketika harga pupuk melambung
ketika harga beras terjerembab

maafkan Ayah Aku tak bisa menemanimu seperti dulu, membajak sawah, menabur benih,
anakmu menyibukkan diri dengan keangkuhan kota besar…

(ditulis dengan deraian air mata dan gelora kerinduan)

Read more

Ia menulis sesuatu yang tak engkau pahami,
Ia terdiam saat engkau bertanya,
bahkan saat ditanya apa yang ditulisnya.
Apakah Ia bodoh ? atau
Mungkin Ia perlu banyak belajar mengungkapkan pikirannya

Perhatiannya begitu mendalam pada hal-hal yang kau anggap biasa-biasa saja,
Gagasannya tidak sama dengan gagasan kebanyakan orang,
Pilihan katanya terasa asing di telingamu,
Koreografi argumentasinya tidak mengikuti pakem yang kau yakini,
Cara kerjanya tidak mengikuti apa yang biasanya kau kerjakan,
Apakah Ia mengalami gangguan mental? atau
Mungkin Ia memiliki temuan unik ?

Engkau kecewa karena Ia jarang datang,
Engkau kecewa karena Ia terlambat datang saat kau undang,
Engkau kecewa karena Ia tidak memberikan hasil seperti yang engkau harapkan,
Apakah Ia tidak bertanggungjawab? Atau
Mungkin Ia mengalami kesulitan dalam memenuhi harapanmu ?

Saat orang lain perhatian pada hal rinci, Kau bilang Ia cerewet
Saat orang lain kurang perhatian pada hal rinci, Kau bilang Ia teledor
Saat orang lain berusaha keras mempertahankan pendapatnya, Kau bilang Ia keras kepala
Saat orang lain mengikuti pendapatmu, Kau bilang Ia plin-plan
Saat orang lain berusaha menegakkan peraturan, Kau bilang Ia kaku
Saat orang lain melakukan uji coba cara baru, Kau bilang Ia kacau

Hemmm….

Read more

Dalam suatu percakapan, adakalanya tindakan seseorang tidak selaras dengan pemikiran atau kebenaran yang kita yakini, saat itu. Ada banyak kemungkinan, mengapa hal ini bisa terjadi. Bisa jadi kita yang tidak piawai dalam menata argumentasi. Mungkin saja, Ia memiliki pengalaman yang berbeda. Mungkin juga, Ia memilih sudut pandang yang berbeda dalam melihat permasalahan. Bisa jadi, Ia belum memiliki pengetahuan yang sama dengan kita. Bisa jadi, bisa jadi, banyak lagi. Tetapi banyak yang memilih untuk MENGHAKIMI orang lain dengan “Kamu Salah”, “Kamu Tidak Pantas”, “Kamu Tidak Bertanggungjawab”, “Kamu Tidak Peduli”, “Kamu Malas”, “Kamu Sombong”.

Apa yang terjadi setelah itu? Percakapan akan bergulir ke dalam medan “menyerang” dan “bertahan”, karena setiap orang berkepentingan untuk melindungi harga diri dan melepaskan diri dari kecemasan. Percakapan akan menjauh dari aktivitas “memberi” dan “menerima” dalam bingkai kasih sayang. Percakapan positif membentur tembok, percakapan negatif menyeruak membobol nilai-nilai penghargaan dan penghormatan.

Ternyata oh Ternyata (ToT) : Penghambat PERCAKAPAN POSITIF itu bernama MENGHAKIMI.

Read more