Menyatakan Penerimaan

Mengapa mahasiswa yang sedang kesulitan mengerjakan skripsi enggan menemui pembimbing atau dosen wali untuk meminta bimbingan? Apa yang membuat anak tidak menjadikan orangtuanya sebagai tempat untuk berbagi, mencurahkan pikiran dan perasaannya? Mengapa begitu banyak laki-laki dan perempuan yang oleh pasangannya bukan sebagai sumber pertolongan?

Di sisi lain, apa yang membuat kita merasa nyaman berbagi pemikiran dengan sahabat kita? Bagaimana begitu banyak orang merasa lebih mudah berbicara dengan konselor, orang yang baru saja dikenalnya? Apa yang dilakukan oleh para konselor sehingga mereka dapat menjalin hubungan yang membantu dengan kliennya?

Bahasa penerimaan. Yah, itu dia jawabannya. Menyatakan, “Saya menerimamu sebagaimana adanya” adalah faktor penting untuk menjalin suatu hubungan. Pernyataan ini memberikan lahan yang subur bagi orang lain untuk tumbuh, berkembang, membuat perubahan yang konstruktif dan mampu mengaktualisasikan potensi luar biasa dalam dirinya.

Menyatakan penerimaan dapat disampaikan melalui kata-kata (pesan verbal) maupun pesan tanpa kata (pesan non verbal). Pesan tanpa kata ini dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, tatapan mata, posisi tubuh dan gerakan tubuh lainnya. Pesan tanpa kata ini diyakini memiliki dampak lebih besar dalam menyatakan penerimaan. Bahkan, sebelum kata terucap, tubuh kita sudah berteriak.

Bagaimana menyatakan penerimaan ?

Berikan kesempatan, buat jarak, tahan diri untuk tidak campur tangan. Menyatakan penerimaan dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan orang lain melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak atau caranya. Berikan kesempatan mereka belajar dan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya. Hindari campur tangan dengan mengawasi, menggabungkan diri, apalagi memaksakan pendapat. Saat Anda mengambil jarak, Ia akan merasa bahwa Ia diperbolehkan melakukan “dengan caraku”.

Pancarkan kepedulian dengan menjalin kontak mata. Kontak mata menandakan bahwa kita memperhatikan apa yang disampaikannya. Tentu saja kontak mata ini dilakukan dengan memperhatikan konteks norma dan budaya. Selain itu, menatap mata orang yang sedang berbicara secara terus menerus akan menimbulkan ketidaknyamanan. Jadi, lakukan dengan seimbang antara menatap matanya dan melihat ke arah lain, untuk menyatakan bahwa Anda bersedia menerima dirinya dalam percakapan tersebut.

Hadiahkan senyum tulus. Senyum yang spontan, tidak dibuat-buat, adalah pernyataan penerimaan yang sangat kuat dan menyampaikan pesan penerimaan yang lebih kaya dan bermakna daripada sekadar mengucapkan kalimat “aku menerima kehadiranmu”.

Dengarkan dengan seksama saat Ia menceritakan masalahnya. Tidak menyampaikan komentar atau nasehat saat Ia mengeluh juga merupakan pernyataan penerimaan. Berikan Ia kesempatan untuk menyampaikan keluh kesahnya sampai tuntas. Ketika Anda menyediakan diri untuk mendengarkan, Ia akan merasa bahwa Ia diperbolehkan mengungkapkan pemikiran dan perasaanya.

Ajak bicara lebih banyak, persilahkan Ia melanjutkan ceritanya Bukakan pintu bagi dirinya agar leluasa melanjutkan ceritanya. Beberapa tanggapan yang biasanya digunakan antara lain : “Maukah kamu membicarakan hal ini denganku?”, “Teruskan, Aku dengerin Kok”, “Kayaknya kamu mau menyampaikan sesuatu…”, “Kelihatannya ini penting sekali bagimu…”. Kadang orang ragu-ragu saat akan berbicara, undangan seperti ini akan mendorong dirinya untuk memulai atau melanjutkan kisahnya. Tanggapan yang lain yang membuat Ia merasa diterima antara lain : “Kamu berhak menyampaikan perasaanmu”, “Aku belajar sesuatu dari ceritamu ini”, “Pendapatmu layak didengar…”, “Ceritamu ini membuat aku mengenalmu lebih baik…

Pantulkan, sampaikan pengertian Anda. Pahami dengan akurat perasaan dan arti pesan yang disampaikannya. Setelah itu, nyatakan dengan kalimat dan pantulkan kembali kepada yang bersangkutan “pesannya” tanpa diembel-embeli dengan penilaian, nasehat atau analisa Anda.

(bersambung)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*