ToT : “orang akan merasa nyaman berdekatan dengan orang yang mengerti pikiran dan perasaannya”.

Saya belajar dari sahabat, keluarga, mahasiswa, rekan kerja yang didekatnya Saya merasa nyaman. Berbicara dengannya waktu seolah berputar lebih cepat. Apa yang Saya temukan? Ternyata oh Ternyata : “orang akan merasa nyaman berdekatan dengan orang yang mengerti pikiran dan perasaannya”.

Saya berusaha mengingat lebih dalam, apa yang dilakukannya dan mencoba menguraikan dalam bentuk resep sederhana untuk diri Saya sendiri. Saya ingin seperti mereka, menjadi orang yang menyenangkan, menjadi orang yang dirindukan kehadirannya.

Mendengarkan. Yah, itu yang mereka lakukan. Sederhana tapi sungguh sangat bermakna dan sering diabaikan. Banyak orang yang menuntut didengarkan tapi tidak bersedia mendengarkan orang lain. Bagi orang yang tidak peduli dengan pemikiran dan perasaan orang lain mendengarkan adalah kegiatan yang sangat sulit dilakukan. Begitu pula bagi mereka yang tidak bersedia memberikan kesempatan orang lain menyatakan pemikiran dan perasaannya, mendengarkan adalah kegiatan mewah.

Belajar dari orang-orang penuh pengertian itu, ada dua hal yang sering mereka lakukan : menunjukkan bahwa Ia sedang mendengarkan Saya dan menunjukkan pada Saya bahwa Ia memahami apa yang Saya pikirkan dan rasakan. Hemmm….

2 Comments, RSS

  1. Ikeherdiana February 15, 2010 @ 11:47 am

    Aku selalu memisahkan antara ‘nyaman’ dan ‘sebaiknya nyaman’. ‘Nyaman’ memiliki makna objektifitas yang tinggi. Sementara ‘sebaiknya nyaman’ cenderung subjektif. Ketika dia memiliki makna objektif, maka keterlibatan pihak lain tidaklah menjadi penting untuk dibahas, ada atau tiada, sangat apa adanya. Pada konteks subjektif, tentu keberadaan pihak lain menjadi sangat penting untuk melahirkan sebuah bentuk rasa nyaman. Nyaman amat dekat dengan kesendirian, perenungan, kontemplasi dan objektifitas. ‘Sebaiknya nyaman’ biasanya kita kembangkan dalam balutan relasi, pertemanan, persahabatan, yang ketika kita mengarahkan energi kita untuk sebuah rasa nyaman berinteraksi, maka pihak lainpun akan menggerakkan energinya ke arah yang sama.

  2. Hari Setyowibowo February 15, 2010 @ 1:53 pm

    Wow, dalem banget. Menarik untuk disimak.

    Kenyataan memang berbeda dari pemaknaan orang terhadap kenyataan. Menariknya, tanggapan kita terhadap kenyataan seringkali ditentukan oleh pemaknaan kita terhadap kenyataan.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*